Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Serangan dadakan


__ADS_3

Sampai di sebuah desa tak berpenghuni yang terletak di pinggiran kota. Peter dan semua anggota yang ikut, turun dari mobil. Hendak memeriksa keadaan sekitar. Memastikan tidak ada penduduk yang tinggal.


Sepi, tempat ini kosong melompong. Tidak ada orang yang datang selain kelompok mereka. Keenan berusaha menghubungi nomer klien. Namun, nomor handphonenya tidak aktif kini.


Padahal baru beberapa menit yang lalu, Peter berbicara dengan klien lewat telepon. Dan mereka bilang sudah sampai di tempat mengerikan ini.


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di sini!" gumam Keenan pelan. Masih menyapukan pandangan, mengawasi lingkungan sekitar.


"Kau bilang apa?" Peter bertanya. Tidak bisa mendengar suara Keenan dengan jelas karena angin berhembus dengan kencangnya.


Masing-masing anggota berdiri memegang pistol di tangan dengan tatapan setajam pemburu. Tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, mereka di haruskan siap siaga.


Aneh, sebelum menerima klien. Keenan lebih dulu mencari tahu tentang mereka. Dalam pengamatannya, Keenan tidak menemukan hal mencurigakan. Lantas apa yang membuat klien itu mengkhianati kesepakatan yang telah mereka buat bersama.


Prok! prok! prok! suara tepukan tangan membuat seluruh pandangan menoleh. Dengan sigap para bawahan Peter menodongkan pistol ke sumber suara.


"Akhirnya orang yang kita tunggu-tunggu datang juga!" Peter dan Keenan membulatkan mata. Terkejut. Melihat klien yang seharusnya melakukan transaksi terkapar dengan keadaan berlumuran darah.


Sial, Alessandro menyingkirkan klien mereka. Inilah yang Peter khawatirkan, seperti biasa hacker BB menyerang mereka dari belakang.


Melihat jumlah anggota BB yang Alessandro bawa. Di pastikan Peter dan Keenan kalah. Namun, Peter dan Keenan tidak takut. Mereka tidak akan tahu hasilnya jika belum mencoba.


Siapa tahu keajaiban datang, dan memberikan mereka kemenangan. "Seperti biasa, pengecut selalu menyerang dari belakang!" sindir Keenan. Muak melihat kebusukan dari adik tirinya ini.


Jauh dari lubuk hatinya, Keenan tidak pernah membenci Alessandro. Seandainya Alessandro tau itu. Mungkin, pria itu tidak akan bergabung dengan BB dan menjadi pesuruh Thomas.


"Tutup mulut mu kak. Hari ini kau akan mati di tangan ku. Dan semua kebencian ku pada mu akan tersalurkan malam ini!" sahut Alessandro. Menatap Keenan tajam. Penuh tantangan.


"Sampai kapanpun kau tidak akan bisa mengalahkan ku. Jadi simpan omong kosong mu dan pulanglah. Aku tidak mau melukai keluargaku!" kata Keenan dingin.


Peter hanya diam menyimak. Bukan berarti tidak peduli, hanya saja Peter ingin memberi ruang agar Keenan bisa membujuk Alessandro.


Semua ini belum terlambat. Hubungan adik kakak itu masih bisa di perbaiki. Namun, yang menjadi masalah disini adalah Alessandro tidak mau mundur. Memilih menjadi musuh Keenan.


Sedikit menyesal, seandainya Keenan tidak lari dari rumah. Dan memilih menetap untuk mengurus Alessandro. Mungkin Alessandro tidak akan menjadi pria sekejam ini.


Seandainya bukan pelacur itu yang mendidik Alessandro. Tidak mungkin dua orang itu berdiri di sini sebagai musuh.


"Aku bukan keluarga mu!" sanggah Alessandro. Tidak suka di akui sebagai keluarga. Kenapa baru sekarang, dimana Keenan saat Alessandro mendapat tekanan dari seluruh dunia dan di benci keluarga termasuk ibunya sendiri.


"Kalau begitu tembak aku!" tantang Keenan. Ini masalah antara Keenan dan Alessandro saja. Tidak sepatutnya Alessandro melibatkan anggota BB ataupun Gold Lion.

__ADS_1


Mendengar itu Peter mengetatkan rahang, menepuk pundak Keenan. Menatap dengan sorot mata tajam. Mengingatkan, jika di sini pengorbanan tidak di butuhkan. Kalaupun mereka mati itu hanya karena perjuangan.


Inilah resiko menjadi anggota mafia. Tidak bisa hidup tenang dan nyawa menjadi taruhan. Setiap saat bahaya datang mengancam. Tidak peduli di manapun dan kapanpun itu.


"Sayangnya, aku bekerja untuk melenyapkan kalian semua. Keluarkan senjata kalian, mari kita bertarung secara adil!" ucap Alessandro.


Bibirnya terangkat menyunggingkan senyum miring. Wajah manipulatif itu, Keenan mengenalnya. Dipastikan Alessandro menyiapkan rencana kotor tanpa sepengetahuan mereka.


