TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
81. Pesan Terakhir


__ADS_3

Dios terlihat mondar mandir menunggu hasil operasi yang tengah berlangsung saat ini. Perasaanku saat ini campur aduk, antara ingin marah, sedih dan cemburu melihat reaksi Dios yang menurutku sangat berlebihan itu. Setelah menunggu hampir 2 jam, ruang operasi itu akhirnya terbuka juga.


"Bagaimana kondisi Sekar?" tanya Dios.


Entah mengapa aku tidak suka dengan jenis pertanyaan Dios itu..Dia seolah hanya fokus pada Sekar, tanpa menanyakan keadaan Ibuku.


"Untuk operasi kornea matanya berjalan lancar. Tapi maaf pak Dios, nyonya Sekar menghembuskan nafas terakhirnya ditengah perjalanan operasi." Jawab dokter.


Dios tertunduk sedih dan terisak. Jujur aku juga sangat sedih dengan kepergian tante Sekar, tapi entah mengapa aku lebih sedih saat melihat sikap Dios.


"Lalu bagaimana dengan mama saya dok?" aku bertanya tanpa memperdulikan Dios.


"Beliau baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir, operasi berjalan sukses." Jawab dokter.


Lagi-Lagi tanpa meminta persetujuanku. Dios mengurus pemakaman tante Sekar. Namun saat dirinya ingin membawa jasad tante Sekar diperistirahatan terakhir, seorang dokter memberikan sesuatu untuk Dios.


"Apa ini?" tanya Dios.


"Ini pesan terakhir yang nyonya Sekar berikan, sebelum kami melakukan operasi terhadap dirinya. Dia ingin anda membacakan pesan itu dihadapan seluruh keluarga anda." Jawab dokter.


Dios meraih map coklat yang dokter sodorkan, dan aku hanua menatap Dios dari kejauhan. Karena ambulance sudah menunggunya, Dios menitipkan amplop itu padaku, karena takut tercecer.


Aku menerima amplop itu dengan mengesampingkan dulu rasa kecewaku pada Dios. Dios kemudian pergi untuk mengurus pemakaman tante Sekar.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat Dios kembali dari tempat pemakaman. Aku melihat mata pria itu sedikit sembab, aku yakin dia terlalu banyak menangisi kepergian tante Sekar disana.


"Aku pulang dulu ya?" ucap Dios.


"Aku ikut," ujarku.


"Kalian pulang saja, biar papa yang jagain mama," ucap papa.


"Ya. Besok aku kembali lagi kesini bawa pakaian ganti buat papa," kataku.


"Iya." Jawab papa.


Aku dan Dios kembali pulang ke rumah. Tak ada percakapan apapun selama perjalanan menuju pulang itu. Dan aku merasa sakit hati karena hal itu.


Saat tiba di rumah hal pertama yang Dios lakukan adalah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara aku merenung sembari menyusui Marta yang baru terbangun dari tidurnya.


Setelah selesai mandi, Dios bergegas memakai pakaian dan kemudian berbaring diatas tempat tidur tanpa mengajakku berbicara. Dan pada akhirnya pria itu mendengkur karena kelelahan.

__ADS_1


*****


Keesokkan harinya aku pergi tanpa memberitahu Dios lebih dulu. Bahkan saat aku pergi, dia masih dengan posisi mata terpejam dengan dengkuran yang lumayan keras. Aku pergi bersama Marta, dengan membawa satu tas pakaian papa dan satu rantang makanan yang aku buat sendiri dengan tanganku.


"Nanti kalau tuan bangun dan bertanya pada kalian, jawab saja aku pergi ke rumah sakit," ujarku menitipkan pesan pada pelayan.


"Baik nyonya." Jawab pelayan.


Sesuai dugaanku, Dios menghubungiku dengan menggunakan telpon rumah. Mungkin pria itu baru terbangun dari tidurnya dan mencari keberadaanku yang tak terlihat.


"Kamu dimana?" tanya Dios.


"Di rumah sakit." Jawabku singkat.


"Kok nggak bangunin aku? kan kita bisa pergi sama-sama," tanya Dios.


"Tidak perlu. Kelihatannya kamu sangat lelah karena mengurus tante Sekar." Jawabku.


"Kamu marah lagi? orangnya sudah meninggal loh, dan dia juga meninggal dalam keadaan meninggalkan kebaikkan," tanya Dios.


Aku tersenyum kecut atas pola pikir Dios yang sempit itu.


"Apa maksudmu?" tanya Dios.


"Dios. Menurutku kamu terlalu berlebihan menanggapi kebaikkannya, hingga kamu melupakan siapa-siapa yang harus kamu ingat. Kamu bahkan tidak sempat mencium anak kamu, karena kamu terlalu sibuk mengurus orang lain."


"Itulah akibatnya karena kamu tidak pernah melibatkan aku dalam segala hal," sambungku.


"Kok omonganmu muter-muter terus disana saja? kamu segitu tidak sukanya aku membantu orang yang sedang sekarat?" tanya Dios.


"Aku bukannya nggak suka. Tapi setidaknya kamu ngerti juga posisiku. Sikapmu itu seolah aku ini wanita yang paling jahat. Sikapmu itu seolah menunjukkan akulah penyebab kematian dari tante Sekar. Sikapmu...."


"Cuma kamu sendiri yang tahu jawabannya," Dios memotong ucapanku dan kemudian mengakhiri percakapan kami.


