
Pagi ini, diruang makan Peter dan Rachel sarapan bersama. Hari ini, Peter tidak pergi bekerja karena sekarang hari Minggu. Berniat menghabiskan waktu bersama, Peter malah mendapat penolakan. Sulit sekali membujuk wanita itu, oh God kapan Rachel menyatakan cinta padanya.
Untung saja, semua kebutuhan rumah kosong apalagi bahan pangan. Berbelanja memanglah tugas pelayan, tapi jika ini membuka kesempatan Peter agar bisa menghabiskan waktu bersama Rachel, kenapa tidak? tentunya Peter bersedia pergi mengantar dengan perasaan senang.
"Bagaimana transaksi mu semalam?" Rachel bertanya disela-sela makannya. Peter menoleh, menatap wajah cantik itu dengan alis tertekuk. Heran. Tidak biasanya Rachel bertanya demikian, tentu menimbulkan perasaan curiga.
βLancar, kenapa kau ingin memastikan sesuatu?" curiga dengan Rachel. "Aku hanya bertanya, kenapa kau malah curiga pada ku sih?" sergah Rachel jengah, melemparkan tatapan kesal.
"Bukan begitu, sayang. Aku kan juga bertanya, kenapa kau sensi sekali. Kau sedang kedatangan tamu?"
"Tidak, aku tidak kedatangan tamu."
"Cih, dasar bocah labil!" hina Peter dengan suara rendah. Namun, masih bisa didengar oleh Rachel.
"Siapa yang bocah, umurku sudah 26 tahun. Aku bahkan sudah pantas menjadi ibu asal kau tahu." cetus Rachel, melemparkan tatapan setajam silet.
"Benarkah, itu berarti kau mau kan?" Peter menaik turunkan alisnya, tersenyum penuh arti.
"Mau apa?" kebingungan, tidak bisa membaca jalan pikiran Peter. Ya, mengingat Rachel bukanlah cenayang.
"Tentu saja, anak. bukankah tadi kau bilang sudah siap menjadi ibu. Ayo kita mulai malam nanti, oh God aku tidak tahan menunggu saat-saat itu." Peter tersenyum konyol, lalu mengusap pelan punggung tangan Rachel dan menciuminya.
"Anak?" Rachel membulatkan mata, membeku di tempat dengan raut wajah suram. Berniat menyemprot Peter dengan kata-kata pedas.
"Cih, aku hanya bercanda. Jangan di anggap serius," ujarnya memotong, sebelum Rachel berhasil menyemburnya dengan kata-kata pedas, mengangkat tangan ke udara menghentikan bibir Rachel yang hampir terbuka.
"Bercanda mu tidak lucu sama sekali." ketus Rachel. Mendadak hatinya berdetak kencang melihat seutas pancaran kekecewaan dari mata coklat pekat itu.
"Tapi, apa kau benar-benar menginginkan seorang anak?" tidak ingin kepikiran, Rachel pun memutuskan bertanya. Memastikan.
"Aku tidak tahu, tapi melihat Damian menggendong anak dan menciumi pipi gembul putranya membuat ku iri." jelas Peter jujur.
__ADS_1
Rachel semakin kalut, tidak enak dengan perubahan sikap Peter. Peter mendadak diam, seolah melamun-kan sesuatu.
Oh ayolah, Rachel bahkan masih bingung dengan perasaannya sendiri. Sekarang di tambah dengan permintaan anak.
"Jangan terbebani, Re. Aku tidak akan memaksa mu, santai saja. Aku selalu setia menunggu jawaban mu itu." meraih tangan mungil Rachel, menenangkan kegelisahan. Sesekali mencium dahi dan bibir pink natural itu.
"Maaf, tapi aku masih membutuhkan sedikit waktu untuk menjawab semua keinginan mu." Rachel menuduk sendu, sedih karena tak bisa memberi kebahagiaan pada Peter walau hanya setitik saja.
"Aku paham dan memaklumi perasaan mu." Peter membawa Rachel masuk kedalam pelukan hangatnya, lalu mengusap lembut surai lembut itu.
"Sekarang, pergi bersiap aku akan mengantarmu berbelanja!" perintah Peter, mengajak Rachel pergi.
Mengangguk singkat dan menjawab, "baiklah, tunggu aku sebentar!" Rachel beranjak, berlari menaiki tangga. Tak sabar mengunjungi mall dan berbelanja.
"Kosongkan Mall xxxx!"
...ππππ...
