TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
71. Stres


__ADS_3

"Rendy. Mama mohon bantu mama keluar dari sini. Mama nggak mau dipenjara. Hiks..." Leni terisak.


Yah...saat ini Leni memang tengah berada di rumah tahanan. Rendy menepati janjinya untuk memasukkan Leni kedalam penjara.


"Mama yang sabar ya? Rendy secepatnya akan menemukan keberadaan Mas Rudi dan juga mbak Mia. Lagian kenapa mama melakukan hal seperti ini sih Ma? mama membuat Rendy sangat kecewa dan malu," tanya Rendy.


"Awalnya mama cuma berniat membuat kesepakatan dengan Caren, agar dia pergi dari kota ini. Tapi mama tidak menyangka, anak durhaka itu malah membawa Marta kabur entah kemana. Mereka sama sekali tidak mikir, apa dampaknya sama mama." Jawab Leni.


"Ini pelajaran buat mama..Jangan mudah percaya dengan orang lain, meskipun itu keluarga sendiri," ucap Rendy.


"Pokoknya kamu harus bantuin mama Ren. Mama bisa stres kalau lama disini," ujar Leni.


"Iya. Mama tenang aja ya? banyak-banyak berdo'a. Tolong pikirkan juga, kira-kira mereka kalau kabur perginya kemana," ucap Rendy.


"Iya." Jawab Leni.


"Rendy sekarang pulang dulu ya?" tanya Rendy.


"Hiks...Rendy jangan tinggalkan mama. Mama takut disini," ucap Leni sembari melirik narapidana lain yang berada satu sel dengannya.


"Mama tidak usah takut. Ada bapak-bapak polisi yang bakal jagain tahanannya," ucap Rendy.


Dengan berat hati Leni akhirnya melepaskan kepergian Rendy. Sementara itu di tempat berbeda, Rudi dan Mia kini tengah berada dipinggiran kota. Keluarga mereka memang sedikit bingung saat akan mencari Rudi. Pasalnya Rudi tidak bekerja seperti Rendy, atau pria yang bekerja kantor seperti kebanyakkan orang.


Rudi menggeluti usaha dagang pakaian ditiap-tiap pusat perbelanjaan, dan juga menyewa ruko. Meski usaha itu tetap bejalan, tapi dia menyuruh pegawainya untuk megelolah toko itu. Berkali-Kali Rendy mencari keberadaan Rudi dan Mia ditiap tokonya, tapi hasilnya nihil.


Pegawainya juga tidak tahu keberadaan tuannya. Rudi akan memberikan intruksi dengan cara menelpon dengan nomor yang sudah di private. Akhirnya Rendy menitipkan pesan pada anak buah Rudi, yang memang mejadi orang kepercayaan Rudi.


"Kalau dia nelpon. Katakan padanya untuk menemui Rendy. Kalau tidak wajahnya dan wajah istrinya akan berada disetiap media masa, baik dalam maupun luar negeri," ujar Rendy.


"Baik pak." Jawab pria itu.


Selang dua hari kemudian, Rendypun menerima panggilan dari nomor yang tidak dia kenal. Rendy bergegas menerima panggilan itu, karena dia sangat yakin itu berasal dari Rudi.


"Mas? kamu dimana?" tanya Rendy yang langsung menebak itu Rudi, saat orang itu tidak mengeluarkan suaranya selama beberapa detik.


"Ada disuatu tempat." Jawab Rudi diseberang telpon.


"Pulangkan Marta mas. Kasihan orang tuanya. Saat ini situasi semakin rumit, karena mas membawa Marta kabur," ujar Rendy.

__ADS_1


"Kamu harus bantuin mas buat menghilangkan jejak Ren. Mas dan Mbakmu sudah terlanjur menyayangi Marta. Kamu tenang saja, Marta akan kami urus dengan baik," ucap Rudi.


"Orang tuanya tidak butuh orang lain buat mengasuh anaknya. Mereka masih muda dan banyak uang. Mas harus tahu, saat ini Caren sudah ada yang melindungi. Ayah dari Marta sudah kembali. Dan karena ulah Mas itu, sekarang mama berada dalam penjara," ujar Rendy.


"Ap-Apa? mama berada dalam penjara?" tanya Rudi terkejut.


"Iya mas. Kasihan mama. Di usianya yang senja seperti itu harus merasakan masuk sel tahanan. Caren dan Dios berjanji tidak akan memperpanjang masalah ini, kalau kalian mengembalikan Marta secepatnya." Jawab Rendy.


"Masih ada waktu satu minggu buat mas megembalikan Marta Mas. Kalau dalam jangka satu minggu mas nggak mengembalikan Marta, maka kasus penculikkan ini akan dilimpahkan di kejaksaan. Mama akan dihukum berat, dan kalian pasti akan menjadi buronan seumur hidup," sambung Rendy.


Rudi tidak mengeluarkan suara sedikitpun, sampai akhirnya pria itu terdengar menghela nafas berat.


"Mas akan membicarakannya dulu dengan mbakmu. Sejujurnya Mas nggak sampai hati memberitahunya. Sejak kehadiran Marta, dia seperti memiliki semangat hidup yang baru. Kami juga tidak tahu, kenapa kami tidak bisa memiliki anak sendiri. Padahal kata dokter kami dalam keadaan baik-baik saja," ujar Rudi.


