Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
memutuskan pindah


__ADS_3

Keesokan paginya, Rachel mengunjungi kamar Ara untuk memberikan hadiah yang sempat tertunda. Semalam Rachel tak sempat menemui Ara, karena harus meluruskan semua kesalahpahaman atara Grace dan dirinya. Tak hanya itu, Rachel menghabiskan waktu bersama Peter semalam.


Maka dari itu Rachel pergi menemui Ara setelah sarapan bersama, pagi ini. Damian dan Grace pulang terlebih dulu ke New York. Maklumlah Damian pengusaha tersohor di Amerika. Tentu banyak klien berdatangan, ingin bertemu dengannya.


Berbeda dengan Peter, bisnisnya memang berkembang tapi dia tak sesibuk Damian. Karena itu, Peter dan Rachel memutuskan menetap sampai malam nanti.


Itupun tidak langsung pulang ke Las Vegas, melainkan langsung pergi berbulan madu. Tidak ada yang tahu bahwa Peter dan Rachel akan berbulan madu setelah pulang dari sini.


Negara yang mereka tuju juga telah ditentukan, Rachel ingin mengunjungi salah satu kota di Turki. Mendadak Rachel ingin mengunjungi negara itu dan menghabiskan waktu bersama Peter disana.


"Ara, bisa aku masuk kedalam?" tanya Rachel selepas mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Saat itu Ara tengah tengkurap dan bermain ponsel.


"Tentu, masuk saja, Re!" Ara bangkit dari posisi tengkurap- nya dan berganti posisi menjadi duduk. Rachel berjalan mendekat, duduk disamping Ara.


"Ini untukmu!" menyodorkan kotak hijau tosca. Dengan senang hati Ara menerimanya, Ini hadiah pertama yang Rachel berikan setelah menikah.


"Terimakasih, walaupun sebenarnya aku ingin mengambil foto bersama mu semalam!" kata Ara seraya menyimpan hadiah itu kedalam laci lemari.


"Maafkan aku Ara, semalam aku harus pergi menemui Grace dan meluruskan semua kesalahpahaman!"


"Why? ada masalah apa diantara kalian? apa kalian bertengkar?" tanya Ara penasaran. Semalam Ara tidak melihat keanehan diantara mereka.


"Tidak, hanya masalah kecil!"


"Iya aku tahu, tapi apa masalahnya jangan membuatku penasaran, Re." geram Ara, memaksa Rachel mengatakan masalahnya.


"Kau penasaran sekali ya?" Rachel tersenyum menggoda. Mengulur waktu agar Ara semakin penasaran.


"Iya, sekarang ceritakan padaku!" ketus Ara, menggembungkan kedua pipinya. Kesal.


"Saat aku menikah dengan Peter, Grace tidak datang karena tidak ada yang memberitahunya. Grace merasa aku tidak menganggapnya sebagai sahabat lagi, karena tidak tahu mengenai hubungan ini!"


"Kenapa kau tidak memberitahunya, aku bisa mengerti perasaan Grace. Mungkin aku juga kesal padamu saat tahu kau menikah tanpa sepengetahuan ku!"


"Itu dia masalahnya, aku tidak tahu nomor ponsel Grace yang baru sekaligus lupa." jawab Rachel jujur. Tidak menambah ataupun mengurangi fakta.


"Aku mengerti sekarang, tapi hubungan kalian sudah membaik kan?" Rachel mengangguk.


"Ya, semalam aku membujuknya dan berhasil. Tau sendiri kan selembut apa hati Grace!"

__ADS_1


"Ya dia wanita lemah lembut dan sedikit pemberontak!" kata Ara diakhiri dengan tawa renyah. "Lihat situasinya dulu Ara, sebelum kau menilai karakter orang. Tahu sendiri kan dia menikah karena paksaan." Rachel membela.


Ara tampak termenung, "kau benar. Tapi jujur saja aku menyukainya sejak pertemuan pertama kami. Dia wanita yang hangat dan ramah. Aku nyaman dengannya!" Rachel tersenyum, itulah kelebihan Grace. Gampang dekat dengan orang asing. Grace pribadi yang menyenangkan.


"Karena itu maafkan aku tidak sempat menemui mu semalam!" Ara mengangguk mengerti. Lagi pula ini bukanlah masalah besar.


"Kau sudah menemui Xavier?" tanya Ara.


"Sudah, Xavier adalah objek yang kutuju setelah bertemu Grace. Bisa melepas rindu yang selama ini ku tahan merupakan sebuah kebahagiaan terbesar bagi ku!" kata Rachel dengan senyum merekah.


"Ingin sekali aku membawa Xavier pulang bersamaku!" lanjut Rachel lagi. Ara tergelak, keponakannya memang sangat menggemaskan.


