Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Kau menipuku


__ADS_3

Siang itu, Peter memutuskan keluar kamar untuk mengunjungi asistennya yang sibuk berkutat dengan benda digital di ruang kerjanya.


Keenan, yang melihat bosnya datang hanya melirik sekilas lalu membuang muka. Pria itu bersikap acuh dan enggan berdiri dari kursi kerja sang majikan.


" Tuan, anda datang? saya kira anda akan sibuk bersama dengan istri anda!" seru Keenan, tanpa memberi hormat ataupun mengalihkan pandangan.


Benar-benar tidak sopan, tapi itulah Keenan. " Aku ingin melihat kinerja mu yang lamban itu," jawabnya. Dengan kalimat ejekan yang terkesan menyindir.


Pasalnya sekarang sudah siang dan Keenan, belum memberikan informasi mengenai Kenzo Michelin yang dimintanya pagi tadi.


" Ini yang anda minta, tuan. Tidak mungkin saya mengetuk pintu kamar anda dan mengganggu waktu anda bersama istri anda. Bisa-bisa anda menebas leher saya di tempat." sahut Keenan, kala mendengar bosnya mengejek semua usahanya.


" Pasti baru selesai kan?" remeh Peter, bahkan kesabaran Keenan mulai habis sekarang. Padahal Keenan, mendapat informasi itu tidak sampai 15 menit lamanya.


" Jangan meremehkan saya, tuan. Laporan ini sudah selesai 15 menit setelah anda memberi perintah!" kata Keenan seraya mengulurkan map coklat dengan tali merah sebagai pengait kunci.


"Cih, sombong sekali kau!" cibir Peter kesal dengan mendelikkan matanya jengah. Ia tak terima Keenan, mengalahkannya dengan semburan kata-kata.


Keenan mengendikkan bahunya acuh dan kembali fokus dengan layar laptop. Lain halnya dengan Peter, pria itu tampak menjatuhkan diri di atas kursi kayu yang tak jauh dari tempat Keenan berada.


Dengan perlahan, Peter membuka tali yang melingkari map tersebut dan membacanya, serta memahami setiap kalimat yang tertera.


Kenzo Michelin, pewaris tunggal Michelin company. CEO muda yang masih berusia 28 tahun. Merupakan tunangan dari seorang model papan atas yang sedang naik daun.


Kata tunangan, jelas membuktikan bahwa ucapan Rachel tempo hari tidaklah salah. Wanita itu berkata jujur, hubungan mereka hanya sebatas teman yang saling melepas rindu.


Dan dilihat dari laporan Keenan, Kenzo tidak bisa dibandingkan dengan Peter yang memiliki kekuasaan dan harta tak terbatas. Apalagi soal ketampanan, tidak diragukan lagi. Peter lebih baik dari Kenzo.


Cih, kenapa aku harus cemburu pada pria seperti ini. batinnya merasa malu.


Seharusnya, Peter berterimakasih atas bantuan Kenzo. Pria itu ada disaat Rachel, pertama kali datang ke kota ini. Jika tidak, mungkin pertemuannya dan istrinya itu mustahil. Karena yang suka mengajak Rachel ke kasino adalah pria itu.


" Michelin company, sepertinya aku pernah mendengar nama perusahaan itu?" gumam Peter pelan.


" Ya tuan, mereka mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita!" sahut Keenan, kala menangkap gumaman sang tuan muda.


" Hm, pantas saja aku pernah mendengar namanya. Apa yang mereka inginkan dari ku?" tanya Peter, penasaran dengan sosok teman laki-laki istrinya.

__ADS_1


" Sekitar satu Minggu yang lalu. Michelin company, mengirimkan proposal mengenai proyek resor yang akan kita bangun di negara Swiss. Sepertinya mereka menginginkan tender proyek tersebut, tuan!" jawab Keenan. Kali ini, dia mendongak dan menatap mata Peter, merespon segala pertanyaan dengan cukup baik.


" Benarkah?"


" Ya tuan, saya lihat proposal yang mereka ajukan benar-benar bagus dan cukup menarik. Setiap ide yang tertulis, sangat berbeda dengan proposal-proposal dari perusahaan lainnya!"


Kalau Keenan sudah berkata begini, pasti perusahaan mereka bukan perusahaan abal-abal. Jarang, Keenan memuji proposal perusahaan luar.


" Kalau begitu, terima pengajuan mereka. Dan buat janji temu untuk menandatangani kontrak!" perintah Peter dengan wajah santai.


Dengan begini, Peter lebih mudah mengawasi dan membatasi gerak gerik pria itu. Lagi pula, bekerjasama dengan perusahaan berkualitas seperti itu tidak akan merugikan perusahaannya. Malah sebaliknya, Grandvinea company akan diuntungkan.


