Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
kedatangan orang ketiga


__ADS_3

Setibanya mereka di Bandara Internasional New York. Peter menggandeng Rachel keluar dan berjalan beriringan. "Sekarang sok perhatian, tadi saja nolak-nolak!" sindir Rachel pedas.


Peter tersenyum simpul, masih melanjutkan langkah tanpa mengindahkan amarah Rachel. Hingga mereka berada di luar bandara, seorang wanita datang dan memeluk Peter dari depan


"Akhirnya kau kembali!" ucap wanita itu. Dia adalah Rain teman sekampus Peter dulu.


"Nona! lepaskan tangan mu dari tubuh suamiku!" Rachel mendorong wanita itu hingga terhuyung ke belakang.


"Suami, kau sudah menikah Peter?" bertanya dengan mata berkaca-kaca membuat Rachel muak. "Seperti yang kau lihat, aku sudah menikah dan ini wanita yang paling ku cintai!" Peter menarik Rachel dan mencium kepalanya.


"Tapi aku sedang mengandung anak mu!" lantas semua orang membulatkan mata termasuk Rachel sendiri. Wanita itu menatap Peter marah, kemudian melanjutkan langkah kakinya.


Rachel menabrak Rain hingga terjatuh kebawah. Sungguh Rachel sangat kesal sekarang. "Re!" panggil Peter, namun tak di indahkan oleh Rachel.


"Apa-apaan kau?" Peter bertanya dengan suara dingin. Sudah dua tahun Peter tak menemui Rain. Lalu mengapa tiba-tiba wanita ini datang dan Mengaku-ngaku hamil anaknya.


"Aku sedang hamil anak mu, Peter!" ungkap wanita itu lagi. Kemudian berjalan mendekat dan memeluk Peter erat.


Belle yang melihat kejadian itu langsung pergi menyusul Rachel. Membiarkan Keenan di sini dan membantu majikannya.


"Jaga ucapan mu, Rain! aku tidak pernah menyentuhmu lalu bagaimana bisa kau mengandung anak ku?" geram Peter.


Memang jika dipikir secara logika, Peter tidak pernah bertemu dengan Rain bahkan sebelum menikah dengan Rachel pun Peter berhenti bermain wanita. Lalu siapa ayah dari bayi yang di kandung Rain sekarang.


Sekedar info, Rain merupakan teman kuliah Peter. Wanita itu begitu menyukai Peter sampai rela menyerahkan tubuhnya sendiri. Harga dirinya begitu murah jika di hadapkan dengan Peter.


"Kau pernah menyentuh ku, sebelum kau menikah dengan wanita tadi!" Peter membulatkan mata. Berani sekali wanita ini memfitnahnya.


"Siapapun singkirkan wanita ini, jangan sampai aku melubangi kepalanya dengan peluru kesayangan ku ini!" Peter memerintah tanpa menoleh ke belakang.


Dan benar saja, dua orang bodyguard langsung maju dan membawa Rain pergi. "Aku tidak akan menyerah Peter, aku pasti akan datang kembali!"teriak Rain membuat telinga Peter sakit.


Peter masih terdiam di tempat, pikirannya berkecamuk. Benarkah sebelum menemui Rachel, Peter lebih dulu menemui Rain.


"Keenan!" panggil Peter lirih.

__ADS_1


"Ya tuan!" Keenan menjawab kemudian melangkah maju sebanyak satu kali. Mendekat.


"Sebelum aku bertemu Rachel, apakah aku pernah bertemu jaalang itu?" Peter bertanya tanpa mengalihkan pandangan.


Sontak Keenan terdiam sejenak, mencoba mengingat. Seingatnya tuan mudanya ini berhenti bermain wanita setelah bertemu Rachel di Kasino malam itu.


"Entahlah tuan, saya sudah lupa." dari pada salah menjawab, Keenan mencari aman dengan beralasan bahwa dia lupa.


"Tidak berguna sekali kau jadi asisten ku!" hina Peter. Lalu melangkah dengan cepat, menuju mobil yang sudah di siapkan.


Keenan menghela napas, apa salahnya di sini. Hei, Keenan bukan ibu Peter yang selalu menanyai kemana Peter pergi dan mengapa. Keenan hanya asisten biasa, tugasnya menata jadwal rapat bukan kehidupan pribadi.


Setelah meluapkan kekesalannya, Keenan menyusul Peter yang sudah menghilang entah kemana. Mungkin pria itu sudah sampai di mobil yang ia siapkan.


