
Setelah perdebatan kemarin, Rachel mendapat izin pergi bekerja. Peter pun di perbolehkan pulang ke rumah. Namun, tidak di izinkan keluar rumah.
Meskipun Peter bisa pergi ke perusahaan, tetapi pria itu tidak bisa bekerja dengan baik karena harus menggendong sebelah tangannya yang terluka.
Setiap pagi dokter pribadi datang memeriksa. Serta memastikan Peter tidak pergi bekerja. Peter mungkin merasa bosan di rumah sendirian.
Apa Peter buta, jelas-jelas mansion di kelilingi bodyguard dan pelayan masih dibilang sepi. Apa kabar dengan tempat peristirahatan terakhir.
"Bagaimana penampilan ku?" tanya Rachel. Menunjukkan pakaian kasualnya pada Peter. Asal pakaian itu tidak terlalu terbuka, Peter tidak masalah.
"Cantik," membalas dengan satu kata. Namun, berhasil membuat Rachel terbang ke atas sana.
"Hari ini aku memimpin rapat, aku harap semua lancar seperti yang ku bayangkan." gumam Rachel sembari berkaca lagi. Mengagumi kecantikannya sendiri.
"Tentu saja, aku yakin kau mampu membuat klien tertarik dengan ide kita." memeluk Rachel dari belakang. Menelusup-kan wajah ke cerucuk leher Rachel. Diendus dan di hirup dalam-dalam aroma parfum beraroma velvet flower yang segar seperti mutiara.
"Berhenti menggoda ku atau aku akan memukul mu!" peringat Rachel, memelototi Peter. Mode garang on.
Terpaksa Peter menjauhkan diri, tidak ingin Rachel marah dan memukulnya. Sial, sejak kapan pria tangguh sepertinya takut pada seorang wanita.
"Aku berangkat dulu ya. Jangan lupa minum obat mu tepat waktu. Aku akan menelfon jika ada waktu." serunya seraya mengenakan jam tangan. Belum apa-apa Rachel sudah berlagak sok sibuk. Tentu saja hal itu membuat Peter kesal.
"Ingat jangan nakal di kantor nanti. Aku banyak memperkerjakan pemuda tampan bertalenta. Jaga mata nakal mu, jangan sampai melirik salah satunya!" memperingatkan. Membuat Rachel semakin antusias, bekerja di tengah-tengah perkumpulan pria tampan. Siapa yang tidak senang.
"Jangan khawatir, aku tidak akan berpaling. Lagi pula tidak ada yang bisa menyaingi ketampanan mu, babe!" Rachel mengusap lembur rahan tegas Peter. Lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir.
"Aku akan mengantar mu sampai halaman depan!" Rachel mengangguk. Kedua orang itu pun berjalan beriringan keluar mansion. Di halaman depan, Keenan sudah siap mengantar.
"Kau! awasi Rachel, jangan sampai melirik pria lain." Peter berbicara dengan Keenan.
__ADS_1
"Baik tuan!" Keenan menjawab dengan wajah masam. Kesal dengan sifat posesif sang tuan muda.
"Kalau begitu kami berangkat tuan!" pamit Keenan. Lalu merendahkan kepala dan masuk kedalam mobil. Perlahan-lahan mobil melaju melewati gerbang dan akhirnya menghilang di balik sana.
...ππππ...
Keheningan menyelimuti sepanjang perjalanan mereka. Rachel tampak repot dengan riasan wajahnya, padahal dia akan bekerja bukan fashion show. Entah kenapa wanita itu sibuk mempercantik diri. Keenan pun sampai di buat heran.
"Hei, kenapa kau diam saja?" Rachel yang tidak biasa berada di posisi diam mulai membuka suara. Keenan menghela napas panjang, sedikit melalui kaca spion. Meladeni Rachel hanya buang-buang waktu saja.
"Menurut mu cantikan mana aku atau kak Belle?" iseng bertanya membuat Keenan mengganti raut muka dengan wajah mencemooh.
"Tentu saja istri saya. Belle wanita paling cantik di dunia ini nona." balas Keenan cepat. Berkata dengan mata berbinar kagum seolah wajah sang istri langsung terlintas di benaknya.
"Kecap tidak ada yang nomor dua sih!" gumam Rachel. Menatap Keenan malas. Sebenarnya sebesar apa sih cinta Keenan sampai pria itu tidak bisa berpaling.
