Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Jatah yang tertunda


__ADS_3

Mendengar larangan suaminya, Rachel bersendekap dada memalingkan wajah enggan bertatap muka. Biasanya Peter luluh dan menuruti kemauannya, jika dia bersikap seperti ini. Namun, Peter hanya mengusap rambutnya dan pergi tanpa berkata-kata.


"Sial, kenapa dia mengabaikan aku." geram Rachel, kesal melihat suaminya cuek. Ada rasa ketidak relakan, mengingat dia sudah berjanji akan datang.


Tidak betah duduk mengamati, Rachel beranjak dan mengekori Peter dari belakang. Pria itu masuk kedalam ruang kerjanya lagi.


"Siapkan segalanya, malam ini kita beraksi!" Rachel menghentikan langkah, menguping pembicaraan Peter dengan seseorang di telepon.


Beraksi, jangan-jangan Peter ingin melakukan hal gila itu lagi. Membunuh orang dengan sadis. "Dia membohongi ku lagi?" kecewa Rachel, mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam dan memilih pergi.


Sebenarnya apa yang diinginkan Peter, apa dia pikir perasaannya tidak akan terluka di bohongi seperti ini. Menangis, tidak Rachel lakukan. Bersedih hanya membuang-buang waktu.


Memikirkan solusi terbaik yang seharusnya ia lakukan. Rachel duduk di atas ranjang, meraih ponselnya.


"Ck, aku lupa! nomor Kenzo ada di ponsel yang


Peter hancurkan." menepuk dahinya, merutuki kebodohan.


Sebelum memikirkan langkah selanjutnya, Rachel hendak menghubungi Kenzo dan mengabari jika tidak bisa datang dan melihat live acara pernikahannya secara langsung.


"Seandainya, aku menulis nomornya dulu." sesal Rachel, lalu melemparkan handphonenya ke sembarang arah.


Rachel memegang kepala dengan kedua tangannya, rasa sakit kembali menyerang. Kepalanya berdenyut, pusing memikirkan rencana agar bisa memantau Peter tanpa sepengetahuannya.


Klek! tiba-tiba pintu terbuka, Peter masuk kedalam dengan wajah polos dan senyum tipis yang menggoda. Seketika Rachel, memalingkan wajah malas bertatap muka ataupun bertegur sapa.


"Sayang, tadi kau bilang ingin menyenangkan ku kan?" tanya Peter, sembari membuka dua kancing atas kemejanya.


"Nanti malam!" singkat Rachel, tanpa mengalihkan pandangan. "Sekarang saja, aku ingin kau menyenangkan ku sekarang!" pinta Peter, dengan suara serak sexy yang khas.


"Tidak, aku bilang malam ya malam. Tidak ada penawaran tambahan!" sahut Rachel ketus, membuat yang diajak bicara kebingungan.


Apa yang terjadi dengannya, batin Peter bermonolog.


"Sekarang saja ya, aku sudah tidak tahan." setengah berbohong. Selain ingin memadamkan api gairah, Peter tidak bisa melakukannya nanti malam karena pergi bertransaksi.


"Aku tidak mau. Perjanjian tetaplah perjanjian. Kalau kau tidak sabar, bermain sendiri sana dengan sabun cair," ucapnya ketus.


"Aneh, wanita memang sulit di mengerti." gumam Peter, bersabar demi mendapat jatah. Tidak masalah, bermain dua sampai tiga jam sebelum pergi akan menambah staminanya nanti.

__ADS_1


"Apa kau bilang?" Peter gelagapan, bergegas menduselkan diri ke wanita garang itu. "Aku bilang kau cantik dan seksi, sayang."


"Cih, aku tahu kau menggunjing ku jangan sok memuji sekarang." cibir Rachel, Peter tersenyum konyol, menggaruk tengkuknya yang tidak pernah merasa gatal.


"Sebenarnya, ada apa denganmu? kenapa kau mendadak berubah garang. Jangan bilang karena aku melarang mu pergi ke acara pernikahan, Kenzo." selidik Peter.


"Kalau iya, kenapa? aku kan punya hak datang kesana. Dari awal aku sudah pernah bilang, kau tidak boleh membatasi gerak ataupun keinginan ku." sialnya, perjanjian itu sudah hangus, dan konyolnya Rachel sendiri yang membatalkan.


"Kau benar, tapi sayangnya baru beberapa menit yang lalu, perjanjian itu kau batalkan. Jadi aku tidak punya alasan untuk membebaskan mu. Apalagi ini menyangkut teman pria mu itu!" Peter mengoceh dengan suara ketidak sukaan yang ketara.


"Ayolah, aku sudah berjanji akan datang. Dia pasti kecewa nanti!" gerutu Rachel.


"Kau tidak ingin mengecewakan Kenzo, tapi ingin mengecewakan aku, yang merupakan suami mu!"


