Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Asisten kurang ajar


__ADS_3

Seperti yang di rencanakan pagi tadi. Pulang dari kantor, Peter pergi bersama Keenan ke Club malam. Peter dan Keenan melewati keramaian tanpa ingin menghentikan orang-orang yang sibuk berjoget, saling senggol menyenggol menikmati dentuman musik.


Keduanya masuk kedalam ruang pribadi. Di sana, berbagai macam minuman tersedia. Lengkap dan tertata rapi. Peter meraih red wine dengan kadar alkohol paling tinggi.


"Duduklah, disini kita bukan atasan atau bawahan. Tetapi teman!" ucap Peter, seraya membuka penutup botolnya.


"Tapi, tuan!"


"Menurut saja, atau gaji mu selama satu tahun ke depan hangus tanpa tersisa sepeserpun!" ancam Peter. Mau tidak mau, Keenan pun duduk di salah satu sofa panjang.


Matanya menelisik ke depan, mengamati kegiatan sang tuan muda. "Bagaimana dengan kelompok mafia kita? apa ada kabar ataupun informasi terbaru?" Peter membuka pembicaraan dengan menanyakan keadaan Gold Lion. Sudah lama, Peter tak mengunjungi markas mereka.


"Seorang klien dari negara asing menghubungi saya. Mereka ingin bertemu dengan anda untuk membahas masalah barang yang mereka butuhkan. Bukan hanya itu, Hans Wilson meminta tuan besar mencari permata untuk perhiasan pernikahan nona Ara, nanti!" jawab Keenan dengan tatapan datar.


"Hm, untuk masalah Ara biar ayah yang menangani. Paman ingin ayah yang mencarinya, aku yakin pak tua itu tidak mengizinkan orang lain mengerjakan pekerjaannya!" seru Peter dan Keenan membalasnya dengan anggukan tiga kali.


"Lalu, klien kita. Apa mereka tidak memberitahu waktu ataupun tanggal pastinya?" tanya Peter.


"Sebenarnya mereka menjadwalkan pertemuan itu Minggu depan!"


"Aku tidak bisa bertemu mereka Minggu depan. Kau tahu sendiri bukan, semua orang fokus dengan persiapan pernikahan Ara. Pastikan tidak ada transaksi apapun sampai akhir bulan!" lanjut Peter. Lagi-lagi Keenan mengangguk sebagai jawaban.


"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Peter seraya berjalan mendekat, lalu meletakkan satu botol red wine yang terbuka dan dua buah gelas kaca.


"Maaf?" Keenan memang tidak mengerti, ataukah berpura-pura tidak mengerti. "Keputusan mu!" ucapnya mengingatkan.


Peter menuangkan minumannya dan menyuruh Keenan meminumkannya sedikit demi sedikit sembari berbincang-bincang.


"Anda sudah tahu, kenapa harus bertanya lagi?" entahlah, Keenan malas membahas masalah itu.


Bisa di katakan, Keenan terlalu sensitif jika menyangkut putri dan wanitanya. Apalagi setelah telepon Alessandro tadi. Keenan langsung menyuruh anak buahnya yang ada di kota London menjaga Belle dan Abigail secara diam-diam.


Padahal setelah di selidiki, semua ucapan Alessandro tidak ada yang benar kecuali memesan perhiasan. Alessandro memesankan istrinya sebuah kalung berlian dengan desain khusus.


Dari situ, Keenan berpikir Alessandro benar-benar mencintai istrinya. Tidak mungkin pria itu berpaling dan meninggalkan keluarga kecilnya.


Sialan, dia berhasil mempermainkan aku. Keenan kesal karena tertipu dengan omongan Alessandro.


Padahal Belle sekarang berada di New York, berniat menemuinya. Ya, besok akan menjadi hari paling menyenangkan bagi Keenan. Setelah sekian lama, Keenan bisa menatap mata jahat itu.

__ADS_1


Apa sekarang Belle berubah, sepertinya iya. Tapi tidak masalah, mungkin Keenan semakin menyukainya. kendatipun penolakan yang akan terucap dari bibirnya. Namun, tidak bisa di pungkiri Keenan senang bisa bertemu dengan Belle untuk kedua kalinya.


"Saya tidak akan bertanggungjawab ataupun menikahinya." jujur Keenan dengan jawaban sekenanya. Peter melipat dahi, "kenapa, apa wanita itu tidak sesuai dengan selera mu?" tanya Peter. Mengawur.


"Bukan begitu, tuan! setelah berpikir panjang, saya kira mereka tidak akan aman hidup bersama saya. Tadi pagi, Alessandro mengancam saya dengan menggunakan mereka. Saya tidak ingin mereka terluka karena musuh-musuh saya!" jelas Keenan. Wajahnya menyusut. Sedih.


