
Keesokkan harinya aku dan Dios bersiap-siap ingin pergi kerumah orang tua Delano. Tidak membawa tangan kosong, kami pergi membawa parsel buah sebagai buah tangan. Rumah itu masih seperti dulu, tidak ada yang berubah. Tapi entah mengapa aku merasa suasananya menjadi lebih sunyi, karena semua pintu dan jendela tertutup rapat.
Beberapa kali aku mengetuk pintu rumah mantan mertuaku. Setelah ketukan yang kesekian, barulah ada suara langkah kaki orang yang mendekati pintu itu.
Ceklek
Yang kulihat pertama kali saat orang yang membukakan pintu adalah mata sayu dan kuyu. Wajah itu juga terlihat pucat.
"Mama," ucapku lirih.
"Caren. Hiks...." Mantan mama mertuaku langsung berhambur kepelukkanku.
Dios yang tengah menggendong Marta cuma menatap kami yang saling berpelukkan dan terisak. Aku sangat mengerti perasaan mantan mertuaku itu, karena anak yang dia miliki hanya dua orang. Dan Delano merupakan anak kebanggaannya dari dulu.
"Sabar ma. Ini ujian Tuhan," ucapku sembari mengusap-usap punggungnya.
Aku dan Dios dipersilahkan masuk dan duduk diruang tamu. Melihat kedatanganku, mantan papa mertua dan adik iparku juga ikut duduk bersama di ruang tamu.
"Kemarin Delano menghubungiku, dan menceritakan semua apa yang dia alami. Dia juga sempat takut aku tertular, dan akhirnya aku memeriksakan diri ke rumah sakit," aku menceritakan pada mereka dengan sabar. Aku ingin mereka mengerti apa yang ingin aku sampaikan diujung ceritaku nanti.
"Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Mama.
"Alhamdulillah hasilnya negatif." Jawabku yang terlihat juga wajah lega di wajah mereka.
"Ma, pa, Apa kalian masih menganggapku anak, meski aku dan Delano sudah bercerai?" tanyaku sembari menatap wajah mereka satu persatu.
"Tentu saja. Tidak ada yang berubah. Bagi kami, kamu tetap putri kami. Kamu tahu sendiri kita ini tergolong bukan keluarga yang memiliki banyak keturunan. Ditambah Delano seperti ini, tentu sudah pupus harapan kami. Hanya adikmu yang bisa memenuhi harapan kami nanti." Jawab mama.
"Kalau kalian masih menganggapku sebagai anak, maka aku mohon dengarkan perkataanku ini."
"Ada apa yang terjadi dengan kalian sebenarnya? Delano memang terkena penyakit menular saat ini, tapi bukan berarti kalian malah mengasingkan dan membuangnya," sambungku.
"Kami takut ketularan." Jawab papa.
"Pa. HIV memang penyakit menular, tapi penularannya bukan seperti orang yang terkena penyakit flu. Itu tidak semudah yang kita bayangkan. Kita ini hidup dijaman apa? kalian bisa mencari informasinya lewat artikel dimedia sosial. Kalian sengaja membuangnya, membuat dia sangat terpuruk."
"Dulu dia sangat kalian banggakan, sangat kalian sanjung-sanjung dan diutamakan dalam segala hal. Tapi kenapa saat dia seperti ini kalian malah menjauhinya, bukan memberinya semangat?"
__ADS_1
"Tapi gara-gara dia, semua tetangga menggunjingkan kami, menjauhi kami, karena mereka menganggap kami bisa saja sudah tertular. Mereka takut berinteraksi dengan kami," ujar papa.
"Kita ini orang berpendidikkan. Kita bisa mengerahkan tokoh masyarakat, agar membuat penyuluhan tentang HIV AIDS. Sangat disayangkan kalau kalian bersikap seperti ini. Kalian sendiri sudah merasakan bagaimana rasanya dikucilkan masyarakat, sekarang kalian malah mengucilkan anak kalian sendiri. Itu pasti lebih menyedihkan,"
Mantan Papa dan Mama mertuaku saling berpandangan. Mungkin pemikiran mereka sudah sedikit terbuka saat ini.
"Bagi Seorang anak, orang tua adalah dunianya. Kalau dunianya saja sudah menolak, sudah pasti kehidupan Delano sudah merasa hancur,"
Mendengar ucapanku itu kedua suami istri didepanku itupun tangisnya menjadi pecah. Mungkin mereka baru menyadari kekeliruannya yang telah menjauhi Delano.
"Sekarang mending kita pergi ke rumah Delano. Kita beri kejutan untuk dia. Bukankah besok hari ulang tahunnya? jadi kita bisa merayakan ulang tahunnya malam ini di rumah Delano," ujarku.
Mereka mengangguk setuju sembari menyeka air matanya. Kamipun bersiap pergi dengan menumpangi mobil orang tua Delano. Namun saat kami sedang menunggu Dios mengeluarkan mobil itu dari garasi, semua tetangga yang dekat dengan rumah mantan mertuaku keluar pagar hanya ingin membuat sakit hati mantan mertuaku itu.
"Kamu kan mantan menantunya? kamu nggak takut tertular HIV? atau jangan-jangan kamu juga sudah tertular? kamu kan pasti pernah berhubungan dengan dia,"
"Maaf sayangnya aku tidak bisa memenuhi harapan mulut kalian yang tukang gosip itu. Aku dinyatakan negatif. Kalian bayangkan saja, yang sering berhubungan dengan dia saja aku dinyatakan negatif, apalagi kalian cuma ngobrol biasa tanpa bersentuhan?"
