TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
21. Ternoda


__ADS_3

Entah apa yang merasukiku saat ini. Aku malah menginginkan Dios melakukan hal lebih padaku. Terlebih saat aku melihat kejantanannya yang mengacung sempurna, sementara aku sudah tidak berdaya dibawah kungkungannya.


"Ah..."


Aku merasakan langit-langit kamarnya berputar, saat mulutnya bermain lincah dipuncak dadaku secara bergantian. Aku hanya bisa me**mas rambutnya untuk menyalurkan rasa nikmat yang aku rasakan saat ini. Dan saat diriku masih merasa melayang diangkasa, perlahan tapi pasti Dios mulai menekan miliknya padaku. Perlahan tapi pasti dia menyeruak masuk memenuhi diriku dengan ukuranmya yang diatas rata-rata.


"Hemmmpptttt,"


Aku merasakan sesak penuh dibawah sana. Berkali-Kali dia menhentakkan miliknya padaku yang membuat tubuhku terombang ambing namun merasakan sejuta nikmat yang tiada tara. Dan tidak butuh lama bagiku saat tiba-tiba gelombang dahsyat itu datang menghampiriku dan membuat kepalaku terdorong jauh.


Dios kemudian berpindah kebelakang tubuhku, dan memasuki aku dari samping meskipun sebenarnya nafasku masih tersenggal karena ulahnya beberapa detik yang lalu. Entah sudah berapa kali aku mendapatkan pelepasanku, yang pasti Dios berhasil membolak balik tubuhku seperti layaknya ikan bakar


"Ah...kak...aku mau udahan,"


Aku melengguh kembali, saat aku merasa pelepasanku akan tiba yang keempat kalinya.


"Tunggulah sayang. Kita lepaskan bersama,"


Dios semakin mempercepat hujamannya padaku, hingga suaraku bertambah melengking dibuatnya. Kini aku mengerti kenapa suara Vika bisa aku dengar hingga kerumahku waktu itu. Ternyata hujaman yang Dios berikan benar-benar dahsyat dan nikmat menurutku.


"Ah...ah...kak...."


Aku sudah tidak kuat lagi untuk menunggunya lepas bersamaku. Sungguh ini luar bias nikmat yang tidak pernah aku rasakan saat bersama Delano.


"Ah....sayang aku datang," lengguh Dios


Dios semakin mengguncang habis tubuhku, dengan kedua tangannya berpegang erat dikedua gunung kembarku. Aku mau tak mau semakin menjerit hebat dengan sisa-sisa pelepasanku yang mencengkram kuat miliknya


"Ah...Caren...aku mencintaimu,"


Dios mendorong dalam miliknya. Aku bisa melihat pria itu terpejam nikmat. Bulir-Bulir keringatnya menetes melewati tiap otot-otot perutnya yang sama sekali suamiku tidak milikki.


"Sayang aku merasa puas denganmu. Apa kamu juga?" bisik Dios sebelum dirinya mencabut kepemilikkannya yang masih setia terbenam dibawah sana.


"Ya."

__ADS_1


Aku tak bisa membohonginya. Karena aku memang merasa terpuaskan dengan aksinya siang ini. Sebelum pria itu melepaskan miliknya dariku, dia kembali me**mat bibirku dan kemudian berbaring disampingku.


Ah...apa ini benar-benar gila? baru beberapa jam yang lalu istrinya keluar dari rumahnya. Tapi dia sudah meniduri wanita lain dengan ganasnya. Apa aku ini hanya dia jadikan pelampiasannya? atau memang benar dia mencintaiku?


Sungguh aku tidak pernah mengambil pusing tentang ungkapan cintanya padaku. Bagiku pria sama saja. Dia akan mengatakan cinta selagi dia membutuhkannya. Tapi setelah bosan, dia akan mencampakkannya.


"Kak. Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya kita begini. Aku benar-benar merasa bersalah dengan suamiku. Aku akui aku bukan wanita suci, bahkan aku sudah ternoda oleh pria yang bukan muhrimku. Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi diantara kita. Tapi jujur aku sangat takut saat ini,"


Dios membawaku kedalam dekapannya, dia mencium puncak kepalaku berkali-kali. Seolah tidak perduli dengan semua keluahanku.


"Aku tidak perduli dengan apa yang kamu katakan. Aku hanya ingin merasakan apa yang aku rasakan. Biarlah kamu tidak mencintaiku, tapi aku akan tetap mencintaimu. Karena aku yakin, suatu saat kamu pasti akan bersamaku selamanya," ucap Dios.


Entah apa yang membuat Dios seyakin itu, kalau kami akan bersama suatu saat nanti. Apa dia yakin , karena merasa memegang rahasia suamiku? tapi sebenarnya aku juga penasaran tentang perselingkuhan Delano.


Aku beranjak dari tempat tidur, dan kemudian pergi ke kamar mandi sembari membawa pakaianku. Setelah bersih-bersih diri, aku segera keluar dari kamar mandi, karena aku ingin pulang kerumah.


"Aku pulang dulu kak," ucapku.


