TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
83. Membulatkan Tekad


__ADS_3

Papa, mama dan Dios hanya bisa menatap kepergianku dari depan pintu utama rumah Dios. Aku terpaksa hanya pergi berdua dengan Marta, karena Dios melarangku membawa serta papa dan mama bersamaku. Aku sudah membulatkan tekadku untuk berpisah sementara waktu dari Dios, dan kembali ke kota J.


Sepi...itu yang aku rasakan pertama kali, saat aku baru tiba di rumah kedua orang tuaku. Entah mengapa, bukannya merasa bahagia, aku malah merasakan sesak di dadaku.


"Dasar Dios brengsek! secinta inikah aku sama dia? sudah jauh begini, aku malah dibuat resah. Dios sialan! kapan matinya itu orang. Hiks...."


Aku meluapkan semua rasa kesalku. Entah aku juga tidak tahu, sebenarnya aku kesal dengan siapa saat ini. Padahal aku sudah jauh dari pria yang sudah membuat hidupku jungkir balik itu. Dan kesialanku terasa bertambah, saat tiba-tiba Marta terserang deman tinggi. Aku jadi kelabakkan, dan pergi membawa Marta ke rumah sakit.


Aku mondar mandir didepan ruang anak, untuk megetahui diagnosa penyakit Marta. Disaat seperti ini, aku sangat membutuhkan kehadiran Dios disampingku.


"Aku harus bagaimana ini? haruskah aku menghubungi Dios? kalau terjadi sesuatu dengan Marta, dan aku tidak memberitahunya, dia pasti akan marah besar,"


Aku benar-benar dilema saat ini. Disamping rasa khawatirku, aku juga merasa gengsi untuk menghubunginya. Tapi aku juga tidak mau karena rasa gengsiku itu membuat semuanya jadi fatal.


Aku segera menghampiri dokter, ketika dokter itu keluar dari ruang pemeriksaan.


"Bagaimana keadaan anak saya dok? apa dia baik-baik saja? nggak ada penyakit yang serius kan dok?"


Dokter itu menyunggingkan senyumnya, saat mendengar pertanyaanku yang bertubi-tubi.


"Anak ibu cuma demam biasa. Cuaca memang sedang buruk akhir-akhir ini, sebaiknya saya sarankan agar anak ibu harus di opname, biar panasnya cepat turun."


"Tadi suhu tubuhnya sudah mencapai 40 derajat celcius," sambung dokter.


"Lakukan saja yang terbaik dok. Saya nurut saja apa kata dokter," ucapku yang cemas.


"Kalau begitu silahkan anda kebagian pendaftaran ya bu," ucap dokter.


"Baik dok." Jawabku.


Aku segera mengurus administrasi putraku dan mengabari papa tentang Marta.


"Jadi gimana pa? apa menurut papa aku harus memberitahu Dios soal Marta?" tanyaku pada papa.


"Tentu saja. Walaupun kamu sedang marah sama dia, tapi soal Marta jangan ada kompromi lain. Marta adalah putranya, dia berhak tahu apa yang terjadi pada anaknya," kata papa.


"Kalau begitu biar papa saja yang menyampaikan padanya. Aku masih malas ingin bicara dengannya," ujarku.


Terdengar papa menghela nafasnya dengan berat. Setelah percakapan itu kurasa sudah cukup, akupun mengakhirinya. Tubuhku benar-benar lelah saat ini. Tidak hanya lelah fisik, batinku juga terasa lelah.


Aku tatap Marta yang terbaring lemah dengan infus yang menancap dipunggung tangannya. Melihat kondisinya seperti itu, sungguh aku merasa tidak tega. Dan aku sempat berpikir, bahwa itu reaksi jujur dari anak kecil yang tidak ingin kedua orang tuanya bertengkar dan berpisah.

__ADS_1


"Maafkan mama nak. Abang cepat sembuh ya? nanti kalau sudah sembuh mama akan ajak abang buat jalan-jalan ke mall. Kita beli baju baru, sepatu baru, topi baru, dan camilan kesukaan abang,"


Aku mengajak Marta ngobrol, seolah dia mendengarku saat ini.


Drap


Drap


Drap


Waktu menunjukkan pukul 4 sore, saat kudengar langkah kaki mendekat kearah tempat Marta di opname.


Ceklek


Handle pintu ditekan dari luar. Aku menoleh pada asal suara, dan mataku segera bersitatap dengan mata Dios. Aku bisa melihat raut kecemasan diwajahnya. Raut yang pernah aku lihat saat Sekar tengah sekarat di rumah sakit.


"Sayang,"


Hal pertama yang Dios lakukan, pria itu malah memberikan pelukkan hangat padaku. Dan entah mengapa tangisku langsung pecah saat itu. Aku memukul-mukul dada Dios sembari terisak.


"Ini semua gara-gara kamu. Marta sakit gara-gara kamu. Hiks...." entah apa yang mulutku katakan. Aku malah melimpahkan kesalahan pada Dios, saat Marta sedang terbaring tak berdaya.


"Iya semuanya salahku. Makilah aku sepuasmu. Aku memang suami dan ayah yang tidak berguna. Maaf...maafkan aku sayang,"


*****


Blaammm


Mataku terbuka seketika. Aku merasakan kepalaku sedikit berdenyut. Kuraba keningku, karena kepalaku terasa berat sekali. Namun saat aku teringat tentang Marta, aku langsung mencoba bangkit. Namun langkahku terhenti, saat tiba-tiba Dios masuk ke ruangan tempatku berbaring.


