TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
63. Terkejut


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Aku mengernyitkan dahi, saat kudengar sayup-sayup pintu rumahku diketuk. Aku menarik puncak dadaku dari hisapan Marta. Mataku yang sangat berat, membuatku begitu enggan untuk memeriksa siapa tamu yang datang pada jam segini.


Namun ketukkan itu semakin lama semakin sering. Membuatku sedikit terganggu dan mengurangi tingkat kewaspadaanku. Tanpa memeriksa terlebih dahulu, aku langsung memutar kunci dan menekan handle pintu. Aku cukup terkejut, saat mendapati Rendy berada didepanku, terlebih pria itu langsung mendorong tubuhku dan menutup pintu rumahku.


Grepppp


Rendy tiba-tiba memelukku dengan erat, hingga aku sedikit syok.


"Aku merindukanmu. Kamu terlihat kurus, apa kamu mengalami kesulitan selama aku tidak ada?" tanya Rendy.


Aku perlahan mendorong tubuh kekar itu. Karena aku takut kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan.


"Kenapa? apa kamu tidak merindukanku? Caren, aku baru menyadari setelah sebulan lebih berjauhan denganmu. A-Aku sepertinya sudah jatuh cinta sama kamu," ujar Rendy.


Sungguh aku terkejut, saat mendengar pengakuan dari Rendy. Sejatinya setiap wanita pasti senang, saat mendengar ungkapan cinta dari seorang pria yang dekat dengan kita. Tapi tidak denganku, aku malah ketakutan. Terlebih saat kuingat kata-kata pedas dari tante Leni.


"Maaf kak. Mungkin perasaan kakak itu sudah keliru. Mungkin perasaan yang kakak miliki itu hanya karena kakak dan aku sudah terbiasa bertemu setiap hari. Jadi kakak cuma merasa kehilangan saja."


"Lagipula aku nggak mau cari mati. Aku lari ke kota ini berharap kehidupanku tenang kembali, dan aku bisa merasakan kebahagiaan yang sebenarnya."


"Kalau kita memaksakan bersama, kakak tahu sendiri seperti apa orang tuanya kakak. Aku tidak mau mati konyol. Kasihan Marta yang harus kehilangan orang tuanya dan hidup sendirian."


"Kakak juga tahu. Kalau aku masih sangat mencintai ayah dari anakku. Saat ini kami sedang diuji dengan dipisahkan. Sudah hampir sebulan ini aku selalu datang kepasar itu, karena aku berharap dia kembali melihatku atau aku yang melihat dia. Aku sudah lelah kak, aku sadar bahwa aku membutuhkan dia dan membesarkan anak kami bersama,"


Aku menberikan Rendy pengertian panjang lebar. Sungguh aku tidak ingin terjadi lagi petaka dalam hidupku. Selama ini aku sudah merasa menderita karena dibuang oleh keluarga dan dikhianati oleh suami. Aku masih berharap kebahagiaan benar-benar datang menghampiriku dan aku bisa kembali hidup normal.

__ADS_1


"Tapi aku merasa perasaanku ke kamu bukan karena kebiasaan kita bersama. Saat jauh dari kamu, makan dan tidurku jadi tidak benar. Bahkan perasaan seperti itu tidak pernah aku rasakan saat bersama Melisa," ujar Rendy.


"Katakanlah kalau itu memang benar. Lalu kakak mau seperti apa? apa kakak mau menikahiku? lalu orang tua kakak ngamuk-ngamuk dan memakiku sesuaka hati?"


"Daripada dibenci seumur hidup, mending aku mundur diawal. Hidupku ini sudah sulit, aku tidak ingin lebih mempersulitnya lagi. Maaf kak, tapi dengan tegas aku katakan padamu. Kalau aku menolak keras ungkapan perasaanmu itu."


"Aku sarankan mending kakak cari saja wanita yang sesuai seperti mamamu inginkan. Mungkin dengan menuruti apa yang beliau inginkan, kehidupan kakak akan dipermudah dan dilancarkan segala urusan. Tidak ada salahnya menuruti kemauannya, toh masih banyak gadis baik-baik di luar sana yang bisa kakak dapatkan."


"Terima kasih karena kamu sudah meremehkan perasaanku. Tapi asal kamu tahu, aku tulus sayang sama kamu dan Marta. Kenapa kamu tidak memberikan kesempatan pada kita, apa perasaan kita ini murni berteman, atau sudah ada perasaan didalamnya," ucap Rendy.


