
Ceklek! Peter membuka pintu kamar. Terlihat pria itu sibuk dengan baki besar yang dibawanya dari dapur. "Makanlah," perintahnya pada sang istri yang masih duduk manis di atas ranjang dengan selimut tebal yang melingkar disekitar tubuhnya. Rachel persis seperti kepompong sekarang.
" Letakkan saja disini, aku akan memakannya nanti!" alih Rachel, menunjuk meja depan ranjang lewat ekor mata.
" Sekarang! aku tidak mau kau sakit perut karena telat makan!" tegas Peter dengan wajah dan suara super serius. Rachel memutar bola matanya, " aku belum memakai baju!" jawabnya jujur.
" Sebaiknya, kau mandi dulu. Lihat, penampilan mu begitu kacau. Setelah kau selesai, kita makan bersama." saran Rachel.
" Tapi, aku tetap tampan kan?" pedenya dengan senyum merekah. Sontak Rachel terdiam dan menundukkan kepala. Semburat merah terpampang jelas di kedua tulang pipinya.
" Ya, aku akui kau terlihat tampan dan menggoda!"
" Kalau menginginkan tubuhku, aku siap melayani mu nyonya!" goda Peter setelah mendengar pengakuan Rachel.
Rachel memicingkan mata, hendak melemparkan bantal, namun ia urungkan tatkala melihat Peter berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Rachel menggeleng singkat, melihat tingkah Peter yang kekanakan. Tak berhenti di situ, Rachel segera masuk kedalam closet pakaian dengan balutan selimut tebal.
...ππππ...
Setelah selesai berganti ataupun membersihkan diri, keduanya makan bersama dengan saling menyuapi. Rachel tampak nyaman dengan semua perlakuan manis Peter. Seperti yang Peter kira, wanita itu mulai berpaut hati padanya.
" Kau masih lelah?" tanya Peter lagi.
Rachel mengangguk, " Kalau begitu tidur lah lagi!"
" Seharian penuh aku berbaring di atas ranjang, seolah aku sedang sekarat saja. Lagi pula aku sudah tidak mengantuk," pungkasnya dengan nada malas dan raut wajah kesal. Hampir sehari penuh, Peter menyuruhnya tidur dan tidur.
" Kalau begitu, kita bercinta lagi!"
" Haih, aku memang tidak mengantuk tapi bukan berarti aku mau bercinta dengan mu." tolak Rachel, memelototi Peter.
Peter tergelak seraya mengusap rambut lembut wanita itu. " Aku harus pergi!"
" Kemana? katanya ingin menemani ku!" kesal Rachel, kala merasa dibohongi.
" Kenapa, apa karena kau tidak bisa jauh dari ku huh?" terka Peter, mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
" Cih, kalau pergi ya pergi saja. Tapi ingat, jangan menyentuhku selama seminggu. Aku ingin kita pisah kamar!" cibir Rachel mengancam. Setelah itu mengalihkan pandangannya kesamping kanan.
Mendengar itu, Peter tergelak lalu meraih kedua pipi tirus itu dan menggerakkan wajah wanita itu secara perlahan agar mau menatap matanya. " Kalau kau tidak ingin aku pergi, aku akan menetap, sayang! tapi ingat, jangan mengabaikan aku."
Rachel menabrakkan matanya dengan mata coklat pekat milik Peter. Lalu bibirnya mengulum senyum, mendengar ucapan suaminya yang begitu meneduhkan hati.
" Sekarang, buka mulutmu! kau baru menelan dua suap nasi." pinta Peter. Pria itu tampak sedih melihat istrinya yang mengabaikan dirinya.
" Aku sudah kenyang!" sahut Rachel, berpura-pura jual mahal. " Ya sudah, aku pergi saja kalau begitu!" apa, baru saja Rachel merasa senang saat Peter memutuskan mengundurkan niat untuk tidak pergi.
Secepat inikah Peter berubah pikiran, sepertinya cinta dan kasih sayang Peter itu palsu.
" Terserah!" cuek Rachel. Wanita itu menjatuhkan diri keatas ranjang dan menarik selimut sampai keatas kepala. Dalam kegelapan itu, Rachel termenung dengan bibir dan pipi yang mengembang. Kesal dengan Peter yang plin plan.
Nafas berat Peter hembuskan, pria itu mengusap dadanya beberapa kali mencoba bersabar. " Aku tidak akan meninggalkan mu!" katanya lirih, namun masih bisa Rachel dengarkan.
