
"Kena usir ya?" tanya Delano setelah membuka pintu kaca mobil.
Sumpah demi apapun, aku baru tahu kalau Delano memiliki sisi pribadi yang menyebalkan seperti ini. Bisa-Bisanya selama ini aku tertipu dan terbuai dengan kelembutan yang dia berikan selama ini. Dia yang sekarang ini sudah seperti hewan rubah menurutku, dan aku sangat membencinya saat ini.
Bukkkkkkk
Delano melemparkan 5 gepok uang, yang aku perkirakan berkisar 50 juta rupiah. Aku menatap tajam kearahnya, dia sangat menghinaku.
"Jangan nanti aku dikira tidak memberikan kompensasi untuk perceraian kita. Kalau memberikan rumah itu mungkin kamu tidak akan mau, karena itu hasil menjual lobang tahi seperti katamu. Tapi itu uang halal, kamu bisa menikmatinya dan untuk biaya persalinan anakmu," ujar Delano.
"Caren. Meski kamu menyakitiku dengan selingkuh dibelakangku, meski kamu sudah membuka aibku, tapi aku usahakan tidak menyimpan dendam padamu. walau bagaimanapun kita pernah lama bersama, tidur diranjang yang sama, dan berbagi keringat yang sama."
"Meskipun aku juga sadar, aku juga bersalah padamu. Memanfaatkan kamu demi menutupi aibku. Sekali lagi aku minta maaf untuk hal itu."
"Apa kamu sudah selesai bicara? kalau sudah selesai, lebih baik kamu pergi dari sini dan bawa uangmu ini. Kamu sudah menghancurkan hidupku Delano, jadi jangan harap aku akan memaafkanmu dengan mudah," aku menyodorkan uang Delano setelah memungutnya dari jalan aspal.
Namun Delano mendorong uang itu kearahku. Dia tidak marah padaku, dan malah tersenyum.
"Jangan pikirkan diri sendiri, tapi kamu pikirkan anak yang sedang kamu kandung. Dia butuh asupan Gizi, dan aku tahu kamu sedang tidak punya uang saat ini," ujar Delano.
Delano benar. Aku memang miskin sekarang. Saat ini aku tidak punya uang dan tidak tahu mau pergi kemana. Karena tidak bekerja, aku sama sekali tidak punya tabungan. Dan sekarang Delano sedang memberikan harta gono gini berupa uang tunai sebanyak 50 juta. Aku berpikir sudah kepalang tanggung, sekalian saja aku peras dia.
"Apa karena tidak bekerja, kamu pikir aku ini bodoh dan tidak mengerti dunia luar? kamu tentu tahu, bukan seperti ini pembagian harta gono gini. Kamu hanya memberikan uang senilai 50 juta, itu sudah sangat melukai harga diriku yang sudah kamu manfaatkan selama ini. Apa kamu pikir harga keperawananku semurah itu?" aku bertanya dengan tidak tahu malunya.
Ku lihat Delano menghela nafas panjang.
"Nanti akan aku transfer 50 juta lagi ke rekeningmu. Aku harap kamu bisa hidup dengan baik setelah kita berpisah. Karena meski aku tidak menyukai wanita, tapi aku sayang sama kamu Caren," ujar Delano.
Aku terdiam mendengar ucapan Delano. Aku akui meskipun Delano salah, tapi dia memang tidak pernah bersikap kasar padaku. Dia selalu menuruti apapun yang aku minta. Hanya saja mungkin saat ini aku masih belun bisa menerima kenyataan, kalau saat ini aku sudah berstatus menjadi seorang janda.
"Terima kasih. Semoga kamu bahagia dengan pilihan hidupmu," ujarku.
"Lalu apa rencanamu? emm...maksudku kamu mau pergi kemana? jika memang belum ada tempat tinggal, tinggallah dirumah kita. Rumah itu akan jarang ditunggu, karena aku punya apartemen pribadi," ujar Delano.
__ADS_1
Kini aku tahu, kenapa Delano begitu nyaman tinggal di apartemen. Karena itu adalah apartemen pribadinya.
"Tidak terima kasih. Walau bagaimanapun kita telah berpisah. Aku tidak mungkin kembali lagi ke rumah itu," aku tegaskan pada Delano kalau aku tidak ingin tinggal dirumah itu.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik kalau begitu. Jangan lupa cek M-banking. Nanti uang 50 juta akan kutransfer setelah datang kerumah," ujar Delano.
"Ya."
Delano pergi dengan mobil mewahnya. Kini antara aku dan Delano sudah tidak ada lagi yang tersisa. Dia dan aku kini sudah menjadi masa lalu, yang bisa dibilang itu adalah masa lalu kelam.
Aku kembali menyeret koperku. sepanjang jalan aku berpikir, mau kemana langkahku pergi. Tidak jauh dari tempatku berjalan, aku melihat ada tukang jualan es jeruk dan aku duduk disana untuk menghilangkan dahaga.
