Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
You are mine


__ADS_3

" Puas berkencan, sayang!" suara berat seseorang, menyapa dari belakang.


Rachel terbelalak, dengan berat hati ia membalikkan badannya. Dan menatap sosok pria yang baru saja ia pikirkan.


" Peter!" Rachel menyapa, dengan wajah masam dan rasa takut yang lumayan ketara.


" Puas berkencan hm?" tanya Peter lagi, dengan pertanyaan yang sama. Namun, matanya tampak suram dan kelam dengan semburat nadi yang menonjol di sekitar leher. Jelas sekali bahwa pria itu tengah menahan amarah.


" Peter, aku bisa menjelaskannya!"


" Tapi aku tidak butuh penjelasan mu!" Peter lantas memotong ucapan Rachel.


" Semua foto ini telah menjelaskan segalanya, sayang," lanjutnya dengan melemparkan beberapa potong kertas kecil berisikan foto-foto kebersamaannya bersama dengan Kenzo tadi.


Rachel diam tak berkutik, tangannya sibuk mengambili foto-foto itu. Apa ini artinya Peter menyuruh seseorang membuntutinya.


Hei, siapapun akan salah paham melihat foto ini. Bagaimana tidak, sang fotografer hanya membidik kameranya, saat dia dan Kenzo berpelukan singkat, duduk berdekatan, dan saling menatap satu sama lain.


Tapi tidak dengan Rachel, yang memukul ataupun berjaga jarak dengan Kenzo. Siapa yang mengambil foto ini, ingin rasanya Rachel memukulnya sampai babak belur.


" Aku rasa kekasih mu itu cukup perhatian ya, mengingat dia mengantar mu pulang barusan," ejeknya sambil menatap Rachel dengan sorot mata tajam yang siap membunuh.


" Kenzo, bukan pacar ku. Dia teman ku, Peter!" ucap Rachel masih berusaha membela diri.


Namun, sialnya Peter malah tertawa sumbang dan mendekat secara perlahan. Bersamaan dengan itu, Rachel pun ikut melangkah mundur, memperlihatkan jari telunjuknya, memperingati.


" Jadi pria itu bernama Kenzo?"


" Jauhi aku, kau sedang marah sekarang. Aku tidak ingin kau menyakiti ku dan merasa bersalah nanti," sarkasnya.


Namun, Peter tak menghentikan langkahnya dan terus berjalan mendekat hingga membuat Rachel menabrak dinding. Tidak ada jalan lagi, sampai akhirnya Peter mengurungnya di antara kedua tangan.


Sorot matanya semakin menajam, tangannya terulur untuk mencengkeram kasar dagu Rachel. " Siapa yang memberimu izin keluar dari Mansion ini, aku pastikan orang itu akan lenyap hari ini juga!"


" Lepas! kau menyakiti ku!" teriak Rachel, tak segan-segan memukul tangan kekar itu agar melepaskan cengkeramannya.

__ADS_1


Peter semakin marah, kala melihat Rachel melawan dan memukul tangannya. " Kau berani padaku? sepertinya aku terlalu bersikap lembut padamu, sampai-sampai membuat mu bersikap kurang ajar seperti ini." tak terasa setitik air mata jatuh membasahi kedua pipinya.


Sorot mata tajam Peter berhasil mengintimidasinya, belum pernah Peter menampakkan kemarahan sampai semengerikan ini. Bahkan tidak segan menyakitinya.


" Aku hanya pergi selama dua hari, dan kau langsung menjalin hubungan gelap dibelakang ku, hah?" Peter kembali mengapit rahang tirus itu. Tak memperdulikan rintihan dan tangisan Rachel.


" Sudah ku bilang, dia bukan kekasih ku. Kenapa, kau tidak mengerti juga!" lagi-lagi Rachel mendorong Peter agar menjauh. Sudah cukup, Rachel tak tahan menerima semua perlakuan kasar pria itu.


" Lihat ini, baru dua hari aku meninggalkan mu dan kau berubah menjadi seorang wanita pembangkang yang sukar di atur?"


" Peter, dengarkan penjelasan ku. Cobalah mengerti, aku tidak menghianati ataupun bermain di belakang mu. Kenzo temanku, kalau kau tidak percaya aku akan menelponnya. Kau bisa bertanya langsung padanya!!" Rachel merogoh tasnya, mencari benda pipi yang jelas-jelas ia tinggalkan di dalam kamar.


Rasa takut dan gelisah membuat fokusnya terpecah. " Wah, bagus sekali. Kau bahkan memiliki nomor ponselnya, apa kalian bertukar nomor?"


