TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
78. Bertengkar Hebat


__ADS_3

"Kenapa kamu bicara sembarangan begitu sih?" tanya Dios.


"Katakanlah aku bicara sembarangan, lalu bagaimana dengan kamu? kamu ngambil keputusan sembarangan tanpa minta pendapatku? kamu nganggap aku istri kamu nggak sih?" aku benar-benar tersulut emosi.


"Kamu kan tahu sendiri kondisi dia sedang sekarat. Kenapa kita tidak coba buat menemani dia saat-saat terakhirnya," ucap Dios.


"Maaf Dios. Mungkin kedengarannya aku tega atau kejam. Tapi maaf, menurutku itu sama sekali bukan kewajibanmu atau kewajibanku. Kamu itu cuma sekedar mantan suami, sekarang kamu sudah punya keluarga yang juga harus diperhatikan. Tapi kalau kamu menganggap dia lebih penting, ya silahkan saja. Niatku kesini hanya untuk bersilahturahmi dan liburan, bukan buat menetap disini dan menyaksikan kemesraan kalian," ujarku.


"Astaga...kamu cemburu sama orang sekarat? kamu nggak masuk akal tahu nggak sih?" tanya Dios.


"Aku? nggak masuk akal? kamu itu yang nggak masuk akal. Hah...sudahlah, kayaknya nggak ada jalan keluarnya untuk masalah ini. Kamu juga nggak butuh izin dari aku kan?"


"Nggak gitu yank...oke aku minta maaf kalau udah ngecewain kamu, karena udah ngambil keputusan sepihak. Tapi coba kamu pikir, dia hidup sendiri. Nggak punya anak, suami dan sanak saudara. Lalu siapa yang mau ngurus dia?" tanya Dios.


"Tapi status kamu sudah orang lain kak. Dia wanita kaya raya. Tidak kekurangan uang jika mau nyewa perawat sampai dia meninggal. Kamu ingin kita tinggal disini selama 2 bulan, terus orang tua dan bisnis kamu disana gimana? kamu kenapa sih mikirnya pendek banget?" tanyaku yang sudah emosi akut.


"Kamu itu yang mikirnya pendek yank. Papa sudah lumayan sehat, dia bisa ngurus mama. Ada pelayan juga dirumah."


"Ngapain aku minta orang lain ngurus orang tuaku sementara aku anaknya ada. Ngapain juga aku ngurusin orang lain, padahal orang tua yang perlu aku urus juga ada. Gila kamu ya?"


"Terserah kamulah!" Dios ingin beranjak pergi, tapi kata-kataku membuat langkahnya terhenti kembali.


"Aku ingin besok kita pulang ke Yogya. Terserah kamu juga kalau kamu memilih ingin tinggal disini. Tapi Dios, kalau kamu tetap memilih disini, maka hubungan kita selesai sampai disini!"


Dios memutar tubuhnya dan mendekat kearahku. Aku juga menatap kearahnya tak kalah tajam. Aku tidak ingin Dios kembali menindasku seperti yang sudah-sudah.


"Sekarang aku tidak mengenal lagi Carenku yang baik hati. Yang ada di depanku ini wanita egois yang ingin menang sendiri," ujar Dios.


Aku terkekeh saat mendengar ucapan konyol Dios. Tawa ini bercampur air mataku yang mulai merebak.


"Aku merasa ucapanmu itu ingin mengatakan, kalau kamu sudah salah mencintai wanita, salah memilih istri. Jadi Dios, apa kamu menyesal sudah menikahiku? kalau begitu ceraikan saja aku, dan kembalilah dengan Sekar. Kamu tidak hanya bisa menemaninya selama 2 bulan, bahkan sampai ke liang lahatpun kamu bisa ikut masuk kedalamnya,"


"Cukup!"


Untuk pertama kalinya Dios membentakku. Air mataku jadi bertambah deras. Bahkan aku bisa melihat tidak ada penyesalan dimatanya setelah dia melakukan itu.


Aku langsung berbalik badan. Aku melihat jam di pegelangan tanganku, dan waktu menunjukkan pukul 3 sore. Aku segera menggendong Marta dan menyeret satu koper ditanganku.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? kamu mau kemana?" tanya Dios.


"Aku mau pulang. Kamu tinggalah disini, tidak usah perdulikan aku dan Marta," ucapku dengan lelehan air mata.


Dios menarik koperku dengan kasar, dan aku mempertahannya sebisaku.


"Kamu bisa nggak sih berpikiran dewasa sedikit? jangan dikit-dikit kabur. Dikit-Dikit minggat. Kebiasaan tahu nggak?"


"Aku gitu juga gara-gara kamu. Semua gara-gara kamu. Kamu bilang aku nggak dewasa? kamu tuh yang udah tua tapi kekanakkan."


Nafasku naik turun, mungkin karena suaraku yang terlalu keras, Marta jadi terkejut dan menangis.


"Tolong mengertilah sekali ini saja. Dia sangat membutuhkan aku saat ini," ujar Dios.


"Ya. Karena aku mengerti, maka aku akan melepaskanmu seutuhnya buat dia. Maaf, anggaplah aku manusia yang jahat dimuka bumi. Karena hanya Sekar yang membutuhkanmu, sementara kami masih bisa hidup tanpamu." Jawabku dengan tegas.


"Kenapa jadi ngomong sembarangan terus sih yank. Kita ini nggak mudah bisa sampai ketahap ini. kamu malah seenaknya aja bilang pisah-pisah. Kamu nggak cinta lagi sama aku?" tanya Dios yang membuatku tersenyum sinis.


