Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
undangan


__ADS_3

"Sekarang, makan aku akan menyuapi mu!" Peter mengambil satu piring makanan, menyendok kecil. Hendak mengulurkan tangannya. Namun, suara Rachel menghentikan pergerakan.


"Tunggu, aku ingin makan disana." menunjuk balkon, Peter menghembuskan nafas lelah. Lalu mengangguk setuju.


Pria itu kembali meletakkan piring di atas nampan dan membawanya keluar balkon. Disana Rachel bisa sarapan sembari melihat pemandangan hamparan taman yang indah.


Bunga bewarna warni dengan kolam ikan yang dipenuhi dengan teratai putih. Terlihat juga tukang kebun sibuk merapikan tanaman. Semua itu Rachel nikmati, seraya memakan makanan dari suapan Peter.


"Aku tidak menyangka Gold Lion masih ada sampai sekarang. Aku pikir Ayahmu sudah membubarkannya." tiba-tiba membahas masalah kelompok itu kembali.


"Sengaja, ayah membuatnya seperti itu. Dengan tujuan merahasiakan dan mengamankan anggota dari musuh." sahut Peter menjawab. Tangannya masih bergerak, enggan diam sebelum makanan itu habis.


"Aku bisa bertanya sesuatu?" Peter mengangguk.


"Kenapa kau berambisi menikahi ku, apa itu benar-benar cinta ataukah balas dendam semata?" mengingatkan masalah tendangan kalengnya.


"Semua ini berawal dari cinta masa kecil, Re. Sebenarnya aku sudah lupa, tapi mom mengingatkan ku dan memperlihatkan foto mu saat wisuda. Melihat foto mu, jantungku kembali berdetak kencang. Seolah cinta itu kembali bersemi."


"Ditambah dengan tendangan kaleng itu, semakin membuatku ingin menghukum mu dengan menjadikanmu sebagai pendamping hidup ku." cerita Peter, menjelaskan dengan nada penuh perasaan seolah sedang bernostalgia.


"Kau yakin itu cinta?" lagi-lagi mempertanyakan hal yang sudah pasti.


"Kau ingin aku melemparkan mu dari atas sini?" geram Peter, muak mendengar pertanyaan sama. Tidak ada cara lain, selain mengancam.


Seketika bibir Rachel tertutup rapat, pendar mata dingin membuatnya takut. "Aku merasa tenang saat kau menutup mulut!" jujur Peter, justru membuat yang disindir kesal dan membuang muka.


"Aku akan diam, cerewet sekali kau!" cibir Rachel, lalu berdecih.


"Aku hanya bercanda, jangan memasang tampang menggoda. Kau ingin aku menyerang mu didepan semua pekerja itu?" menunjuk tukang kebun, penjaga, dan beberapa pelayan yang berlalu lalang.


"Kau ingin ku pukul?" desis Rachel. Seketika tawa Peter pecah. "Tidak ada yang lucu, berhenti tertawa!" desis Rachel, menyodok perut sexy itu dengan siku lancipnya.


"Aduh, berhenti melakukan itu, sayang!" pinta Peter, memegang perutnya yang berdenyut nyeri.


"Nyeyeye, aku tidak peduli." mengejek dan pergi meninggalkan Peter seorang diri.


"Kau mau kemana?" tanya Peter, berteriak keras.


"Mau ke akhirat! kenapa, kau mau ikut?" menjawab dengan mata datar dan sinis. "Tidak boleh, habiskan sarapannya dulu baru boleh kesana!" tegas Peter, dengan suara dan tatapan lebih tajam serta mendominasi.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana? dan lagi kau ingin menjadi duda, menyebalkan sekali!" Rachel menantang tidak tahu bahaya apa yang tengah menunggunya.


"Aku akan menyeret dan memperkosa mu!"


Plak! batal yang semula tertata rapi di ranjang, melayang mengenai wajah Peter. "Aku sengaja!" mengendikkan bahu.

__ADS_1


"Aku hitung sampai tiga, kalau kau tidak kemari jangan salahkan aku, jika memaksamu dengan caraku!" uniknya hubungan mereka, padahal baru saja berbaikan sekarang malah bertengkar.


"Satu!" mulai berhitung, namun tidak ada tanda-tanda Rachel bergerak dari tempat diamnya.


"Dua!" Peter tersenyum smirk, ini berarti Rachel menantangnya bukan. Oh ayolah, Peter tak sabar menghadiahi Rachel dengan hukuman-hukuman menyenangkan.


"Ti-"


"Oke, aku datang!" potong Rachel bergegas menghampiri. Sedikit kecewa, tapi tidak masalah. Peter cukup senang melihat Rachel menurut.


"Kau masih ingat dengan perjanjian pranikah itu?"


"Hm, aku melupakannya, bahkan sering mengabaikan saat kau membuat kesalahan!" sahut Peter santai.


