
Helaan nafas berat, Rachel hembuskan. Merasa gagal membujuk pria yang mulai mengisi hatinya. Bersabar, merupakan cara terbaik. Perlahan-lahan mendekati dan membujuk agar, Peter mau berkonsultasi dengan psikolog nanti merupakan jalan terbaik.
Bukan tidak mau menerima kekurangan Peter, namun kekurangannya benar-benar diluar batas pemakluman. Bukan menyangkut fisik maupun harta, tapi penyakit mental. Bayangkan, kekurangan Peter mengarah pada penyakit mental, psikopat. Siapa yang tidak takut dengan itu.
βAku harus merubahnya, tidak peduli membutuhkan waktu lama. Yang jelas, aku tidak akan berhenti sebelum suamiku itu menjadi pria normal.β tekad kuat Rachel.
Wanita itu menyudahi kebingungannya, memutuskan melangkah kecil mendekat kearah ranjang. Dan merangkak naik, membaringkan tubuhnya mencari posisi nyaman.
Rachel mungkin sulit memejamkan mata malam ini. Mengingat dikamar, hanya ada dirinya seorang. Tanpa kehangatan ataupun belaian lembut Peter. Faktanya, dia terbiasa dengan semua perlakuan itu. Sekali terlewat, seakan penyakit insomnia tiba-tiba datang menyerang.
"Aku pastikan kau berubah menjadi manis seperti hari-hari sebelumnya, Peter." menatap lembut sebelah ranjang yang kosong.
Rachel membuka laci sebelah, lalu memasukkan tangan mengobrak abrik isi. Mencari obat tidur. Melihat Peter melenyapkan orang, mengingatkannya akan kejadian dua puluh satu tahun silam. Kenangan buruk yang hampir Rachel lupakan, tiba-tiba berputar kembali dengan rinci.
Setelah beberapa saat matanya terkantuk. Obat tidur mulai mengambil alih kesadarannya. Dengan memeluk guling putih, Rachel menutup mata, menyelami mimpi dan menunggu pagi. Cukup untuk hari ini, sekarang biakan tubuhnya beristirahat walaupun dengan bantuan obat tidur.
...ππππ...
Gumpalan awan putih terlihat berarak. Matahari kian meninggi, menyinari sebagian belahan bumi. Menandakan malam telah berakhir. Rachel masih terlelap, nyaman dengan posisinya.
Bisa jadi, obat tidur semalam berdosis tinggi. Peter membuka pintu sedikit, memeriksa situasi. Melihat Rachel berbaring, dia mendorong pintu lebar-lebar tanpa membuat suara.
Mata tajamnya meneliti keadaan Rachel. Sedikit heran, mendapati wanita itu masih terlelap di jam segini. Untuk itu, Peter mencari sesuatu.
Bukti yang bisa menguatkan prediksinya. Peter menyapu pandangan cukup lama. Sampai netra coklatnya mengunci satu objek. Kemasan obat tidur.
Ternyata prediksinya benar, Rachel mengonsumsi obat tidur semalam. Perasaan bersalah menyelubungi hati, sedih melihat keadaan sang istri. Lantas, kecupan lembut Peter daratkan pada dahi istrinya. Kemudian, menatap wajah pucat itu sebentar.
Rindu, pisah kamar membuat Peter merasakan hal itu. Selain tak mendapat jatah, juga tidak punya guling untuk di peluk erat.
Belum sempat Peter berdiri tegak, jari jemari panjang menahannya erat. Rachel membuka mata, menatap Peter dengan tatapan intens.
"Pagi, Sayang!" sapa Rachel, senyumnya mengembang memperlihatkan deretan gigi rapinya. Entah sejak kapan, panggilan nama berubah menjadi panggilan sayang.
"Hm," berdehem singkat, lalu memalingkan wajah. Namun, tidak bisa dipungkiri rasa senang menyelimuti hati. Jantungnya berdetak kencang dengan semburat merah samar di kedua pipi.
__ADS_1
"Kau tidak bekerja?" tanya Rachel, seraya merubah posisi menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang. "Aku cuti." jawab Peter datar.
"Benarkah, itu berarti aku bisa menghabiskan waktu bersama mu." hendak memeluk, tapi ditepis oleh Peter.