"Saya mengatakan fakta nona. Lagi pula, Belle lebih normal dari pada anda!" kecam Keenan. Tidak peduli jika Rachel mengadu pada Peter nanti. Yang jelas lidahnya gatal, ingin membalas ocehan Rachel.
"Jangan membuyarkan fokus saya nona. Jika terjadi kecelakaan, siapa yang akan di salahkan nanti?" decak Keenan seraya menggerakkan bahunya ke belakang berulang kali. Merilekskan otot.
βSekarang aku tanya, siapa yang mengemudikan mobil ini?" Keenan mulai merasakan firasat buruk.
"Saya!"
"Tepat sekali, seandainya kita kecelakaan. Tentu saja yang di salahkan yang mengemudi. Dasar sekertaris dungu!" cibir Rachel kesal.
Entah kenapa saat bersama dengan Keenan, mulut pedasnya tidak bisa di rem. Seolah Rachel memendam dendam pribadi pada Keenan.
"Saya dungu?" ujar Keenan memastikan. Bukan sombong atau mau mengungkit-ungkit. Faktanya separuh dari seluruh kekayaan Peter sekarang sebenarnya hasil dari usaha dan ide brilian Keenan.
__ADS_1
"Iya kau dungu, kenapa? mau protes?" ketus Rachel. Menatap Keenan datar seraya duduk menyilang-kan tangan di dada.
Keenan menggelengkan kepalanya ngeri. Tidak bisa membayangkan betapa suramnya hari-harinya nanti. Baru beberapa jam mereka bersama dan Rachel sudah membuat kepala sekaligus telinganya sakit.
Dan sekarang dia harus membantu pekerjaan Rachel selama beberapa minggu. Tuhan, tidak bisakah Keenan mengangkat tangan. Keenan sudah tidak kuat, mungkin setelah ini Keenan harus datang ke rumah sakit jiwa untuk berobat.
"Terserah anda saya, saya waras jadi saya mengalah!" gumam Keenan pelan. Namun, masih bisa Rachel dengarkan.
"Hei, tutup mulut mu. Kau mau ku pukul?" menggenggam tangan dan mengangkat ke atas udara. Berancang-ancang memukul Keenan.
Keenan langsung menutup mulutnya rapat. Asal kalian tahu pukulan Rachel sangat sakit. Lebih baik Keenan diam dan mencari aman daripada mendapat bogeman dari nona mudanya.
"Kenapa diam? kau takut padaku ya?" tuding Rachel dengan senyum mengembang. Senang mendapati Keenan takut padanya.
"Bagaimana jika aku mengadukan mu pada suami ku. Apa dia akan memarahi mu nanti. Aku yakin, kau semakin takut pada ku sekarang!"
"Silahkan adukan saya pada tuan muda. Saya tidak takut dan tidak peduli, nona!" jawaban panjang lebar keluar dari bibir Keenan. Seperti biasa di ucapkan dengan nada santai dan sorot mata datar.
"Tidak takut pada Peter? lalu siapa yang kau takuti? tuhan? itu sudah pasti sih. Jangan-jangan kau takut pada kak Belle lagi." semakin gencar menyudutkan Keenan. Dan parahnya yang Rachel katakan itu benar.
Astaga kapan masalah ini berakhir, kenapa Rachel terus mengoceh, Keenan sudah tidak kuat lagi. Bisakah Keenan menendang wanita itu keluar. Batin Keenan bersungut-sungut, Keenan rasa telinganya hampir tuli sekarang.
"Nona bisakah anda duduk tenang di belakang sana. Seorang pemimpin perusahaan harus menjaga image dan anggun, tidak bersikap bar-bar seperti anda!" Keenan membual, berharap Rachel percaya dan berhenti merecokinya.
"Benarkah?" Rachel mempertimbangkan, menandakan percaya dengan ucapan Keenan barusan. Jelas-jelas Keenan berbohong tapi Rachel tetap percaya. Dari sini bisa kita simpulkan siapa yang pintar dan siapa yang dungu.
"Mulai sekarang aku akan menjaga sikap!" tekad Rachel membuat Keenan tertawa dalam diam.
"Dasar konyol!" batin Keenan.
__ADS_1
TBC