TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
96. Jauh Panggang Dari Api


__ADS_3

"Karena kamu percaya padaku, maka aku akan mengantarmu pulang," ucap Rendy.


"Sungguh?" yang dianggukki langsung oleh Rendy.


Rendy tahu saat ini wanita dibalik cadar itu tengah senyum semringah. Namun sayangnya dia tidak bisa melihat senyum itu karena terhalang cadar hitam wanita itu.


"Ikut saya," ujar Rendy yang berjalan lebih dulu namun wanita itu sama sekali tidak bergeming.


Rendy menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


"Kenapa tidak ikut? katanya kamu mau pulang," tanya Rendy.


"Bapak mau antar saya kemana? bapak tidak tanya saya nama alamat saya, atau petunjuk semacamnya," tanya wanita itu.


"Itu bisa kita bincangkan saat di dalam mobil. Kalau kamu percaya sama saya, kamu ikut saya. Tapi kalau nggak percaya, saya pulang dulu. Saya sangat lapar saat ini," ujar Rendy.


Rendy berbalik badan, namun tiba-tiba wanita itu mengiringinya dari belakang, sampai akhirnya masuk ke dalam mobil.


"Sekarang kamu katakan. Disekitar rumahmu ada petunjuk apa yang bisa kamu ingat. Yang kira-kira mencolok," tanya Rendy.


"Saat keluar dari lorong rumahku, ada sebuah mini market besar. Di depannya juga ada tukang galon. Tidak jauh dari situ ada tempat bimbingan belajar dan juga ada masjid besar disekitar situ." Jawab Wanita itu.


"Apa kamu ingat nama masjidnya?" tanya Rendy.


"Darul Iman." Jawab Wanita itu.


"Darul Iman? apa yang dekat dengan wedding organizer Almigo?" tanya Rendy.


"Ya. Kok bapak tahu?"


"Itu milik teman saya." Jawab Rendy.


"Masjidnya punya teman bapak?" tanya Wanita itu.


"Wedding organizernya." Jawab Rendy.


"Oh...makasih ya pak. Kalau nggak ada bapak, saya pasti diam di dalam masjid. Soalnya saya nggak mudah percaya sama orang,"


"Siapa namamu?" tanya Rendy.


"Mutia Rahma." Jawab Mutia.


"Namaku Rendy," ujar Rendy memperkenalkan diri.


Mereka berbincang banyak hal selama diperjalanan pulang. Saat melihat lorong rumahnya, mata Mutia jadi berbinar. Dia sudah tidak sabar ingin memeluk kedua orang tuanya, karena sejujurnya dia sedang ketakutan saat ini. Beruntung lorong menuju rumah Mutia, bisa dimasuki mobil. Hingga mereka langsung bisa berhenti tepat didepan rumah Mutia.


Ternyata kedua orang tua Mutia sudah menunggu Mutia dengan khawatir. Mereka tidak henti-hentinya bertasbih.


"Assalammu'alaikum Umi, Abi," ucap Mutia langsung memeluk ibu yang sudah melahirkannya itu.


"Ya Allah nak. Kamu darimana saja? Umi sama Abi khawatir sama kamu," tanya Umi Salamah.


"Uti tersesat Umi. Untung saja ada pak tentara yang baik hati mengantarkan Uti." Jawab Mutia.

__ADS_1


"Tentara?" tanya Abdullah.


"Assalammu'alaikum," Rendy mau tak mau harus turun dari mobil. Dia tidak ingin citranya sebagai Abdi negara menjadi buruk karena diangga kurang sopan santun.


"Wa'alaikum salam warohmatullah." Jawab Abdullah, Salamah, dan Mutia.


Rendy menyalami Abdullah, sementara dengan Salamah hanya dilemparinya senyum dengan tangan tertangkup di depan dada.


"Terima kasih bapak sudah mengantarkan putri semata wayang saya pak. Kalau nggak ada bapak, apalah jadinya," ujar Abdullah.


