TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
97. Lamaran


__ADS_3

"Loe yakin mau nikahin gadis ini bro? pas dibuka cadarnya tonggos gimana?" bisik Dios.


"Udah jangan banyak bacot. Pokoknya aku cuma mau dia. Kalau beneran tonggos nggak usah khawatir. Nanti ku getok pakai martil," bisik Rendy.


Saat ini Rendy dan keluarga memang tengah berada di kediaman Abdullah. Tidak hanya Rendy dan keluarganya, Dios dan Carenpun juga turut hadir menyaksikan acara lamaran yang diadakan kilat itu.


"Jadi bagaimana nak Mutia? apa lamaran putra kami Rendy diterima?" tanya Suwito.


"Dengan mengucap bismillahirohmannirohim, lamaran bang Rendy Mutia terima." Jawab Mutia dengan mantap.


Rendy mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. tidak lupa dia juga mengucap syukur didalam hatinya. Mutia kemudian meraih cincin tanda ikatan dari Rendy, dan menyematkannya pada jari manisnya sendiri. Setelah itu acara dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.


"Hebat loh bro. Bisa gaet daun muda," ucap Dios sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


"Oh ya iya dong. Jangan mau kalah sama kamu. Tapi bedanya aku dapat perawan. Tuhan itu maha adil, meski lambat dapat jodoh, tapi sekali dapat yang mantap punya," ujar Rendy terkekeh.


"Untung dia udah 18 tahun Ren. Kalau masih dibawah 15 tahun bisa dikira pedofil kamu," ucap Dios sembari terkekeh.


"Apapun itu aku sudah nggak sabar lagi buat nunggu akhir pekan," ucap Rendy.


"Mesum kamu," ujar Dios.


"Namanya juga udah kelamaan Di. Mana tiap mau nikah gagal terus. Beruntung temanmu ini pria baik-baik dan berprinsip. Meski lama berpacaran, aku nggak pernah tug berbuat yang macam-macam. Jadi Mutia benar-benar mendapatkan perjaka ting-ting."


"Masak si Ren? main solo nggak pernah?" tanya Dios penasaran.


"Kagaklah. Ngapain buang anak sembarangan? ketahuan banget kalau kamu sering main solo," ucap Rendy.


"Ya mau gimana lagi. Dari pada jajan lo*te. Mendingan aku main solo. Tapi ada Caren aku nggak pernah gitu lagi. Caren bisa memenuhi segala hasratku sampai puas," ujar Dios.


"Eh...dia datang tuh," sambung Dios, saat melihat Mutia berjalan kearah mereka.


"Bang. Ini tehnya," ucap Mutia.


"Makasih sayang," ujar Rendy yang menbuat Mutia jadi tersipu dan pergi dari hadapan Rendy dan Dios.


Pukkkkk


Dios memukul lengan Rendy sedikit agak keras.


"Lebay loe. Baru juga kenal dua hari udah panggil sayang-sayang aja," ujar Dios.


"Ya mau gimana lagi. Jiwa keromantisan gue mendadak muncul kalau lihat yang bening," ucap Rendy.


"Lagu loe jiwa keromantisan. Bilang aja jiwa perjaka tua loe yang muncul," ujar Dios sembari terkekeh.


"Sepertinya sudah waktunya kita pulang. Noh...para tetua udah berdiri," ujar Rendy saat melihat kedua orang tuanya sudah berdiri dari tempat duduk.


Rendy segera berpamitan dengan calon mertuanya. Dan tidak lupa pula berpamitan dengan calon istrinya.


"Sayang. Abang pulang dulu ya?" ucap Rendy.

__ADS_1


"Ya bang." Jawab Mutia.


Rendy dan keluargapun pulang dari kediaman Abdullah, sementara Dios dan Caren pulang kerumah mereka.


"Nggak nyangka ya kak. Ternyata jodohnya kak Rendy si Mutia. Aku pikir awalnya kak Rendy cuma asal cari jodoh karena frustasi gagal nikah terus," ucapku sembari menyapu handuk dikepalaku.


"Aku juga sempat berpikiran gitu. Tapi meski Mutia usianya belia, sepertinya pemikiran dia sangat dewasa. Dan sangat layak untuk dijadikan calon istri," ujar Dios.


"Semoga saja ya kak. Habisnya kasihan kak Rendy kayak frustasi gitu pas putus sama Resti," ucapku.


"Amin. Yank,"


"Hem?"


"Gituan yuk?"


"Kakak udah gila ya? aku baru aja selesai mandi kak." Jawabku.


"Tinggal mandi lagi yank. Nanti aku mandiin deh," ucap Dios dengan enteng.


Tentu saja aku tidak punya pilihan lain. Sembari minta, sembari Dios sudah melorotkan kolornya itu. Seperti biasa, meski awalnya kesal. Lambat laun aku juga sangat menikmati pertempuran itu. Bahkan kami mengulanginya hingga berkali-kali.


Sementara itu ditempat berbeda, Rendy tengah merayu Mutia agar mau melepas cadarnya. Tentu saja Mutia menolak permintaan calon suaminya itu.


