Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Membayar dengan tubuhku


__ADS_3

Malam ini Peter tak meminta jatah, sekedar tidur biasa dengan saling berpelukan. Rachel masih membuka mata, melamun. Memikirkan pertemuannya dengan Grace nanti.


"Kapan acara makan-makan itu?" tanya Rachel lirih, tampa melirik ke samping dimana Peter berada.


"Ulang tahun Ara?" Peter memperjelas pertanyaan Rachel. "Ya," Rachel mengangguk sekali.


"Satu Minggu lagi, tepatnya di hari Sabtu. Kenapa?" Peter balik bertanya, lalu membuka matanya yang terpejam nyaman.


"Aku hanya bertanya, memang apa salahnya?" sewot Rachel, selalu menggunakan kesempatan untuk mengajak Peter berdebat.


Peter berbalik, memiringkan badan. "Kau takut bertemu dengan kakak ipar?"


Sial, kenapa tebakan Peter selalu tepat sasaran. Apakah Peter cenayang. "Entahlah, tapi aku masih belum siap menghadapi kebencian, Grace!"


"Melihat dari sikap keibuannya, aku rasa kakak ipar tak sejahat itu. Hatinya terlalu lembut untuk membenci!" ya, begitulah Grace terlalu baik sampai- sampai kebaikannya itu di manfaatkan oleh orang lain.


"Kau tidak mengenalinya! Grace cukup keras kepala dan susah diatur!"


Semua orang tahu itu, terbukti dengan melihat usahanya untuk kabur dari cengkeraman Damian. Namun, Peter rasa semua itu berubah kala melihat cinta tersembunyi di balik mata coklatnya untuk Damian.


"Bersiaplah, besok aku akan memperkenalkan mu pada anggota ku!" Rachel membulatkan mata, tidur menyamping. "Kau ingin memperkenalkan aku secara resmi?"


"Iya, kau tidak mau?" Rachel menggeleng cepat.


"Aku pikir kau berbohong waktu itu, supaya aku tak melukai diriku!" kata Rachel. Peter tersenyum, memberikan belaian-belaian lembut pada pipi wanitanya.


Keduanya saling menabrakkan manik mata, berpandangan dengan cukup lama. "Kenapa aku harus berbohong, aku ingin lihat sejauh mana kemampuan mu!"


"Kau meremehkan ku?" tuding Rachel, dengan alis terangkat dan tersenyum sinis.


"Tidak, tapi aku ingin bukti dari semua ucapan mu! aku bukanlah tipe orang yang percaya dengan bualan semata!" seru Peter, meluruskan kesalahpahaman istrinya.


"Baiklah, aku akan membuktikannya nanti!" tekad Rachel, menampakkan wajah semangat dan melayangkan satu kepalan tangan di udara.


"Dan aku akan menunggu aksi mu, sayang!"ucap Peter lembut. Pria itu mendaratkan ciuman-ciuman singkat di bibir Rachel.


"Sekarang tidurlah, kau membutuhkan energi untuk beraktivitas besok!" Peter menarik Rachel, mengikis seuntai jarak yang ada di antara mereka. Barulah Peter mendekapnya erat, bak memeluk guling.


Keheningan menyelimuti malam itu, hanya deru napas saling bersahut yang terdengar dari atas ranjang. Rachel memejamkan mata, sesekali bergerak kecil mencari posisi nyaman.


Namun, tidak dengan Peter. Sebelum masuk kedalam alam bawah sadar, ia ingin memastikan Rachel tertidur terlebih dulu.


Peter memberikan dekapan erat, membagi suhu tubuhnya yang hangat. Tangannya sibuk menepuk-nepuk punggung Rachel. Seolah Peter sedang menidurkan putrinya.


Cukup lama, hingga terdengar deru napas Rachel mulai stabil. Dengkuran-dengkuran lembut menandakan bahwa wanita itu sudah tertidur pulas.

__ADS_1


Peter terkekeh, kemudian mencari posisi nyaman untuk dirinya sendiri. Barulah dia memejamkan mata menyusul Rachel di alam mimpi.


...🍁🍁🍁🍁...


Rachel tengah sibuk menyiapkan diri, pagi ini. Peter akan mengajaknya pergi ke markas besar Gold Lion, dan memperkenalkannya pada semua anggota.


Senang, tentu saja. Rachel akan menjadi anggota resmi. Dan itu merupakan sebuah kebanggaan baginya. Meskipun pagi ini, dia sempat kesal saat tahu Ara, pulang tanpa berpamitan.


Berulangkali Peter menjelaskan, namun Rachel tidak mau mengerti sebelum Ara menelfon dan mengatakannya sendiri.


Ara terpaksa pulang tanpa pamit karena dia mendapat telepon darurat semalam. Bahkan ia tak berpamitan pada Peter. Untungnya saat keluar, Ara bertemu Keenan. Otomatis gadis itu meminta Keenan mengantarnya ke bandara. Jadi keamanan Ara cukup terjamin.


"Sudah selesai bersiap?" Peter bertanya dari ambang pintu. Dia berdandan formal karena setelah mengunjungi markas besar Gold Lion, Peter harus pergi bekerja.


"Ya, aku sudah siap!" Rachel menjawab, beranjak dari depan meja rias dan berjalan mendekati Peter.