"Bagaimana jika kita mulai dari awal?"


"Maksudmu?" bingung arah pembahasan Rachel.


" Terlepas dari alasan hubungan ini terjadi, bagaimana jika kita memulainya dari awal dan menjalankannya dengan benar?" Peter mematung di tempat. Mengorek lubang telinga dengan jari kelingkingnya. Memastikan pendengarannya normal.


"Huh, kau bilang apa tadi?" memastikan segalanya. Antara senang dan takut bercampur menjadi satu. Berharap semua yang dikatakan Rachel, merupakan murni keinginan bukan kepura-puraan.


"Aku bilang ayo mulai dari awal, dan batalkan perjanjian itu," teriaknya menjawab lalu memeluk tubuh besar itu.


"Kau sakit?" Peter melantur. Pikirannya blong, masih tidak percaya. Rachel melepaskan pelukan, lalu menjawab.


"Wah, aku semakin menyayangi mu. Kau ingin belanja? aku akan menemani mu, kau bisa memborong seluruh mall!"


"Tidak, aku mager ingin berleha-leha." jika wanita lain yang ditawari pasti langsung mengiyakan.


"Terserah kau saja, mungkin lain kali kita bisa pergi berlibur," pungkasnya santai. Tidak kecewa dengan penolakan Rachel.


"Aku ingin berbelanja online saja." putus Rachel, tiba-tiba ide datang tanpa di undang.


"Ck, kenapa tidak langsung ke mall saja. Aku akan menemanimu nanti." kesal Peter. Padahal niatnya sudah baik, Rachel malah memilih belanja online.


"Nanti kaki ku pegal." Peter memutar bola matanya."Aku akan memijit mu nanti!" bujuk Peter.


"Benarkah?" berbinar, menatap pria itu penuh harap.


"Ya, tentunya dengan segala tambahan, sebut saja pijat plus-plus!" mengedipkan mata, dengan bibir terangkat membentuk senyum smirk menggoda.


"Malas meladeni mu, aku pergi saja." Peter tertawa melihat istrinya pergi dengan wajah kesal. Suasana seperti ini sudah lama Peter rindukan.


Dimana perdebatan-perdebatan kecil membubui hari-hari mereka. Bukan ketegangan ataupun ketakutan. Seandainya tahu, Rachel tidak akan pergi. Mungkin sudah lama Peter memberitahukan segalanya.

__ADS_1


...🍁🍁🍁🍁...


Rachel berjalan menuruni tangga, menuju lantai dasar. Melihatnya turun, Dasha segera datang menghampiri. Membawa sebuah kertas undangan.


"Nona, ini undangan milik anda!" Rachel menerimanya, tak lupa mengucapkan terimakasih.


Siapa yang menikah? bertanya-tanya dalam hati.


Rachel membuka bingkisan rapi undangan itu, lalu membaca nama mempelai yang tertulis. "Kenzo Michelin!" gumamnya.


"Astaga, bagaimana aku bisa lupa jika Kenzo akan menikah," ucapnya lirih. Rachel kembali membenahi bingkisan itu dan meletakkannya di atas meja.


"Satu Minggu lagi Kenzo menikah, tapi apakah Peter mengizinkan ku pergi?"


"Kau ingin pergi kemana, sayang?" sahut Peter, entah sejak kapan pria itu berdiri di belakang.


Rachel tak merespon, terlarut dalam lamunan. Jentikan jari jemari Peter, menyadarkannya.


"Kau disini, sejak kapan?" tanya Rachel beruntun. "Apa ini?" bukannya menjawab, Peter malah melontarkan pertanyaan seraya meraih kertas undangan itu.


"Ini undangan pernikahan, siapa yang menikah?" tanya Peter penasaran. Tidak banyak rekan bisnisnya yang masih lajang. Apakah Lucas?


"Kenzo Michelin! ah jadi pria penggoda itu!" hina Peter. Membuang undangan itu kesembarang arah.


"Hei, Kenzo bukan pria penggoda."


"Kau membelanya?" kesal Peter. Bukan begitu, Rachel membicarakan fakta dan lagi pula, Kenzo adalah teman baiknya. Siapa yang tidak marah mendengar teman baiknya di hina.


"Terserah kau saja, susah memang bicara dengan pria cemburuan seperti mu."


Tidak tertarik menanggapi, Peter duduk di sofa meminum air putih dan menandaskan dahaganya."Kau ingin datang?"


"Apakah boleh?" rayu Rachel, dengan suara lirih dan bibir lurus. Menggemaskan.


"Tidak, tapi aku akan mengirimkan hadiah kesana."


"Tapi, aku sudah berjanji akan datang."


"Aku bilang tidak ya tidak!" tegas Peter, menaikkan dua oktaf pita suaranya. Masih menahan diri, namun tatapan matanya menajam. Membuat siapapun bungkam dan memilih patuh.


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™


__ADS_2