
"Jangan kamu kira karena dia sedang mengandung anak kamu, kamu jadi berpikir kami akan merestui hubungan kalian. Mama sudah tegaskan berkali-kali sama kamu, kalau mama sampai kapanpun nggak akan pernah merestui kalian," ucap Leni berapi-api.
"Kalian kenapa sih? bukankah kalian sudah tidak sabar menggendong cucu? sekarang aku sudah berhasil memberikan apa yang kalian mau. Kenapa terhadapku kalian seperti ini? dulu mas rudi diperbolehkan mengambil keputusan sendiri, kenapa sekarang aku tidak?"
"Justru karena dia dibebaskan, jadinya dapat perempuan mandul," timpal Leni.
"Ya sekarang sudah jelas ada cucu kalian didalam perut kalian, kenapa kalian menyia-nyiakan?" tanya Rendy.
"Menghamili juga lihat-lihat bibit bebet dan bobot. Karena keturunan yang dihasilkan juga menentukan," Suwito mulai bersuara.
Rendy hanya menanggapi ucapan itu dengan senyum sinis. Ternyata tingkat kebencian mereka terhadap Caren sudah seperti mendarah daging.
"Tapi Rendy tetap harus menikahinya. Rendy tidak mau anak Rendy lahir tanpa status yang jelas," ujar Rendy.
"Dasar janda gatal. Anaknya saja baru lahir. Kelihatan sekali kalau dia itu mencari kesempatan dalam kesempitan," ucap Leni.
"Sudahlah ma. Restui saja aku dan Caren menikah. Ini demi cucu mama juga loh ma. Kasihan anakku," ujar Rendy.
"Kamu mampu menghamilinya itu berarti kamu masih mampu menghasilkan anak dengan wanita lain. Nanti kita akan ambil saja anak itu setelah lahir, kamu tidak perlu menikahinya."
"Tidak bisa. Aku mencintai Caren ma. Aku nggak mau dipisahkan dengannya," ujar Rendy.
"Kalau begitu jangan salahkan mama kalau mama jadi berbuat nekad kalau samali kamu punya niat mau menikahi dia," ucap Leni.
"Mama mau apa? jangan sakiti Caren. Kalau mama sampai melakukan itu, lebih baik aku yang pergi dari rumah ini," ancam Rendy.
"Berani kamu ancam mama? kamu pikir mama akan luluh? kamu lihat saja apa yang akan aku lakukan pada wanita itu," ujar Leni.
Rendy memijat keningnya. Dia tahu akan sesulit ini meminta restu pada orang tuanya. Namun dia tidak menyangka, kalau orang tuanya tidak luluh sama sekali meski dia sudah memakai alasan anak sekalipun.
*****
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, saat Rendy mampir ke rumah Dios karena ingin curhat perihal masalahnya. Namun bukannya membantu, Dios malah menertawakannya.
"Kayaknya senang sekali melihat teman susah," ujar Rendy.
"Lagian kamu ada-ada aja. Pakai alasan jandamu itu tengah bunting. Udah kehabisan akal ya?"
"Ya habisnya mau gimana lagi. Mereka keras sekali soalnya. Alasan bunting aja nggak mau nerima." Jawab Rendy.
"Kalau udah kayak gitu mending jauhin jandamu itu. Kayaknya ortumu terlalu ganas, ngeri ntar jandamu diapa-apain lagi," ujar Dios.
__ADS_1
"Kamu gimana sih? kemaren dukung aku, sekarang kok lain lagi? plin plan amat. Pantas pujaan hatimu minggat, itu karena kamu plin plan," ejek Rendy.
"Teman kurang ajar. Mentang jomblo pakai acara ngatain aku. Kamu juga gitu
Kebanyakan mikir, akhirnya gini kan?" ucap Dios.
Rendy mencebikkan bibirnya, dan dibalas kekehan oleh Dios. Sementara itu ditempat yang berbeda, tanpa Rendy tahu Leni tengah menyambangi kediaman Caren.
Dor
Dor
Dor
Suara gedoran dipintu di rumahku mengundang perhatian para tetangga untuk melihat siapa pelakukanya. Aku yang baru saja selesai memandikan Marta, bergerak cepat karena ingin membukakan pintu untuk tamuku yang tidak sopan itu.
"Caren buka! kalau nggak dibuka aku dobrak pintunya," teriak Leni.
Aku bergegas membuka pintu. Aku tidak ingin para tetangga jadi terganggu mendengar keributan itu.
Kriekkkkk
"Tan-Tante," ucapku lirih.