"Lalu dengan cara apa kakak ingin membuktikannya? dengan berpacaran? terus tidur bersama, dan kemudian kakak menghilang setelah bosan?" aku langsung menghujamnya dengan pertanyaan sulit.


"Kenapa kamu berpikiran begitu sih? aku bukan orang seperti itu," ujar Rendy.


"Maaf kak. Tapi aku sudah cukup trauma, dan cukup lelah. Hidupku sekarang miskin. Aku cuma punya sedikit kehormatan. Jadi jangan merebutnya dariku, tolong kasihani aku sedikit saja."


"Sekarang lebih baik kakak pulang. Aku tidak mau kakak kesini malah menimbulkan masalah untukku. Karena aku masih berharap kembali dengan orang yang aku cintai," sambungku.


"Baik kalau itu maumu. Mungkin ini terakhir kali kita bertemu. Semoga kamu bahagia dengan keputusanmu itu," ujar Rendy yang langsung berbalik badan dan beranjak pergi.


Aku tidak rela dia pergi dalam keadaam marah. Karena walau bagaimanapun dia banyak berjasa menolongku beberapa bulan ini. Aku tidak ingin pertemanan kami hancur, hanya karena perasaannya yang tidak terbalaskan.


"Kakak jangan marah padaku. Kakak juga harus mengerti posisiku yang sulit. Kalau orang tuamu setuju denganku, mungkin saja aku mau mempertimbangkannya. Tapi kakak tahu sendiri mamanya kakak tidak suka denganku. Apa kakak mau melihatku dimaki-maki tiap hari olehnya?"


Rendy perlahan berbalik badan dan menatapku dengan lekat.


"Jadi kalau orang tuaku setuju, kamu mau jadi istriku?" tanya Rendy.


"Eh?"


"Jangan ingkari kata-katamu. Kamu tunggu kabar dariku," ujar Rendy yang langsung melangkah pergi.

__ADS_1


Pria itu sama sekali tidak menoleh, meski aku sudah berkali-kali memanggilnya. Aku merasakan tubuhku lemas, aku tidak tahu kenapa Rendy tiba-tiba segila itu.


"Bagaimana ini. Semoga saja mamanya Rendy tetap tidak setuju. Kalau tidak, aku bingung bagaimana caraku menolaknya.


*****


"Ma. Pa, aku mau bicara serius dengan kalian," ujar Rendy.


"Ada apa?" tanya Leni.


"Izinkan aku buat menikah." Jawab Rendy.


"Kamu mau menikah? dengan siapa? cepat kenalkan dengan mama dan papa," tanya Leni dengan senyum semringah.


"Kalian mengenalnya," ujar Rendy sembari menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.


"Kami mengenalnya? siapa?" tanya Leni.


"Apa itu Melisa? kalau iya sih tidak apa-apa. Setiap orang pernah khilaf, kamu harus belajar memaafkan dia," sambung Leni.


"Aku tidak mencintai Melisa lagi. Karena aku ingin menikah dengan Caren." Jawab Rendy.


Ucapan Rendy tentu saja membuat Leni dan Suwito jadi berang. Leni bahkan langsung bangkit dari tempat duduknya sembari berkacak pinggang.


"Kalau kamu ingin menikah dengannya, maka langkahi dulu mayat mama. Kamu sudah gila ya? apa tidak ada wanita lain yang bisa kamu nikahi? kamu itu tampan, mapan, karier bagus. Kenapa harus menikahi janda tidak berguna itu," hardik Leni.


"Aku mau tidak mau harus menikahinya, karena dia sedang mengandung anakku saat ini." Jawab Rendy dengan santai.


Prangggggg


Leni melempar piring ke lantai. Nafas wanita parubaya itu sampai naik turun. Rendy tahu Leni tengah marah besar saat ini.

__ADS_1


"Aku sudah katakan berkali-kali jangan dekati dia. Dia itu wanita murahan. Sekarang terbuktikan dia hamil diluar nikah? kenapa kamu itu bodoh sekali sih Ren? kamu mau membuat mama serangan jantung?" Leni terlihat menangis.


Rendy sama sekali tidak berniat mencabut ucapannya. Dia tahu caranya ingin mendapatkan Caren sedikit ekstrim. Tapi dia berpikir kalau tidak dengan cara seperti itu, dia tidak akan mendapat restu dari orang tuanya.


__ADS_2