Sembari meminum es jeruk, aku sembari berpikir. Sepertinya aku harus pergi dari kota ini, agar aku bisa melupakan semua kenangan pahit dalam hidupku. Aku sudah seperti akan putus asa, karena Dios sama sekali tidak bisa lagi di hubungi.
Namun apa yang harus aku sesali lagi. Ini semua memang salahku yang sudah mencampakannya lebih dulu. Dan setelah lama berpikir, aku memutuskan untuk pergi ke stasiun kereta api. Entah mengapa satu kota menjadi tempat tujuan kali ini. Aku ingin merantau ke kota Surabaya, kota yang sama sekali belum pernah aku jelajah.
Setelah lama menunggu, akhirnya aku berangkat dengan menaiki kereta malam. Entah mengapa, begitu kereta api mulai melaju, air mataku mengucur dengan deras. Aku terisak dengan menutup mulutku, agar penumpang lain tidak tahu kalau saat ini aku tengah menangis.
"Kamu kenapa dek?" tanya seorang wanita berambut blonde.
"Tidak apa-apa tante. Aku hanya sedih, karena baru merantau untuk pertama kalinya." Jawabku seadanya.
"Harus nekad kalau mau sukses. Kamu sedang hamil?" tanya tante itu.
Tenyata kehamilanku memang sudah menonjol, buktiknya meski aku mengenakan pakaian sedikit longgar, ternyata perutku masih terlihat buncit.
"Iya tante." Jawabku.
"Aneh sekali. Kamu merantau sendiri dalam keadaan hamil? suamimu kemana?" tanya tante itu.
"Kami sudah bercerai." Jawabku.
"Lalu bagaimana caranya kamu mengurus anakmu nanti, saat kamu pergi bekerja?" tanya tante itu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu tante. Terus terang aku bingung saat ini mau pergi kemana." Air mataku kembali mengucur.
Entah mengapa aku jadi menceritakan semua permasalahanku, tanpa ada yang aku tutupi. Higga akupun menceritakan aibku sendiri. Tapi efeknya sangat luar biasa, aku benar-benar merasa lega setelahnya.
"Bagaimana ya? sebenarnya aku memang sedang mencari pramusaji di salah satu bisnisku. Terus terang aku juga bukan orang baik seperti yang kamu pikirkan. Tapi melihatmu yang sedang hamil, kamu pasti akan kesulitan bekerja. Karena pekerjaan ini tidak bisa diprediksi,"
"Maksudnya bagaimana ya tante?" tanyaku penasaran.
Terus terang aku sudah senang saat mendengar dia seorang pebisnis.
"Aku lihat kamu bisa berpotensi menjadi primadona dibisnisku ini. Soalnya kamu sangat cantik dan bodimu juga bagus. Tapi ya itu, karena kamu hamil tentu kamu tidak bisa,"
"Memangnya tante punya bisnis apa?" tanyaku yang tambah penasaran.
"Klub malam. Kebetulan aku juga baru menikah, dipernikahanku sebelumnya aku tidak punya anak. Sekarang aku sudah menikah lagi. Usiaku sekarang hampir berkepala 5. Aku juga tidak memiliki sanak saudara, bisa dibilang aku hidup sebatang kara."
"Benarkah? aku kira umur tante masih sekitar 35 an," ujarku yang tidak percaya karena wanita itu masih terlihat muda dan cantik.
"Terima kasih loh atas pujiannya." Jawab tante Sekar yang sudah ku ketahui namanya setelah dia menyebutkan namanya sendiri.
"Tante bolehkah aku bekerja di tempatmu? aku tidak masalah kalau hanya bekerja sebagai pengantar minuman. Minimal aku punya pekerjaan untuk sementara waktu,"
"Bagaimana ya? aku takut ini terlalu beresiko untuk kehamilanmu. Tapi nanti akan aku diskusikan dulu dengan suamiku ya?"
"Emm." Aku mengangguk.
"Kalau begitu kamu ikut aku saja. Di dekat klub malamku ada banyak kontrakkan murah," ujar tante Sekar.
"Benarkah?" tanyaku.
"Ya. Rumah pribadiku juga tidak jauh dari situ, jadi aku bisa memantau keadaanmu nanti," ujar tante Sekar.
"Tante terima kasih banyak sebelumnya. Mungkin pertemuan kita kali ini memang sudah takdir. Saat ini aku hanya mengikuti air yang mengalir saja, selebihnya aku pasrahkan dengan yang maha kuasa."
__ADS_1
"Jangan menyerah, kamu masih sangat muda. Masih bisa berkarya untuk kedepannya," ucap Tante sekar.
Setelah banyak berbincang-bincang, tidak terasa kamipun tertidur. Dengan ditemani suara mesin kereta api sebagai lagu penghantar tidur kami.