TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
102. Menangis Tapi Bahagia


__ADS_3

"Sayang. Bangunlah! kamu kenapa sih akhir-akhir ini bangunnya sering siang. Kamu juga nggak perhatian sama aku lagi," ucap Dios yang menggoyang-goyangkan tubuhku.


"Masih ngantuk kak." Jawabku dengan mata terpejam.


Dios dengan jahil meraba-rabaku, hingga mood tidurku jadi mendadak hilang, dan digantikan dengan mood yang lain.


"Kakak mau?" tanyaku.


"Aku mau ke galery sayang. Ini sudah jam 8." Jawaban Dios membuatku sedikit kecewa.


"Kamu kenapa cemberut hem?" tanya Dios.


"Pengen." Jawab.


"Kamu kenapa sih yank? tumben minta duluan?" tanya Dios.


"Kamu kenapa nanya-nanya? bilang saja nggak selera lagi sama aku." Jawabku yang entah mengapa jadi emosi.


"Kamu kenapa sih? akhir-akhir ini moody banget. Kamu sensitif sekali, ya udah aku pergi dulu ya? aku udah ditungguan klien ini," ucap Dios.


"Oh jadi kamu lebih milih klien, daripada kemauan istri kamu," ujarku yang menahan langkah Dios.


"Sayang. Bukan gitu, kalau telat kan nggak enak yanx. Aku janji akan pulang cepat kalau sudah selesai menangani kliennya," ucap Dios.


"Aneh. Orang gatalnya sekarang, kok malah digaruk nanti. Sana pergi, sekalian nggak usah pulang."


Aku mendorong tubuh Dios dan menutup pintu tepat didepan wajahnya.


Brakkkk


Tok


Tok


Tok


"Sayang tunggu sebentar ya? aku janji saat pulang nanti kita akan bermain sepuasnya," teriak Dios dari luar pintu.


"Ehemmm..."


Aku bisa mendengar deheman mama yang lumayan keras dari luar pintu. Sepertinya teriakkan Dios cukup mencuri perhatian mama. Aku bisa membayangkan wajah Dios yang tersipu malu.


Aku menghela nafas sendiri. Tapi sungguh aku tidak bisa menahan gejolak yang tengah aku rasakan saat ini. Hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, aku berani meminta lebih dulu dan itu benar-benar tidak tertahankan rasanya.


"Aku kenapa ya? kok pengennya pakai banget. Rasanya dadaku mau meledak, saat keinginanku tidak dituruti,"


Aku memutuskan bergegas mandi, karena aku ingin menyusul Dios ke Galery.


"Kamu mau kemana?" tanya mama.


"Mau nyusul Dios ke Galery ma. Caren titip anak-anak ya ma? aku juga sudah pompa ASInya di kulkas." Jawabku.


Mama hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuanku. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, aku akhirnya tiba di Galery. Dios yang tengah melayani klien, cukup terkejut, saat melihatku masuk dari pintu. Aku menunggu Dios di ruang pribadinya. Dan hal gila lainnya yang aku lakukan adalah, aku mengenakan lingerie yang aku bawa. Aku tidak ingin Dios menolakku lagi saat melihatku.


Setelah menunggu hampir 30 menit, Dios akhirnya masuk kedalam ruangan pribadinya.


"Sayang. Kamu ke-na-pa...."

__ADS_1


Dios sangat terkejut saat melihatku duduk diatas meja kerjanya dengan pose nakal dan menggoda.


"Sa-Sayang. Aku benaran takut loh kalau kamu kayak gini, kamu kesurupan?" tanya Dios.


Mataku langsung melotot saat mendengar ucapan Dios. Dan hal yang terjadi selanjutnya aku malah menangis dan segera mengenakan pakaianku kembali. Sungguh aku merasa malu saat ini, meskipun Dios suamiku sendiri


"Sayang kamu mau kemana. Hey?"


Dios menahan tanganku, yang ingin beranjak pergi.


"Maafkan aku ya? aku nggak bermaksud menyinggungmu kok," ucap Dios sembari memelukku dengan erat.


"Aku mau pulang," ujarku disela isak tangis.


"Ya sudah ayo pulang. Biar aku antar," ujar Dios.


"Nggak perlu. Kamu urus saja klien kamu, nggak usah perdulikan istri kamu. Aku bisa pulang sendiri," ucapku seraya mendorong tubuh Dios kesamping dan beranjak pergi.


"Sayang. Please jangan marah-marah terus ya? aku benar-benar sibuk hari ini. Tolong ngertiin aku ya?"


"Ya udah kan aku udah bilang nggak usah perdulikan aku. Urusin aja terus klien kamu. Bila perlu nggak usah pulang saja sekalian," ucapku dengan sarkas.


