Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Hidup dan mati seseorang


__ADS_3

"Cih, aku setuju!" Rachel malas berpikir, paling tidak suka bermain kata. Namun, siapa sangka ketidakpeduliannya itu menjadi penyebab utama dari kesialannya. Rachel masuk kedalam jebakan sang suami.


Asik! aku mendapat jatah tambahan setelah permainan ini usai! batin Peter bersorak ria. Seolah mendapatkan tender besar seharga ratusan juta dolar. Peter tersenyum manis, membalikkan badan mencari sosok pria yang sudah mengganggunya.


"Kau! kemarilah!" Peter menunjuk Cristian, memanggil pria itu agar menghampirinya. Padahal Cristian bilang akan pergi bekerja, tetapi pria itu tampak asik di meja judi dan melanjutkan permainannya. Licik sekali dia.


"Saya tuan?" tanya Tian, menunjukkan jari telunjuknya kedepan dadanya sendiri.


"Memangnya siapa lagi, hanya kau saja yang ada di meja itu! Dasar bodoh!" sewot Peter.


"Ada teman-teman saya juga!" Tian mematung, kala tak mendapati teman-temannya. Sejak kapan mereka pergi meninggalkannya sendiri.


Terpaksa Tian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Peter. Perasaan gelisah melanda hatinya. Tian merasa ini bukanlah hal baik, apalagi setelah melihat senyuman mematikan Peter. Menandakan jika Peter ingin memberi pelajaran padanya.


"Ambil botol itu, sekalian!" menunjuk botol red wine utuh yang menganggur di samping meja bertendere. Lagi-lagi Tian patuh, mengambil botol itu tanpa banyak bertanya.


"Kau mau melakukan apa sih?" tanya Rachel sewot. Masih tidak mengerti. Entah rencana apa yang sudah Peter siapkan.


"Sttt.. kau persiapkan diri mu. Karena ini menyangkut hidup dan mati seseorang," katanya. Kembali melirik Tian yang gugup.


"Berdiri di sana!" Tian menghembuskan napas, sebenarnya apasih mau tuan mudanya. Tadi disuruh mendekat sekarang di suruh menjauh. Beginilah hidup sebagai bawahan, harus siap di perintah ini itu tanpa bisa protes ataupun mengelak.


Tian berdiri di tempat yang di tunjuk Peter. Tepatnya di depan pintu masuk. Tian mulai mengerti arah pemikiran Peter. Gila, Tian menyesal telah membuat singa jantan itu terbangun.


Semuanya sudah terlambat, tidak ada kata penyesalan kini. Yang bisa Tian lakukan adalah memasrahkan diri dan banyak-banyak berdoa.


"Letakkan botol itu di atas kepala mu!"


Rachel menoleh, menatap Peter dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah kenapa, Rachel mulai mendengarkan bunyi alarm berbahaya.


Tian meletakkan botol itu dan memegangnya dengan dua jari telunjuknya, menyanggah agar botol tersebut tak terjatuh. Sesuai prediksi, Peter memainkan permainan gilanya.

__ADS_1


"Bidik boto itu, Sayang!" seketika Rachel jatuh tersungkur di bawah lantai. Seolah kehilangan tumpuan pada lututnya. Bagaimana bisa Peter menjadi nyawa orang sebagai permainan.


"Kau bercanda kan, aku yakin kau tidak sekejam ini!" Rachel mendongakkan kepala, memandang Peter dengan tatapan memohon.


"Tidak, aku serius!" Rachel melebarkan matanya, tidak menyangka bahwa Peter setega itu. Seluruh anggota Gold Lion yang menyaksikan hanya menggeleng singkat.


Hal semacam ini sudah sering Peter terapkan. Cuma yang menjadi perbedaan setiap orang yang membawa botol memakai rompi anti peluru. Tapi kali ini Tian tidak memakai apapun.


"Tidak bisakah aku menyerah saja, aku siap menerima hukuman mu itu!" Rachel bertanya dan bertanya meminta keringanan.


Peter tersenyum remeh dan kembali menyahut," kalau begitu buang jauh-jauh semua impian mu untuk bisa bergabung dengan Gold Lion. Karena aku tak membutuhkan pecundang penakut seperti mu!"


"Apalagi kau ingin menjadi asisten ku, sepertinya kau tidak pantas sama sekali!" ucap Peter memprovokasi. Rachel tak menyahut, dia masih duduk dengan kepala tertunduk.


Ini bukanlah masalah kecil, tapi menyangkut hidup dan mati seseorang. Rachel tidak ingin menjadi pembunuh.


Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, tidak ada yang berani membuat suara. Tian masih berdiri dengan wajah santainya. Tidak dapat di pungkiri, bahwa Tian takut.


Hei, siapa yang tidak takut saat kau melihat kematian mendekati mu. Samar-samar Tian menggerakkan bibirnya, melontarkan semua doa. Berharap kebaikannya yang sebesar biji jagung bisa menyelamatkan nyawanya dari malapetaka ini.


"Tunggu! aku akan melakukannya!" Rachel berdiri, membuat Peter tersenyum. Setidaknya Rachel masih berusaha. Meskipun tahu kesempatannya itu tidak lebih dari 10 persen.


Peter kembali berdiri di samping Rachel, "Tian! percayalah aku tidak akan menyakiti mu!" menatap dalam, memberi sebuah harapan pada pemuda malang itu. Tian mengangguk dan tersenyum tipis.


Rachel masih belum menggerakkan tangannya, tubuhnya masih bergetar hebat. Dia gugup.


"Tenangkan dirimu, jangan pernah merasa gugup. Kesalahan kecil saja bisa membuat nyawa Cristian melayang dalam sekejap!" Peter menenangkan sekaligus menginterupsi Rachel.


"Fokuslah pada satu titik, jangan yang lainnya. Sekali lagi ku ingatkan, meleset sedikit saja maka kehidupan Tian berakhir sampai disini!" Rachel menelan ludahnya sendiri.


"Pakai ini!" Peter memakaikan Rachel earphone, berharap Rachel tak terganggu dengan suara angin ataupun deru napasnya sendiri.

__ADS_1


"Kau sudah siap?" Rachel mengangguk membenarkan earphonenya. Matanya menajam, ia mulai mengarahkan tangannya lurus kedepan. Melihat target dengan satu mata.


Fokuslah pada satu titik, kata-kata itu terngiang-ngiang di benaknya. Rachel bersiap menekan pelatuk.


Dor! seluruh mata langsung tertuju pada Tian. Sesudah suara tembakan, suara pecahan botol terdengar menyusul. Tian membuka matanya, memeriksa seluruh bagian tubuhnya.


Aku selamat! terimakasih tuhan, aku akan pergi ke tempat ibadah Minggu depan dan bersujud di bawah telapak kaki mu! Tian berjanji pada dirinya sendiri. Ungkapan syukur tak henti-hentinya Tian ucapkan.


Terimakasih nona, berkat anda saya tidak jadi kehilangan nyawa! Tian menatap Rachel yang masih shock. Namun, disaat yang sama dia juga menatap matanya dan melemparkan senyum tipis.


"Kemampuan mu luar biasa, aku tidak menyangka kau sehebat ini!" akhirnya yang di tunggu-tunggu Rachel telah tiba. Dimana Peter mengakui dan memuji keahliannya.


"Apakah aku masih tidak layak?" tanya Rachel tersenyum remeh. "Kau sangat layak, aku masih tidak menyangka mempunyai istri sehebat dirimu!" Peter mencium dahi Rachel didepan seluruh anggota.


"Semua ini berkat dirimu, dorongan mu membuatku mengambil kesempatan ini. Dan membuktikan bahwa aku bisa melampaui batas ku!" Rachel memeluk Peter. Semua orang bertepuk tangan, tak menyangka bahwa nona mudanya mempunyai kemampuan sehebat ini. Bahkan melampaui kemampuan mereka.


"Sekarang, ikuti aku!"


"kemana?" tanya Rachel bingung. Apalagi melihat wajah bersinar Peter membuatnya merasa aneh.


"Aku ingin memberimu hadiah kemenangan!" katanya dengan nada misterius. Penuh arti.


Rachel tampak berbinar dan mengangguk sebelum memeluk lengan Peter. Membiarkan pria itu menuntunnya ke suatu tempat.


Kamar? untuk apa Peter mengajaknya kemari. Mungkin hadiahnya ada didalam kamar. Rachel tak memikirkan hal negatif dan masuk kedalam kamar.


Ceklek! Peter menutup pintu dan menguncinya rapat. "Malam ini aku akan menyenangkan mu sampai pagi!"


"Apa maksudmu?" tanya Rachel panik, melihat Peter berjalan mendekat seraya melepaskan kancing kemejanya.


"Sesuai dengan kesepakatan, jika kau menang aku akan menyenangkan mu!" Peter tersenyum nakal.

__ADS_1


Sialan dia menipu ku!


TBC


__ADS_2