"Sama-Sama pak." Jawab Rendy yang kemudian melirik kearah Mutia.


Salamah dan Abdullah saling berpandangan, saat melihat Rendy yang menatap Mutia dengan tatapan yang tidak biasa.


"Bukankah ini hari pertama kalian bertemu?" tanya Abdullah.


"Eh? i-iya." Jawab Rendy.


"Apa anda masih bujangan? berapa usia anda?" tanya Abdullah.


"Iya saya masih bujangan. 30 tahun." Jawab Rendy.


"Ayo masuk. Kita berbincang di dalam. Uti, kamu buat teh dulu ya," ujar Abdullah.


"Baik Abi." Jawab Mutia.


"Kamu menyukai Mutia?" tanya Abdullah saat Mutia sudah berlalu pergi.


"Eh?" Rendy jadi bingung saat ditanya seperti itu. Namun sesaat kemudian wajah Rendy jadi tertunduk.


"Tapi akhir-akhir ini saya memang tengah gelisah dengan urusan jodoh saya. Terbilang sudah tiga kali saya gagal naik pelaminan, karena tunangan saya punya pria idaman lain. Tapi itu tidak mengapa, saya percaya kalau jodoh saya sudah disiapkan oleh Allah."


"Mutia baru berusia 18 tahun. Dia baru menyelesaikan mondok dipesantren,"


Perkataan Abdullah terasa menyengat hati Rendy. Sementara Mutia yang mencuri dengar dari balik tembok, entah mengapa perasaannya jadi gelisah.


"Mutia baru 18 tahun? astaga...ini mah jauh panggang dari api. Pasti maksudnya suruh nunggu Mutia kuliah dulu ini mah...tuwirrr dong gue," batin Rendy.


Mutia keluar membawa 4 cangkir teh diatas nampan.


"Lagipula apa kamu nggak khawatir kalau mutia giginya tonggos?" tanya Abdullah.


"Mana mungkin. Dilihat dari kedua orang tuanya, hidungnya saja sudah seperti paruh burung. Mereka ini pasti keturunan orang timur tengah," batin Rendy.


"Kalau jodoh, apapun bentuknya harus disykuri kan?"


"Dasar Rendy bokis. Ntar dapat tonggos beneran baru tahu rasa," batin Rendy.


"Jadi secara tidak langsung kamu mau ngelamar Mutia?" tanya Abdullah.


"Oh God. Apa ini tidak terdengar gila? aku baru bertemu anaknya tidak sampai satu jam yang lalu, tapi sudah ditanya pasal lamaran?" batin Rendy.


"Aku harus jawab apa ini? sangat jelas aku pasti ditolak oleh gadis kecil ini,"

__ADS_1


"Apa bapak akan merestui? saya ini pria dewasa berusia 30 tahun. Sementara putri bapak baru berusia 18 tahun. Tentu masa depannya masih sangat panjang. Apa bapak ridho jika saya meminangnya? masalahnya saya mau cari istri, bukan cari pacar lagi," tanya Rendy.


"Kalau soal itu mending kamu tanya saja langsung dengan orangnya. Mutia, apa kamu siap jika pak tentara melamarmu?" tanya Abdullah.


Mutia menatap ke arah Rendy yang tengah tertunduk. Tanpa Rendy tahu, Mutia tersenyum dibalik cadarnya.


"Apa Umi dan Abi ridho jika saya menikah muda? apa Umi dan Abi ridho, jika yang menjadi jodoh saya pak tentara?" tanya Mutia.


Salamah dan Abdullah saling berpandangan dan kemudian menganggukkan kepala.


"Kalau kalian ridho, maka Uti bersedia menikah dengan pak tentara," ucap Mutia.


Rendy sangat terkejut mendengar ucapan Mutia. Ucapan gadis belia yang masih sangat panjang masa depannya.


"Ja-Jadi kamu bersedia jadi istri saya?" tanya Rendy yang kemudian dianggukki oleh Mutia.