" Sayang sekali, aku tidak akan membiarkan mu menghubunginya walau hanya satu kali pun!" entah sejak kapan Peter membawa ponselnya itu.


Prang! dilemparkannya ponsel Rachel membentur dinding, membuat benda kotak itu hancur berkeping-keping dan berceceran di atas lantai.


" Sekarang, ikut aku dan terima hukuman mu. Aku tidak ingin kau mengulangi kesalahan yang sama. Ingat, nama ku berada di nama belakang mu. Dan selama kau masih menjadi istri ku, jangan harap kau bisa dekat dengan pria lain!"


...🍁🍁🍁🍁...


Pagi itu, Rachel masih nyaman bergelut dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Berbeda dengan Peter, pria itu tampak santai meminum kopi dengan dua jari yang mengapit satu batang rokok.


Peter tampak nyaman dengan posisinya, yaitu duduk selonjoran seraya menatap Rachel yang masih terlelap. Sudah satu jam Peter menunggu, namun pria itu tampak biasa saja. Tak merasa bosan ataupun jenuh.


" Selidiki pria bernama Kenzo!" Peter menelfon Keenan. Selama belum mengkonfirmasi identitas dan apa hubungan mereka. Peter tidak akan merasa tenang, ia takut Rachel akan berpaling darinya.


Hoam! Rachel menguap, matanya mengerjap menandakan bahwa kesadarannya mulai terkumpul. Melihat itu, Peter tersenyum tipis, lalu mematikan batang rokoknya yang masih panjang.


Bergegas Peter beranjak dan menghampiri wanita itu. Srek! Peter kembali membaringkan diri, dan melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuh Rachel dengan erat.


Sesekali, jari jemari nakalnya mengusap perut yang masih rata itu. Cepatlah tumbuh, anak-anak daddy, batinnya dengan senyum yang masih utuh.


Geli, mau tidak mau Rachel memaksakan diri untuk mengumpulkan nyawa. Ia merasa risih dengan jari jemari yang membelai perutnya, sesekali naik keatas memainkan dadanya.

__ADS_1


Cih, semalam saja kau memarahiku tanpa alasan. Sekarang berlagak seperti kucing manis yang minta di manja. Batin Rachel dengan memicingkan matanya.


"Tidurlah lagi, aku tahu kau masih mengantuk," serunya sambil menduselkan kepalanya ke tekuk wangi istrinya.


Kalau begitu kenapa kau membangunkan ku, dasar aneh!


Rachel terus menggerutu. Namun,tak berani bersuara hanya bisa menggunjing Peter dalam hati. Kemarahan Peter benar-benar menakutkan, hanya sekali saja Rachel melihat, tidak untuk kedua kalinya.


" Kau tidak bekerja?" tanya Rachel lirih hampir seperti bisikan.


" Kau mengusir ku? apa kau ingin di temani kekasih mu itu," sewotnya, mengungkit kejadian semalam.


" Aku bertanya, kenapa kau malah mengungkit kejadian samalam!" gerutu Rachel malas.


Aneh, Rachel tak bisa marah dengan Peter. Bahkan setelah perbuatannya semalam, yang menghukumnya walaupun dia tak melakukan kesalahan.


" Hm!" gumam Peter acuh. Pria itu asik mencumbui leher yang mulai menjadi candu.


" Hari ini, aku cuti. Aku merasa bersalah padamu. Karena itu, seharian ini aku memutuskan untuk menemani mu, sayang!" kata Peter menyahut, setelah puas menghirup aroma Cherry blossom yang menempel di tubuh Rachel.


" Ck, aku tahu ujung-ujungnya pasti begini. Kau pasti merasa bersalah." desis Rachel.


" Maaf, kau pasti takut kan melihat ku marah-marah. Dan kau pasti kesakitan karena perlakuan ku semalam!" seru Peter dengan suara dan wajah yang memelas.


Rachel menghembuskan nafasnya, " hm, tidak masalah. Aku mulai terbiasa dengan perubahan sifat mu yang tiba-tiba itu," jawabnya singkat, kemudian mendaratkan kecupan lembut ke dahi suaminya.


" Sekarang peluk aku, dan biarkan aku istirahat sebentar. Tubuhku remuk karena ulahmu!" ujar Rachel. Peter tersenyum dan mengeratkan pelukannya, tak lupa menciumi kepala Rachel dan memberikan usapan-usapan lembut yang membuat wanita itu terbuai dan berakhir memejamkan matanya kembali.


" You are mine!"


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™


__ADS_2