Setelah obrolan mereka berakhir, Rachel keluar dari kamar. Ia terkejut mendapati Damian dan Grace masih berada di ruang tamu.


Tadi mereka bilang akan pergi, tapi kenapa masih disini. "Kalian masih disini?" Grace menoleh dan mengangguk.


"Iya, ponsel Damian tertinggal tadi!" Rachel mengangguk-angguk dan ber- oh saja.


"Setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi, tempat tinggal mu begitu jauh dengan ku!" kata Grace sedih. Rachel pun ikut sedih, ia melirik Peter sekilas.


"Sebenarnya aku punya kabar baik, aku dan Peter akan pindah ke New York nanti!"


"Semalam Peter mengambil keputusan itu, sama seperti mu aku juga terkejut. Setelah ini kita akan sering bertemu!" ucap Rachel senang.


Damian menoleh kearah Peter, memandang Peter dengan tatapan bertanya-tanya. Namun, pria itu diam dan tersenyum sambil menatap istrinya yang bahagia.


"Wah, itu kabar membahagiakan. Aku akan menunggu saat-saat itu. Xavier pun tak perlu jauh-jauh datang ke Las Vegas untuk mencari mu!" senang Grace, lalu memeluk Rachel erat.


"Baby, bisa kita pergi sekarang? kita sudah terlambat!" Damian menyahut, menghentikan drama sepasang sahabat itu. Juga cemburu dengan Rachel. Tidak ingin Grace di peluk orang lain.


"Cih, tidak sabaran sama sekali. Aku akan mengunjungi mu nanti begitu sampai di sana!" Grace mengangguk, mengacungkan ibu jarinya.


Damian menarik Grace pergi, muak melihat interaksi keduanya. Entahlah, Damian masih kesal dengan Rachel semenjak kejadian pelarian itu. Dia tidak dendam, hanya merasa sedikit kesal.


...🍁🍁🍁🍁...


Tepat setelah makan malam, Peter dan Rachel pamit pada Hans dan Agatha. Jika kalian bertanya mengenai keberadaan Dominic dan Kanaya, pasangan Abbey itu pulang setelah pesta usai. Kanaya tidak ingin tinggal lebih lama, enggan merepotkan Agatha.


"Paman, bibi kami pamit pulang ya, jaga kesehatan kalian!" Rachel memeluk Agatha. Bukan hanya menyambutnya dengan baik, tapi Agatha juga memperlakukannya sama seperti Grace.

__ADS_1


"Bibi akan merindukan mu nak. Berkunjunglah kapanpun kau mau, pintu mansion ini selalu terbuka untukmu!" bisik Agatha dan Rachel mengangguk.


Setelah berpamitan keduanya masuk kedalam mobil, Rachel melambaikan tangan kearah Agatha. Dan tersenyum lebar.


"Mereka pasangan yang serasi ya!" seru Agatha pada suaminya. Hans tengah melamun sekarang.


"Takdir yang gila!"


"Sangat gila!"


"Aku tidak menyangka kedua gadis itu akan menjadi istri dari anak dan keponakan kita, yang sama-sama mempunyai sifat overprotektif dan arogant!" Hans merengkuh bahu Agatha.


"Aku tahu, tapi keduanya pasangan serasi bukan?" tanya Agatha lagi. "Ya, mereka pasangan serasi dan aku berharap mereka bahagia sampai maut memisahkan!" Hans mengecup kepala Agatha dan mengajak istrinya masuk kedalam.


...🍁🍁🍁🍁...


Sepanjang perjalanan, Peter dan Rachel saling mendiami. Sebelum akhirnya Rachel membuka bibirnya, bertanya mengenai kepindahan tempat tinggal mereka yang secara tiba-tiba itu.


"Kenapa kau memutuskan pindah ke new York?" tanya Rachel.


"Karena aku tidak mau kau merasa kesepian di Las Vegas. Bukankah kau ingin dekat dengan kakak ipar dan keponakan kita?" Rachel terdiam, tak menyangkal karena yang dikatakan Peter memang benar adanya.


"Lalu bagaimana dengan Gold Lion dan bisnis mu?"


"Aku memindahkan semuanya ke New York dan Keenan sudah mengurus segalanya dari satu Minggu yang lalu!" jawab Peter. Rachel membulatkan matanya terkejut. Tidak menyangka rencana ini bukanlah rencana dadakan. Tapi sudah Peter rencana dari jauh-jauh hari.


"Kau senang kan?" Rachel langsung mengangguk.


"Sangat, dan rasanya cintaku padamu semakin bertambah!"


TBC


Jalan ceritanya beda banget kan gaes, emang author buat seperti itu biar bisa dibaca terpisah jadi jangan heran ya.


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πŸ™‚πŸ™‚πŸ€—πŸ€—πŸ€—


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2