Setengah jam menempuh perjalanan, disinilah mereka berada. Disebuah Mall terbesar se-kota Las Vegas. Salah satu aset dan tempat penghasilan terbesar keluarga Abbey.
Disini terlihat beberapa wanita muda dengan pakaian formal berdandan apik dan juga puluhan pria berbadan kekar yang memakai pakaian serba hitam. Rapi.
"Peter, sepertinya Mall ini tutup. Ayo kita pulang saja!" ajak Rachel, menghentikan langkah dan menarik pelan lengan yang dipeluknya.
Gelak tawa terdengar ringan, "mereka masih buka, Re. Aku hanya mengosongkannya saja, agar kau puas berbelanja dan aku bisa menikmati kebersamaan ini tanpa ada gangguan ataupun kebisingan." tutur Peter santai. Rachel terhenyak, lalu tersenyum kecut.
Cukup manis, tapi bukankah perlakuan ini sedikit berlebihan. Hei, Rachel ingin berbelanja dan berebut diskon bersama ibu-ibu lainnya. Tapi, tidak masalah. Jika Rachel mengatakan isi hatinya dengan jujur, Peter mungkin akan tersinggung nanti.
"Huh, kalau begitu ayo masuk dan cepat beli semua keperluan rumah." ajak Rachel, melangkah panjang melewati pintu. Hawa dingin AC menyapu permukaan kulitnya. Sejuk dan segar.
Hendak berlari, namun tangan kekar Peter menekan untuk menghentikan langkahnya. "Berjalan perlahan, aku akan menemanimu!" tegurnya.
__ADS_1
Rachel memutar bola matanya malas, namun menurut. Paham dengan Peter yang ingin menghabiskan waktu bersama. Karena kesal, Rachel pun mencengkam erat lengan kekar itu dan menariknya berlari menuju lantai atas. Dimana kebutuhan pangan tersedia di sana.
Pegawai yang melihat memelototkan mata, tidak menyangka mafia yang terkenal akan kebengisan dan kekejamannya bisa menjadi semanis itu.
...ππππ...
"Sebaiknya aku membeli ini atau itu?" gumamnya, seraya mengamati dua kemasan produk daging dengan harga yang berbeda.
"Beli saja yang ini!" menunjuk daging dengan harga termahal, jauh dari dua pilihan Rachel. "kalau ada yang murah kenapa harus yang mahal?" cibir Rachel, kemudian memasukkan daging berkualitas dengan harga terjangkau sekitar dua puluh ribu dolar.
Dengan senyum merekah, Rachel kembali menyusuri lantai mengambil semua kebutuhan tanpa membolehkan pelayanan ataupun bodyguard membantu. "Akhirnya selesai juga." senangnya, mengusap peluh tipis yang membasahi dahi.
Dibelakang, aura suram terlihat mendominasi. Peter berdiri dengan wajah di tekuk, berharap bisa menikmati waktu bersama malah menjadi waktu berolahraga. Bagaimana tidak, Rachel mengajaknya kesana kemari sampai tubuhnya berkeringat meskipun puluhan AC menyala hebat.
"Sekarang, tinggal makan saja. Peter, ayo kita ma-" ucapan Rachel terhenti, kala melihat Peter menatapnya dingin, seolah ingin melahapnya sekarang.
"Sudah? kau membuatku mengelilingi Mall sebesar ini. Apa masih belum cukup, sebagai gantinya aku meminta bayaran." tegas Peter, memandang Rachel dengan tatapan mengintimidasi dan berhasil membuat wanita itu diam.
"Namanya berbelanja, tentu harus mengitari mall untuk mengambil barang. Kau sendiri yang bersikukuh ikut. Kenapa malah menyalahkan aku?" hardik Rachel kesal.
"Aku tidak mau tahu, kau harus membayar semua tenaga ku yang terbuang sia-sia nanti malam." masih bersikeras, tidak peduli penolakan Rachel. Yang jelas nanti malam dia akan datang. Menyerang.
"Okeh, terserah kau saja. Lagi pula mau atau tidak kau tetap datang kan?" malas Rachel.
"Tentu saja, karena kau istriku. Jiwa dan raga mu adalah hak ku!" Peter berbisik dengan suara serak menggoda. Menggigit kecil ujung telinga Rachel, sebelum bergerak menjauh.
"Iya-iya, sekarang ayo makan." Peter mengangguk lalu menarik Rachel masuk kedalam restoran yang ada di belakang mereka. Sebelum itu, Peter memberi kode agar para bawahannya membawa semua belanjaan pulang ke rumah.
TBC
Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πππ€π€π€
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π