
Ini adalah hari ketiga aku pindah ke rumah baru. Itu artinya Dios juga akan pulang esok hari. Aku jadi menerka-nerka apa yang terjadi saat dia tahu aku sudah tidak tinggal disana lagi. Meninggalkan dia, meninggalkan semua kenangan kami.
Aku menatap ke luar jendela kamarku. Hanya ada hamparan pohon dan rumput jepang yang sengaja dirawat. Aku jadi teringat saat-saat bersama Dios, saat-saat mesra kami. Ah...aku sangat merindukan dia saat ini.
*****
Dios dengan senyum semringah mampir ke salah satu toko emas yang terkenal di kota J. sesuai janjinya, bonus gajinya dia belikan sebuah kalung, yang akan dia berikan untuk Caren sang pujaan hati. Dia juga membeli kotak khusus, agar benda itu terlihat indah dan mahal.
Setelah selesai, dia segera bergegas pulang. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Caren. Karena saat ini baru jam 10 pagi, dia yakin Delano sedang pergi ke kantor dan dia bisa bercinta dengan Caren sepuasnya.
Saat Dios tiba dihalaman rumahnya dan membuka helm motornya, dia dikejutkan saat melihat ada sebuah tulisan di depan pintu rumah Caren.
"Ru-Rumah di jual?" tubuh Dios bergetar saat membaca tulisan itu.
Langkah kaki pria itu bahkan mundur beberapa langkah, saat dia menyadari Caren sudah pergi meninggalkannya.
"Ng-Nggak mungkin kamu ninggalin aku juga kan Caren? kamu juga menghianatiku? mengingkari janjimu?" ucap Dios lirih dengan air mata yang merebak di pipinya.
Langkah Dios terhuyung, saat melangkah ke arah rumahnya. Pria itu bergegas membuka pintu, dan dia menemukan surat yang Caren tinggalkan untuknya. Dios membuka surat itu dengan tidak sabar, dan duduk di sofa ruang tamu.
Teruntuk Dios Almigo yang kucinta dan kusayang....
Dios tersenyum sinis saat membaca kata pembuka yang Caren tulis untuknya.
Maafkan aku kak. Aku harus mengingkari janjiku demi kebaikkan kita berdua. Tanpa kita sadari kita sudah melangkah terlalu jauh. Kalau ini diteruskan, kita akan sama-sama hancur. Terutama kamu kak. Kita tidak mungkin selamanya berhubungan seperti ini terus.
Aku akui aku sudah jatuh cinta padamu kak. Tapi aku juga sadar, perasaan kita ini salah. Aku ingin kita saling melupakan saja. Lupakan aku untuk selamanya kak. Maaf...."
Dari yang mencintaimu....
Caren Martadinata
__ADS_1
Dios meremas surat itu, namun pada akhirnya dia merapikannya kembali. Dia memasukkan surat itu kedalam kotak perhiasan yang dia beli untuk Caren. Dios terisak, dia merasa hidupnya benar-benar hancur saat ini.
Dios melangkah masuk ke dalam kamar. Bayang-Bayang saat dirinya bercinta dengan Caren menari-nari dipelupuk matanya. Dios yang teringat sesuatu, langsung meraih ponselnya dan membuat panggilan untuk Caren. Namun berapa kalipun dia membuat panggilan, tapi nomor ponsel Caren sama sekali tidak bisa dihubungi. Akhirnya Dios sadar, kalau nomor ponselnya sudah di blokir.
"Hah...pada akhirnya yang miskin tetap tersingkir ya? semua wanita sama saja. Mereka lebih memilih yang punya uang, daripada memilih yang dia cintai. Caren, entah mengapa luka yang kamu tinggalkan lebih sakit daripada saat Vika menghianatiku bersama banyak pria. Aku tidak pernah menyangka, wajah polosmu ternyata penipu hati. Lalu apa arti tangisanmu hari itu? ternyata semuanya palsu!"
"Kamu ingin pisah kan? aku akan menuruti apa maumu. Semoga suatu saat kamu akan menyesalinya saat tahu seperti apa suamimu itu. Dan saat kamu sudah menyesal dan ingin kembali padaku, aku pastikan aku sudah pergi jauh dari kehidupanmu. Selamat tinggal Caren,"
Hari itu juga Dios meninggalkan rumah itu. Dia bertekad ingin menjadi pria sukses, agar tidak lagi diremehkan oleh semua wanita.