"Jangan berpura-pura, Re. Aku tahu kau takut pada ku," geramnya. Muak mendengar rayuan palsu Rachel. "Kau yang berpura-pura, sebenarnya siapa kau dan apa pekerjaan mu?"
Peter terdiam di tempat," jawab aku, jangan mengabaikan pertanyaan ku. Lagi pula aku istrimu, penting untuk ku tahu identitas suamiku." tambahnya membuat Peter bimbang.
Semalam Peter belum sempat menjawab semua pertanyaan. Penasaran, perasaan itu masih menetap dalam diri Rachel.
"Aku akan mengatakan segalanya, tapi berjanjilah kau tidak akan membenci ataupun meninggalkan ku."peringat Peter.
"Okey, katakan segalanya. Dan aku akan menetap sampai akhir hayat." pungkasnya serius.
Tidak ada pilihan lain, Peter berbaring diatas ranjang. Memakai paha Rachel sebagai bantalan nyaman. "Kau tahu bukan, dulu ayahku seorang mafia?"
"Lalu?" mengangguk-angguk. "Tapi setelah aku berumur 25 tahun, ayah menyerahkan tanggung jawab itu padaku."
"Jadi, kau-"
"Kenapa kau tidak bilang sebelumnya, jangan bilang karena pekerjaan mu ini yang menjadi penyebab ketidak sukaan ayahku padamu?"tebak Rachel.
"Seperti yang kau kira, ayah mu tidak ingin kau terluka karena pekerjaan ku. Tapi aku bersikeras, ingin memiliki mu."
Rachel menghentikan usapan tangan, lalu menatap lurus ke depan. "Kau tidak takut dengan ku?"
"Tentu saja takut, tapi tidak mungkin bagi ku meninggalkan pria yang telah menjadi suami ku." jujur Rachel.
"Manis sekali,aku suka." papar Peter seduktif.
"Lalu, kenapa kau membunuh mereka. Maaf, aku tidak berniat menyinggung mu. Tapi apa ayahmu juga sama seperti mu? mungkinkah dia juga memiliki gen psikopat seperti mu?"
Mungkin jika orang lain yang bertanya tidak akan Peter ampuni. Berhubungan Rachel yang bertanya, dia masih bersabar dan menjawab tanpa menutup-nutupi.
"Ya, bahkan lebih kejam dari ku."
__ADS_1
Rachel terbelalak, "tapi bukan berarti kami psikopat, Re. kami tidak akan membunuh sembarang orang. Hanya penghinat dan musuh pencari gara-gara."kilah Peter.
"Tetap saja kau membunuh orang," protes Rachel. Kembali mengusap rambut Peter dan menjambaknya berulangkali karena kesal.
Hening sejenak, Peter tak menjawab. Memilih menenggelamkan wajah di perut rata Rachel. Namun, akhirnya dia mendongak dan berucap kembali.
"Lalu, kau tidak takut padaku setelah menyaksikan kejadian itu?"
"Asal kau tahu, perbuatan mu itu mengingatkan ku pada sebuah kejadian itu."
"Kejadian apa?" mendongak, menunggu jawaban.
Rachel terdiam sesaat, bingung memulainya dari mana. Genggaman hangat membuatnya sadar. Wanita itu tersenyum, "sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku melihat pembunuhan."
" Maksud mu?" Rachel tersenyum getir. " Saat aku berumur 5 tahun, aku memergoki ayah sedang menusukkan pisau pada seseorang." mata Peter membulat dengan sempurna.
Tidak menyangka, di usia sekecil itu Rachel melalui hal mengerikan itu. Pasti semacam traumatik Rachel alami sampai sekarang.
"Saat itu, wajah ku terlihat takut. Tapi percayalah, aku hanya terkejut. Setiap kali aku melihat pembunuhan ataupun darah, kejadian itu kembali terlintas sebagai mimpi buruk." Rachel menjelaskan.
"Kau takut?"
" Tidak, hanya saja aku terganggu dan tidak bisa tidur!" Peter mengerti, sepertinya keputusan memindahkan penjara bawah tanah ke mansion ini salah.
" Kalau begitu, aku akan akan memindahkan penjara bawah tanah itu lagi." putus Peter.
TBC
Belum author Refisi, maaf kalau tidak nyambung.
Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πππ€π€π€
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π
__ADS_1