Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Menyerah


__ADS_3

Rintik gerimis berjatuhan, semakin lama semakin deras membasahi wanita muda yang duduk di trotoar. Kilatan cahaya, melintas cepat menghiasi gumpalan awan gelap di atas sana.


Raungan tangis terdengar nyaring, menandakan wanita itu tengah bersedih dan menahan sakit. Suasana malam itu benar-benar menggambarkan kehidupannya yang penuh dengan kepahitan dan kegelapan saja.


Lagi-lagi putri kecilnya bertanya mengenai keberadaan sang ayah, pagi ini. Sudah bosan dia menjelaskan, bahwa ayahnya bekerja sangat jauh. Yang bahkan dia sendiri tidak tahu. Namun, putrinya tidak mau tahu dan mempertanyakan keberadaan ayahnya secara terus menerus.


"Apa masih kurang hukuman yang kau limpahkan pada ku, sampai-sampai kau juga merenggut kebahagiaan putri ku." tanyanya seraya menatap langit gelap tersebut. Wanita itu adalah Belle Krayle Elard, kakak kandung Grace Elisha Elard.


Belle lelah hidup dalam penantian tidak pasti ini. Sekeras apapun dia berusaha, namun sepertinya takdir tak membiarkannya hidup bahagia.


Mulai dari mata-mata, agen khusus, Mafia. Semua jasa, Belle pakai dan menyuruh mereka menggali informasi mengenai pria asing yang memperkosanya 3,5 tahun lalu.


Tetapi nihil, diantara mereka tidak ada yang berhasil. Sebagian berakhir tragis, dan sebagian lagi mundur tanpa alasan serta mengembalikan bayaran yang mereka terima.


Sebenarnya siapa dia, sampai-sampai tidak ada yang mampu melacak ataupun mau membeberkan informasi mengenai keberadaan atupun latar belakangnya.


"Tuhan, aku lelah! berhentilah mengujiku. Kau tahu betapa lelahnya aku, ku mohon berhentilah memberi ku cobaan!" Belle berteriak, tidak takut dengan petir yang menggelegar dan suasana sepi di jalanan itu


Setengah jam Belle duduk dibawah guyuran hujan. Puas mengeluarkan semua keluhan dan umpatan yang tertahan selama bertahun-tahun. Lantas Belle beranjak dan melanjutkan langkah tanpa mengenakan alas kaki.


Tak jauh dari situ, sebuah halte sepi menjadi persinggahan keduanya. Belle duduk di kursi stainless itu dengan baju basah kuyup.


Sepi, derain hujan meramaikan kota ini. Belle duduk termenung, menatap kedepan dengan tatapan kosong. Kali ini ia masih bertahan, lalu bagaimana dengan hari-hari berikutnya. Belle tidak yakin bisa menahannya lagi.


Sampai akhirnya sebuah mobil bewarna silver berhenti tepat di depan Belle. Wanita itu tidak sadar,


masih melamun dengan genangan air memenuhi kedua kelopak matanya sebagai pelengkap penderitaannya.


"Elle, apa yang kau lakukan di halte sepi ini. Ayo kita pulang, Abigail menangis mencari mu!" ya dia adalah Steven saudara kembar Belle.

__ADS_1


Steven pulang ke London untuk menjemput keluarganya. Dia akan membawa mereka ke Valencia dan mengadakan pesta pertunangan disana.


Setelah berperang dengan batinnya sendiri, Steven mengambil keputusan untuk menikahi putri tunggal Hans Wilson. Selain karena pesona Ara yang menarik perhatian, Ara bisa akrab dengan Alessio.


Karena itu Steven menerima Ara sebagai pasangan hidup dengan segala kekurangannya.


"Aku lelah Steve, mencari alasan setiap kali Abigail bertanya mengenai keberadaan ayahnya. Aku bingung harus menjawab apa, semua usahaku sia-sia. Waktu dan uang ku terbuang tanpa menghasilkan hasil yang memuaskan. Aku menyerah!" keluh Belle. Memejamkan mata, bersamaan dengan itu setitik air mata jatuh membasahi kedua pipinya.


β€œElle kau manusia biasa, mengeluh sesekali tidaklah masalah. Tapi menyerah? Tuhan memberikanmu kesabaran seluas samudera dan kau ingin menyia-nyiakannya." tanya Steven, seraya memegang kedua pipi saudaranya. Dingin.


