
Flashback Off
"Jadi kamu main gila dengan pria kere itu?" tanya Delano.
"Pria kere yang kamu bilang itu pria yang sangat aku cintai sekarang. Ayah dari anakku, aku tidak akan membiarkan kamu menghinanya," ucapku dengan lantang.
"Bagus sekali Caren. Kamu sekarang dengan lantang mengakui kalau pria itu adalah selingkuhanmu?"
"Kenapa tidak? kamu juga melakukan itu. Bahkan lebih menjijikkan menurutku. Ingat Delano, suatu saat kamu akan kena azab karena melakukan perihal menyimpang seperti itu,"
"Aku akan menceritakan pada orang tuamu kalau kamu berani meminta cerai," ancam Delano.
"Oh ya? aku juga bisa menceritakan prilaku menyimpangmu itu pada orang tuamu dan orang tuaku? menurutmu, dampak yang mana yang lebih besar? kalau aku tentu jelas akan disuruh cerai sama kamu. Nggak mungkin orang tuaku menginginkan anaknya punya suami seorang gay,"
"Jadi Delano. Terima saja keputusanku," sambungku.
"Selangkah kamu keluar, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa, termasuk rumah ini," ujar Delano.
"Aku sama sekali nggak tertarik makan duit haram dari hasil menjual lobang tahi." Jawabku.
Aku akui jawabanku itu cukup kasar. Tapi aku tidak perduli. Keputusanku sudah bulat. Aku tetap ingin bercerai dari Delano.
Aku menyeret koper besarku, aku segera memesan taksi online dan pulang kerumah orang tuaku.
Kriekkkk
Pandangan mata Mamaku menyipit, saat dia melihatku berdiri disamping sebuah koper besar. Aku kemudian berhambur kepelukkan mama, dan terisak dalam pelukkannya itu.
"Ada apa? kamu bertengkar dengan Delano?" tanya Mama.
"Sebaiknya kita masuk dulu. Kita bicarakan saja semuanya di dalam," ujar mama yang kemudian merangkul pundakku, dan menyeret koperku.
Aku dan mama kemudian duduk di sofa rumah tamu, di susul neneku yang baru datang dari arah kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa? kamu bertengkar hebat dengan Delano? kok sampai bawa koper sebesar ini?" tanya Mama.
"Aku memutuskan ingin bercerai dari Delano ma." Jawabku di sela isak tangisku.
"Eling kamu Caren. Pernikahan itu bukan permainan. Kamu asal sebut cerai saja. Pertengkaran dalam rumah tangga itu soal biasa, tapi tidak harus menyelesaikan pertengkaran itu dengan sebuah perceraian,".
Nenek panjang lebar menceramahiku. Entah apa reaksinya saat dia tahu, kalau saat ini aku tengah mengandung anak dari pria lain.
"Iya Caren. Apalagi saat ini kamu tengah mengandung. Tidak baik asal bicara," timpal Mama.
"Memangnya ada masalah apa? kok bisa bertengkar hebat begini? apa kamu meminta sesuatu yang tidak bisa dituruti suamimu? kamu harus sabar, suamimu juga lelah bekerja mencari nafkah untukmu," ujar Nenek.
Aku jadi merasa ingin muntah saat ingat uang yang aku makan hasil dari Delano menjual lobang daruratnya itu.
"Aku masih belum bisa menceritakan semuanya. Pada intinya aku tetap ingin bercerai." Jawabku sembari beranjak dari tempat duduk dan pergi dari hadapan mereka untuk masuk ke kamarku.
Nenek dan mama tidak mengejarku, mungkin mereka ingin membiarkanku sendiri dulu untuk menenangkan pikiranku. Namun aku tahu, tidak selamanya aku bisa lolos dari mereka. Pada malam harinya hal itu di bahas kembali, namun kali ini formasinya lebih lengkap. Karena ada papa yang sudah pulang dari bekerja.
"Sebenarnya ada apa kamu kok ngomong pakai minta cerai segala? kalian itu baru menikah, orang yang puluhan tahun menikah saja masih sering bertengkar kok," tanya papa.
