TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
58. WO


__ADS_3

"Nggak tahu. Aku juga bingung. Di usiaku yang 35 tahun, kayaknya aku sudah harus jadi bos.Kalau bekerja dibawah tekanan terus jadi lambat suksesnya. Aku juga tidak bisa membahagiakan orang yang aku cintai dan juga anakku. Menurutmu usaha apa yang cocok di kota ini ya?" tanya Dios.


"Aku punya teman seorang Wedding organizer. Tiap musim kawin dia sampai kewalahan menangani usahanya itu. Karena modal membuat usaha itu sangat besar, jadi yang membuka usaha itu masih sangat jarang." Jawab Rendy.


"Jadi menurutmu aku membuka usaha wedding organizer saja?" tanya Dios.


"Kalau ada modal sih begitu enaknya. Kalau WO mu bagus, pelangganmu pasti akan banyak kan?"


"Tapi aku tidak mengerti cara-caranya," ujar Dios.


"Aku punya teman seorang make up artis ibu kota. Bagaimana kalau kalian bekerja sama saja? Usaha itu sangat menjanjikan sekarang. Terlebih kalau kamu punya paket lengkap pelaminan, tenda, rias pengantin, pakaian segala macamnya. Aku yakin usahamu akan sukses."


"Nanti kalau usahamu sukses, aku ingin temanku nebeng di usahamu itu," sambung Rendy.


"Temanmu yang mana?" tanya Dios.


"Yang bunting tadi. Aku sering makan masakkannya, dan rasanya sangat enak. Aku ingin dia buka usaha catering saja, jadi dia bisa menghidupi anaknya itu." Jawab Rendy.


"Kamu ini. Sembarangan saja ngambil keputusan. Kalau kamu suaminya baru bisa begitu," ujar Dios.


"Jadi gimana ini? apa kamu setuju mau buka usaha itu? kalau setuju akan aku panggil temanku kemari buat diskusi bersama," tanya Rendy.


"Boleh juga. Jadi mau tidaknya lebih baik diskusi dulu. Jadi bisa memperkirakan berapa total biaya yang akan dikeluarkan untuk membukan usaha itu." Jawab Dios.


"Ya baiklah. Kapan jadi enaknya berdiskusi?" tanya Rendy.


"Hari minggu saja. Aku mau ngundurin diru dulu soalnya,"


"Kok ngundurin diri? gimana nasibmu kedepannya kalau nggak kerja?"


"Aku nggak semiskin itu juga Ren. Kalau aku nggak berani ngambil resiko, gimana mau sukses. Soalnya kalau aku masih kerja disana, kapan waktu bergerak usahanya? sedangkan siang hari hampir seharian aku pakai buat tidur." Jawab Dios.


"Benar juga. Ya udah kalau gitu minggu nanti aku kesini lagi dengan temanku itu ya,"


"Emm." Dios mengangguk.


Rendy dan Dios berbincang banyak hal, hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Rendypun berpamitan pulang.


*****


Dua bulan kemudian....


Sesuai saran Rendy. Kini Dios merintis usaha sebagai pemilik dari Wedding Organizer. Dios benar-benar merangkak membangun usaha itu dari nol, dengan minim pengalaman. Namun sedikit demi sedikit dirinya mengerti sela, sampai memiliki klien pertama.

__ADS_1


Dios sangat senang karena sudah mendapat klien pertama, itu berarti dirinya memiliki foto asli untuk dijadikan bahan promosi. Namun dibalik kebahagiaan itu, terselip rasa sedih dibelakangnya. Hampir setiap hari Dios pergi kepasar, namun sama sekali belum menemukan keberadaan Caren.


"Ini bulan tafsiran kelahiran anakku. Aku nggak tahu mereka ada dimana. Seharusnya kebahagiaan ini bisa aku nikmati bersama mereka," ujar Dios dengan mata berkaca-kaca.


Pukkkkkk


Rendy menepuk bahu sahabatnya yang tampak bersedih itu.


"Bersabarlah. Ada masanya nanti kalian akan dipersatukan kembali," ujar Rendy.


Tring


Tring


Tring


Ponsel Rendy berdering. Rendy segera menjauh, dan menerima panggilan itu.


"Ya Ren?"


"Ka-Kak. Kayaknya aku mau lahiran. Perutku sakit, dan ada air yang keluar. Aku nggak tahu itu apa. Aku takut kak, tolong antar aku ke rumah sakit," ujarku di seberang telpon.


"Ap-Apa? tunggu aku disana. Jangan kemana-mana sampai aku datang. Mengerti?"


Rendy bergegas menemui Dios dengan nafas terengah.


"Ada apa?" tanya Dios.


