
Begitu sampai di lobby kantor, Keenan celingukan mencari keberadaan Rain. Nampak seorang wanita cantik tengah berdebat dengan seorang resepsionis.
Helaan napas berat Keenan hembuskan, dengan sabar Keenan menghampiri dan mempersilahkan Rain agar mengikutinya dari belakang.
Marah, tentu saja. Rain sangat percaya diri dan berambisi menjadi istri Peter. Tidak seharusnya calon nyonya besar berjalan di belakang asisten.
Namun, Rain tidak punya pilihan selain mengikuti Keenan. Faktanya baru kali ini Rain datang ke perusahaan. Tentu saja seluk beluk perusahaan ini tidak Rain ketahui.
Kurang ajar, wanita tidak tahu diri ini memandang Keenan rendah. Sekedar informasi, perusahaan sampai di titik ini karena Keenan. Sebagian besar pencapaian yang Peter peroleh itu juga karena bantuan Keenan.
Bukan berarti Peter bodoh dan tidak berpengalaman. Yang menjalankan semua strategi adalah Peter sendiri. Tentu saja pekerjaan ini membutuhkan skill dan kemampuan yang mumpuni.
Kecerdasan Peter memang di atas rata-rata, namun Peter cenderung memakai perasaan dan kekuatan dalam mengambil keputusan. Tidak seperti Keenan, tetap tenang dan memakai logika.
Karena perbedaan itu, Peter selalu meminta saran Keenan. Jelas-jelas rencana yang Keenan susun lebih berpeluang akan kemenangan.
"Apa masih jauh?" tanya Rain. Wajah jutek Rain membuat Keenan ingin meninjunya. Belum lagi omong kosong yang Rain ucapkan. Entah itu membangga-banggakan diri sendiri ataupun bermimpi menjadi istri Peter.
Keenan hanya bisa tertawa dalam diam. Cih, Keenan sendiri menjadi saksi bisu keromantisan yang terjadi di antara Peter dan Rachel. Hanya dengan melihat mata Peter saja. Semua orang pasti tahu, jika pria itu sangat mencintai istrinya.
"Sebentar lagi sampai!" jawab Keenan tak acuh. Lebih tertarik melihat bayangannya sendiri di dinding lift dari pada ocehan-ocehan yang terlontar dari bibir Rain.
"Jauh sekali, aku lelah. Bodoh!" keluh Rain. Tak heran, mengingat kondisinya sekarang bisa di bilang sangat rentan. Rain hamil besar, dan ibu hamil sangat mudah lelah.
Keluhan Rain tidak ada gunanya, seandainya dia tidak hamil. Keenan pasti menuntun Rain melewati tangga darurat. Seharusnya Rain bersyukur karena Keenan masih mempunyai hati nurani.
"Dasar manja!" gunjing Keenan. Sengaja mengeraskan suara berharap rain tersindir dan segera pergi.
Ingat, pekerjaan Keenan masih banyak. Disini, kehadiran Rain malah semakin menambah pekerjaannya. Ayolah, Keenan ingin cepat-cepat pulang dan menghabiskan waktu bersama Belle.
Namun, wanita sialan ini datang tanpa di undang. Sudah pasti semua pekerjaan jadi tertunda dan keinginan akan pulang cepat harus Keenan kubur Dalam-dalam.
Pertengkaran mungkin terjadi setelah ini. Tidak mungkin tidak. Mengingat Rain memiliki mulut pedas di tambah dengan Peter yang mudah tersulut. Sudah di pastikan semuanya akan berakhir dengan peperangan.
__ADS_1
Cerita sedihnya, Keenan harus menyaksikan pertengkaran dan berusaha mengeluarkan Rain dari ruangan.
Langit, bisakah aku menendang wanita ini sekarang. Aku ingin pulang cepat dan bermesraan dengan istri ku! batin Keenan.
"Silahkan nona!" mendorong pintu kaca, lalu mengangkat sebelah tangan. Mempersilahkan Rain masuk kedalam.
"Sayang!" panggil Rain manja. Dengan kurang ajarnya duduk di pangkuan Peter. Jelas-jelas sofa ruangan dan kursi depan meja Peter kosong. Alih-alih duduk di tempat yang nyaman, Rain malah memilih paha kekar Peter.
"Menyingkir dari hadapan ku!" Peter mendorong Rain. Tidak peduli jika wanita itu jatuh ataupun tidak. Yang terpenting pahanya terbebas dari beban berat dan terbebas dari sentuhan Rain.
"Tidakkah kau merindukan ku, sayang?" Rain bertanya. Masih berusaha menyentuh Peter dengan memeluknya dari belakang.