"Kami merasa sudah tidak ada kecocokkna lagi pa." Jawabku.
"Omomg kosong. Sebelum mengambil keputusan, pikirkan dulu dampaknya. Anakmu itu butuh ayahnya. Kalian sebagai orang tua jangan egois memikirkan diri sendiri,"
Papa sampai melepaskan sendoknya karena emosi. Aku menelan makananku bulat-bulat tanpa kukunyah lagi. Aku benar-benar takut saat ini. Aku tidak bisa membayangkan reaksi papa saat tahu anak yang ku kandung adalah hasil dari perselingkuhan.
"Delano punya simpanan lain," kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, yang membuat semua keluargaku jadi terdiam.
"Apa kata-katamu itu bisa di percaya?" tanya Mama.
"Emm." aku mengangguk.
"Aku bahkan menyaksikan sendiri perbuatannya itu." Jawabku tanpa ragu.
__ADS_1
"Mungkin kalau perselingkuhan biasa aku bisa memaafkannya, tapi aku melihat sendiri saat dia sedang berhubungan dengan selingkuhannya itu," sambungku.
"Aku akan menemui Delano,"
Papa bangkit dari tempat duduknya, namun secepat mungkin aku mencegahnya.
"Pa. Buat apa papa kesana, dia pasti mempengaruhi papa agar aku tidak jadi menceraikannya. Keputusanku sudah bulat, aku tetap ingin bercerai dengannya," ucapku.
"Kalau masih bisa diperbaiki mengapa tidak. Minimal kita melakukannya demi anak kalian. Papa akan menyuruhnya menghempaskan pelakor itu," ujar papa.
Papa segera melangkah menjauhi meja makan. Aku yang hilang kesabaran langsung membuat langkah kaki papa berhenti kembali.
"Masalahnya dia selingkuh bukan dengan pelakor sembarangan. Dia seorang gay, dan sudah menjual dirinya itu," aku mengatakannya dengan nafas yang naik turun.
Sementara nenek dan mama membulatkan mata mereka, saat mendengar pengakuanku. Aku melihat papa berbalik badan dan mendekat kembali kearahku. Ditatapnya mataku, seolah ingin mencari kejujuranku.
"Jangan hanya ingin bercerai, kamu jadi berkata yang diluar batas ucapan sebagai seorang istri. Caren, papa akan mendukungmu bercerai, kalau memang semua ucapanmu itu benar," ujar Papa.
"Sebenarnya sejak awal dia sudah menipuku, menipu kalian semua. Hanya saja kenapa harus aku yang merasakan hal ini," aku tertunduk sedih.
"Apa maksudmu?" tanya Papa.
Aku menceritakan semua dari awal aku berpacaran dengan Delano, sampai keadaan rumah tanggaku selama aku menikah dengannya. Berbagai ekspresi bisa aku lihat, saat mereka mendengar aku bercerita. Mereka seolah tidak menyangka, kalau pria setampan dan segagah Delano memiliki prilaku seperti itu.
"Baiklah. Kalau begitu tidak perlu dipertimbangkan lagi. Besok papa akan menemanimu untuk mengajukan perceraian ke pengadilan," ujar papa.
Akupun mengangguk senang. Tapi rasa gelisah itu tentu saja masih ada. Suatu saat aku pasti akan kena imbasnya juga.
*****
Satu minggu kemudian....
Tanda tangan cerai Delano sudah aku dapatkan. Mediasipun sudah gagal, karena aku tetap kekeh dengan keputusanku. Akhirnya sidang pertama di gelar, tanpa kehadiran Delano dari pihak tergugat. Aku justru senang dia tidak hadir, karena proses perceraian akan lebih cepat.
__ADS_1
Dan sidang putusan akan di gelar minggu depan. Aku ingin segera lepas dari Delano, agar aku bisa melanjutkan hidupku kembali.
Saat sidang terakhir aku lihat Delano hadir. Setelah keputusan dibacakan, kami pun di vonis resmi bercerai. Saat Delano akan melangkah keluar, langkahnya dihentikan oleh papa. Delano menoleh kearahku, namun aku langsung membuang muka.