****
"Sayang. Aku hari ini nggak pulang ya? karena aku tidak mengambil job diluar kota, aku jadi harus lembur di kantor. Nggak apa kan?" tanya Delano diseberang telpon.
"Iya nggak apa. Kamu jangan lupa makan ya?"
"Iya. Da..sayang...."
"Daaa...."
Karena aku merasa kesepian, aku mengirin pesan pada Delano agar membelikan aku dua ekor kelinci. Aku ingin memiliki peliharaan, agar bisa menemaniku di rumah. Tidak berapa lama kemudian Delano membalas chatku dan menyetujui permintaanku.
Itulah yang aku suka dari Delano. Dia selalu menuruti semua keinginanku. Hanya satu yang mungkin dia tidak bisa penuhi, yaitu hasrat bercintaku yang besar. Tapi itu tidak mengapa, suatu saat aku akan mengajaknya ikut terapi atau pengobatan tradisional agar kekurangannya itu bisa disembuhkan.
Waktu semakin berlalu, tidak terasa sudah satu bulan aku berpisah dari Dios. Meskipun sejujurnya aku belum bisa melupakannya yang sudah terlanjur masuk disalah satu sudut hatiku.
Namun pagi ini ada yang lebih aneh dari tubuhku, aku merasakan lemas dan tidak bertenaga. Di rumahku saat ini memang sudah ada asisten rumah tangga, tapi entah mengapa aku lebih membutuhkan kehadiran Delano saat ini, Ralat! bukan Delano, tapi Dios yang aku rindukan.
Hoekk
Hoekkk
__ADS_1
Hoeekkk
Aku merasakan seluruh isi perutku hendak keluar. Aku juga merasakan tidak nyaman diperutku. Kepalaku juga terasa sedikit pusing.
"Sayang. Kamu kenapa? aku sampai balik lagi dari kantor loh," tanya Delano.
"Badanku lemes banget. Aku juga mual muntah. Kayaknya aku masuk angin deh?" ucapku.
"Ya udah kita ke rumah sakit saja. Daripada nanti tambah parah?"
"Iya." Jawabku.
Aku dan Delano akhirnya memutuskan pergi ke rumah sakit. Namun anehnya aku malah dianjurkan untuk konsultasi ke dokter kandungan. Kami mengikuti saja saran dokter itu, dan saat ini aku tengah berbaring untuk melakukan pemeriksaan USG.
"Selamat ya bu, pak. Ternyata sesuai dugaan kami. Bu Caren tengah mengandung 8 minggu saat ini," ujar dokter.
Air mata haru merebak dari pelupuk mataku. Aku menggenggam tangan Delano karena merasa sangat bahagia. Namun ada yang aneh dari ekspresi wajah Delano saat mendengar kabar itu. Dia seperti sama sekali tidak merasakan bahagia seperti aku saat ini.
"Sayang. Kamu kenapa? kamu sepertinya tidak senang dengan kabar ini?" tanyaku.
"Tentu saja aku senang. Selamat ya sayang, karena kamu sebentar lagi akan jadi orang tua," ujar Delano.
"Bukan aku, tapi kita sayang." Jawabku.
Dokter kemudian meresepkan obat vitamin untukku. Setelah menebusnya, kamipun memutuskan untuk pulang kerumah setelah sebelumnya aku meminta pada Delano untuk mencari mangga muda.
Grepppp
Aku memeluk erat Delano. Aku ingin bermanja-manja dengannya, meskipun Delano tidak terlalu merespon ucapanku.
*****
__ADS_1
"Sayang. Saat ini kamu tengah hamil, kalau kamu mengizinkan, aku ingin kembali kerja ke luar kota. Bonusnya lumayan besar, itu bisa buat biaya persalinanmu nanti," ujar Delano.
Aku terdiam. Namun setelah kupikir-pikir, ucapannya ada benarnya juga. Aku kemudian tersenyum sembari mengangguk kearahnya.