Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Mana hadiah ku


__ADS_3

Sampai di mansion, Keenan membuka bagasi mobil. Di dalam sana sebuket mawar merah dan tiga paper bag berada.Tas-tas tersebut berisi parfum, dessert stroberi, dan dessert tiramisu.


Kedua pria tersebut membeli hadiah untuk istri masing-masing. Keenan membelikan Belle sebuket mawar dan dessert tiramisu. Sedangkan Peter membelikan Rachel dessert stroberi.


Bukannya tidak mau membelikan bunga. Hanya saja Peter pernah membelikan Rachel buket. Bukannya senang wanita itu malah marah dan berkata di taman sudah banyak bunga.


Sejak saat itu Peter tidak pernah membelikan Rachel bunga. Namun, Peter selalu memperbaiki taman dan menambah semua jenis bunga untuk di tanam di taman belakang setiap tahunnya.


"Besok datanglah kesini, Kenzo akan datang untuk membahas masalah kerja sama kita!" kata Peter santai. Kedua tangannya masuk kedalam saku celana, memberi perintah dengan penampilan berwibawa.


Keenan mendengus, baru tadi siang Keenan melihat-lihat tiket taman hiburan. Hendak menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya di akhir pekan. Dengan mengajak mereka pergi ke taman hiburan terdekat.


Tapi Peter malah memberinya pekerjaan tambahan. Marah dan kesal bercampur aduk kini. Keenan tidak bisa menolak, alhasil Keenan mengangguk dengan wajah masam.


Astaga sampai kapan Keenan harus melakukan pekerjaan ini. Rasanya Keenan ingin berhenti dan mencari pekerjaan lain saja. Namun, sudah menjadi tradisi di keluarga untuk menghabiskan sisa hidupnya untuk melayani keluarga Abbey.


"Saya akan datang jam 10 tuan!" lanjutnya.


Peter mengangguk paham. Melihat wajah masam Keenan membuatnya tergelak.Tahu Keenan sudah merencanakan sesuatu. Namun, Peter menggagalkannya dengan menyuruhnya datang esok.


"Bawa Belle dan Abigail besok," kata Peter santai. Keenan mengangkat sebelah alisnya. Tidak mengerti maksud dari perkataan sang majikan.


Untuk apa mengajak Belle dan Abigail bekerja. Yang ada perhatian Keenan akan teralihkan oleh kecantikan Belle dan tingkah Abigail yang menggemaskan.


"Aku tahu, kau berniat membawa mereka ke taman hiburan besok! setelah selesai rapat, kau bisa pergi!" ujar Peter. Dari mana Peter tahu, Keenan mau pergi ke sana. Apa jangan-jangan Peter cenayang lagi.


"Anda tahu dari mana tuan, kalau saya akan mengajak mereka pergi ke sana?" tanya Keenan. Menatap Peter curiga.


"Berhenti menuduh ku lewat tatapan datar mu itu. Aku tidak sengaja melihat mu membeli tiket online tadi!" sarkas Peter kesal. Meninggikan suara, tidak suka dengan tatapan datar Keenan.


"Kalau begitu saya undur diri tuan!" Peter mengangguk. Mengambil alih dua paper bag itu dan masuk dengan wajah masam.


Begitu sampai di ruang tamu, sang kepala pelayan mendatanginya. Mengambil tas kerja Peter dan mengikuti dari belakang


"Dimana Rachel?" tanya Peter, menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Mencari batang hidung sang istri.

__ADS_1


Peter duduk di dapur mengambil segelas air dan meminumnya dengan sekali teguk. Merasa gerah Peter melepaskan jas dan melonggarkan dasinya.


"Nona muda ada di kamarnya tuan!" jawab Dasha sopan. Memungut jas Peter dan memasukkannya kedalam keranjang cucian.


"Buatkan aku kopi dan antarkan ke kamar ku nanti!" perintah Peter sebelum berjalan melewati tangga. Peter bersiul kecil, berjalan santai seolah sedang menikmati suasana.


Namun, begitu sampai di kamar. Langkah Peter terhenti, helaan napas berat Peter hembuskan. Jam berapa ini, Rachel sudah tidur dengan nyenyak.


Kecewa, tentu saja tidak. Peter senang melihat Rachel tidur dengan tenang. Mendengar rain datang pagi ini, Peter kira Rachel tidak akan bisa tidur. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Dengkuran-dengkuran halus bisa Peter dengar kini.