Ah...ya... aku baru ingat. Saat aku tidak sadarkan diri terakhir kali, ada Dios yang datang ke rumah sakit. Harusnya aku tidak perlu terlalu khawatir lagi, karena Dios adalah ayahnya Marta. Otomatis dia pasti menjaga Marta dengan baik.


"Sayang. Kamu jangan bergerak dulu ya? tubuhmu masih sangat lemah, kamu harus banyak beristirahat," ucap Dios.


"Bagaimana keadaan Marta?" Aku tidak memperdulikan perhatian Dios, aku langsung mengalihkan pembicaraannya pada Marta yang memang sedang ku khawatirkan.


"Keadaannya mulai membaik. Suhu tubuhnya juga sudah turun menjadi 38 derajat Celcius." Jawab Dios.


Aku bisa bernafas lega saat mendengar ucapan Dios.


"Tadi aku juga sudah menyeka tubuh Marta dengan air hangat. Emm...tapi aku terpaksa memberikan susu formula untuk Marta, karena dia menangis. Dia juga menolak diberi makanan pendamping ASi," sambung Dios.

__ADS_1


"Aku nggak mau anakku diberi susu formula. Aku sudah bertekad akan memberikan dia ASI selama dua tahun," aku hendak melangkah pergi ke luar ruangan, namun Dios tiba-tiba mencekal tanganku.


"Kondisi kamu tidak memungkin kan lagi buat memberikan ASI untuk Marta," ujar Diis.


"Loh kenapa? aku nggak sakit kok, aku sehat. Mungkin aku pingsan karena aku kelelahan. Lelah fisik dan lelah hati," sindirku.


Bukannya marah dengan sindiranku, Dios malah membalasnya dengan senyuman. Dan entah mengapa aku malah benci dan muak melihat senyumnya itu.


Dios meraih tanganku, namun aku menepisnya. Tapi Dios tidak menyerah begitu saja. Dua kali dia meraih tanganku, dua kali pula aku menepisnya. Barulah saat ketiga kali, aku mengizinkan dia melakukan apa yang dia mau. Dios meraih kedua tanganku, dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu memang sehat dan memang sedang kelelahan. Tapi dia yang disini tidak memungkinkan kamu untuk menyusui lagi," ucap Dios sembari meraba perutku.


Aku mengerutkan dahiku, karena aku tidak mengerti dengan ucapan Dios.


"Apa maksudmu?" tanyaku penasaran.


"Saat ini kamu sedang hamil sayang. Dokter menyarankan kita agar konsultasi dengan dokter kandungan, untuk memastikan semuanya." Jawab Dios.


Deg


Jantung seakan hendak berhenti berdetak. Tentu saja aku terkejut, dan jadi menghubungkan semua kejadian dengan kehamilanku. Emosiku yang tidak stabil, rasa benciku pada Dios, dan sangat mudah menangis.


"A-Aku hamil?" tanyaku lagi.


"Emm...kita akan punya anak lagi. Apa kamu senang?" tanya Dios.


Aku menatap wajah Dios yang berseri-seri. Aku tahu Dios sangat bahagia dengan kabar itu. Sementara aku? aku bingung harus bereaksi seperti apa. Saat mengingat masalah yang sudah-sudah, rasanya kehamilanku saat ini datang disaat yang tidak tepat. Tapi aku ingat betul, Dios memang menyuruhku melepas alat kontrasepsiku, karena dia ingin memiliki banyak keturunan denganku.


"Sayang. Kok malah melamun sih? kamu masih nggak percaya ya? sebentar lagi kita akan konsultasi pada dokter kandungan buat memastikan semuanya. Kamu tidak usah khawatir, kali ini aku akan selalu mendampingimu sampai anak kita lahir," ucap Dios.


Aku kembali menatap wajah Dios. Entah kenapa aku melihat ada sesuatu yang beda dari pria itu. Dia jadi sangat lembut dan lebih perhatian.


"Apa kamu akan seperti ini terus sampai kita tua nanti?" tanyaku konyol.


"Sekarang akupun sudah tua. Maafkan kesalahanku yang sudah-sudah ya yank? aku sadar akan kekeliruanku. Tapi aku berani bersumpah, aku hanya ingin membalas budi pada Sekar yang pernah menolongku disaat aku kelaparan karena belum mendapatkan pekerjaan,"


"Kalau bukan pertolongan dari dia, mungkin aku dan kamu tidak akan pernah bersatu seperti ini. Aku menganggap apa yang terjadi diantara kita adalah ujian dari cinta kita sendiri. Dengan begitu kita bisa menempa diri menjadi sosok yang lebih dewasa dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita putuskan," sambung Dios.


"Maafkan aku yang sudah membuatmu bimbang dan takut. Aku ini cuma lelaki biasa, yang tidak luput dari dosa dan kekurangan. Tapi aku mau memperbaikki diri menjadi sosok yang lebih baik lagi. Yang bisa mengayomimu, dan yang pasti tidak membuatmu takut lagi,"


"Hiks...."

__ADS_1


Aku berhambur dalam pelukkan Dios. Meski sebenarnya isi ucapannya itu sangat biasa, tapi entah mengapa cukup membuatku lega dan puas. Dios memelukku dengan sangat hangat, dan itu yang kubutuhkan akhir-akhir ini. Setelah tangisku mereda, Dios segera membawaku berkonsultasi dengan dokter kandungan.


__ADS_2