"Apa yang kalian tunggu, habisi mereka!" perintah Alessandro pada bawahannya.


Dor! dor! dor! dor! suara tembakan terdengar bersahutan. Di iringi jerit kesakitan, entah dari mana jeritan itu berasal. Yang jelas anggota Peter dan anggota Alessandro banyak yang tertembak.


"Sial! mereka memakai senapan!" umpat Peter di sela-sela pertarungannya.


Bugh!....bugh!...bugh!...Kreak!


Keenan melawan beberapa anggota BB dengan tangan kosong. Peluru pistolnya habis. Setelah berhasil menyingkirkan anggota BB, barulah Keenan merampas senapan mereka.


Brak! seseorang berhasil memukul tengkuk Keenan. Sempat merasa pusing, namun Keenan tidak menyerah. Mengabaikan rasa sakit dan terus melawan tanpa henti.


Dor! dor! akh! dor!


Peter dan Keenan mulai kewalahan. Sialan, Alessandro menyembunyikan beberapa anggota dan mengeluarkannya saat Peter dan anggotanya kelelahan.


"Mati kau!" tanpa di duga seseorang menyerang Peter dari belakang. Hendak menikam.


Dor! Keenan lebih dulu menembak orang itu. Menyelamatkan Peter dari ambang kematian. "Tuan! fokuslah!" teriak Keenan menyadarkan.


Peter mengusap wajahnya kasar, melihat anggotanya tergeletak tanpa nyawa membuatnya marah. Peter dan Keenan terus melawan.


Dan saat mendapat celah, keduanya berlari masuk kedalam hutan. Tidak sadar, dari arah kejauhan Alessandro mengarahkan senapannya. Membidik ke arah Peter.


Dor!


"Tuan!"


...🍁🍁🍁🍁...


"Peter!" di waktu yang sama, Rachel bangun dari tidurnya. Tubuhnya bercucuran keringat. Raut wajahnya berubah pucat. Merasakan firasat buruk.


Rachel membulat mata saat mendapati ranjang di sebelahnya kosong. Kemana Peter pergi? Dengan kasar Rachel menyingkirkan selimut memakai piyamanya dan turun ke bawah.

__ADS_1


Rachel mendatangi semua tempat, ruang kerja, dapur, ruang tamu, bar pribadi, bahkan ruang bawah tanah juga Rachel datangi. Namun, Rachel tidak menemukan keberadaan Peter.


Mansion nampak sepi dan gelap, namun Rachel mengesampingkan perasaan takutnya dan berjalan ke sana-kemari sesekali memanggil nama sang suami.


Rachel mengambil handphonenya, menghubungi Peter juga Keenan. Tetapi, kedua nomor itu tidak aktif dan berada di area luar jangkauan.


Perasaan takut akan kehilangan semakin menyelubungi hati. Pikiran-pikiran negatif mulai melintas di kepalanya.


Rachel terduduk di sofa ruang tamu. Matanya mulai berkaca-kaca. Hingga satu nama terlintas di pikirannya. Cristian. Rachel harus menghubungi anggota inti Gold Lion.


Dengan tangan bergetar, Rachel menekan nomor Cristian. Menyambungkan telepon. "Selamat malam nona!" sapa Cristian di seberang sana.


"Tumben anda menghubungi saya, apa ada yang bisa saya bantu nona?"


"Aku tidak membutuhkan sesuatu, tapi aku ingin bertanya padamu!" ujar Rachel lirih.


"Ada apa nona, tanyakan saja! dengan senang hati saya akan menjawabnya!" ujar Cristian. Mulai merasakan kegelisahan. Sama seperti Rachel.


"Kau tahu di mana Peter dan Keenan sekarang?" sontak Cristian terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah Cristian memberi tahu Rachel masalah transaksi itu.


"Tian! jawab aku, aku mohon beritahu aku dimana Peter sekarang!" mulai menangis. Rachel sangat lemah jika di harapkan dengan situasi ini. Apalagi menyangkut masalah Peter.


"Sebenarnya, tuan pergi bertransaksi nona!"


"Apa!" seketika tubuh Rachel lemas. Takut mimpi buruknya menjadi kenyataan.


"Kau tidak ikut?"


"Tuan bilang, saya tidak perlu ikut karena ini hanya transaksi biasa!" pikiran Rachel semakin kalut. Entah dimana dan apa yang terjadi pada suaminya sekarang.


"Tian bisa aku minta tolong!"


"Tentu saja nona, dengan senang hati saya akan membantu anda!"


"Susul Peter dan bawa beberapa anggota Gold Lion bersama mu!" berlebihan, tentu saja tidak. Insting seorang wanita itu sangat kuat.


Rachel merasa Peter dalam bahaya sekarang. Karena itu Rachel meminta Cristian membawa anggota Gold Lion.


"Baik nona! saya akan menyusul tuan Peter, anda jangan khawatir saya akan mengabari anda nanti!"


"Terimakasih tian!"

__ADS_1


TBC


Belum author revisiπŸ™


__ADS_2