Entah berapa lama wanita ini berada dibawah guyuran hujan. Tanpa diminta, Steven melepas jas yang dia kenakan dan memakaikannya pada Belle.


"Menyerah memanglah pilihan terburuk, tapi kesabaran juga ada batasannya Steve, dan aku sudah melampaui batasan itu. Sekarang aku tidak tahan lagi, rasanya aku ingin berpasrah pada takdir tanpa berusaha mengubahnya." seketika tangis Belle pecah. Menyedihkan, Steven tidak tega melihat sauda kembarnya seperti ini.


"Bersabarlah sedikit lagi, Elle! aku yakin tidak lama lagi, kau bisa merasakan buah dari kesabaran mu ini." Steven memberikan pelukan hangat dan menyemangati Belle.


Belle juga harus merasakan kebahagiaan bersama dengan keluarga kecilnya sama seperti Steven dan Grace. Ketiganya memiliki alur kehidupan yang sama, merasakan kepahitan hidup dan berakhir dengan di datangi kebahagiaan bertubi-tubi.


Steven melirik Belle sekilas, sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Keduanya diam, enggan membuka suara. Memilih fokus dengan lamunan masing-masing. Sampai pada akhirnya Belle tertidur karena kelelahan.


...🍁🍁🍁🍁...


Lain halnya di belahan dunia yang lain, tepatnya di kota Cappadocia. Keenan tengah bercumbu bersama dengan wanita sewaannya. Pria itu tampak diam tanpa berekspresi, kala melihat wajah erotis wanita dibawah kungkungannya itu.


"Kee.." teriak wanita itu dalam desah*n kenikmatannya. Seketika Keenan berhenti bergerak. Dan menjauhi tubuh wanita itu, ya Keenan jijik mendengar suara dan merasakan sentuhan pelacur itu.


Keenan beranjak, membenahi pakaiannya yang berantakan. "Pulanglah ke negara mu! Aku tidak ingin melihat mu lagi, menjijikkan!" ketus Keenan menghina dan mengusir wanita sewaannya itu.


"Bukankah kau yang membawa ku kemari Kee? lantas kenapa kau mengusir ku sekarang." kali ini Asha mampu mempertanyakan wewenangnya. Tidak mau menggunakan bahasa formal, merasa di sepesial- kan Keenan.

__ADS_1


"Jaga batasan mu, j*lang! aku tidak membawa mu cuma-cuma. Aku membayar mu mahal. Sekarang pergilah, atau anak buah ku yang menyeret mu keluar tanpa memakai pakaian!" usir Keenan lagi.


Asha diam tak bergeming, sebelum akhirnya menatap Keenan dengan senyum semanis madu.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke negara ku. Hubungi aku jika kau merindukan servis ku!" Meletakkan kartu nama, sebelum meninggalkan kamar dengan pakaian sobek.


Keenan menatap kartu nama itu dengan senyum sinis, "berharap aku menemui mu lagi, jangan harap sialan," geramnya, membuang kertas kotak itu kedalam tempat sampah yang ada di sudut ruangan.


Keenan menyalakan handphonenya, menekan nomor Cristian. Ingin menghubungi bawahannya itu.


Tut..Tut..Tut.. telepon tersambung.


"Ya, tuan?" suara Tian menyapa dari seberang sana. Terdengar serak, seperti bangun tidur.


"Kau ada dimana?" tanya Keenan memastikan.


"Saya ada di rumah!"


"Kalau begitu, aku akan memberimu misi!" seru Keenan, membuat Cristian langsung melebarkan mata.


"Tapi saya sedang cuti, tuan!" elak Tian, malas beranjak dari kasur nyamannya.


"Kau membantah ku?" sentak Keenan tidak senang. Tian gelagapan sendiri.


"Eh, tidak tuan. Apa yang bisa saya bantu?" terpaksa Tian bangun dari alam mimpinya dan pergi bekerja.


"Cari tahu latar belakang wanita yang ku perkosa 3,5 tahun lalu di kota London!" seru Keenan memerintah. Sudah Keenan putuskan, dia akan mencari wanita yang membuat fokusnya terpecah belah selama 3,5 tahun ini.


"Ba- baik tuan!" Keenan menekan tombol merah, mengakhiri sambungan teleponnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2