Wanita itu tampak cantik, padahal tak memakai pakaian formal, namun pakaian sehari-hari yang biasa Rachel pakai.


"Kau menguncir rambut mu?" Peter menajamkan mata, menatap Rachel intens seolah menelanjangi wanita itu lewat tatapan mata.


"Hari ini suhu di luar panas, maka dari itu aku menyanggul rambut ku!" ucap Rachel menjelaskan.


"Lepaskan!" pinta Peter dengan suara dingin menusuk. Tak ingin leher jenjang Rachel yang merupakan salah satu aset berharganya di lihat banyak orang.


"Lepaskan!" Peter berucap lagi dengan suara penuh tekanan, tanda tak ingin dibantah siapapun. Rachel mendengus, terpaksa membuka sanggulnya dan menggerai rambut sebahu itu.


Kecantikan Rachel semakin mengagumkan setelah rambut sebahunya di gerai indah. Peter semakin tak suka, ingin rasanya dia membuat Rachel menjadi jelek agar tidak ada pria yang meliriknya.


"Sudah!" Rachel bertanya, namun Peter malah mengerang tidak suka. Lalu meninggalkan Rachel tanpa menjawab sepatah katapun.


Cih, kenapa dia?


Rachel berlari menyusul, menyamakan langkahnya dengan langkah Peter yang panjang. Sedikit kesulitan, tapi Rachel masih tetap berusaha mengimbangi.


"Kee, semalam kau tidak mengirim seseorang untuk menjaga Ara?" pertanyaan Peter lontarkan saat melihat Keenan berdiri, menyapanya.


"Saya mengirim satu anggota Gold Lion, untuk menjaga nona Ara sampai tujuan, tuan!" pandangan Keenan kini beralih pada istri majikannya yang terengah-engah.


"Apa anda baik-baik saja nona?" tanya Keenan, menahan tawa melihat Rachel menjatuhkan diri di atas karpet berbulu di bawahnya.


"Wah, kau perhatian sekali ya sampai-sampai menayangkan keadaan ku. Apa penampilan ku masih rapi?" tidak bermaksud apa-apa, Rachel bertanya tanpa ada niat tersembunyi.


"Kenapa kau bertanya pada Keenan?" ketus Peter, tak suka mendengar Rachel bertanya pada asistennya.


Sengaja Peter membuat Rachel berlari agar tampilan wanita itu berantakan dan wajahnya berkeringat. Tetapi kecantikannya tidak berkurang sedikitpun. Malah terlihat semakin sexy jika di lihat dari ekspresi wajahnya yang terengah-engah itu.

__ADS_1


"Anda masih terlihat cantik, jadi bisakah kita berangkat sekarang?" Tanpa di minta Peter menyahut dengan wajah dingin khasnya.


"Siapa yang menyuruhmu menimpali," hardik Peter marah. Menatap Keenan tajam, ingin membunuhnya sekarang juga. Tak segan-segan Peter menodongkan pistol yang dibawanya kemana-mana tepat di dahi Keenan.


"Hei, singkirkan itu. Kau itu kenapa sih, aku bertanya dan dia menjawab jadi apa salahnya?" Rachel merampas pistol itu membuat Peter semakin kesal.


"Sudahlah, ayo berangkat kau harus pergi bekerja kan setelah memperkenalkan aku?" rayu Rachel, lalu memeluk erat lengan Peter dan menariknya pergi dari hadapan Keenan.


Drama sekali!


Keenan menggelengkan kepalanya, tidak percaya kalau pria yang meninggalkannya barusan adalah bosnya. Bukan hanya itu, Keenan juga di landa kebingungan.


Jika Rachel menjadi asisten, lalu dirinya harus bagaimana. cuti? di pecat? atau harus mengundurkan diri? oh sepertinya Keenan akan memesan tiket berlibur setelah ini.


Setelah berperang dengan batinnya sendiri, Keenan keluar menyusul mereka. Pasangan itu sudah masuk kedalam mobil, menunggunya menyopir.


"Tuan, bisa saya bertanya?" Keenan memelankan suara, bertanya dengan hati-hati. "Apa?" ketus Peter, masih kesal dengan asistennya itu.


"Jika nona Rachel menjadi asisten saya, apa saya bisa cuti selama beberapa bulan?"


"Kau ingin mati ya, aku tidak ingin memperbudak istri ku dengan menyuruhnya ini itu!" sentak Peter cepat begitu Keenan selesai mengucapkan pertanyaannya.


Tapi anda memperbudak saya, cih dasar Mafia arogan!


"Rachel hanya menemani ku saat misi kecil, kau tetap mengerjakan pekerjaan mu. Seperti biasanya tidak ada yang berubah!"


Keenan mendesah lelah, padahal ia sudah menyusun acara liburan dan berniat mencari tambatan hati yang bisa mencairkan hati bekunya.


"Maaf ya, Kee!" Rachel menepuk kursi Keenan.


"Kenapa kau minta maaf, inikan tugasnya! dia di gaji Sayang!"


"Lalu, apa kau juga menggaji ku?" Rachel menaik turunkan alisnya. "Ya, aku akan membayar mu, dengan tubuh ku tentunya!"


Sialan, dasar cabul!


TBC


TBC


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2