"Istirahatlah dulu. Delano juga pulang sore," Dios menahanku pulang dengan kata-katanya.


"Nggak kak. Aku mau istirahat dirumah saja,"


Dios tiba-tiba bangkit dan memblokir jalanku, dengan tubuh polosnya. Dios tiba-tiba meraih tanganku, dan menuntunnya agar menyentuh miliknya yang berharga.


"Kalau kamu merindukannya, datanglah padanya. Dia pasti akan melepaskan semua dahagamu," ujar Dios.


Oh astaga... pria ini sungguh-sungguh menggoda. Kupalingkan wajahku segera, aku tidak ingin kembali tergoda dengannya, terlebih barang miliknya tiba-tiba bangkit kembali setelah kusentuh lagi.


Aku segera menarik tanganku, dan melangkah keluar kamarnya. Sekuat hati aku akan bertahan, dan tidak menginginkan hal itu terulang kembali. Aku harus membicarakan tentang kepindahan rumah kami pada Delano. Kalau aku terus-terusan seperti ini, rumah tanggaku pasti akan hancur juga.


Waktu menujukkan pukul 5 sore saat mobil Delano tiba di halaman rumah kami. Aku meraih tangannya untuk aku cium. Aku melirik kearah tirai jendela rumah Dios. Aku bisa melihat, kalau pria itu tengah mengintip kearah rumahku saat ini.


"Sayang. Kapan kamu membeli rumah baru untuk kita?" tanyaku.


Aku tidak ingin lagi menunda pertanyaan penting itu. Dan Delano menyambut pertanyaanku dengan sebuah senyuman manis.

__ADS_1


"Aku harus melakukan perjalanan bisnis sekali lagi, agar uangnya cukup. Karena perjalanan bisnis sekali ini bonusnya sangat besar." Jawab Delano.


"Lagi?" entah kenapa aku jadi kesal saat mendengar kata-kata perjalanan bisnis yang Delano ucapkan.


"Sayang. Ini semua demi masa depan kita kan?" tanya Delano.


"Kali ini kemana lagi?" tanyaku yang penasaran.


"Kota L." Jawab Delano.


Aku hanya bisa menghela nafas, mendengar ucapan Delano. Tapi setelah aku pikir-pikir, mungkin ini kesempatan yang Tuhan berikan untukku, agar aku tahu tentang rahasia yang disembunyikan suamiku.


"Ya udah. Tapi pulang dari sana langsung beli rumah baru ya?"


"Kamu kenapa sih? kok tiba-tiba ngebet banget pengen rumah baru? kamu nggak betah disini?" tanya Delano.


"Iya. Disini sepi. Aku pengen tinggal agak ditengah kota sedikit." Jawabku dengan bibir mengerucut.


"Maaf ya sayang. Waktu itu cuma mampu beli rumah sederhana ini. Tapi sekarang tabungan untuk buat beli rumah yang agak mewah sudah hampir cukup. Kamu sabar ya?" ujar Delano sembari mengusap puncak kepalaku.


"Aku tidak masalah dengan bentuk rumahnya. Hanya saja aku merasa kesepian disini. Kamu janji ya, setelah ambil job ini kamu nggak akan pergi lagi. Kita sudah hampir 6 bulan menikah, tapi belum ada tanda-tanda aku hamil. Kalau kamu terlalu sibuk, kapan aku hamilnya?"


"Iya sayang. Aku janji kok. Paling nanti aku akan sering lembur saja di kantor." Jawab Delano.


Aku memeluk Delano dan merebahkan kepalaku di dadanya. Entah kenapa bayangan percintaan panasku dengan Dios selalu mengganggu pikiranku. Dan itu benar-benar membuatku merasa bersalah.


"Kamu kenapa manja banget sih. Hem? kamu pengen?" tanya Delano.


Aku mendongakkan kepalaku. Setelah kupikir-pikir, mungkin dengan aku bercinta dengan Delano, itu bisa membunuh rasa bersalahku pada pria itu. Mungkin dengan dia memasuki, aku jadi bisa merasa kalau bekas Dios bisa menghilang dari dalam sana. Ah ...sungguh pemikiran konyol. Tapi aku tidak perduli, karena sedetik kemudian aku mendorong tubuh Delano ke atas tempat tidur, dan melucuti tiap kain yang ada padanya.


Hari ini aku berperan lebih ganas bersama Delano. Dan lagi-lagi percintaan panasku bersama Dios melintas dalam benakku, padahal saat ini Delano tengah berada dibawahku. Astaga...ada apa denganku, saat ini aku malah membayangkan tengah bercinta dengan kak Dios. Dan rasa kesalku bertambah menjadi, saat Delano yang berada dibawahku tiba-tiba mengerang panjang dan menyudahi percintaan yang sama sekali belum panas itu.


Brakkkkk


Aku menutup pintu kamar mandi, setelah kulihat Delano tanpa perasaan meninggalkan aku tidur dan mendengkur. Aku siram tubuhku dengan air dingin, beruntung Dios tidak meninggal tanda cintanya ditubuhku. Jadi Delano sama sekali tidak menaruh curiga padaku.

__ADS_1


__ADS_2