Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Michel


__ADS_3

Malam telah tiba, Peter dan Rachel bersiap pergi ke acara pernikahan Ara dan Steven. Peter belum sempat bertanya mengenai kehamilan Rachel, karena harus segera berangkat.


"Pakai gaun ini!" Peter menyodorkan paper bag dan Rachel menerimanya dengan tatapan bertanya-tanya. "Aku sudah memesan baju. Grace sendiri yang memilihkan untuk ku!" ucapnya. Mengkambinghitamkan Grace.


Karena Rachel tahu Peter pasti marah begitu tahu dia memilih gaun hitam ketat yang memperlihatkan seluruh lekuk tubuh. Bahkan memperlihatkan punggung dan dadanya.


"Pakai ini atau kita tidak akan pergi sama sekali!" ancam Peter. Seperti biasa tatapan itu mendominasi Rachel.


"Ck iya-iya, aku akan memakai pakaian ini!" malas Rachel. Wajahnya terlihat di tekuk. Padahal Rachel ingin kembali pada gaya hidupnya yang dulu.


"Cepat! aku akan menunggu di sini!" seru Peter menunjuk tempat tidur."


"Ya baiklah, aku tidak perlu berdandan kan?"


"Kenapa?"


"Nanti kau menghinaku lagi!" Peter melipat dahinya. Tidak mengerti arah pembicaraan sang istri. "Maksud mu?"


"Seperti biasa kau akan memanggilku wanita nakal yang suka menebar pesona dan menggoda sana sini!" cibirnya dengan wajah kecut.


"Aku hanya bercanda sayang. Kau bisa memakai make up tapi jangan terlalu tebal. Usahakan buat wajah mu tampak jelek dan tidak menarik. Aku tidak suka melihat mu menjadi pusat perhatian."


Peter ingin menyalakan rokok, namun ingatan akan penjelasan dokter tadi membuatnya mengurungkan niat.


"Mau merokok?" tanya Rachel saat melihat suaminya mengapit satu batang nikotin itu.


"Tadinya begitu, tapi tidak jadi!" jawab Peter sembari mengembalikan rokok tersebut ke tempat semula.


"Kenapa? aku tidak mempermasalahkannya jika kau merokok!" seru Rachel heran. "Tidak papa, hanya saja tiba-tiba aku tidak ingin merokok!" dalih Peter beralasan.


"Ya sudah, terserah kau saja. Aku akan bersiap sebentar. Tunggu aku ya!" Peter pun mengangguk singkat sebagai jawaban.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Setibanya di tempat acara pernikahan Ara dan Steven. Peter mengajak Rachel masuk kedalam. Keduanya tampak bahagia, Peter merangkul pinggang Rachel. Dan Rachel memeluk lengan Peter. Keduanya berjalan beriringan.


Terlihat romantis hanya saja ekspresi mereka tidak mendukung. Peter dengan wajah datarnya dan Rachel dengan wajah senyumannya. Sangat bertolak belakang.

__ADS_1


Baru melangkah beberapa kali, sebuah suara terdengar di telinga mereka. "Rachel!"


Panggil seorang wanita. Yang dipanggil pun langsung menoleh mencari sumber suara. Seketika senyum Rachel mengembang tatkala melihat Belle datang bersama seorang pria


"Hai kak!" sapa Rachel berbasa-basi. Memulai obrolan. "Kamu apa kabar?" tanya Belle seraya memeluk Rachel singkat.


"Im okey and you. Apa kakak baik-baik saja?" balik bertanya. Dan Belle mengangguk tiga kali. Mengiyakan.


Semua tampak baik-baik saja sebelum pandangan Peter menangkap sosok pria yang membuat asistennya kesulitan. Tatapan menajam, ingin rasanya Peter melenyapkan pria itu di detik ini juga.


Jika di lihat dari dekat Michel terlihat lumayan tampan. Ya walaupun masih tampan Keenan. Hanya saja yang membedakan di sini Michel terlihat lebih muda dan Keenan terlihat sudah tua. Tanpa sadar Peter tengah menggunjing Keenan barusan.


Tapi apa salahnya, Peter membicarakan fakta. Keenan memang sudah tua bahkan lebih tua darinya. Akan sedikit aneh saat Keenan bersanding dengan Belle nanti. Karena umur mereka terpaut cukup jauh.


"Kak, siapa laki-laki yang ada di samping mu ini?" Rachel bertanya lalu mengangkat dagu menunjuk Michel.


"Aku belum memperkenalkannya?" Rachel mengangguk. Seumur hidupnya Rachel tidak pernah bertemu dengan pria ini. Bisa di bilang ini yang pertama kali.