"Temanku mau lahiran. Aku pinjam mobilmu boleh? mobilku lagi di bengkel soalnya." Jawab Rendy.


"Bawa saja. Semoga semuanya lancar ya?"


"Amiin." Jawab Rendy sembari menyambar kunci mobil yang diberikan Dios padanya.


"Kenapa temannya yang lahiran, jantungku yang jadi berdegup kencang? Sayang kamu dimana? aku ingin jadi orang yang menemanimu saat kamu lahiran nanti," ucap Dios lirih dengan sedikit menyeka air matanya.


Sementara itu di tempat berbeda, Rendy dengan kecepatan diatas rata-rata segera sampai di kontrakkan Caren. Merekapun segera menuju rumah sakit.


"Caren. Apa kamu tidak mau menghubungi ayah dari anakmu?" tanya Rendy disela rasa sakitku.


"Tidak. Hubunganku dengannya sudah selesai. Aku rasa itu tidak perlu." Jawabku sembari menahan rasa mulas diperutku.


Rendy terdiam. Sampai ke rumah sakit tidak ada yang menimbulkan suara diantara kami.

__ADS_1


"Ah...sakit...kak," aku menjerit kesakitan hingga mataku mengeluarkan air.


"Sabarlah. Kamu pasti bisa," ujar Rendy.


"Aku tunggu di luar ya? aku pasti tidak diperbolehkan masuk,"


"Tidak apa. Bapak kan suaminya, bisa membantu menenangkan istri anda," ujar seorang Perawat.


"Eh? sa-saya bukan suaminya." Jawab Rendy.


Sejujurnya aku ingin Rendy masuk menemaniku kedalam. Rasanya kalau tidak ada yang menemaniku, aku jadi ketakutan. Oh...Dios... bisakah kamu merasakan kalau anakmu akan lahir sebentar lagi?


Kupejamkan mataku. Aku rasakan air mataku meleleh semakin deras dari sudut mataku. Makin lama tubuhku semakin jauh di dorong menggunakan brankar. Aku tidak bisa melihat Rendy lagi yang tadi menatap kepergianku hingga pintu ruangku tertutup.


Sementara itu di tempat berbeda Dios merasa sangat gelisah. Dia tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan itu. Tapi dia benar-benar tidak merasa tenang sama sekali meskipun sejak tadi dia mengalihkannya dengan cara bermain video game.


"Suster. Apakah masih lama?" tanyaku yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit dibagian perutku.


"Sabar ya bu. Ini baru pembukaan 6. Masih ada 4 pembukaan lagi." Jawab Suster.


"Apa? masih ada 4 lagi? tapi ini sudah tidak tahan lagi suster. Sakit sekali, hiks...."


Aku kembali terisak. Rasa sakit diperutku rasanya tidak tertahankan lagi.


"Sabar ya bu. Dedek bayinya masih mencari jalan. Ini anak pertama kan? jadi prosesnya memang sedikit agak lama jika dibandingkan dengan anak kedua dan seterusnya." Jawab Suster.


"Tapi sakit sus...hiks....akkkkhhh...."


Aku kembali berteriak, saat rasa sakit itu datang kembali. Aku tidak bisa menjabarkan rasa sakitnya itu sangat luar biasa. Sementara itu diluar ruangan Rendy tampak mondar mandir. Dia bisa mendengar suara Caren yang berteriak-teriak kesakitan.


"Kenapa lama sekali sih? apa memang selama itu ya? kasihan Caren. Andai boleh menemaninya, aku pasti mau menemaninya kedalam," ucapnya lirih.


Setelah menunggu 4 jam, bayikupun lahir kedunia. Ada perasaan lega saat putraku sudah keluar dari rahimku. Rasa sakit yang kualami lenyap sudah, dan digantikan dengan kebahagiaan tiada tara.


"Selamat ya Ren? sekarang kamu sudah jadi seorang ibu," Rendy mengucapkan selamat padaku, yang kujawab dengan senyuman terbaikku.


"Aku juga ucapkan terima kasih kak. Kakak sudah banyak membantuku selama ini, kalau nggak ada kakak aku nggak tahu kami jadi apa,"


"Sudah kewajiban manusia saling tolong menolong. Apa anakmu sudah memiliki nama?" tanya Rendy.


"Marta Almigo. Aku menamainya dengan namaku dan juga nama ayahnya." Jawabku dengan senyuman.


Aku tatap wajah tampan putraku. Semua yang ada diwajah putraku adalah milik ayahnya. Mungkin Tuhan kasihan padaku, dan mengirimkan dia sebagai pengganti orang yang aku cintai.

__ADS_1


__ADS_2