"Ya sudah kalau kamu mau pulang, pulang saja sana. Kamu nggak mau aku pulang kan? ya udah aku nggak akan pulang. Kamu selalu pengen dimengerti, giliran suamimu sibuk kamu nggak mau ngertiin. Terserah kamu mau apa!" hardik Dios.


Ini kali pertama selama menikah Dios memarahiku. Entah mengapa kami seolah hilang kendali. Dios yang biasa sabar menghadapi tingkahku, kini untuk pertama kalinya dia berang terhadapku. Karena Dios membentakku, tentu saja suasana hatiku semakin buruk. Air mataku bahkan lebih deras dari sebelumnya. Aku berlari dari ruangan itu, aku hanya ingin pulang saat ini.


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda kepulangan Dios. Aku jadi gelisah dibuatnya. Dios tidak biasanya seperti ini, yang membuatku jadi gelisah tidak menentu. Dios bahkan tidak pulang, meski waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam. Keinginan untuk melihat Dios seakan meledak-ledak dalam dadaku. Aku memutuskan pergi ke galery dengan menggunakan piyama. Aku tidak bisa tenang kalau belum memastikan sendiri.


Aku melihat lampu galery hanya bagian luar saja yang terang. Sementara dibeberapa ruangan yang lain sudah tampak gelap. Namun dalam ruangan Dios dari luar masih tampak terang. Aku menekan handle pintu ruangan itu dan kami sama-sama terkejut karena Dios masih terjaga sembari bermain ponsel ditangannya.


"Sayang. Apa yang kamu lakukan disini malam-malam? kamu keluar dengan pakaian seperti ini? bagaimana kalau ada yang ingin berniat jahat padamu?" tanya Dios sembari menghampiriku.


"Tentu saja."


"Tapi bagaimana kakak bisa tahu, sementara kakak saja sibuk sendiri. Bahkan kakak tidak pulang kerumah karena muak denganku. Iya kan?" air mataku sudah kembali meluncur bebas.


Dios segera membawaku kedalam pelukkannya. Aku kembali terisak. Aku tidak tahu dengan perasaanku.


"Maafkan aku ya? aku benar-benar khilaf karena sudah memarahimu. Tadi aku dapat klien yang lumayan alot, jadi aku benar-benar pusing," ucap Dios.


"Apa aku sangat menyebalkan? apa kakak sudah tidak mencintaiku lagi?" tanyaku konyol.


"Kamu tidak menyebalkan. Aku juga sangat mencintaimu sayang. Jangan berpikiran yang macam-macam lagi ya? aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu sedih." Jawab Dios.


"Aku juga minta maaf ya kak. Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini moodku kurang baik," ucapku.


Dios menyeka air mataku, sesaat kemudian dia menciumku dengan lembut. Dan yah...tiba-tiba saja ga*rahku kembali meletup. Aku dengan cepat mendorong Dios diatas sofa, dan aku dengan cepat menanggalkan pakaianku tanpa sisa. Sekarang aku bisa melihat, Dios juga sama berga*rahnya dengan aku. Dios langsung menyerbu puncak dadaku, saat aku duduk dipangkuannya. Dan aku benar-benar sangat menyukai apa yang dia lakukan padaku.


Dios dengan gerakkan cepat membuka kancing kemejanya. Akupun turut membantu hingga kami sama-sama tidak mengenakan apapun.


"Ah...sayang..."


Dios melengguh, saat aku menelan kejantanannya dengan mulutku. Aku melihat dia terpejam, menikmati apapun yang aku lakukan dengan benda itu. Dios yang hilang kesabaran langsung menarik tanganku dan membaringkan aku diatas sofa. Kami seolah sedang kelaparan, dan tergesa-gesa ingin saling dipuaskan.


"Ahh...emmmppptthh..ahh..." Dios yang sudah membenamkan miliknya dengan segera memompanya. Disela gerakkan pinggulnya, dia kembali mencumbuku dengan rakusnya. Mungkin karena aku sudah sangat menginginkannya, aku jadi cepat mendapatkan pelepasanku yang pertama.


Dios kemudian mengangkat tubuhku, dan membawaku keatas meja kerjanya tanpa melepaskan pertautan milik kami. Dios kembali mengguncangku dengan aku yang berada diatas meja. Mulutnya mengakses puncak dadaku dengan lahapnya. Tubuh kami begitu cepat berkeringat, karena kami sama-sama terbakar ga*rah.

__ADS_1


"Ah...Di-os," nafasku tersenggal, saat aku kembali mendapat pelepasan keduaku. Sementara milik Dios masih begitu kokoh menghujamku.


Aku tidak meragukan sama sekali keperkasaan suamiku, dia selalu bisa memuaskanku dan selalu mengerti apa yang aku inginkan. Yang pasti ruangan itu dipenuhi oleh suara kami yang saling bersahutan.


