Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Kasihan sekali kau!(Revisi)


__ADS_3

Di perusahaan..


Rachel tengah membereskan barang-barangnya. Bersiap hengkang dari perusahaan. Dua minggu bekerja membuatnya merasa sedikit lelah. Sekarang, Rachel berniat fokus pada kehamilan dan rumah tangganya saja. Biarlah Peter yang bekerja dan dia akan bersantai di mansion sampai tua nanti.


"Hari ini hari terakhir aku bekerja di perusahaan ini. Mau makan siang bersama?" tawar Rachel pada Keenan.


"Tentu, lagi pula saya tidak bisa menolak ajakan anda nona. Tuan Peter pasti marah jika saya tidak menuruti anda!" mendengar itu Rachel tergelak kecil.


Bersama Keenan membuatnya sedikit merasa senang. Ya walaupun terkadang pria itu sangat menyebalkan, namun Rachel bersyukur mendapat rekan kerja sepintar dan setenang Keenan. Terlepas dari betapa kesalnya dia saat melihat wajah datar tanpa ekspresinya itu, yang jelas Rachel kagum dengan skill yang dimiliki Keenan.


"Ngomong-ngomong, apa anda sedih karena harus berhenti bekerja nona?" tanya Keenan memastikan.


"Hei apa kau benar-benar Keenan yang aku kenal. Tumben kau mempedulikan perasaan ku!" bukannya menjawab, Rachel malah menggoda Keenan. Seandainya Peter tahu percakapan mereka kini, mungkin kepala Keenan sudah terlepas dari tempatnya sekarang.


"Saya hanya bertanya, kenapa anda pede sekali!" sahut Keenan pedas. Rachel mengerucutkan bibir, lalu mendelik sebelum akhirnya membuang muka ke arah lain.


"Aku tidak sedih, dua minggu bekerja sudah cukup membuat ku senang. Dari awal aku sudah sadar pada posisi ku, aku hanya pemimpin sementara. Tempat ku bukan di sini tapi di hati suami ku!" niatnya ingin bercanda. Tapi entah kenapa Keenan merasa candaan itu sangatlah garing.


"Lagi pula aku ingin fokus pada kehamilan ku saja." lanjut Rachel, menatap Keenan dengan tatapan bersahabat seraya mengulum senyum tipis.


Melihat Rachel tersenyum tanpa beban sama sekali membuat rasa kasihan Keenan terhempas begitu saja. Raut mukanya berubah menjadi datar kembali, Keenan yang dingin dan cuek telah kembali.


"Oh ya, apa kak Belle membawakan mu bekal hari ini?" bukan apa-apa, Rachel tidak ingin Keenan Menyia-nyiakan masakan Belle karena ajakannya.


"Tidak, karena itu saya menerima ajakan anda nona!" seketika Rachel menatapnya tajam, sialan Keenan menjadikan Rachel cadangan ternyata. Andai Belle membawakan Keenan bekal hari ini, pasti pria itu akan menolak makan siang bersama.


"Tumben Belle tidak membawakan mu bekal."


"Belle bangun kesiangan setelah berolahraga bersama ku semalam!" jawab Keenan berterus terang. Tidak sungkan ataupun merasa malu.


Bagian bawah mata kanan Rachel berkedut dengan sendirinya. Merasa malu mendengar jawaban mesum dari sekertaris suaminya ini. Bisa-bisanya Keenan menjawab dengan wajah bangga seperti itu. Menjijikkan.


"Entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa kasihan pada Belle!"


"Kenapa?" tanya Keenan tidak mengerti.


"Karena sudah di paksa menikah dengan predator bermulut pedas seperti mu!" bravo, Rachel dan Keenan sangat cocok bekerja sebagai pengacara. Keduanya sama-sama suka berdebat dan bermulut pedas.

__ADS_1


Padahal baru beberapa menit yang lalu keduanya mengobrol seperti orang normal pada umumnya. Rachel malah memancing emosi Keenan kini. Apa Rachel lupa menaruh rem pada mulut Blak-blakkan nya itu.


"Kenapa anda senang sekali mengkritik saya nona. Belle menyukai hewan buas seperti saya. Kenapa anda yang merasa keberatan?" cecar Keenan sebal.