Peter mengetuk meja dengan jari telunjuknya. Lalu menatap Keenan dengan tatapan aneh. Seolah tidak percaya. "Benarkah, lalu kenapa kau tidak memberitahu ku?" bertanya lagi. Sedikit cemas mengingat Alessandro merupakan tangan kanan sekaligus ahlli IT Thomas.


"Ini masalah keluarga saya, anda tidak perlu terlibat. Saya masih bisa mengatasinya!" ujar Keenan tak berekspresi. Hening sejenak.


Sebelum akhirnya Peter tertawa keras dan menepuk pundak Keenan berulang kali. "Keluarga? tadi kau bilang tak ingin bertanggung jawab. Plin-plan sekali kau!" ejek Peter.


Keenan berdecih, "saya memang tidak akan menikahi Belle. Tapi bukan berarti, saya akan membiarkan mereka terluka. Dengan kata lain, saya akan melindungi mereka!" sewotnya tidak terima.


"Ck, kalau begitu nikahi saja dia."


"Saya tidak bisa melakukannya, mereka berharga bagi saya!" kata Keenan menyanggah.


"Dengarkan penjelasan ku dulu, jangan menyanggah ku!" ketus Peter. Keenan pun diam tak bergeming.


"Jika kalian menikah, kau bisa mengawasi mereka dari dekat. Tanpa harus meminta anak buah mu mencari tahu. Karena mereka dalam jangkauan mu. Kalau kau takut musuh-musuh mu tahu, nikahi saja secara diam-diam!" serunya panjang lebar. Mulai kesal dengan Keenan yang terlalu ribet.


"Maka hadapilah bersama. Sama seperti ku dan Rachel. awalnya hubungan kami memang buruk tapi lihat sekarang. Semuanya berjalan mulus, Rachel memutuskan menerima ku dengan semua kekurangan ku. Tidak peduli meskipun aku seorang pemimpin Mafia. Itu karena dia percaya, aku bisa melindunginya!"


"Aku yakin wanita itu juga sama seperti Rachel nanti. Menjalani kehidupan penuh liku-liku selama tiga tahun lebih. Sudah cukup untuk memupuk keberaniannya. Percayalah, semua akan baik-baik saja Kee!" saran Peter. Walaupun terdengar seperti paksaan.


Jika bukan karena Rachel yang merajuk dan tak mau berbicara padanya. Peter tidak akan membujuk Keenan untuk menerima Belle. Bahkan mencampuri urusan mereka pun tidak.


"Saya akan memikirkannya lagi, nanti!" ucap Keenan. Tak mau ambil pusing. Cukup masalah Alessandro saja hari ini. Keenan tidak mau memikirkan masalah yang lain.


"Ngomong-ngomong kapan kalian bertemu?"


"Besok!"


"Secepat itu?" kaget Peter. "Ya, saya akan menemuinya besok. Lebih cepat lebih baik!" Keenan bersikap acuh.


Tentu saja membuat Peter kesal, namun pria itu menahan kemarahannya demi membujuk pria berhati batu itu.


Seandainya Rachel tak menahan jatah harian ku, mungkin sudah ku lenyapkan pria kaku ini!

__ADS_1


"Kalau begitu kuatkan hatimu, begitu melihat Abigail kau pasti luluh. Dia juga sangat mirip dengan mu."


"Mau bertaruh?" Keenan berucap sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Apa yang ingin kau pertaruhkan, aku sudah punya segalanya. Tapi aku cukup tertarik!"


"Saya akan mengerjakan semua pekerjaan anda selama satu Minggu, bagaimana?" Peter tersenyum smirk, ini kesempatan. itu berarti Peter bisa cuti dan bersenang-senang bersama Rachel jika dia memenangkan pertaruhan ini.


"Setuju!"


"Lalu, jika saya menang. Apa yang akan anda berikan?"


"Apartemen mewah?"


"Saya sudah punya!" sombong Keenan.


"Saham?"


"Saya tidak tertarik!"


"Bagaimana jika cuti selama satu tahun!" iseng Peter.


"setuju!"


"Hei, itu terlalu lama. Aku tidak setuju!" sewot Peter, menyesal telah menyetujui pertaruhan tersebut.


"Tapi saya sudah setuju, tuan! pertaruhan tidak bisa di batalkan ataupun di ubah!"


"Aku bosnya!" seketika Keenan terdiam. Peter tersenyum penuh kemenangan. "Okeh, aku setuju. Lagi pula, menang ataupun kalah. Aku akan tetap menjadi pemenangnya!"


"Terserah anda saja, saya pamit pulang. Anda naik taxi saja ya!"


"Sialan, dasar asisten kurang ajar!"


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™


__ADS_2