"Ah...ah...ah...sayang...."


Tubuh Dios mengejang, saat dirinya mencapai puncak ternikmat dalam permainan itu. Dia kembali membawa tubuhku keatas sofa, dan kami saling berpelukkan disana.


"Kamu kenapa sensitif sekali akhir-akhir ini hem?" Tanya Dios sembari membelai rambutku.


"Nggak tahu. Tadi pagi aku benar-benar ingin. Dan aku merasa sedih saat kamu menolakku." Jawabku.


"Kamu kayak orang ngidam aja. Kalau kemauan tidak dituruti pakai acara ngambek dan nangis," ujar Dios sembari terkekeh.


Mendengar ucapan Dios mendadak aku terdiam dan mengingat-ingat sesuatu. Namun saat aku sudah teringat semuanya, jantungku berdegup dengan kencang.


"K-Kak. Ini tanggal 30 ya?" tanyaku.


"Iya. Kenapa?" tanya Dios.


"Kalau hari ini tidak dapat haid, itu artinya bulan ini aku tidak mendapatkan haid. Ba-Bagaimana kalau aku hamil kak? tapi kan aku sudah pakai IUD?"


"Benarkah? apa kamu mau kita pergi ke rumah sakit? kita harus memastikan secepatnya. Takutnya kamu hamil nggak ketahuan, sementara kita saat bermain sangat heboh. Takutnya terjadi apa-apa,"


Dios malah memikirkan hal itu. Sementara aku sangat cemas, karena aku tidak ingin hamil lagi. Kamipun memutuskan pulang ke rumah dan membersihkan diri. Setelah selesai sarapan, kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.


"Wah selamat ya pak. Bu Caren memang benar-benar hamil. Dan usia kehamilannya sudah 6 minggu. Dan kabar baiknya ibu hamil anak kembar," ucap dokter.


Dios semringah saat mendengar ucapan dokter. Sementara aku menangis histeris dan tidak sadarkan diri. Setelah aku siuman, aku kembali terisak. Aku benar-benar belum bisa menerima kehamilan itu.


"Kamu senang kan aku hamil lagi? ini emang maunya kamu kan? anak kita masih bocil-bocil kak. Kamu malah kegirangan. Hiks..." Aku terisak sembari mengomel.


Mama dan papa mengedipkan mata kearah Dios agar pria itu tidak meladeni omelanku.


"Ya sudah kalau kamu tidak menginginkan anak kita lahir, kita bisa menggugurkan saja anak ini. Daripada nanti dia lahir kamu omelin terus, dan ngucapin kata-kata kasar, aku pasti tidak akan tega. Jadi lebih baik dia tidak usah lahir saja," ucap Dios asal yang membuatku jadi marah.


"Kakak udah gila ya? enak aja mau bunuh anakku. Sini kakak saja yang ku bunuh," ucapku.


"Loh katanya nggak siap? daripada ngomel terus. Mereka bisa dengar dan sakit hati loh. Mereka pasti sedih karena mamanya nggak ingin mereka ada," ucapan Dios membuatku terdiam.


"A-Aku cuma takut tidak bisa berlaku adil dengan anak-anakku," ucapku dengan wajah tertunduk.


Dios meraih daguku dan mencium bibirku sekilas.


"Aku memilihmu, karena aku tahu kamu calon istri dan calon ibu terhebat didunia. Aku akan selalu disisimu dan membantumu mengurus anak-anak kita bersama,"


"Maaf," aku memeluk erat Dios. Terkadang aku lupa sudah menikahi pria dewasa. Namun disaat aku ingat, aku kembali merasa nyaman. Karena Dios sosok yang selalu bisa membuatku nyaman.


*****


8 bulan kemudian...


Hari ini kami diliputi rasa bahagia yang tidak terkira. Karena aku sudah melahirkan anak kembar perempuan sebagai pelengkap keluarga kami. Tidak jauh berbeda dengan kami, Mutia juga sudah melahirkan seorang bayi laki-laki satu hari yang lalu. Rendy bahkan ingin salah satu anak perempuan kami menjadi menantunya suatu hari nanti.


Aku tersenyum saat melihat Dios menimang dua anak perempuan kami dikanan dan kiri tangannya. Aku tidak menyangka hubungan terlarang kami dahulu, membuatku terjebak selamanya dengan dia. Tapi aku sama sekali tidak menyesal, karena dia milikku, dan aku sangat mencintainya.


🌹END🌹

__ADS_1


Terima kasih author ucapkan atas semua dukungannya selama ini. Segera rilis judul baru Author. Jangan lupa mampir ya teman-teman😘



__ADS_2