TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
54. Putus


__ADS_3

Aku menatap wajah Rendy yang tengah mengunyah makanan dengan santai. Bahkan dia masih sempat mengupaskan dua ekor udang untukku, dan meletakkannya diatas piringku. Sejujurnya aku sangat khawatir dengan dirinya saat ini. Karena orang yang diam menghadapi masalah, akan benar-benar terluka sendirian.


"Kak. Apa kamu sungguh tidak apa-apa? ayo kita pergi saja dari sini," tanyaku.


Aku nggak ingin berada lama-lama disini, sedangkan suasana hati Rendy sedang kacau balau. Rendy menghentikan makannya, dan menatap kearahku.


"Jangankan orang 5 tahun pacaran, banyak orang yang bercerai setelah 5 hari pernikahan. Jadi kamu tenang saja, aku baik-baik saja meskipun sedikit kecewa." Jawab Rendy.


"Cepat habiskan makananmu. Aku akan membuktikan padamu, kalau aku baik-baik saja," sambung Rendy.


Aku terdiam. Aku jadi mempercepat kunyahan di mulutku. Karena aku pikir mungkin Rendy adalah tipe orang yang tampak mengaku baik diluar, padahal didalam hati sedang menangis menjerit-jerit.


Setelah selesai makan dan membayar makanan di kasir. Rendy mengajakku menghampiri meja Melisa yang tengah bersenda gurau dengan sahabat Rendy. Sungguh aku sangat gugup setengah mati saat ini. Aku jadi membayangkan adegan-adegan seperti yang di film-film.


"Cha," sapa Rendy pada nama kecil kekasihnya itu dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Re-Rendy," Melisa terbata saat melihat Rendy ada di depannya.


Tidak hanya Melisa saja yang gugup, Miko sahabat Rendypun wajahnya langsung berubah merah karena malu.


"Re-n aku...."


"Mari kita putus," ujar Rendy dengan memotong ucapan Melisa dengan cepat.


Melisa sangat terkejut mendengar keputusan Rendy. Tidak hanya Melisa saja, mulutkupun ikut menganga lebar.


"Ren. Kamu bicara apa? sebentar lagi kita akan menikah, kamu jangan kekanakkan." ucap Melisa.


"Kekanakkan? jadi maksudmu aku harus diam saja saat calon istriku membohongiku, dan bergandengan mesra dengan sahabatku?"


"Melisa. Apa kamu menganggap dirimu itu wanita tercantik di dunia? wanita di dunia ini sangat banyak. Jadi aku tidak perduli meski harus kehilangan wanita sepertimu ribuan kali," sambung Rendy.


"Selamat ya Mik. Ternyata tanaman yang memakan pagar rumahku jauh lebih ganas dari yang aku bayangkan. Tapi itu tidak masalah, kalian sungguh pasangan yang serasi. Yang satu penghianat cinta, dan yang satu calon pebinor," ucap Rendy.


"Lalu kamu sendiri bagaimana?" tanya Melisa


"Apa kamu ingin membalikkan keadaan dengan menanyakan kenapa aku sampai jalan dengan wanita lain?" tanya Rendy.


"Eh? ya emang benarkan? kamu pakai nyalahin aku. Aku jadi curiga jangan-jangan dia hamil anakmu," tanya Melisa.


"Anggap saja begitu," ujar Rendy sembari menarik tanganku menjauh dari meja itu.

__ADS_1


Aku menatap wajah Rendy yang tampak datar saat menarik tanganku. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan kesedihan di depanku. aku jadi berpikir, apa dia benar-benar punya kekasih diluar sana?


"Rendy. Kamu akan menyesal!" teriak Melisa.


"Kak. Apa ini tidak apa-apa?" tanyaku sembari mengimbangi langkah kaki Rendy yang berjalan dengan cepat.


Brakkkkk


Rendy menutup pintu mobil dengan lumayan keras. Aku sampai terjengkit kaget. Aku perlahan membuka pintu dan masuk kedalam dengan pelan. Rendy menoleh kearahku yang terlihat kesulitan.


"Maaf. Karena emosi aku jadi lupa dengan keadaanmu yang tengah mengandung saat ini," ujar Rendy.