Plakkkk
Plakkkk
"Awwwwww sakittt tante...." aku kesakitan, saat tante Leni menarik keras rambutku dan juga menampar wajahku.
Aku terpaksa menuruti arah tarikkan rambut itu hingga aku jatuh tersungkur di teras depan pintu.
"Bagus ya kamu janda gatal. Anak baru berusia dua bulan lebih sudah bunting lagi. Kenapa harus anakku yang kamu jerat ha? apa kamu pikir karena kamu hamil anak Rendy, keluarga kami akan merestui? mimpi saja kamu!" hardik tante Leni.
"Tapi tante aku tidak...."
"Tidak apa? pergilah yang jauh dari kehidupan anakku. Bila perlu gugurkan saja anak itu. Kami tidak mau mengakui anak yang tidak jelas itu," Leni memotong ucapanku.
Jangan ditanya reaksi tetanggaku. Mereka hanya menonton sembari bergunjing tentang kabar kehamilanku.
"Tapi aku tidak hamil tante. Kak Rendy pasti sudah berbohong," aku berusaha membela diriku atas tuduhan palsu itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu bicara seperti itu? biar minta dibela tetanggamu ya? dasar murahan kamu!"
Griyuuuttt
Lagi-Lagi tante Leni menjambak rambutku, dan mengguncang-guncang kepalaku. Dan terakhir aku di dorong dengan cukup keras, hingga kepalaku membentur tembok.
"Ingat! jauhi anakku. Kalau kamu masih dekat-dekat dengan dia, maka tidak hanya anak dalam perutmu dan kamu yang akan aku siksa. Tapi anakmu yang baru lahir juga," ucap tante Leni.
Tante Leni pergi begitu saja setelah puas meninggalkan sumpah serapahnya padaku. Kepalaku sedikit berdenyut. Pipiku juga terasa perih. Mungkin karena terkena cakaran kuku tante Leni.
Aku bangkit dari lantai. Aku melirik kearah tetanggaku yang menatapku dengan sinis. Mungkin mereka semua percaya dengan semua tuduhan yang lontarkan oleh tante Leni. Aku bergegas memasuki rumah dan menutup pintuku. Tubuhku merosot kelantai karena teramat sedih dengan perlakuan orang tua Rendy terhadapku.
Aku tiba-tiba merasakan mual, dan nyeri dikepalaku. Dan aku tiba-tiba muntah, penglihatanku berkunang-kunang. Disisa tenaga dan kesadaranku, aku menyeret tubuhku agar bisa menemukan ponselku. Aku menekan panggilan terakhir yang aku lakukan, yang akupun tidak tahu itu siapa. Karena mataku sudah tidak bisa fokus lagi.
"Hallo," kudengar suara Rendy diseberang sana.
"Ka-Kak. To-Tolong aku," aku tidak bisa melanjutkan lagi kata-kataku, karena semuanya sudah terlihat gelap.
"Hallo...hallo Ren... kami kenapa?" Rendy tanpak panik.
Dios yang baru saja keluar dari dapur, menenteng dua gelas kopi dan langsung meletakkannya diatas meja karena melihat Rendy yang tengah panik.
"Ada apa?" tanya Dios.
"Aku harus kerumah dia. Kayaknya sudah terjadi sesuatu sama dia." Jawab Rendy.
"Ya udah hati-hati," ujar Dios.
Rendypun bergegas pergi dan tancap gas dengan mobilnya. Setelah sampai di rumah kontrakkan Caren, Rendy bergegas turun dan membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Suara lengking tangisan Marta memenuhi rumah itu, karena Caren sudah tidak sadarkan diri.
"Caren. Caren, kamu kenapa? hey?" Rendy begitu panik saat melihatku tergeletak dilantai.
Rebdy jadi bingung, karena Marta juga menangis keras.
"Ya Tuhan...aku harus bagaimana ini. Mana yang harus aku pegang dulu," Rendy bingung dan panik.
Rendy kemudian menelpon Dios karena ingin minta bantuan sahabatnya itu.
"Ada apa Ren?" tanya Dios.
"Sebentar lagi aku kesitu buat nitipin Marta sama kamu. Aku minta tolong dulu ya? ini ibunya marta lagi pingsan. Aku mau bawa dia ke rumah sakit dulu," ujar Rendy.
__ADS_1
"Ya udah buruan." Jawab Dios.
Rendy mengakhiri panggilan itu dan bergegas memasukkan barang-barang kebutuhan Marta dan Caren. Diapun bergegas pergi dengan mobilnya dengan membawa Caren, dan Marta bersamanya.