Hening sejenak, Rachel tertohok. Benar, disini Rachel tidak pernah memikirkan perasaan Peter, kecewa ataupun tidak seolah dia tidak peduli. Dan hanya memikirkan bagaimana caranya datang kesana.


"Kenapa kau diam? kau merasa berdosa sekarang?" tanya Peter, tersenyum penuh kemenangan. Tidak menyangka, Rachel mudah terjebak dengan permainan kata-katanya.


"Okey, aku tidak akan datang sesuai dengan permintaan mu, yang mulia. Tapi bagaimana cara ku menjelaskannya, jangankan bertemu menghubunginya saja tidak kau izinkan. Dan bahkan handphone ku kau hancurkan."


"Ck, hubungi dia. Kali ini aku memberi mu izin." sahut Peter.


"Ambil!" melemparkan satu lembar kertas berisi biodata Kenzo, lengkap dengan nomor ponselnya.


"Ini... kau menyelidikinya?" Peter mengendikkan bahu. "Ya, aku harus memastikan istriku tidak bermain di belakang." jawab Peter, tidak sadar semakin membuat Rachel kecewa.


"Kau tidak percaya dengan ku?"lirihnya bertanya. Peter menggeleng, berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Rachel.


"Tentu saja, aku percaya. Aku hanya ingin berjaga-jaga saja." dalih Peter, padahal memang waktu itu dia tidak percaya sama sekali.


"Alasan," Rachel berdiri menabrak wajah Peter, membuat pria itu jatuh terduduk. Rasa sakit terasa di pangkal hidungnya.


"Kau tidak benar-benar menuruti permintaan ku bukan?"


Peter terdiam, menerka-nerka alasan Rachel masih mencurigainya. Padahal jelas-jelas tadi sudah dia katakan akan berusaha memenuhi permintaannya itu.


Seraya menunggu Peter membuka suara, Rachel menekan nomor Kenzo di handphonenya satu persatu. Tut..Tut..Tut tersambung. Namun, tidak kunjung diangkat.


Mungkinkah temannya itu sibuk mempersiapkan acara, mengingat waktu berputar dengan cepat dan dia hanya punya waktu seminggu penuh untuk mempersiapkan segalanya termasuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa tidak diangkat?" gumam Rachel, kembali menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipi itu ke telinga. "Mungkin dia sedang sibuk, hubungi saja nanti!" Peter memberi saran, kemudian maju dua langkah dan duduk disamping Rachel.


"Sebenarnya, apa yang membuat mu yakin bahwa aku membohongi mu?" balik ketopik pembicaraan mereka. Peter mengambil handphone Rachel dan memasukannya ke dalam saku.


"Menurut mu?" Rachel balik bertanya, menatap tajam dengan suara datar.


Lagi-lagi pria itu terdiam, mengingat apakah ada cela yang terlewat. Tapi sepertinya tidak. "Katakan, jangan mempersulit ku." marah Peter.


"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mu tadi, kau dan kelompok mu akan melakukan transaksi kan, malam ini?" Rachel bertanya.


Peter membulatkan mata, jadi Rachel menguping pembicaraannya tadi. "Dengarkan aku, Re. Aku memang berjanji akan menuruti keinginan mu, untuk tidak merenggangkan nyawa orang. Tapi, aku tidak pernah berjanji akan meninggalkan pekerjaan ku."


"Tapi-"


"Dengarkan! aku masih belum selesai bicara!" sahut Peter, kala Rachel hendak memotong ucapannya.


"Mafia bukan hanya tentang membunuh orang saja. Tapi, mereka juga bertransaksi dengan kelompok lainnya, seperti senjata ataupun obat-obatan terlarang." Rachel masih diam, mendengarkan semua penjelasan Peter.


"Demi tuhan, berhentilah menuduhku karena aku muak dengan itu!" marah Peter, berusaha menahan diri masih bersabar.


Sampai kapan ini akan berlanjut, Peter lelah. Ingin rasanya mengeluh, tapu apa nanti kata dunia. Pemimpin Gold Lion yang terkenal akan kebengisan dan kekejamannya mengeluh tentang istrinya.


Tapi, tidak bisakah Peter bekerja dengan tenang dan damai. Tanpa membagi fokus dalam melaksanakan misi.


"Kalau begitu, bekerjalah. Jatah harian mu ditunda besok saja." Peter mendongak, terkejut mendengar pertanyaan istrinya barusan. Apa itu artinya Rachel-


"Jangan salah paham, aku tidak ingin mengurusi urusan mu. Jadi pergilah, tapi ingat janjimu. Kau tidak akan menghabisi siapapun!" peringat Rachel.


Seketika senyum lebar Peter tampakkan, pria itu langsung berlari, memeluk rachel erat karena terlalu senang. Rencananya satu langkah lebih maju.


"Terimakasih, sayang!" kau yang terbaik, lanjut Peter dalam hati.


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2