Sudah aku duga. Pria disampingku ini cuma berpura-pura bersikap tenang, padahal hatinya sedang diliputi rasa amarah yang besar. Aku bisa mengerti, mungkin itu karena dia sangat kesal sudah di khianati oleh orang yang dicintai, sekaligus dikhianati oleh sahabatnya sendiri.


"Kita pulang saja kak. Kakak pasti butuh istirahat," ujarku.


Aku merasa tidak enak hati kalau harus minta Rendy mengantarku buat mencari kontrakkan.


"Tidak masalah. Kita selesaikan semuanya hari ini, agar besok kamu bisa langsung pindah ke kontrakkan," ucap Rendy.


Aku terdiam ketika mobil perlahan mulai maju. Tidak ada pembicaraan diantara kami. Karena terlalu sunyi, Rendy menyetel musik melow. Aku jadi sampai mengantuk mendengarnya. Dan setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, kami tiba di sebuah kontrakkan panjang. Aku dan Rendy turun dari mobil untuk bertanya-tanya. Dan aku sangat beruntung, karena kontrakkan itu masih tersisa satu.


Aku membayar DP untuk kotrakkan itu, dan akan aku selesaikan pembayaran setelah aku pindah ke rumah itu.


"Mampir ke rumahku dulu ya? aku mau ganti baju dulu," ujar Rendy.


"Kerumah kakak? di rumah kakak ada siapa saja?" tanyaku.


Bukan apa-apa, aku tidak mau Rendy jadi kena imbas karena sudah membawa wanita hamil. Aku tidak ingin merusak reputasinya.


"Ada papa, mama, dan adikku." Jawab Rendy.


"Apa tidak apa-apa kalau aku kerumah kakak? aku takut merusak reputasimu," tanyaku.


"Apaan sih? kok gitu ngomongnya," ucap Rendy.


Aku dan Rendy kembali masuk mobil. Benar yang Rendy katakan. Rumahnya memang tidak jauh dari kontrakkanku. Mungkin hanya berjarak sekitar 5 menit, jika berjalan kaki.


"Ayo turun. Biar aku kenalkan dengan keluargaku," ujar Rendy.


"Eh? n-nggak usah kak. Aku tunggu di mobil saja." Aku berusaha menolak ajakkan Rendy. Sejujurnya aku malu, meskipun aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya.

__ADS_1


"Ayolah turun sebentar," ujar Rendy sembari turun dari mobil.


Aku turun dari mobil. Aku melihat rumah Rendy lumayan mewah dengan gaya eropa. Aku tidak tahu apa tanggapan orang tuanya saat melihatku, tapi aku mencoba berani karena Aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Duduklah! aku keatas sebentar buat ganti baju," ujar Rendy.


"Emm." Aku mengangguk sembari menjatuhkan bokongku pada salah satu sofa.


Tidak lama kemudian setelah Rendy naik keatas, seorang wanita parubaya turun kebawah. Wanita itu terlihat cantik, meski usianya mulai senja.


"Kamu teman Rendy?" tanya Leni.


"I-Iya tante." Jawabku.


"Kamu sedang hamil? suamimu kemana?" tanya Leni.


"Aku sudah bercerai tante." Jawabku singkat.


Wanita parubaya itu tampak menatapku. Aku tidak tahu apa arti tatapannya itu. Mungkin dia tidak suka anaknya bergaul denganku yang seorang janda dan tengah hamil.


"Apa kamu sudah tahu Rendy sudah memiliki calon istri?" tanya Leni.


"Tahu tante. Melisa kan?" Jawabku.


"Lalu darimana Rendy bisa mengenalmu? maaf ya, bukan apa-apa. Takutnya akan timbul kesalahpahaman diantara mereka," ujar Leni.


"Saya mengerti tante. Besok aku akan pindah dari rumah kak Rudy. Tadi kak Rendy cuma nemenin aku buat cari kontrakkan." Jawabku.


"Oh...jadi kamu wanita yang hampir tertabrak oleh Rudi ya?" tanya Leni.


"I-Iya tante." Jawabku.


Tap


Tap


Tap


Langkah kaki Rendy terdengar yang membuat pembicaraan kami jadi terhenti.


"Kamu nggak jalan sama Melisa?" tanya Leni.

__ADS_1


"Udah putus." Jawab Rendy dengan santai.


Jawaban Rendy membuat Leni terkejut, dan langsung menoleh kearahku seolah aku yang menjadi penyebabnya.


__ADS_2