"Kalian dengar ya? kalau kalian tidak ingin terlihat cuma sekolah tamatan TK, kalian lihat informasinya dong lewat media sosial. Kalian punya hp mahal buat apa? cuma buat status ghibah ya? kalian sangat yakin kalau suatu saat kalian nggak kena, coba perhatikan lagi suami-suami kalian itu. Yang hobi jajan diluar nanti bisa kena imbas juga meski nggak ngobrol dengan mantan mertuaku,"
Suaraku sengaja aku koar-koarkan, agar semua tetangga mendegar ucapanku.
Dios malah terkekeh mendengar orasiku yang terakhir.
"Sudah dulu ya ibu-ibu. Ingat loh, lihat mbah geogle. Dia bisa menjawab semua kekhawatiran anda sekalian. Bye!"
Aku masuk kedalam mobil, dengan nafas ngos-ngosan.
"Capek buk?" Dios meledekku.
"Dasar ibu-ibu tukang ghibah. Sebal lihat orang seperti itu. Lain kali papa dan mama jangan mau kalah. Bila perlu keluarin parang panjang buat nguber mereka yang mulutnya lemes," ucapku kesal.
"Hati-Hati Ma. Maklum hormon bumil," ujar Dios terkekeh.
Mama dan Papa jadi ikut terkekeh mendengar ucapan Dios.
"Tapi kak Caren keren ih...kalau gitu lain kali aku nggak perlu takut dan nangis lagi kalau mereka ledekkin aku," ujar mantan adik iparku.
__ADS_1
"Timpuk pakai batu kalau mereka ngeledekin kamu lagi," ucapku yang membuat mantan adik iparku itu jadi tertawa keras.
Kamipun berbincang banyak hal seputar HIV selama diperjalanan menuju rumah Delano. Aku bahkan tidak segan-segan membuka artikel di ponselku, dan membacakannya buat mereka. Aku sudah seperti seorang konselor dan seorang dokter handal, agar mereka mengerti dan paham dengan ucapanku.
"Ah...Ano pasti sedih karena sikap kami ke dia sangat kejam," ujar mama.
"Mama tidak usah khawatir. Saat papa dan mama datang, dia pasti semangat lagi." Jawabku.
"Maksih Caren. Berkat kamu, pikiran kami jadi terbuka. Entah apa yang terjadi kalau kamu tidak datang, pasti kami masih saja terbenam dalam kebodohan yang hakiki," ujar papa.
"Sama-Sama pa. Itulah gunanya keluarga, harus saling mengingatkan." Jawabku.
Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, kamipun tiba di rumah Delano. Rumah yang hampir dekat dengan pinggiran kota itu, tampak begitu kotor karena banyak daun kering yang berguguran di halaman rumah dan samping rumah.
Rumah ini cukup meninggalkan banyak kenangan untukku. Bahkan ada banyak tanaman yang aku tanam dengan tanganku sendiri, tampak indah bermekaran. Aku memetik setangkai bunga mawar merah yang mekar indah, namun tiba-tiba aku tertusuk durinya dan mengeluarkan darah.
"Awww," aku menarik tanganku segera, namun aku masih melanjutkan memetik mawar yang sudah terlanjur patah itu.
"Kenapa yank?" tanya Dios.
"Kena duri mawar."
"Apa dalam?"
"Tidak. Aku cuma kurang hati-hati saja." Jawabku
Namun entah kenapa ada hal lain yang aku rasakan, dan itu yang membuatku sempat mengelus dada. Aku melihat dari kejauhan papa dan mama mulai mengetuk pintu, namun tidak kunjung dibukai. Aku mencoba menghubungi Delano namun suara ponselnya bisa terdengar dekat dengan ruang tamu, yang berarti dia sedang berada di rumah saat ini.
Aku mengintip dari jendela, tapi tidak ada pergerakkan orang ingin membuka pintu. Aku coba menekan handle pintu, tapi ternyata pintu itu sama sekali tidak terkunci yang membuat mereka jadi terkekeh kecuali aku. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Aku tahu betul sifat Delano, pria itu sangat disiplin dalam meletakkan barang, terutama ponsel. Bahkan kedalam kamar mandipun dia suka membawa ponselnya turut serta.
"Ano...papa, mama dan adikmu datang nih. Caren dan suaminya juga datang," mama berteriak dengan semringah.
"Mungkin dia ada diatas ma," ujarku.
Kamipun beramai-ramai naik keatas, untuk menjenguk Delano. Mama kemudian mengetuk kamar Delano, namun Delano tidak juga membukakan pintu. Dan entah mengapa tiba-tiba jantungku berdegup dengan kencang. Delano orang yang memiliki telinga sensitif, selelap apapun dia tertidur maka dia akan bangun saat mendengar suara.
lAku menekan handle pintu kamar, dan mata kami langsung tertuju pada sosok Delano yang duduk di kursi dengan membelakangi pintu, namun sedang mengahadap sebuah kamera.
__ADS_1
"Astaga... Dia tidur rupanya," ujar mama.
Aku dan Dios tidak masuk kedalam, aku dan Dios saling berpandangan. Sepertinya apa yang aku pikirkan, juga terpikirkan oleh Dios.