
"Kalian jadi mau pulang ke kota J hari ini?" tanya Rendy.
"Jadi. Sebentar lagi kami akan pergi ke bandara." Jawab Dios.
"Biar aku antar ke bandara. Terus kalian mau melangsungkan pernikahan dimana?" tanya Rendy.
"Kalau memang direstui, kami ingin melakukan Ijab Qobul sederhana disana. Kami sudah sepakat tidak akan bermewah-mewah. Toh kami sudah punya anak juga sekarang." Jawabku.
"Yang penting sekarang ini kami mau berjuang dulu untuk mendapatkan restu orang tuanya Caren," timpal Dios.
"Siap-Siap wajah gantengmu jadi bonyok," ujar Rendy sembari terkekeh.
"Sudah resiko buat dapatin cewek cantik. Jangankan cuma bonyok, matipun aku rela," ucap Dios.
"Jangan ngomong sembarangan bisa nggak sih?" aku tidak suka mendengar Dios bicara soal kematian.
"Ya maaf sayangku," ujar Dios.
"Ya sudah tunggu apalagi? mending kita berangkat ke bandara sekarang,"
Aku mengajak Dios segera pergi ke bandara. Karena waktu keberangkatan kami tidak lama lagi. Kamipun pergi ke bandara diantar oleh Rendy. Saat kami tiba dibandara, tidak butuh waktu yang lama kami langsung memasukki pesawat.
Disepanjang pejalanan pulang, aku selalu memanjatkan do'a-do'a. Agar semua hajat dan urusan kami dilancarkan. Setelah kami sampai di bandara soekarno hatta, kamipun langsung memesan taksi. Mungkin karena lelah, Marta sedikit agak rewel.
Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, kini kami tiba disebuah rumah yang sangat aku rindukan selama ini. Belum masuk dan mengetuk pintu saja, air mataku sudah merebak tak terkendali.
"Hey...sayang. Kendalikan dirimu," ujar Dios.
Aku menatap disekeliling rumahku, aku merasa suasana rumahku itu sangat berbeda hari ini. Terasa sepi dan sunyi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Pintu rumahku juga semuanya tertutup, termasuk jendela. Padahal nenekku orang yang menganut kata pamali. Nenek bilang kalau ingin banyak rejeki, biarkan pintu rumah kita terbuka yang diawali subuh hari.
Aku juga melihat beberapa tetangga hanya melihatku dari jendela tanpa ada keinginan menyapa. Dan entah kenapa debaran didadaku semakin menjadi-jadi.
"Sayang. Biar aku yang ketuk rumahmu ya?" tanya Dios.
Aku menyeka air mataku sembari menganggukkan kepala tanda setuju. Dios mulai mengetuk pintu sebanyak 3 kali. Namun karena tidak ada yang membuka pintu dan menyahuti salamnya, Dios kembali mengulangnya beberapa kali.
Kriekkkk
Mataku terpaku, saat melihat mamaku membuka pintu dengan wajah pucat. Mama juga melilitkan syal dilehernya,
"Ma-Mama," ucapku lirih dengan air mata yang kembali merebak.
"Ca-Caren. Caren, kau kah itu nak?" tanya mama.
Namun ada hal aneh yang aku rasakan, ketika mama meraba-raba wajahku. Mama seperti orang yang tidak fokus.
"Mama? mama kenapa ma?" tanyaku sembari meraba-raba wajah mama.
"Hiks...Caren."
Mama dan aku saling berpelukkan. Aku belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya pada keluargaku. Sampai saat aku diajak mama masuk kedalam, namun mama menggunakan sebuah tongkat agar bisa mengenali jalan dalam rumah.
"Ma-Mama kenapa?" bibirku bergetar saat bertanya.
__ADS_1
Aku membimbing mama masuk kedalam dan duduk disalah satu sofa.
"Mana papa dan nenek?" tanyaku kembali
Bukannya menjawab, Mama malah kembali menangis terisak yang membuat aku jadi bingung.
"Sebenarnya apa yang terjadi ma? kenapa mama jadi nggak bisa lihat gini?" tanyaku.
"Setelah kamu diusir dari rumah. Mama dan papa bertengkar hebat. Mama berusaha meyakinkan papamu, bahwa tindakkannya itu sangat keliru. Namun setelah mama berhasil membuat papamu sadar, dan kami berniat mencari keberadaanmu dihari itu. Kami mengalami kecelakaan, hingga menyebabkan mama buta, papa lumpuh dan...."
Suara mama tercekat ditenggorokkannya, dengan air mata yang kembali merebak. Sementara aku, tubuhku jadi gemetar saat mendengar cerita mama yang belum usai itu.
"Ne-Nenek mana ma?" tanyaku untuk memastikan.
"Ne-Nenekmu meninggal saat kecelakaan itu." Jawab Mama terisak.
Deg
Jantungku seolah hendak berhenti berdetak. Tubuhku mematung, air mataku mengucur dengan deras. Tubuhku melemas dan tidak sadarkan diri.
"Sayang. Sayang...."
Aku masih bisa mendengar sayup-sayup suara Dios memanggilku, sebelum akhirnya semua terasa gelap gulita. Sementara itu mama tampak kebingungan karena ada suara seorang pria di dalam rumahnya. Terlebih Marta yang sempat terlelap dipangkuan Dios jadi menangis, karena terkejut mendengar suara Dios yang menggelegar karena menyeruku.
"Ca-Caren. Caren kenapa? kamu siapa? suara anak siapa itu?" tanya mama bertubi-tubi.
"Caren pingsan ma. Ini Dios, kekasih Caren. Ayah dari Marta anaknya Caren." Jawab Dios yang mencoba menjelaskan, meski kata-katanya belepotan karena terlalu panik.
