
"Sayang, ada apa denganmu?" keheranan melihat Rachel diam dengan wajah tertekuk. Rachel menggeleng, enggan menjawab. Mengingat kejadiannya saja membuat darah di sekujur tubuhnya mendidih.
Emosinya naik, kesal karena di permalukan didepan banyak orang. Sampai kapanpun Rachel tidak akan melupakan wajah palsu wanita itu. Cantik, namun terlihat seperti operasi plastik.
Peter mencoba bersabar, "kalau kau tidak ingin mengatakan masalahmu, aku sendiri yang akan mencari tahu!" Peter menekan nomor Keenan.
Tut..Tut..tut.. "ya tuan!" jawab Keenan dari seberang sana. Peter melirik Rachel sebentar.
"Cari tahu masalah di restoran xxxx, sekitar jam 3 sore!" Peter menekan tombol merah, mengakhiri sambungan tanpa mendengar jawaban Keenan.
Rachel masih diam, tidak memperdulikan Peter.
"Kau marah setelah mendengar pengakuan ku?" Rachel menggeleng, lalu apa. Jangan membuat ku bingung. Ingin rasanya Peter berteriak begitu, namun tidak Peter lakukan. Takut Rachel semakin sedih.
"Apa aku wanita kampungan? apa kau malu menikah dengan wanita seperti ku?" tanya Rachel dengan kepala tertunduk. Jari jemarinya tampak bergetar. Rachel gugup.
"Tidak, kau wanita modern, cantik, fashionable. Kenapa, apa ada yang mengatai mu tadi?" tanya Peter datar. Jika iya, siapapun itu dan di manapun orang itu berada. Peter akan mencari dan membunuhnya. Bersiaplah!
"Aku hanya bertanya!" Rachel mengelak, malu mengatakan kejadian di restoran tadi. Memang Rachel memberinya pelajaran, tapi tetap saja wanita itu mempermalukan Rachel dengan menyuruh Rachel membersihkan sepatu.
Drtt..drtt..drtt tercantum id Keenan di sana. Peter mengambil dan mengangkatnya. "Katakan!"
"Tuan, di restoran tadi nona Rachel tidak sengaja menabrak seorang wanita dan membuat wanita itu marah. Bukan hanya jatuh, tapi jus yang dibawa wanita itu tumpah mengenai sepatu murahannya."
"Lalu?"
"Wanita itu marah dan menyuruh nona Rachel membersihkan sepatunya di depan banyak orang. Tapi nona Rachel, tidak membiarkan dirinya di permalukan. Nona Rachel menyiram wajah wanita itu dengan saos pedas dan melemparkan sejumlah uang!" Keenan menjelaskan setelah melihat rekaman CCTV.
Peter melirik kearah Rachel, masalah sekecil itu mempengaruhi seorang Rachel. Aneh, mengapa wanita itu menjadi se-sensitif ini.
Rachel bukanlah tipikal orang yang suka menanggapi ataupun memperdulikan masalah sepele. Dia tidak peduli dengan imagenya.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya. Kau kerjakan pekerjaan mu kembali!" Peter menutup sambungan telepon.
Peter menggeleng seraya terkekeh, lalu menggerakkan tangannya pelan menggenggam jari jemari Rachel. "Hanya karena masalah sekecil itu, ayolah ini bukan Rachel yang aku kenal," ujarnya. Tertawa kecil.
Rachel menoleh kesamping, menepis tangan Peter. Masalah kecil, hei aku sudah di permalukan dan kau bilang ini masalah kecil. Sialan sekali, awas kau. Jangan harap aku memberimu jatah. batin Rachel. Menatap Peter penuh kemarahan.
__ADS_1
"Ya, ini masalah kecil. Apa peduli mu, biarkan aku sendiri yang menenangkan hati ku!" lantas setelah berkata demikian, Rachel melemparkan pandangan ke arah jendela. Setiap Peter hendak menyentuhnya, Rachel mengelak. Tidak mau.
Sampai di hotel pun Rachel masih nyaman dengan kebisuannya. Peter bingung, merasa bersalah sudah membuat Rachel marah.
Mereka berjalan beriringan, tetapi Rachel berusaha menjauhkan diri. Keduanya masuk kedalam lift khusus, bersamaan dengan itu Keenan hendak keluar dan mempersilahkan mereka masuk.
Namun, Peter menyuruhnya ikut dengan alasan pekerjaan penting. "Ada apa, tuan!" tanya Keenan menghentikan kecanggungan yang menyelimuti lift tersebut.
"Kau cari tahu tentang wanita di restoran tadi dan habisi dia!"
"Cih, tadi saja kau mengganggap masalah ini kecil. Sekarang kau berlagak mempedulikan aku, sudahlah hentikan kepura-puraan mu ini." ketus Rachel lalu melangkah keluar begitu lift terbuka.
"Dan kau Kee, jangan sampai menghabisi wanita itu jika tidak aku akan menghabisi mu!" berhenti sejenak, mengancam Keenan sebelum melanjutkan langkah masuk ke dalam kamar.
Peter menghela napas, "sabar tuan, wanita memang sulit di mengerti!" Keenan menepuk-nepuk pundak Peter. "Diam kau, jomblo akut seperti mu tidak pantas menasehati ku!" kesal Peter, melampiaskan kemarahannya pada Keenan.
