
Sejak aku dinyatakan hamil, sikap Delano aku merasa dia sedikit berubah. Tidak hanya jarang pulang kerumah, Delano juga jadi kurang perhatian. Rumah kami yang berada di pinggiran kota jadi terasa begitu menyeramkan, karena penghuninya sangat sedikit. Tiap hari aku hanya di sibukkan dengan mengurus dua ekor kelinci, dan berkebun sayur di belakang rumah.
Tiap kali aku menghubunginya nomornya selalu tidak aktif. Aku jadi merasa dia seolah sama sekali tidak menginginkan kehadiran anak dalam perutku ini.
Ini sudah menginjak bulan kelima usia kehamilanku. Tapi aku belum sama sekali diajak Delano untuk memeriksakan lagi kehamilanku sejak yang pertama kali waktu itu. Sungguh aku penasaran dengan rupa anakku, sementara dia selalu melarangku untuk pergi periksa sendirian. dia selalu beralasan nunggu kepulangannya dari luar kota.
Tidak terasa dua bulan telah berlalu, dari Delano meminta izin padaku untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Dia bilang bonus kali ini sangat besar, bahkan bisa buat biaya pendidikkan anak di masa depan. Di iming-imingi seperti itu tentu saja aku mengizinkan. Bagiku kebahagiaanku tidak terlalu penting, jika dibandingkan dengan kebahagiaan anakku
Namun menginjak bulan ketiga kepergian Delano, aku sudah merasakan gelisah. Setelah aku pikir-pikitlr, materi bukan tujuan kebahagiaanku. Aku memang berlimpah secara materi, tapi aku tidak bahagia secara batin. Sikap Delano padaku, aku rasakan sudah tidak wajar lagi untuk seorang pekerja kantoran. Aku sempat berpikir, apa dia memiliki wanita simpanan diluar sana? atau tubuhku tidak menarik lagi setelah aku mengandung?
Aku akui tubuhku sedikit gemuk dari sebelum hamil. Tapi itu bukan alasan, agar dia bisa berbuat seenaknya padaku dan tidak memeperdulikan anaknya.
Lama aku merenung, aku jadi teringat perihal Apartemen yang pernah aku jadikan tempat mengintai waktu itu. Aku bertekad akan menemui Delano secara langsung.
Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, akupun tiba di kawasan apartemen dengan mengendarai taksi online. Nasib baik berpihak padaku, saat di loby aku melihat Delano disana. Meski aku kecewa dia sudah berbohong padaku dengan mengatakan pergi ke luar kota, tapi setidaknya aku senang karena saat ini dia baik-baik saja.
"De...."
Kata-Kataku terhenti. Saat tadinya aku lihat dirinya sendirian duduk di sebuah kursi panjang, tiba-tiba ada seorang pria yang datang dari arah meja resepsionis. Aku melihat mereka bergandengan dengan saling menggenggam jari satu sama lain.
Aku mengerutkan dahiku. Aku merasa pemandangan itu sedikit janggal, terlebih pria yang dia gandeng itu seorang pria parubaya yang tak lain adalah bosnya di kantor.
__ADS_1
Yah...aku tahu itu sosok bosnya di kantor, karena tidak sengaja aku melihat Delano memasang wallpaper ponselnya dengan foto mereka berdua. Aku tidak protes padanya waktu itu, karena aku pikir itu hanya bentuk kekaguman dan rasa hormatnya pada atasam.
Namun saat aku melihatnya secara langsung, aku merasa ada yang seperti tidak wajar disini. Akupun bergegas mengikuti mereka, hingga berada tepat di depan apartemen yang pernah aku intai waktu itu.
Dan hal yang mencengangkanpun aku lihat. Saat Delano tengah menekan beberapa digit angka di layar monior pintu apartemen, pria parubaya itu memeluk Delano dari belakang, sembari mencuri-curi ciuman di tengkuk suamiku itu. Terus terang awalnya aku masih berpikir positif, meskipun sejujurnya aku sedang membohongi diriku sendiri saat ini.
Namun saat pintu itu mulai terbuka, mereka seolah tidak sabar lagi ingin melampiaskan sesuatu yang segera mendesak. Pria parubaya itu menyeret tangan Delano, dan naasnya pintu apartemen itu tidak tertutup rapat. Pintu itu seolah tahu, hari ini adalah hari dimana kebusukkan Delano terungkap.