"Kenalkan, dia Michel teman kuliah ku dulu. Tampan kan?" puji Belle seraya menaik turunkan alisnya. Menggoda Michel.


Michel sendiri tampak tersipu malu. Baru kali ini Belle memuji ketampanannya. "Ya dia cukup tampan!" ucap Rachel menyetujui pendapat Belle.


"Michel, dia Rachel sahabat baik Grace!" seru Belle memperkenalkan. Dan sedetik kemudian, Michel mengulurkan tangan.


"Michel!"


"Rachel!" dengan senang hati Rachel menjabat tangan tersebut dan tersenyum tipis.


"Jangan menyentuh ataupun menatap pria lain!" Peter menarik lengan Rachel. Membuat wanita itu terkejut dan terhuyung kebelakang.


"Apa-apaan kau, membuat ku terkejut saja!" marah Rachel, memperbaiki posisi berdirinya.


"Aku tidak suka melihat mu bersentuhan dengan pria lain. Apalagi pria itu adalah saingan Keenan!" bisik Peter. Sesekali melirik targetnya yaitu Michel dengan lirikan tajam.


"Ada apa dengan mu. Kami hanya saling berkenalan saja. Jadi hentikan pikiran konyol mu itu!" kesal Rachel. Wanita memelototi Peter. Menyuruh Peter diam lewat tatapan menakutkannya itu.


"Tetap saja aku tidak suka!"

__ADS_1


.


"Diam atau aku tidak akan memberi mu jatah!" Rachel tersebut miring melihat Peter takut dan memutuskan membungkam bibirnya.


"Maaf ya, suami ku sedikit tempramen. Jadi harap maklum!" Belle dan Michel tersenyum kecut. Keduanya menyadari aura gelap yang Peter keluarkan.


"Ngomong-ngomong soal Keenan, aku sudah-" belum sempat Rachel menyelesaikan kalimatnya. Suara Belle memotongnya terlebih dulu.


"Re, aku minta maaf. Aku tidak ingin membahas pria tidak bertanggungjawab itu. Menyebut namanya saja membuat ku muak!" sanggah Belle dengan wajah datar.


Mendengar jawaban Belle rasanya Peter ingin tertawa sekarang. Melihat betapa garangnya Belle, Peter rasa nasibnya dan nasib Keenan tidak jauh berbeda. Sama-sama tunduk di bawah kedudukan sang istri.


"Ah begitu, maafkan aku kak!"


"Tidak masalah, justru sebaliknya akulah yang seharusnya minta maaf karena memotong ucapan mu!" Belle menyahut membuat Rachel tergelak.


"Santai saja, aku tak tersinggung dengan perbuatan mu itu kak! kalau begitu kami masuk dulu yah. Bye, sampai bertemu di sana!" tukas Rachel. Melambaikan tangan beberapa kali sebelum menarik tangan Peter.


"Ayo!" Rachel menarik Peter agar mengikutinya dari belakang.


"Sebentar aku ingin mengatakan sesuatu pada pria itu!" Rachel menghentikan langkah. "Tidak usah, kita sudah terlambat!"


Mau tak mau Peter pun mengalah. Karena Lagi-lagi kehamilan Rachel terlintas dalam pikirannya. Sekali saja Peter mau menuruti kemauan sang istri. Tidak peduli itu di depan publik ataupun dibelakang publik.


Melihat interaksi antara Rachel dan Peter. Belle bisa menyimpulkan jika keduanya saling mencintai. Dan Belle ikut bahagia melihat Rachel bahagia. Setidaknya hanya dia yang bernasib malang, Grace dan Rachel tidak.


"Mau bergandengan?" tawar Michel. Sadar jika Belle memperhatikan interaksi pasangan itu. Belle menoleh, di lihatnya Michel mengulurkan tangan seraya tersenyum lebar.


โ€œTentu saja!โ€ dengan senang hati Belle meraih tangan kekar itu. Dan keduanya masuk seolah mereka adalah pasangan kekasih.


Tak sadar sepasang mata memperhatikan gerak gerik mereka. Keenan berdiri di belakang seraya menggendong Abigail.


โ€Berani sekali dia bergandengan tangan dengan wanitaku!โ€ marahnya.


โ€œLihat sayang, ibumu pergi bersama pria lain dan meninggalkan kita sendiri disini!" Keenan mengadu pada putrinya. Namun, Abigail tak menanggapi. Sepertinya anak kecil itu kelelahan.


TBC

__ADS_1


ย 


__ADS_2