
Dua minggu berlalu.
Selama itu pula Rachel tidak pernah absen datang ke rumah sakit. Setiap pagi, Rachel pulang mengambil pakaian. Rachel selalu menginap. Tidak ingin meninggalkan Peter sendirian.
Meskipun dalam keadaan memprihatinkan, Peter tidak pernah lupa menyuruh Rachel melakukan pemeriksaan rutin. Seminggu sekali Rachel datang ke ruang check up. Untuk memeriksakan kandungan.
Semakin hari perut Rachel semakin membesar dan Peter senang melihat perubahan pada diri Rachel itu. Hampir setiap malam Peter membelai perut buncit itu. Berharap penerusnya segera lahir ke dunia.
Aneh, kalau di ingat-ingat Rachel tidak pernah meminta apapun. Ngidam hanya sekali dua kali, setelah itu Rachel menjalani kehidupan normal seperti hari-hari biasa.
"Peter, aku membawakan mu makanan. Kemari, ayo makan bersama." ajak Rachel seraya membongkar rantang yang dia bawa.
Peter mengukir senyum samar, sebelum akhirnya mengangguk dan bangun dari tempat tidur. Dua minggu berbaring di atas tempat tidur membuatnya lelah. Kini Peter bisa duduk dan berjalan.
Masih lambat dan membutuhkan cukup waktu. Tetapi Rachel sudah sangat bersyukur melihat kemajuan kesehatan Peter.
"Aku membuatkan mu nasih bakar. Ini daging babi manis buatan Ellie. Aku sudah mencicipinya tadi. Rasanya sangat enak." seru Rachel, menyiapkan piring Peter sambil berceloteh.
"Orang tua ku akan datang hari ini." Peter berucap membuat Rachel menjatuhkan sendok sangking terkejutnya. Rachel menoleh, melebarkan mata menatap Peter dengan tatapan sulit di percaya.
"Apa! kenapa tidak bilang dari tadi?" Rachel tidak mempersiapkan apapun. Makanan juga membawa secukupnya, Rachel bahkan tidak berdandan dan memakai baju rumahan biasa.
"Aku juga baru tahu Re. Mereka ada di belakang mu sekarang." memajukan dagu. Menunjuk arah pintu, dimana dua orang paruh bayah berdiri dengan ekspresi datar dan khawatir.
"Hai sayang," sapa Kanaya. Tersenyum canggung kala melihat ekspresi Rachel. Kanaya menggandeng Dominic masuk kedalam.
Sadar dari lamunan, Rachel bergegas menghampiri dan menyambut dengan keramah-tamahan. Kanaya memeluk Rachel lemah, tidak ingin menghimpit perut buncit Rachel.
"Bagaimana kabar mu sayang?" jelas-jelas Peter yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Tetapi Kanaya malah menanyakan kabar pada menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Aku baik mom, lalu bagaimana dengan kalian?" melirik Dominic yang menampakkan wajah datar.
"Kami baik-baik saja sayang. Bahkan sangat sehat setelah mendengar kabar kehamilan mu." Kanaya mencium puncak kepala Rachel. Menyalurkan kasih sayang lewat kecupan itu.
"Kenapa tidak mengabari ku mom. Aku bisa menjemput kalian di bandara!" ujar Rachel murung. Merasa bersalah pada mertuanya.
"Kami tidak ingin menyulitkan mu sayang. Lagi pula Dominic masih bisa menyetujui setelah melakukan perjalanan jauh." sekali lagi Rachel melirik ke arah Dominic. Sial kenapa pak tua ini dingin sekali.
"Selamat datang dad." sapa Rachel dengan senyum merekah. Bersikap ramah, padahal terpikirkan olehnya untuk memarahi Dominic.
Bukannya menjawab, Dominic malah merentangkan tangan. Menunggu Rachel masuk kedalam pelukannya. Rachel sempat menoleh ke arah Peter. Melihat Peter mengangguk Rachel pun masuk kedalam pelukan sang ayah mertua.
