
Setelah makan malam bersama, Peter memanggil dokter pribadinya agar memeriksa Rachel. Di lihat dari gerak geriknya, dokter itu nampak ketakutan.
Ya, dokter tua itu takut Peter memberinya hukuman setimpal karena telah bekerja sama menyembunyikan masalah kehamilan Rachel.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Peter santai, namun tatapannya setajam tombak. Seolah siap menembus jantung mangsanya.
"Semuanya normal tuan, tidak ada yang perlu di khawatirkan!" jawab dokter itu.
"Apakah kami boleh melakukannya?" lantas sebuah bogeman mendarat di lengan kanannya. Tentu saja Rachel pelakunya, ia malu mendengar pertanyaan yang Peter lontarkan.
Dokter itu tersenyum tersenyum simpul, lalu mengangguk sebagai jawaban. Sebagai dokter pertanyaan ini selalu muncul dari suami pasien-pasiennya.
"Berhubung badan memang di perbolehkan, asal jangan terlalu sering. Tubuh nona Rachel sangat lemah, dan jika dia kelelahan itu akan mempengaruhi keadaan janinnya!" tambah dokter itu memberi arahan.
Peter menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa dungu karena melontarkan pertanyaan memalukan itu.
Apalagi jawaban dokter, tak sesuai dengan harapannya. Gagal sudah rencananya menyiksa Rachel selama seharian penuh.
"Apakah vitaminnya sudah habis?" dokter itu kembali membuka suara, bertanya. Rachel mengangguk tiga kali. Lalu menjawab dengan suara lirih.
"Ya, tinggal satu butir saja!" menunjukkan botol kecil berisi sebutir pil kecil.
"Baiklah, saya akan menyuruh asisten saya mengirimnya besok!" sarkas dokter tersebut seraya merapikan peralatannya.
"Tentu, aku akan menunggu!" sahut Rachel singkat diakhiri dengan senyum tipis.
"Kalau begitu saya akan kembali ke rumah sakit!" Peter dan Rachel mengangguk secara bersamaan.
"Dasha! antarkan dia sampai ke halaman depan!" perintah Peter. Dasha mengangguk, kemudian mengangkat sebelah tangannya. Mempersilahkan dokter tersebut agar berjalan terlebih dulu.
"Permisi!" pamitnya sebelum menapakkan kakinya keluar dari kamar utama. Tersisa Rachel dan Peter kini. Keduanya saling mendiami, tidak tahu harus membicarakan apa.
"Heum.. sepertinya kita tidak bisa mencobanya!" suara Rachel berhasil memecah keheningan.
Peter menoleh, bibirnya sedikit terangkat. Menampilkan senyum nakalnya. "Masih bisa!" Rachel menatap Peter kaget.
"Hah.. caranya?Rachel memasang raut muka waspada, takut Peter melakukan sesuatu.
"Rahasia, lihat saja nanti!" Peter menyunggingkan senyum sumringah lalu menjatuhkan diri ke atas ranjang dan tidur tanpa rasa bersalah.
"Hei jangan tidur dulu!" seru Rachel seraya menggoyang pelan tubuh sang suami.
__ADS_1
Peter yang terganggu lantas membuka mata dan berbalik menghadap sang pujaan hati. "Kenapa? apa kau ingin aku menggagahi mu lagi?"
Damn! suara serak Peter terdengar begitu seksi di telinga Rachel. Rasa-rasanya hawa panas mulai menyebar ke seluruh permukaan kulitnya.
"Tidak!" bantah Rachel lambat.
"Benarkah, tapi sepertinya tubuh mu berkata lain!" Peter mengarahkan tangannya ke belakang punggung Rachel dan memeluk wanita itu.
Rachel semakin menegang, tubuhnya seperti kesemutan. Ia tak bisa bergerak sekarang. "Kalau kau mau, aku bisa memuaskan mu sampai pagi!"
Peter bangun dari posisinya kemudian duduk dan menyandarkan kepalanya ke bahu rapuh Rachel. Peter memejamkan mata, mengendus leher Rachel. Sesekali meninggalkan tanda cinta di sana.
Risih, berulang kali Rachel mengerang karena perbuatan Peter. Namun, jauh dari dalam sana Rachel juga menikmati sentuhan sang suami.
"Kau wangi, sayang!" gumam Peter tanpa berniat berpindah tempat. Tangannya mulai bermain ke sana kemari, menggerayangi tubuh Rachel yang masih berbalutkan piyama.
"Hentikan!" seru Rachel tatkala merasakan tangan kekar Peter mulai menelusup masuk kedalam pakaiannya.
"Hahaha, ekspresi mu lucu sekali!" Peter melepas pelukannya dan membaringkan dirinya kembali. Peter memakai tangan kirinya sebagai bantal.