"Alhamdulillah ya Allah. Uti, apa kamu tidak masalah kalau kita mengadakan pernikahan satu minggu lagi? mahar apa yang kamu inginkan? konsep pernikahan apa yang kamu impikan? abang pasti akan mewujudkan semua keinginanmu," tanya Rendy antusias.


"Uti tidak masalah bang. Uti cuma mau seperangkat alat sholat saja. Untuk pernikahannya Uti mau ijab qobul saja, uti nggak mau ada pesta atau resepsi semacamnya." Jawab Mutia.


"Ya Allah Ya Tuhan...sekalinya dapat jodoh, engkau permudahkan semuanya. Semoga Mutia memang jodoh terbaikku darimu," batin Rendy.


"Besok abang akan membawa kedua orang tua abang kesini. Istilahnya itu lamaran dadakkan. Mungkin kami datang sekitar habis asyar," ujar Rendy.


"Baik Uti akan tunggu kedatangan abang," ucap Mutia.


"Saya permisi dulu Abi, Umi," ujar Rendy.


"Ya silahkan." Jawab Abdullah.


Namun saat baru melangkah beberapa langkah, Rendy berbalik badan dan mengeluarkan ponselnya. Mutia yang berada tepat dibelakangnya, cukup terkejut karena Rendy berbalik tiba-tiba.


"A-Ada apa bang?" tanya Mutia.


"A-Apa kamu tidak menyesal mengambil keputusan sebesar ini? kamu masih sangat muda. Kamu bisa mundur kalau kamu mau," tanya Rendy.


"Justru sebaliknya abang yang masih bisa mundur. Abang belum pernah melihat wajahku, bagaimana kalau aku tidak sesuai dengan selera abang? kalau soal masa depan, kita bisa merancangnya bersama nanti." Jawab Mutia.


"Kalau begitu berapa nomor WA mu? biar abang enak ngubungin buat acara besok," tanya Rendy.


Mutia menyebutkan beberapa digit angka, dan kemudian Rendy menyimpannya. Setelah itu Rendy benar-benar berpamitan pulang. Namun satu kesalahan fatal yang Rendy perbuat, Rendy belum memberitahu orang tuanya kalau dia sudah putus dengan Resti. Hingga saat Rendy memberitahukannya, tentu saja Leni yang memiliki watak keras langsung mencak-mencak.


"Mana mungkin Resti begitu. Kamu kenapa sih kesalahan begitu saja dibesar-besarin? khilaf itu sudah biasa. Kalau kamu gini terus, kapan kamu nikahnya?" tanya Leni.


"Minggu depan aku bakalan nikah. Tapi bukan dengan Resti. Besok papa dan mama siap-siap buat ngelamar calon istriku." Jawab Rendy.


"Jangan ngawur kamu. Jangan mentang-mentang gagal nikah, langsung nyomot gadis yang nggak jelas," ucap Suwito.


"Ini sangat jelas. Emang sih dia cuma lulusan pesantren, tapi Rendy cuma butuh istri, nggak butuh jabatannya. Yang penting dia setia dan tahu agama," ujar Rendy.


"Lulusan pesantren? yang benar aja kamu. Masak tentara kawin ama yang begituan. Nggak cocok tahu Ren! jangan bilang gadisnya bercadar pula," ucap Leni.


"Emang iya bercadar. Aku ingin dia yang menjadi istriku. Rendy mohon jangan buat keributan lagi. Cukup kejadian Caren tempo hari jadi pelajaran buat kita semua. Kalau sekali ini kalian berulah lagi, Rendy bersumpah nggak akan menikah seumur hidup," ujar Rendy sembari berlalu pergi.

__ADS_1


Leni dan Suwito menghela nafas. Padahal mereka sangat senang karena Rendy akan menikahi seorang polwan cantik. Namun takdir berkata lain, mungkin mereka harus menerima pilihan Rendy.


__ADS_2