Peter dan Kanaya tahu, meskipun Dominic bersikap acuh dan tampak tidak peduli. Sebenarnya Dominic memiliki sisi hangat yang jarang ditunjukkan. Itu karena Dominic tidak tahu cara mengekspresikan diri.
"Berikan aku cucu perempuan. Aku akan menjadikan mu pemilik aset keluarga." bisik Dominic membuat Rachel merinding seketika.
Lantas Peter dan Kanaya tertawa lepas. Astaga pak tua itu masih belum berubah pikiran tentang cucu perempuan.
Kanaya memeluk lengan Rachel dan mengajaknya duduk menjauhi Dominic. "Hei duduk di sini. Kenapa menjauhi ku?" sarkas Dominic kesal. Tidak terima dikucilkan di pojok ruangan.
"Kau membuat menantu kita takut. Tetap di sana dan jangan mendekati kami." sahut Kanaya seolah memberi Ultimatum.
Dominic mendengus, membuang muka ke arah jendela. "Kandungan mu, apa semuanya baik-baik saja?" mengucap perut Rachel lembut.
"Semuanya baik-baik saja mom. Cucu kalian sehat-sehat saja," seru Rachel. Tersenyum Jenaka.
"Mom, kau tidak menanyakan kabar ku?" Peter menyahut, jengkel di abaikan orang tuanya sendiri. Sebenarnya siapa sih anak mereka, kenapa kedua orang tuanya lebih peduli pada Rachel.
"Melihat kondisi mu, itu sudah cukup membuat kamu mengerti. Kau terluka karena kebodohan mu sendiri." sahut Dominic pedas. Membuat Peter melengos.
__ADS_1
"Aku tidak bodoh dad." balas Peter.
"Tapi kau tidak bisa membaca gerak gerik musuh mu!" bak batu besar, ucapan Dominic berhasil membuat harga diri Peter terluka.
"Itu salah Keenan, dia tidak becus menjalankan tugasnya." mengkambing hitamkan Keenan. Tidak melihat yang di tuduh berdiri dengan wajah dinginnya.
"Jadi saya tidak becus tuan?" suara Keenan membuat Peter terperanjat kaget. Tidak menyangka Keenan datang dan mendengar semuanya. Bagaimana jika Keenan merajuk nanti. Siapa yang memimpin perusahaan selama Peter istirahat.
"Tidak, kau salah dengar Kee. Siapa yang mengatakan kau tidak becus." Peter berdalih. Membuang muka tidak ingin bertatapan dengan Keenan.
Melihat itu Keenan menghembuskan napas sabar. Kemudian menutup pintu dan menghampiri orang tua Peter. Keenan membungkukkan badan, memberi hormat sekaligus menyapa.
"Kenapa datang ke sini?" tanya Peter. Seharusnya Keenan berada di perusahaan sekarang. Tapi melihat Keenan datang dengan memakai pakaian non formal berupa kaos dan celana jeans membuat Peter bertanya-tanya.
"Kau tidak pergi bekerja?" tambah Peter.
"Saya datang untuk meminta tanda tangan, dan hari ini hari minggu. Perusahaan libur di hari minggu." jengah Keenan. Peter terlalu lama beristirahat sampai tidak tahu hari dan tanggal.
Semua orang tertawa mendengar wajah malu Peter. Dia berusaha menyembunyikan semburat kemerahan di pipi dengan berpura-pura memeriksa dokumen.
"Tuan, ada sebuah rapat penting yang harus anda hadiri. Rapat ini tidak bisa di wakilkan siapapun kecuali pemimpin perusahaan."
"Tidak bisa, dokter tidak mengizinkan Peter keluar dari rumah sakit." Kanaya memotong. Rachel terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menyahut dan menawarkan diri.
"Aku yang akan menggantikan Peter bekerja!"
TBC
Belum author revisi π
__ADS_1
Author bakal Hiantus selama satu minggu gaes. Tapi author janji hari rabu depan author bakal up novel ini sampai tamat, biar kalian bacanya bisa sekaligus. Jadi tetap stay di sini ya. terimakasih, love you allβ€β€π₯°π₯°