Aku tertegun mendengar jawaban dari Dios. Pria itu seolah membenarkan apa yang aku katakan dan aku sangat terluka karena itu. Selama seminggu aku dan papa bergantian menunggui mama. Tidak sekalipun Dios muncul lagi di rumah sakit. Dia terlihat sibuk mengurus bisnisnya yang telah lama tidak dia satroni.


Bahkan saat mama membuka perban matanyapun Dios tidak hadir. Entah mengapa aku merasa seperti pengemis pada suamiku sendiri. Dan hari ini mama sudah diperbolehkan oleh dokter pulang ke rumah.


"Mama sudah pulang? selamat ya ma untuk mata barunya," ucap Dios.


Mungkin bagi dia ucapannya itu biasa saja, tapi bagiku yang sangat sensitif ini itu sangatlah menyinggung. Dia seolah tidak suka mama mendapat donor kornea mata dari tante Sekar.

__ADS_1


"Karena kalian sudah berkumpul, aku rasa ini kesempatan yang bagus buat kita membuka peninggalan terakhir dari Sekar. Karena sampai saat ini aku belun membukanya. Aku sengaja menunggu sampai mama pulang dulu," ujar Dios.


Dios kemudian mengambil amplop coklat yang sudah aku serahkan padanya beberapa hari yang lalu. Ternyata di dalam amplop coklat itu hanya berisi beberapa kartu ATM, beberapa kunci, dan juga satu buah disket yang saat ini sedang Dios masukkan kedalam DVD yang sudah disambungkan dengan televisi.


Suara tante Sekar mulai terdengar, saat Dios menekan tombol play di remote.


"Hai...saat kalian melihat video ini, itu artinya aku sudah tidak ada lagi di dunia ini,"


Disitu tampak tante Sekar masih terlihat sehat dan belum kurus kering seperti keadaannya yang terakhir kali. Di video itu juga tampak tante Sekar bicara sembari menikmati kacang kulit.


"Video ini khusus aku buat untuk Dios. Tapi aku berharap saat kamu menonton ini, kamu sudah bersatu dengan Caren dan anak kamu ya Di?"


Air mata Dios sudah mengalir ke pipinya saat mendengar ucapan tante Sekar. Tidak hanya Dios, perasaanku jadi tidak menentu juga saat mendengar ucapan tante Sekar. Aku seperti merasa ada yang terlewatkan.


"Di. Aku pernah menunjukkan loker spesial itu sama kamu kan? loker yang berisi sebuah brankas. Disana ada terdapat banyak sertifikat di dalamnya. Sertifikat kepemilikkan klub, rumah, beberapa hektar perkebunan karet, dan juga beberapa bidang tanah."


"Didalam itu juga terdapat banyak perhiasan yang sudah aku kumpulkan jadi satu. Nanti kalau kamu sudah bertemu dengan Caren, kamu berikan itu semua sama dia. Untuk semua aset dan sertifikat sudah aku ubah atas namamu. Pin ATM juga tanggal ulang tahunmu."


"Aku do'akan kamu bahagia ya Di. Aku sangat mencintaimu Di...sangat,"


Video itu diakhiri dengan ciuman tangan tante Sekar di kamera. Sementara tangis Dios sudah pecah tak terkendali. Tidak hanya Dios, akupun jadi ikut terisak. Aku tidak mengerti harus bersikap bagaimana. Aku tidak menyalahkan tante Sekar sama sekali, yang aku salahkan sikap Dios yang tidak dewasa.


Dios menyeka air matanya dan naik keatas tanpa mengucapkan apapun. Aku terduduk di sofa dan masih bingung dengan sikap Dios padaku dan keluargaku akhir-akhir ini.


"Menurut kalian aku harus bagaimana? kalian lihat sendiri sikap Dios pada kita akhir-akhir ini. Mungkin dia berpikir aku senang karena mendengar ucapan tante Sekar di Video itu," tanyaku.


"Sabar. Jangan mudah terpancing emosi. Dios saat ini sedang bersedih, dan itu sangat wajar. Mungkin dia ada sedikit merasakan penyesalan atas kepergian Sekar yang meninggalkan bayak harta untuknya. Sementara saat menjelang kematian, Dios malah terbilang tidak mengurusnya sama sekali," ucap papa.


"Iya Ren. Kamu juga harus mengerti perasaan dia saat ini. Walau bagaimanapun Sekar pernah hidup bersamanya. Dan sekarang sumber dari masalah kalian sudah tidak ada lagi. Jadi kenapa kamu harus mengungkit hal itu lagi?" ucap Mama.


Aku terdiam. Meski ucapan mama dan papa ada benarnya, tapi entah kenapa nuraniku seolah menolak. Dan aku harus banyak berbicara dengan Dios. Tapi mungkin waktunya saat ini belum tepat, Dios sepertinya sangat berkabung atas kepergian Sekar.


Kriekkk


Aku menekan handle pintu, dan terlihat Dios tengah berbaring di atas tempat tidur dan bersembunyi di dalam selimut. Apakah aku salah kalau mengatakan pria ini terlalu lebay? kadang aku jadi berpikir, apa saat pisah denganku dia juga bersikap seperti ini?


"Aku ingin bicara denganmu," ujarku.


"Maaf. Aku sedang tidak mood buat ngobrol saat ini. Aku mohon pengertianmu," ucap Dios.


Aku terdiam, penolakkan Dios sedikit mencubit sudut hatiku yang sudah berusaha untuk mengalah.

__ADS_1


__ADS_2