"Kan akhir pekan kita juga sudah sah jadi suami istri," ujar Rendy saat dirinya tengah melakukan video call bersama Mutia.


"Kalau begitu tunggu sampai akhir pekan ya bang. Jangankan cuma wajah, semuanya juga milik abang." Jawab Mutia.


"Berarti abang cuma penasaran dengan wajahku. Uti jadi takut kalau wajahku tidak semenarik yang abang pikirkan," ucap Mutia.


"Eh? maaf ya sayang. Abang nggak bermaksud gitu. Insya Allah abang akan menerimamu apa adanya," ujar Rendy.


"Makasih ya bang. Kalau gitu Uti tutup dulu telponnya. Soalnya udah adzan asyar," ucap Mutia.


"Iya. Assalammu'alaikum sayang,"


"Wa'alaikum salam." Jawab Mutia dan mengakhiri panggilan itu.


"Ah...gini amat punya calon bini ngerti agama. Aku jadi malah takut nggak bisa bimbing dia, malah dia yang bimbing aku. Tapi nggak apalah, siapa tahu melalui dia aku jadi punya tiket buat masuk surga," Rendy senyum-senyum sendiri dengan hayalannya itu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk nggak dikunci," ujar Rendy.


Ceklek


"Ada apa ma?" tanya Rendy.

__ADS_1


"Mama mau bicara serius sama kamu," ujar Leni.


"Ada apa ma?" tanya Rendy.


"Ini soal calon istri kamu. Jujur saja mama kok agak kurang srek ya?" ucap Leni.


"Jangan bilang mama keberatan gara-gara cadarnya?" tanya Rendy.


"Ya habis gimana ya Ren? kok kayak beli kucing dalam karung gitu. Apa kamu benar-benar yakin sama dia? bagaimana kalau ternyata wajahnya nggak sesuai yang kamu inginkan? mumpung belum terjadi, kamu masih bisa berpikir ulang."


"Lagian dia masih tergolong anak-anak. Orang yang nikah sesama dewasa saja masih bisa cerai, apalagi kamu menikahi anak usia labil begitu? kamu pasti dibuat pusing nantinya," sambung Leni.


"Mama kenapa mikirnya gitu sih ma? bukannya mendo'akan Rendy biar langgeng, ini kok malah mikir yang buruk? kalau semua pilihan Rendy harus sesuai selera mama, itu artinya yang menikah itu mama, bukan Rendy."


"Kadang apa yang kita nilai buruk, pada kenyataannya belum tentu seperti itu. Rendy mohon mama cukup do'akan Rendy saja, selebihnya serahkan semuanya pada Rendy. Mama tidak perlu ikut pusing mikirin rumah tangga Rendy nanti," sambung Rendy.


"Kamu kok ngomongnya gitu banget sama mama?"


"Ya Rendy harus gimana biar mama ngerti. Mama pengen Rendy gagal nikah lagi? jadi mama pengen Rendy jadi perjaka tua?" Rendy mulai kesal.


"Terserah kamu kalau kamu nggak mau dengar peringatan mama. Jangan ngeluh aja nanti, pas istrimu itu banyak maunya,"


Leni segera bangkit dari tepi tempat tidur, dan segera keluar dari kamar Rendy. Rendy hanya bisa menghela nafa kasar.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus cari rumah sendiri. Kalau Mutia tinggal dirumah ini, bisa-bisa akan ada perang dunia tiap hari. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik setelah nikah kami hidup mandiri," ucap Rendy lirih.


Rendy kemudian menghubungi Juan salah satu sahabatnya.


"Ya bro?"


"Ju. Kamu punya kenalan developer perumahan tidak?" tanya Rendy.


"Ada. Kenapa Ren?" tanya Juan.


"Mau cari rumah kredit. Buat persiapan habis nikah nanti." Jawab Rendy.


"Gaya sekali kamu? belum punya calon istri udah mau cari rumah," ucap Juan.


"Kamu yang ketinggalan berita. Gue mau nikah hari minggu nanti.";Jawab Rendy.


"Apa? nikah? siapa yang mau ama bujang lapuk kayak loe?" tanya Juan sembari terkekeh.


"Sembarangan. Umurku baru 30 tahun, mana bisa dibilang bujang lapuk? loe lihat aja ntar, gue bakal bawa kerumah loe istri gue. Dibilangin nggak percaya,"


"Takutnya loe menghayal gegara gagal kawin terus," ucap Juan.


"Sialan loe. Udah ah...ngobrol ama loe bikin emosi. Jangan lupa kirim kontak developernya," ujar Rendy.


"Iya-Iya.


Rendy mengakhiri panggilan itu. Tidak lama kemudian Rendy mendapat nomor kontak developer perumahan yang dia inginkan. Setelah mengetahui lokasi kantor perumahan itu, keesokkan harinya Rendy langsung melihat ke lokasi. Setelah mendapatkan yang klik, Rendypun langsung memenuhi semua persyaratan yang ada.

__ADS_1


__ADS_2