Aku perlahan mendorong pintu itu, dengan langkah kaki gugup gemetar. Apartemnen itu cukup mewah dan luas, hingga aku kesukitann mencari Delano yang tiba-tiba menghilang dari pandangan mataku.
Namun sayup-sayup aku mendengar, ada suara aneh yang hadir di salah satu kamar yang pintunya pun tidak tertutup rapat. Aku sedikit membuka pintu itu, dan melihat Delano tengah ditunggangi oleh pria parubaya itu dari arah belakang. Reflek aku merasakan mual di perut dan mulutku. Air mataku merebak, namun aku tidak punya kesempatan untuk bersikap tegas, karena tiba-tiba aku mendengar ada suara langkah kaki luamayan banyak yang masuk ke apartemen itu.
Diluar dugaanku. 3 pria yang baru datang, malah masuk dengan santai ke kamar itu, mereka seolah sudah biasa melakukan hal itu. Ternyata tempat itu mereka jadikan tempat untuk melakukan hal tidak terpuji. Dan yang lebih memalukan lagi, Delano dengan suka rela digilir oleh banyak pria. Aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang sangat menikmati percintaan terlarang itu. Bahkan aku belum pernah melihat ekspresinya yang seperti itu, saat sedang bercinta denganku.
Tubuhku mendadak lemas seketika. Tubuhku tiba-tiba merosot di lantai, seolah dagingku tidak memiliki tulang lagi. Aku bisa melihat dari celah pintu, kalau salah satu pria yang tak lain adalah bosnya keluar dengan wajah puas. Namun di dalam kamar itu masih saja terdengar suara yang bersahutan, suara lengkingan Delano saat lobang daruratnya dihujam dengan keras oleh teman prianya.
Aku harus bagaimana sekarang? apa aku harus memaafkan penghianatan Delano, agar semuanya impas karena aku juga pernah menghianatinya. Kenapa Delano seperti ini? apa ini karena dia tidak percaya diri, sebab miliknya tidak sebesar Dios. Atau durasi bercintanya yang sangat singkat?
Aku sungguh menghadapi Dilema yang besar saat ini. Setelah lama terkurung di gudang, akhirnya aku melihat ketiga pria itu keluar dengan wajah puas. Keempat pria itu kulihat mengeluarkan uang yang akupun tidak tahu jumlahnya. Sesaat kemudian Delano keluar, dengan hanya menggunakan boxer ketatnya.
Delano kemudian duduk dipangkuan bosnya, dan sesekali mereka berbincang sembari berciuman mesra. Aku mendadak menghapus bibirku, karena aku teringat Delano menciumku. Aku jadi merasa seolah bibir pria tua itu menempel dibibirku.
__ADS_1
Pria tua itu meraih segepok uang yang ada diatas meja. Kemudian memasukkannya kedalam boxer Delano. Kini aku mengerti, suamiku sudah menjual dirinya pada pria-pria tua itu.
"Ya Tuhan...jadi dia menafkahiku dengan uang hasil menjual diri?" ucapku lirih.
Aku kemudian memasang telingaku untuk mendengar percakapan mereka. Sungguh aku tidak pernah mendengar Delano bersuara manja seperti itu denganku. Bahkan suaranya jauh lebih manja, saat aku bermanja dengan dirinya.
"Papi. Besok aku pulang ya? ini sudah bulan ketiga aku meninggalkan istriku," ujar Delano sembari memainkan jari telunjuk di dada suamiku.
"Kenapa kamu masih mempertahankan dia? kamu tidak mencintainya, lebih baik kamu ceraikan dia dan tinggal di apartemen ini dengan tenang," ujar sang bos.
"Sebelun papi menceraikan istri papi, aku juga nggak mau menceraikan istriku," ucap Delano.
"Baby. Sejak awal menikah aku tidak pernah mencintainya. Aku ini seorang gay, sama sekali tidak tertarik bercinta dengannya. Aku menikahi dia hanya untuk di jadikan tameng keluargaku. Tunggu sampai dia mati, baru kita akan bebas."
"Aku juga begitu. Kan papi yang mengajarkan itu semua. Tapi akhir-akhir ini aku jadi takut,"
"Kenapa?"
"Karena papi mengizinkan teman-teman papi ini mencicipiku. Aku jadi merasa papi tidak menginginkan aku lagi." Jawab Delano.
Pria itu jadi terkekeh, dan kemudian me**mat bibir Delano yang sedang mengerucut manja.
__ADS_1