"Banyak faktor kenapa kalian belum diberikan keturunan sampai sekarang. Dan bisa jadi salah satu faktor itu karena hati kalian masih keruh. Aku lihat kalian selalu berkata kasar dengan orang lain, terutama pada pegawai toko kalian. Mungkin mulai sekarang kalian harus bersihkan hati dulu, dan bertaubat sembari terus meminta keturunan pada-Nya,"


"Makasih Ren. Secepatnya mas kabari lagi," ucap Rudi.


"Aku tunggu mas. Mas tidak usah khawatir. Aku yang akan menjamin keselamatan kalian dari amarah orang tua Marta. Yang penting kalian dengan tulus meminta maaf pada mereka," ujar Rendy.


"Iya. Aku titip salam buat mama ya? bilang sama mama, mas minta maaf karena sudah membuat mama susah," ujar Rudi.


"Iya mas." Jawab Sendy.


"Kamu kenapa mas?" tanya Mia sembari duduk ditepi tempat tidur.


Rudi menyeka air matanya, dan menatap wajah istrinya itu.


"Kita harus mengembalikan Marta segera Mi." Jawab Rudi.


"Nggak mas. Aku nggak mau dipisahkan dengan Marta," ujar Mia sembari memeluk Marta dengan erat.


"Mia. Ini harus kita lakukan, kalau nggak mama akan benar-benar dipenjara dalam jangka waktu yang lama. Sekarang mama sudah ditahan, kamu coba bayangkan. Diusianya yang sudah tua itu, mama harus mendekam dalam penjara," ucap Rudi.


"Ma-Ma masuk penjara?"


"Iya. Tadi Rendy bilang sama mas. Nggak cuma itu aja, sekarang ayah dari Marta sudah disini buat mencari anaknya itu. Kalau kita tidak mengembalikan Marta, mereka akan membuat kita jadi buronan polisi." Jawab Rudi.


Mia tertunduk sedih. Air mata wanita itu mengucur deras. Rudi menyeka air mata istrinya itu, dan membawa kepalanya masuk kedalam dekapannya.

__ADS_1


"Kita bisa mengadopsi anak dipanti asuhan kalau kamu mau," ujar Rudi.


"Tapi Mia sudah terlanjur sayang sama Marta mas. Rasanya begitu berat pisah dari dia," ucap Mia.


"Begitu juga dengan Caren. Coba kamu bayangkan. Caren pasti sangat menderita saat tahu anaknya hilang. Terlebih dia yang sudah mengandung dan melahirkan Marta dengan penuh penjuangan."


"Sayang. Kita sudah keliru selama ini. Benar kata Rendy. Mungkin kita lambat diberi keturunan, karena hati kita masih kotor. Mungkin dengan kita benar-benar bertobat dan minta maaf pada Caren yang sudah kita dzolimi, Tuhan akan mempertimbangkan kita untuk memiliki anak," sambung Rudi.


"Jadi kita harus benar-benar mau ngembaliin Marta ya mas?" tanya Mia dengan berat


"Iya sayang. Kalau kita mempunyai jodoh lain, kita pasti akan menemukan bayi yang kita inginkan dipanti asuhan. Kamu mau kan?" tanya Rudi.


"Iya mas." Jawab Mia.


"Kalau begitu berkemaslah. Kita akan menemui Caren besok. Mas akan menghubungi Rendy nanti," ujar Rudi.


"Iya mas." Jawab Mia.


Rudi bisa bernafas lega, karena Mia bisa dibujuk tanpa mengalami kesulitan. Setelah berkemas, merekapun memutuskan pulang ke rumah orang tua mereka. Rendy sangat senang, karena kakaknya mau mendengarkan ucapan dia. Rendy sengaja tidak memberitahu Dios tentang keberhasilannya membawa Marta pulang. Karena dia ingin Mia dan Rudi langsung datang menemuinya dan Caren untuk meminta maaf.


*****


"Ren. Mbak malu," ujar Mia saat mereka sudah berada di depan rumah Dios.


"Nggak apa mbak. Niat kita kan baik. Percayalah, mereka pasti menyambut kita dengan baik." Jawab Rendy.


Rendy kemudian menekan bel beberapa kali, dan seorang pelayan membukakan pintu. Merekapun dipersilahkan duduk, untuk menunggu majikkannya yang sedang berada di kamar atas.


"Gerak cepat juga si Dios bajingan itu. Baru ketemu sudah berhasil membawa Caren kembali keranjangnya. Jangan-Jangan tahun depan sudah dapat keponakkan lagi ini," batin Rendy.


Tidak berapa lama kemudian Dios dan Caren turun dengan bergandengan tangan dengan rambut dalam keadaan basah.


"Apa aku bilang. Gini-Gini sok khawatir kehilngan Anak. Padahal mah, bikin anak terus selama Marta ilang. Keramas terus tanpa henti," batin Rendy.


Caren melepaskan genggaman tangannya pada Dios, saat melihat Mia menggendong seorang bayi ditangannya. Caren bahkan hampir tersungkur, saat berlari kearah Mia.


"Sayang hati-hati," teriak Dios yang bergegas menangkap tubuh Caren dari belakang.


"Kak. Anak kita kak. Hiks...."

__ADS_1


"Aku tahu. Anak kita sudah kembali," ujar Dios sembari menyeka air mata Caren.


Caren kemudian meraih putranya dari tangan Mia. Mia jadi terisak dipelukkan rudi, saat melepas Marta ketangan Caren. Rudi jadi ikut berkaca-kaca, karena dia paling mengerti bagaimana perasaan istrinya itu.


__ADS_2