Memang benar, Michelin company bukanlah perusahaan besar yang masuk jajaran kelas internasional. Namun, jika dilihat dari perkembangan, mereka cukup pantas diacungi dua jempol.


Apalagi, Michelin company, merupakan perusahaan kecil yang hampir gulung tikar. Namun, kedatangan Kenzo mengubah segalanya.


Semua hutang dan kerugian mampu Kenzo atasi dalam kurun waktu dua tahun. Karena kecerdasan dan kebijaksanaan pemimpinnya, tak salah jika Michelin company merombak naik, dan masuk kedalam rangking sepuluh besar perusahaan terbaik se-kota Las Vegas.


" Baik, tuan! saya akan menghubungi mereka nanti!" sahut Keenan tanpa bertanya. Pria itu, tidak tertarik mendengar alasan diterimanya kerjasama itu secara mendadak. Namun, Keenan menduga bahwa semua ini berkaitan dengan nona mudanya.


Setelah berucap demikian, Peter menampakkan kakinya keluar dari ruang kerja dan masuk kedalam kamar utama. Baru membuka pintu, langkahnya terhenti tatkala melihat ranjang yang ditempati Rachel tadi, sudah kosong. Kemana wanita itu pergi?


Mendengar gemericik air, membuat Peter paham jika wanita itu tengah membersihkan diri. Dengan kilat tatapan nakal, Peter masuk kedalam kamar mandi yang kebetulan tidak di kunci itu.


Dari pantulan kaca buram, Peter bisa melihat Rachel, tengah berdiri di bawah shower. Dan membiarkan air hangat mengalir ke seluruh tubuh polosnya.


Entah sebesar apa tenaga wanita itu, tapi Peter akui. Rachel cukup kuat karena masih bisa berdiri setelah penyiksaan semalam.


Sruk! Peter memeluk pinggang ramping wanitanya dari belakang, membuat sang korban memekik kaget bahkan hampir terpeleset karena licinnya lantai.


" Apa yang kau lakukan disini?" ketus Rachel. Wanita itu berusaha menutupi bagian privasinya dengan kedua tangannya.


" Aku ingin mandi bersama dengan mu!" imbuh Peter dan diakhiri dengan senyum konyol yang menyebalkan.


" Tidak-tidak, aku yakin kau merencanakan sesuatu yang akan merugikan ku!" sarkas Rachel garang.


" Tentu saja, kesempatan ada untuk di gunakan, sayang!" Peter mendorong tubuh Rachel Kedinding dan mengapit wanita itu dengan tubuh kekarnya.

__ADS_1


Rachel yang mendengar bunyi sirine berbahaya, langsung berusaha melepaskan diri. Tenaganya habis, Rachel tak bisa melayani Peter lagi.


" Aduh! kakiku sakit!" rengek Rachel, ditambah dengan wajah pura-pura sakitnya langsung membuat Peter kalang kabut.


" Kau kenapa?" tanya Peter panik. Tak membuang waktu langsung menggendong Rachel keluar dari dalam kamar mandi.


Untung saja, Rachel sudah selesai memakai sabun dan shampo tadi." Aku akan panggilkan dokter!"


" Tidak usah, kakiku hanya kram biasa."


Peter menatap mata Rachel intens, lalu tergelak kecil. " Kau menipuku, hm?"


" Hehehe, habisnya kau mencari kesempatan dalam kesempitan sih!" sahut Rachel jujur. Lebih baik mengaku dari pada harus mendapat hukuman lagi.


" Kali ini, aku maafkan. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan makanan untuk mu!" Rachel mengangguk setuju. Perutnya terasa lapar, dia belum makan sejak pagi.


Peter keluar kamar, dalam keadaan basah kuyup. " Dasha!" teriak Peter, memanggil kepala maid.


" Ya, tuan!" sepersekian detik kemudian, Dasha langsung datang dan bergegas memberi hormat.


" Ambilkan aku makanan. Aku akan menunggu," pintanya.


" Baik tuan!" bergegas Dasha masuk kedalam dapur, dan menyiapkan apa yang diminta tuan mudanya barusan.


Dengan segala macam farian masakan, Dasha keluar dan membawa baki makanan. Perlahan wanita muda itu memberikannya pada Peter.


" Silahkan, tuan!" katanya bersamaan.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Peter mengambilnya dan melangkah pergi. Dasha hanya bisa menghembuskan nafasnya panjang, melihat sikap tuan mudanya yang cuek dan terkesan tidak menghargai. Tapi tidak masalah, asal gaji yang diterimanya, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2