"Iya ma. Aduh bagaimana ini," Dios jadi kebingungan. Bagaimana cara bertindak, karena dirinya sedang menggendong Marta.
"Sini serahkan Marta pada mama. Kamu urus Caren dulu," ujar Mama.
"Tolong ya ma," ujar Dios sembari meletakkan Marta dipangkuan mama.
Ajaibnya Marta langsung diam, hingga Dios sedikit lebih tenang. Aku kemudian dibaringkan diatas sofa panjang. Dios kemudian memberikan hidungku minyak kayu putih milik Marta, hingga aku lebih cepat sadar.
Saat aku sadar, aku langsung berhambur kepelukkan Dios sembari terisak.
"Ini semua gara-gara aku. Akulah yang menyebabkan keluargaku celaka, aku yang menyebabkan nenek meninggal. Hiks...."
Sungguh aku sangat sedih kehilangan nenek. Namun belum puas aku meluapkan emosi kesedihanku, kami mendengar ada suara yang terjatuh dari arah kamar mama.
"Caren...papa," ucap Mama yang membuatku bangkit seketika dari tempat duduk.
"Mama tunggu saja disini, biar aku yang bantu Caren lihat papa," ucap Dios.
Aku dan Dios bergegas berlari kearah kamar papa. Mataku terbelalak, saat melihat papa sudah jatuh kelantai sembari menangis. Sungguh aku tidak pernah melihat papa selemah itu. Orang yang paling aku hormati, orang yang gagah dan berwibawa, terlihat sangat lemah dimataku saat ini.
"Papa," aku menjerit sembari berhambur kearah papaku.
"Ca-Caren. Caren maafin papa, hiks...." papa terisak.
"Nggak pa. Caren yang harusnya minta maaf. Gara-Gara Caren keluargaku jadi celaka. Ini semua karena aku sudah mengecewakan papa. Semua tindakan papa benar, kini Caren sudah jadi anak baik pa. Caren janji nggak akan mengecewakan papa lagi. Hiks...."
__ADS_1
Aku dan papa saling berpelukkan untuk meluapkan emosi kami masing-masing.
"Sayang. Biarkan aku mengangkat papa keatas ranjang dulu," ujar Dios.
Papa menatap Dios, dan kemudian menatapku seolah minta penjelasan.
"Akulah orang yang bertanggung jawab atas semua kekacauan ini pa. Aku Dios, orang yang membuat Caren terjebak dalam hubungan terlarang. Akulah disini yang salah, bukan Caren. Akulah yang membujuknya pertama kali, Caren tidak salah apa-apa. Aku sunggu-sungguh minta maaf pa," ucap Dios dengan wajah tertunduk.
"Sudahlah. Semua sudah terjadi dan berlalu. Sekarang yang harus kalian pikirkan bagaimana kalian menatap masa depan kalian bersama anak kalian itu. Anak? kemana cucuku?" tanya Papa.
"Dia ada diruang tamu bersama mama." Jawabku.
"Bantu papa naik keatas kursi roda. Papa ingin melihat cucuku. Apa dia seorang jagoan?" tanya Papa sembari Dios membantu papa naik keatas kursi roda.
"Ya. Dia jagoan seperti papa. Sangat tampan dan menggemaskan." Jawab Dios.
Dios kemudian mendorong papa dengan kursi roda kearah ruang tamu. Kami kembali berbincang hangat diruangan itu.
"Biarkan papa menggendongnya," ujar papa.
"Apa dia bayi laki-laki?" tanya Mama sembari menyerahkan Marta padaku untuk aku berikan kepangkuan papa.
"Iya ma. Dia bayi yang tampan dan menggemaskan." Jawabku sembari tersenyum.
"Ah...andai saja mama bisa melihat,"
Sungguh keluhan mama ibarat cambuk yang menyakiti tubuhku. Dios bisa melihat kesedihan dimataku.
"Siapa nama cucu tampanku?" tanya Papa.
"Marta Almigo kakek." Dios menjawab pertanyaan Papa yang menirukan seolah Martalah yang bicara.
"Apa kalian sudah menikah?" tanya papa.
Aku dan Dios jadi terdiam seketika. Kami cukup malu untuk mengakuinya.
"Belum pa. Mana mungkin kami menikah tanpa restu papa dan mama. Terlebih Caren butuh papa jadi wali nikah Ceren." Jawabku.
"Jadi sampai anak kalian lahir, kalian masih melakukan kumpul kebo?" tanya Papa.
"Eh? nggak pa. Kami juga baru dipertemukan lagi setelah Marta lahir. Ya memang sebelum itu kami pernah bertemu sebentar, tapi kami terpisahkan lagi waktu itu. Dan sekarang atas nama anak dan atas nama cinta, kami memutuskan untuk kembali bersama. Kasihan Marta kalau dia tidak mendapatkan cinta yang utuh dari kedua orang tuanya." Jawabku.
"Baguslah. Itu artinya kalian sudah menyadari kesalahan kalian sebelumnya. Jadi kapan rencananya kalian akan menikah?" tanya Papa.
"Aku akan mengurus semuanya pa." Jawab Dios.
"Apa kalian ingin mengadakan pesta pernikahan besar-besaran?" tanya papa.
"Nggak pa. Kami sudah punya anak juga. Daripada menghambur-hamburkan uang, lebih baik ditabung buat pendidikkan Marta nanti." Jawabku.
"Bagus. Papa akan mendukung apapun keputusan kalian," ujar papa.
Kini aku bisa bernafas lega, karena satu masalahku sudah selesai. Kini aku dan Dios tinggal menyusun rencana pernikahan kami dihari berikutnya.
__ADS_1