Ia berlalu lalang, meninggalkan Keenan dan masuk kedalam kamar menyusul Rachel. perputaran otaknya berlangsung sekarang, Peter memikirkan cara mendapat maaf dari Rachel.
Sedangkan Rachel, wanita itu duduk di balkon kamar menikmati indahnya langit senja dengan matahari yang mulai redup bewarna orange. Rachel tampak melamun, sebelum akhirnya tepukan lembut menyadarkannya dari lamunan.
Tatapan mengintimidasi yang seperti menguliti siapapun yang ditatapnya, berubah menjadi tatapan teduh penuh penyesalan. Peter bak anak kecil yang meminta maaf pada ibunya.
Rachel mendengus, malas menanggapi. "Aku tidak tahu kau begitu terluka dengan ucapan jal*ng itu!" Peter duduk dibawah kaki Rachel, menyandarkan kepalanya pada kaki panjang istrinya.
"Pergilah, aku ingin sendiri!"usir Rachel, tanpa mengalihkan pandangan dari matahari yang mulai tenggelam itu.
"Ayolah, aku tidak bisa jauh dari mu. Biarkan aku disini, menemani mu ya!" pinta Peter seraya menggoyangkan kaki Rachel.
"Tidak mau, kau salah jadi harus di hukum dan hukumannya adalah tidur di kamar lain selama dua hari!" Peter tidak terima, mereka baru datang dan harus pisah ranjang.
Hei Peter bahkan belum menyentuh Rachel sama sekali semenjak mereka tiba di Cappadocia. Dan sekarang Rachel ingin Peter tidur di kamar lain. Apa dia sudah gila, Peter ingin menyalurkan hasratnya.
"Bagaimana kalau semua kesalahan ku ditebus dengan izin masuk kedalam kelompok mafia ku. Ya, kau bisa ikut dalam transaksi apapun, aku tidak akan merecoki ataupun melarang mu. Apa kau setuju?" bujuk Peter.
Tentu bujukan Peter barusan berhasil menarik perhatian Rachel. ia tersenyum seraya mengangguk berulang kali, menyetujui.
Cih, langsung mau. Aku menyesal telah menawarinya. Geram Peter dalam hati. Entah ini hanya perasaannya saja, tapi Peter merasa Rachel meniru triknya, yaitu memanfaatkan keadaan untuk keuntungannya sendiri.
__ADS_1
"Deal, jadi jangan membahas masalah izin lagi. Jika tidak bukan hanya dua hari, tapi satu bulan kau harus tidur di kamar lain. Kalau bisa kita pisah rumah saja. Aku tidak keberatan!"
Tapi aku yang keberatan, tidak bisakah kau mengerti kemauan ku ini. Ingin rasanya Peter berteriak begitu, memaki dan memarahi Rachel. Kemudian menghukumnya diatas ranjang sama seperti Damian.
Namun, Rachel selalu saja membuat alasan yang mampu menyelamatkan dirinya dari hukuman-hukuman menyenangkan Peter. Dan Peter merutuki kepintarannya itu. Sialan sekali, sudah berapa hari Peter tak mendapat jatah.
"Iya-iya, aku tidak akan membahas masalah itu lagi! tapi bukan berarti kau bisa melakukan apapun yang kau mau, kau harus tetap memberitahu ku, mengerti!" Rachel mengangguk, lalu mengusap kepala Peter dan menyuruhnya duduk dikursi samping yang kosong.
"Duduklah disini, jangan dibawah rasanya tidak pantas melihat suami duduk dibawah kaki istrinya!!" Peter tersenyum, menatap Rachel penuh arti.
"Aku tidak mau duduk di sana!" serunya dengan senyum smirk menakutkan.
"Lalu?" tanya Rachel seraya menarik sebelah alisnya. Melihat senyum dan wajah nakal Peter membuatnya was-was.
"Tapi disana, ayo kita bermain sampai pagi!" ajak Peter, tanpa permisi langsung menarik Rachel masuk kedalam dan mengunci pintu balkon. Rachel sendiri beringsut mundur, tatkala melihat Peter berjalan mendekat seraya membuka kancing kemejanya.
"Kau mau apa?" tanya Rachel polos, menutup mata saat melihat Peter bertelanjang dada.
"Shut..aku tahu kau mengerti maksud ku, jangan pura-pura tidak tahu Sayang. Karena itu tidak akan baik untuk mu!" Peter menyingkirkan tangan Rachel, dan meminta wanita itu membuka mata.
"Tidak bisakah kita lakukan itu besok saja?"
"Tidak!" jawab Peter cepat, menyatukan tangan Rachel diatas kepala. Melihat wanita itu tidak berdaya dibawah kungkungannya seolah meningkatkan gairah Peter.
"Malam ini, biarkan aku menyenangkan mu sekaligus menghukum mu. Kau diam dan nikmati saja. Jangan lupa teriakkan namaku di setiap des*h*n mu!"
TBC
Maaf gaes othor baru update setelah dua hari, dua hari ini othor sakit gaes. Jadi nggak bisa update. Tapi seperti biasa othor bakal usahakan update 3 bab, pagi, siang dan malam menyesuaikan waktu longgar othor (^^)(^^)(^^)
Btw covernya baru, dibuatin mangatoon, bagus mana yang dulu apa sekarang??ππ
Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πππ€π€π€
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π
__ADS_1