Peter beranjak dari tempat tidur dan berdiri tegak. Pria itu menekan satu tombol bewarna hijau yang ada di samping ranjang.
Tak berselang lama, seorang maid datang dan mengetuk pintu. Serta menanyakan keperluan yang ia butuhkan." Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanyanya sopan. Tentu dengan kepala dan tatapan mata tertunduk, seolah Peter merupakan raja yang patut di hormati.
Peter melepaskan kaos hitamnya, lalu merangkak naik keatas ranjang dan memeluk Rachel yang masih setia menyembunyikan diri didalam tebalnya selimut. " Bukalah, aku tidak mau kau mati karena sesak nafas!"
Rachel bisa mendengar nada ejekan yang ketara dalam ucapan Peter barusan. Sruk! selimut tebal terhempas, menampilkan wajah Rachel yang memercikkan api permusuhan.
" Apa peduli mu? jangan bersikap seolah aku berharga dalam hidup mu!" ketus Rachel. Tatapan matanya masih dingin dan tidak bersahabat.
Bukan menjawab Peter malah menarik Rachel kedalam pelukannya dan menciumi ubun-ubun wanita itu. Rachel sendiri tidak menolak ataupun memberontak. Posisi ini terasa nyaman, dekapan Peter memberikan kehangatan dan kedamaian untuknya.
" Kau mau pergi kemana?" tanya Rachel bergumam, tidak jelas karena wajah wanita itu menempel di dada bidang Peter.
" Bekerja!" jawab Peter singkat. Tidak mungkin Peter menjawab pergi membunuh orang, yang ada Rachel mungkin shock berat nanti.
" Bekerja? di sore hari?" heran Rachel. Wanita itu mengernyitkan dahi, mulai menaruh rasa curiga pada Peter sekarang.
" Hmm, ada meeting penting yang harus ku pimpin, Re," alibinya disertai dengan perasaan gugup yang jelas. " Oh, aku kira kau akan membunuh orang!" canda Rachel diakhiri dengan tawa kencang.
Deg! jantung Peter berpacu cepat dan hal ini disadari oleh Rachel. " Kenapa jantung mu berdetak kencang?"
__ADS_1
" Itu.. itu karena aku berada di dekat mu!" kata Peter dengan seulas senyum tipis palsu.
" Benarkah?" Rachel menggambar abstrak didada Peter, yang mana semakin membuat pria itu merinding dan gelisah.
" Ya, kau membuat ku gila. Aku begitu mencintaimu, sayang!" Peter berucap manis dan tentu membuat Rachel panas dingin merasakan sensasi aneh yang menjalar keseluruh hatinya.
"Lalu, apa kau sudah mencintai ku?" tanya Peter. Memandang Rachel yang masih menempelkan diri pada tubuh kekarnya.
Rachel terdiam, bibirnya terkantup enggan membuka suara. Wanita itu tampak bingung, " aku tidak tahu," Rachel akhirnya berucap.
" Hmm, aku kecewa mendengarnya." Rachel mendongak, namun yang didapati bukan wajah memelas. Melainkan senyum konyol yang menampakkan gigi putih berderet.
" Bagaimana kalau aku bilang, aku mencintai pria lain?" godanya iseng.
" Aku akan membunuhnya sekarang juga, katakan padaku siapa namanya?" rahang Peter mengetat, menonjolkan setiap urat kemarahan.
" Aku hanya bercanda," serunya gugup. Melihat emosi Peter bukanlah candaan Rachel langsung menenggelamkan wajahnya kembali kedada bidang Peter, tidak ingin mendapat semburan ataupun hukuman.
" Candaan mu tidak lucu, lain kali jangan mempermainkan aku." ketus Peter memberi teguran.
" Iya!" Rachel menjawab,lalu menduselkan wajahnya dan menghirup aroma maskulin yang menempel pada tubuh pria itu.
Tepukan-tepukan lembut Peter hadiahkan pada punggung Rachel, kecupan-kecupan singkat mendarat di ujung ubun-ubun Rachel.
Wanita itu merasa nyaman, kehangatan akan dekapan tangan kekar Peter mampu membuat mata yang semula melebar perlahan menyipit menahan kantuk.
Hingga deru nafas terdengar stabil dan wanita itu terlelap dalam mimpi. Peter mengulas senyum, sebelum menarik pelan tangan mungil itu agar melepaskan tubuh kekarnya.
Aku harus segera pergi, pasti Keenan tengah menunggu di bawah sana.
TBC
Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πππ€π€π€
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π
__ADS_1