Peter meletakkan paper bag itu di atas meja kamar. Dengan langkah mengambang Peter berjalan mendekati ranjang. Duduk di pinggiran kasur seraya menatap wajah teduh Rachel.


Baguslah jika Rachel tertidur, itu berarti Peter bisa menjalankan misi tanpa harus membuat alasan.


Cup! Peter mencium dahi Rachel singkat. Semakin lama semakin ke bawah. Hingga berakhir dengan raupan di bibir.


Peter tidak sadar ciumannya itu membuat Rachel bangun. Alhasil, Rachel juga ikut menikmati ciuman tersebut. Keduanya beradu lidah dan bertukar saliva.


"Sudah pulang?" tanya Rachel begitu Peter melepaskan pautan bibirnya. Peter mendengus tersenyum dan mengangguk tiga kali sebagai jawaban.


Tok! tok! tok!


"Masuk!" Dasha membuka pintu kamar dengan membawa baki berisi secangkir kopi. Dan susu untuk Rachel.


"Terimakasih!" ucap Rachel tatkala mendapat segelas susu tanpa di minta. Dasha tersenyum ramah, lalu pamit mengundurkan diri. Tidak ingin mengganggu waktu nona dan tuan mudanya.


"Aku membawakan sesuatu, Re!" Peter menyerahkan dua paper bag bewarna putih. Membuat Rachel


"Apa ini?" tanya Rachel seraya membuka kedua paper bag tersebut.


"Dessert? parfum? kau membelinya untuk ku?" raut wajah senang Rachel tampakkan. Kebetulan sekali, Rachel ingin makan dessert malam ini.


"Iya, tapi parfum itu dapat dari istri rekan kerja ku. Dia bilang ingin memberimu produk terbarunya!" Rachel Mengangguk-angguk. Mengerti.


Mulai dari satu botol ke botol lain Rachel membukanya Dan senangnya, semua aroma parfum itu sesuai dengan selera Rachel. Sudah pasti Rachel akan menggunakan parfum-parfum itu di kehidupan sehari-hari.

__ADS_1


"Wow! ini dessert stroberi!" Rachel membuka tupperware tersebut dan memakan dessert tersebut secara perlahan.


Kepalanya bergerak kecil, sesekali bibirnya mendesah menandakan Rachel menikmati dessert tersebut.


Melihat itu Peter tersenyum simpul, ikut duduk di depan Rachel. Menikmati secangkir kopi, sesekali mengelap ujung bibir Rachel dengan tisu.


"Enak sekali!" puji Rachel kembali memakan dessert tersebut.


"mana hadiah ku?" Peter mencondongkan tubuhnya. Berharap mendapat sebuah kecupan singkat. Namun, Rachel malah mengambil tupperware itu dan duduk di balkon. Mengabaikan dirinya.


Sabar! berulang kali Peter bergumam. Tidak ingin merusak suasana dengan marah dan memaksa Rachel menciumnya.


"Re! makan di sini saja!" ujar Peter dingin. Rachel menggelengkan kepalanya menolak. Tidak ingin Peter menggangu waktu makannya.


"Biarkan aku menikmati dessert ini, sayang. Jangan khawatir, aku akan memberi mu jatah nanti!" mengedipkan matanya nakal. Membuat Peter salah tingkah.


Alhasil, Peter duduk di sofa kamar dan menonton berita di televisi seraya menunggu Rachel selesai makan.


...🍁🍁🍁🍁...


Malam memasuki larut. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Peter tersenyum miring, melihat Rachel tertidur setelah pergumulan panas mereka.


Sekarang Peter harus pergi dan menjalankan misi. Jangan sampai transaksi obat-obatan terlarang ini tertunda. Semakin cepat semakin baik, Peter tidak suka membuang-buang waktu.


"Semoga mimpi indah sayang!" Peter mencium seluruh wajah Rachel sebelum pergi meninggalkan kamar.


Di lantai bawah, Keenan berdiri tegap dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku celana. Menunggu sang tuan muda.


"Ayo kita berangkat!" Peter masuk kedalam mobil. Keenan mengangguk dan mengemudikan mobilnya dengan cepat meninggalkan mansion.


Malam ini mereka akan beraksi, entah apa yang terjadi nanti. Hanya saja Keenan merasakan firasat buruk. Semoga saja transaksi kali ini tidak ada kendala.


TBC


Belum author revisi πŸ™?

__ADS_1


__ADS_2