Rachel menatap Peter marah kemudian memukuli pria itu dengan bantal. "Jahat sekali, kau terus saja menggoda ku!" cibirnya kesal.
Bukannya marah Peter malah tertawa lepas, menurutnya Rachel amat sangat terlihat cantik saat sedang marah.
"Aku bilang tidak ya berarti tidak, narsis sekali kau!" Rachel mengelak. Namun, Wajahnya yang memerah membuktikan segalanya.
"Baiklah-baiklah, sekarang istirahat lah!" sarkas Peter, menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Aku belum minum obat!" sahut Rachel malas, lalu membuka selimut dan berjalan mengambil air.
"Malangnya aku menikah dengan pria tidak perhatian seperti mu!" sindir Rachel pedas. Tangannya sibuk menuang air kedalam gelas, sedangkan tatapan Mencemoohnya terarah pada Peter.
"Kau menyindir ku?" tukas Peter dengan dahi berkerut. "Bukan! aku menyindir seseorang bermata dua!" serunya melawak.
"Maaf!" kata Peter cengengesan. "Ya tidak papa, aku sudah terbiasa dengan sifat aneh mu itu!" tidak mau berhenti mencemooh.
Rachel menelan pil tersebut kemudian menegak segelas air putih hingga tandas tak tersisa
"Sudah selesai?" Rachel tak menjawab hanya mendengus singkat.
Alih-alih memperdulikan ocehan Peter, Rachel memilih membaringkan diri di atas ranjang. Rachel menarik selimut itu, membiarkan kehangatan menyebar luas ke seluruh tubuh.
__ADS_1
"Jangan marah-marah, nanti cepat tua!"
Plak! bruk! Rachel menendang Peter sampai pria itu jatuh ke bawah. Cukup, Rachel sangat kesal sekarang.
"Keluar!" usir Rachel seraya melemparkan bantal. Wajah garangnya terlihat sangat menakutkan.
Disisi lain Peter mengusap pantatnya yang terasa sakit. "Terus aku tidur di mana, sayang?"
"Itu urusan mu!" sergahnya lagi. Peter menghela napas, menyesal sudah menjahili Rachel. "Aku minta maaf, biarkan aku tidur di sini ya!" mohon Peter, menampilkan puppy eyes-nya.
"Kau pergi atau aku yang pergi!" tawar Rachel lagi. Sungguh, ia sangat kesal sekarang. Rachel tak berniat memaafkan Peter sekarang.
"Jangan, aku yang pergi!" Peter berdiri, lalu. berjalan lambat meninggalkan kamar.
Bagaimana jika ada bodyguard yang melihatnya keluar, Peter bisa malu nanti. Mereka mungkin mengatainya dengan sebutan suami takut istri.
Ceklek! Peter menutup pintu. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan situasi aman terkendali.
Sepi, tidak ada orang yang berlalu lalang disini. Merasa sudah aman, Peter berjalan mengendap-endap dan masuk kedalam kamar tamu.
Bruk! Peter menjatuhkan diri ke ranjang king sizenya. Ia mulai memejamkan mata, satu menit, dua menit, tiga menit. Akhirnya kedua kelopak matanya kembali terbuka.
Damn! Peter tak bisa tidur tanpa memeluk Rachel. Tapi kembali sekarang, itu mustahil. Rachel pasti belum tidur.
Akhirnya Peter bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar menuruni tangga. Peter duduk di taman, membiarkan angin dingin menyapu permukaan kulitnya.
Ia menyalakan sebatang rokok lalu memanggil salah seorang penjaga lewat gerakan tangan. "Ya tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?"
"Ambilkan aku minuman!" pintanya. "Baik tuan!" tak membuang-buang waktu bodyguard itu berlari masuk kedalam.
Peter memperhatikan lingkungan sekitar, bibirnya sedikit tertarik saat melihat bunga mawar bewarna putih bersih.
Sangat cantik namun sayangnya mawar memiliki duri yang tajam. Sama seperti itu juga, Rachel memiliki kecantikan yang menawan. sayangnya Rachel sangat galak dan pemarah.
Entah bagaimana nasib anak-anaknya nanti saat tahu ibunya galak dan mudah marah. "Silahkan tuan!"
Suara bodyguard berhasil membuyarkan lamunan Peter. Wajah ramahnya berubah menjadi datar kembali.
"Terimakasih!"
Seketika bodyguard itu mematung di tempat. Baru kali ini Peter mengucapkan terimakasih pada bawahan. Entah gerangan apa yang membuatnya berubah seperti ini. Sepertinya moodnya sedang bagus sekarang.
__ADS_1
"Sama-sama tuan!" jawab bodyguard itu girang.
TBC