"Mimpi! bisakah kau pergi sekarang. Hanya dengan melihat wajah mu saja membuat ku ingin muntah!" sarkas Peter kejam.
"Aku tidak bisa meninggalkan calon suami ku kan!" Rain merayu Peter dengan cara mengedipkan sebelah mata dan menggerakkan jari telunjuknya ke arah dada bidang Peter. Lalu, menggambar abstrak.
“Cih, apa mau mu jalaang. Berhenti mengganggu kehidupan ku atau kau akan tahu akibatnya!” ancam Peter. Ia berdiri dadi kursi kerjanya. Beralih pada sofa nyaman ruangan.
“Anak itu bukan anak ku, aku tidak pernah menyentuh mu. Lalu kenapa kau meminta pertanggungjawabanku sialan!” geramnya.
Rain tersenyum tipis, membenarkan gaunnya yang lecek, kemudian berjalan ke arah Peter dan Keenan berada. Rain duduk di sebelah Peter dengan anggunnya.
“Selain karena mencintai mu, aku juga menginginkan posisi tertinggi. Kau tampan dan kaya, sangat cocok bersanding sebagai pendamping hidup ku!" jelas Rain panjang lebar.
Keenan maupun Peter semakin jijik. Wanita ini materialistik juga sangat percaya diri. Obsesinya benar-benar gila dan merepotkan semua orang.
"Sekali murahan tetap saja murahan!" cibir Keenan tanpa mengalihkan kesibukan. Waktunya sangat berharga sampai membuatnya lelah dalam bekerja.
"Tutup mulut mu! pelayan rendahan seperti mu tidak berhak berbicara tidak sopan pada calon istri atasan," potongnya tidak terima. Merasa kesal karena harga dirinya telah di injak-injak oleh Keenan.
“Kau yang seharusnya menutup mulut, jaalang! setidaknya posisi Keenan jauh lebih baik dari pelacur seperti mu!" mendelik, tidak suka sahabat sekaligus asisten kebanggaannya di hina.
Hello, Keenan bukan sekedar sahabat ataupun bawahan. Peter sudah menganggap Keenan seperti kakak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Peter sangat menghargai dan menghormati Keenan. Ya, meskipun tingkahnya sedikit menjengkelkan. Tetap saja Keenan yang selalu ada saat Peter butuh bantuan. Dan satu hal yang patut untuk di ingat. Keenan merupakan orang yang paling Peter percaya.
Dan Rain berani membandingkan posisi mereka. Tentu saja berbeda, Rain bahkan tidak pantas menyentuh kaki Keenan.
"Kau tidak bisa melakukan ini pada ku Peter!" rengek Rain. Menggelayut manja pada lengan Peter.
"Aku sudah menikah!" Peter berusaha melepaskan diri. Namun, pelukan Rain semakin erat.
"Aku rela menjadi yang kedua!"
Plak! satu tamparan mendarat di pipi Rain. Cukup, Peter tak tahan lagi. Peter bukan tipikal pria yang tidak cukup dengan satu wanita.
Rachel, satu wanita sudah cukup untuk mewarnai hari-harinya. Cintanya tulus, Peter tak berniat membagi hati. Apalagi Rachel tengah mengandung buah cinta mereka.
Dan omong kosong yang Rain katakan benar-benar membuatnya marah. Seolah harga dirinya sedikit terluka karena secara tidak langsung Rain meragukan kesetiaan Peter.
"Pergi sebelum aku mencabik-cabik mu, di ruangan ini!" usir Peter lagi. Masih menahan diri, tidak ingin menyakiti mengingat Rain sedang hamil besar.
"Aku tidak akan membiarkan hidup kalian tenang! camkan itu!" Rain mengancam namun bukannya takut Peter malah tertawa.
"Sebelum kau melakukan rencana mu, aku pastikan kau mati, Rain. Jadi berhati-hatilah, mungkin saja aku menyerang tanpa sepengetahuan mu!" balik mengancam. Kali ini Peter tidak main-main.
Rain mendengus, ia berjalan keluar. Sempat berhenti di tengah-tengah pintu dan menatap Peter penuh amarah.
"Lihat saja nanti, kau akan datang mengemis cinta pada ku, Peter!"
TBC
Karya baru author, di akun sebelah. Jan lupa mampir ya, ini novel anak kembar, tapi author ganti judulnya jadi trapped. Masih di aplikasi ini kok, ketik saja nama pena author yang kedua"Sunrisee " pasti muncul
terimakasih 🙏❤
__ADS_1