...🍁🍁🍁🍁...


Disisi lain, Rachel tampak terbengong di dalam mobil. Hei, wanita mana yang tidak sakit hati mendengar suaminya telah menghamili wanita lain. Apalagi dirinya tengah berbadan dua kini. Rasa sakit yang Rachel bertambah berkali lipat karena kehamilannya.


Rachel merasa posisinya terancam oleh keberadaan wanita itu. "Re, apa kau baik-baik saja?" suara Belle menyadarkan Rachel dari lamunannya.


"Re, jangan berkecil hati. Mari dengar penjelasan Peter. Belum tentu yang kita lihat merupakan kebenarannya, bisa jadi wanita itu bohong dan memfitnah Peter!" Belle menggenggam tangan Rachel. Mencoba menenangkan.


"Tapi bagaimana jika fakta itu memang benar?" Rachel menatap Belle dengan mata berkaca-kaca. Entahlah Rachel ingin menangis sekarang.


Mendengar pertanyaan Rachel, Belle langsung membisu. Dia tahu betul bagaimana rasanya di khianati. Karena itu Belle tak bisa menjawab dan langsung memeluk Rachel. Memberinya kehangatan.


Tok! tok! tok! keduanya menoleh ke arah jendela. Peter berdiri dengan wajah santainya. Ia menunggu Belle keluar.


"Aku akan pergi, sudah jangan bersedih lagi!" Belle melepaskan pelukannya lalu keluar dan pergi meninggalkan pasangan suami istri itu sendiri.


Tak berselang lama, Peter masuk kedalam dan duduk di samping Rachel. Pria itu berusaha merangkul Rachel, namun dengan cepat Rachel menepisnya.


"Jangan menyentuh ku!" seru Rachel dingin. Tanpa menatap wajah tampan suaminya.


"Dengarkan aku!" Peter berusaha meraih kedua rahang Rachel dan membaliknya secara perlahan agar menatap kedua matanya.

__ADS_1


"Aku tidak mau mendengarkan mu. Lepaskan aku, biarkan aku sendiri!" ucap Rachel marah. Merasa lelah berada di bawah tekanan Peter.


Mau tak mau Peter mengalah, melepaskan pegangannya dan menyuruh sopir mengemudikan mobil.


Sepanjang perjalanan keduanya tampak membisu. Rachel tidak mau bertegur sapa sedangkan Peter tidak mau mengganggu Rachel.


Hingga akhirnya mereka tiba di mansion utama. Dengan kasar Rachel membuka pintu dan berlari masuk kedalam.


Peter yang melihat itu merasa khawatir, takut Rachel tersandung dan jatuh. Karena itu, Peter ikut berlari. Menyusul ibu hamil itu.


"Jangan lari-lari sayang!" Peter mencengkram lengan Rachel menghentikan langkah wanita itu.


"Aku sudah bilang, jangan menyentuh ku, sialan!" entah sejak kapan Rachel mulai berani mengumpat kini.


Peter yang tertantang langsung meledakkan emosinya. Tanpa banyak bicara, pria itu menggendong Rachel ala bridal style dan membawanya masuk kedalam kamar.


Meskipun marah, Peter masih bisa mengendalikan kewarasannya. Karena itu Peter meletakkan Rachel di tempat tidur secara perlahan dan segera mengunci pintu.


"Kenapa kau mengunci pintunya?" Rachel bertanya. Masih dengan tatapan tidak bersahabat. Peter menghela napas dan berjalan mendekat.


"Dengarkan penjelasan ku!" tegas Peter. Kini aura kamar berubah mencekam dan Rachel terintimidasi oleh tatapan tajam sang suami.


"Aku tidak pernah menyentuh Rain, sayang!"seru Peter penuh penekanan.


"Lalu, kenapa dia datang dan meminta pertanggungjawaban dari mu?" Rachel tak mau kalah.


"Ya mana aku tahu!" dengan santainya Peter melentikkan badan ke belakang hingga membuat kedua bahunya terangkat singkat. Tidak tahu.


"Sekarang giliran yang bertanya pada mu!" Rachel mendongakkan kepala, menatap mata coklat Peter. Kemudian, mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Peter dingin. Deg! Seketika jantung Rachel berdetak kencang. Wanita itu tampak gugup sekarang.


"Apa maksud mu, aku tidak menyembunyikan apapun Peter!" elak Rachel membuat Peter tertawa renyah.


"Benarkah, bahkan soal kehamilan mu itu?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2