"Sepertinya pertanyaan itu lebih cocok buat kamu deh. Aku merasa kamulah yang masih berat dengan masa lalu. Kamu cepat nikahin Sekar lagi gih, biar kalau dia mati kamu bisa dapat warisannya."


Wajah Dios memerah karena marah. Tangannya sampai terkepal erat. Namun aku sedikitpun tidak akan mundur. Sampai kemanapun dia ingin mengajakku berdebat, aku akan meladeninya. Aku juga tidak perduli lagi bagaimana nasib rumah tanggaku pada akhirnya nanti.


"Baru tahu ya? nyesel? makanya biarin aku pulang saja." Jawabku.


"Pulang, pulang, pulang saja dipikiran kamu. Terserahlah!"


Dios keluar dari kamar, dan membanting pintu dengan sangat keras.


Brakkkkkk


Mungkin Dios kira aku akan mengalah dan tetap diam ditempat. Tapi Dios sungguh keliru, mungkin dia benar kalau aku ini tidak dewasa. Jadi sekalian saja aku kabulkan perkataannya itu. Aku nekat pergi dari rumah itu, dan kembali menuju bandara. Jangan ditanya bagaimana air mataku ini, mungkin kalau ditadahi satu emberpun sudah meluber.


Saat tiba dibandara aku langsung memesan tiket. Namun aku cukup kesal, karena pesawatku terbang jam 5 sore. Sementara saat ini jam dipegelangan tanganku baru menunjukkan pukul 4 sore. Ponselku sengaja aku matikan, aku tidak mau Dios mempengaruhi tekadku saat ini.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesawatku berangkat juga. Disepanjang perjalanan air mataku tidak mau berhenti mengalir, beruntung Marta tidak ikut menangis. Putraku itu begitu sangat pengertian saat ini.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku tiba juga di bandara. Tidak ingin membuang waktu, aku segera memesan taksi dan pulang kerumah.

__ADS_1


"Caren? kalian nggak jadi pergi?" tanya Papa saat beliau membukakan pintu untukku.


"Jadi, tapi pulang lagi." Jawabku seadanya.


"Kok pulang lagi? Dios mana?" tanya Papa.


"Tinggal disana." Jawabku sembari duduk diruang tamu.


Papa menatapku, mungkin dia tahu mataku sedang bengkak karena menangis.


"Kalian bertengkar?" tanya Papa.


"Pa. Aku butuh pendapat papa soal ini. Apapun pendapat papa akan aku turuti," ujarku.


"Ada apa?" tanya Papa.


Akupun menceritakan duduk perkaranya. Papa cukup terkejut mendengar fakta yang tidak pernah aku ceritakan padanya, bahwa Dios pernah menikah lagi selain dengan istri pertamanya. Aku menceritakan semuanya dengan rinci masalah demi masalah yang hadir antara aku dan Dios, sampai kami dipersatukan kembali.


Aku mendengar papa menghela nafas dengan berat. Aku tahu diapun bingung harus bersikap bagaimana.


"Caren. Sebaiknya kalian bicarakan dulu masalah ini dengan kepala dingin," ujar Papa.


"Bisa saja kalau dia masih ingat jalan pulang. Bagaimana kalau dia lebih memilih merawat wanita itu daripada anak istrinya?" tanyaku.


Papa kembali terdiam. Dia jadi bingung harus memberikan solusi apa untuk rumah tanggaku.


"Terus terang papa jadi ikutan bingung. Papa tahu maksud Dios baik, tapi dia lupa masih ada istri dan anak yang lebih membutuhkan perannya. Caren, begini saja. Bicaralah dengan dia satu kali saja. Kalau memang tidak ada jalan keluar apa boleh buat, keputusan akhirnya tetap kamu yang putuskan,"


"Saat ini kamu harus singkirkan dulu rasa cemburumu. Ponselmu harus tetap aktif. Jangan membuat suamimu panik, karena tidak tahu keberadaan kalian."


"Ya." Jawabku singkat.


Aku kemudian pamit pada papa untuk beristirahat. Rasanya hari ini aku benar-benar lelah. Untuk saran papa tentang ponselku, tentu saja aku tidak langsung menyetujuinya. Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Itupun kalau dia masih ingat, atau menyadari kalau anak istrinya sudah pergi entah kemana.


*****


Aku mengernyitkan dahiku, saat aku merasakan ada tangan yang melingkar ditubuhku. Aku juga merasakan ada hembusan nafas dipunggungku. Aku segera membuka mataku, karena aku takut itu hanyalah mimpi. Aku memastikan pemilik tangan berat itu, dan aku segera berbalik badan karena aku menganggap itu tidak mungkin tangan Dios.

__ADS_1


Aku cukup terkejut karena itu benar-benar dia. Aku tatap jam dinding yang ada didinding kamar, waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. kini benakku bertanya-tanya. Sebenarnya sejak kapan dia pulang?


Aku mendengar Dios mendengkur. Sepertinya dia benar-benar sangat lelah. Lalu aku jadi berpikir, bagaimana dengan sekar disana? aku beranjak dari tempat tidur dan segera mencuci muka. Aku bergegas turun kebawah, untuk melihat persiapan sarapan yang dibuat oleh pelayan. Namun saat aku tengah berada di dapur, sayup-sayup aku mendengar mama ngobrol dengan orang yang suaranya sangat aku kenal. Akupun mengintip dari jendela samping rumah. Dan alangkah terkejutnya aku, saat aku tahu mama sedang ngobrol dengan tante Sekar yang tengah duduk bersandar di kursi roda.


__ADS_2