"Itu bukan suka tapi terpaksa. Pasti kau mengancamnya kan?" entah sampai kapan pembicaraan tidak berfaedah ini berakhir. Semakin lama Rachel semakin gencar melemparkan tuduhan yang bukan-bukan pada Keenan.


Baru kali ini ada orang yang berani merendahkan Keenan sampai di titik ini. Lebih aneh lagi Keenan selalu menanggapi setiap ucapannya dan berakhir dengan perdebatan panjang.


"Saya tidak mengancamnya nona, Belle menyerahkan dirinya dengan suka rela. Saya sebagai pria sejati hanya bisa melayani dengan sepenuh hati!"


"Dasar mesum, sudahlah aku mau makan. Kau jadi ikut tidak?" tanya Rachel dengan alis berkerut. Nada suaranya terdengar ketus. "Karena saya lapar, saya ikut makan!"


Setelah itu Keenan mengikuti Rachel dari belakang. Keduanya makan di restauran depan perusahaan karena kantin perusahaan sedang penuh sekarang.


"Kau yang memesan ya, aku akan mencari tempat duduk!" suruh Rachel. Dan Keenan mengiyakannya.


"Anda ingin makan apa nona?"


"Aku ingin spaghetti carbonara sama telur dadar. Untuk minumnya aku mau jus mangga!" Keenan mengangguk paham. Lalu berdiri di barisan antrian membiarkan Rachel pergi mencari tempat duduk.


Restauran ini bukan restauran mewah dimana pelayan akan menghampiri satu persatu meja dan mencatat pesanan tamu. Semua pengunjung harus mengantri untuk memesan sekaligus membayar.


10 menit menunggu, akhirnya makanan yang mereka pesan sudah siap. Rachel dan Keenan memakan makanannya dengan khidmat. Tidak ada pembicaraan sama sekali, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu kian beradu.


"Kee!" panggil Rachel, setelah selesai makan. Keenan mendongak lalu mengangkat sebelah alisnya. Menunggu kalimat Rachel selanjutnya.


"Coba ceritakan kehidupan mu bersama Belle setelah menikah!" pinta Rachel membuat Keenan membulatkan matanya terkejut.


"Anda ingin saya menceritakan apa? malam panas saya bersama Belle atau cara Belle merayu saya setiap malam? mungkinkah anda ingin menerapkannya pada suami anda nanti?" entah kenapa, setiap jawaban Keenan selalu mengarah pada hal-hal berbau dewasa. Mungkinkah Keenan sudah sangat merindukan Belle sekarang.


"Tutup mulut mu, kau ingin ku pukul?" Rachel mengangkat satu tangannya ke udara. Mengambil ancang-ancang hendak memukul Keenan.


"Saya bertanya nona, kenapa anda sensi sekali!" apa dia bilang tadi, sensi? hello bagaimana Rachel tidak marah jika semua jawabannya mengarahkan pada hal-hal mesum.


"Yang ku tanyakan tentang kegiatan sehari-hari. Bukan bagaimana cara Belle merayu mu atau cara kalian bercinta. Lama-lama bisa gila aku menghadapi manusia dungu seperti mu!" sungut Rachel kesal.


Sudah tidak mempedulikan tatapan aneh dari pengunjung setempat. Sungguh, Keenan benar-benar membuatnya kehilangan akal dalam sekejap.

__ADS_1


"Oh jadi itu maksud anda. Baiklah saya akan menceritakannya!"


"Setiap hari Belle selalu bangun pagi dan memasak sarapan untuk keluarga. Karena sibuk dengan pekerjaan rumah, Abigail jadi terlantar. Jadi mau tidak mau, saya selalu menyiapkan Abigail setiap pagi. Mulai dari mandi, memakai baju, sampai menata rambut semua saya lakukan dengan kedua tangan saya sendiri. Terkadang saya juga membantunya mencuci piring setelah makan malam!"


"Kau tidak menyewa pembantu?"


"Tadinya saya ingin menyewa asisten rumah tangga, tapi Belle menolak dan berkata ingin mengerjakan semuanya sendiri. Saya pernah memaksa, tapi Belle selalu mengancam tidak akan memberikan saya jatah!" jelas Keenan dengan wajah lesu.


Sontak tawa Rachel pecah, tidak menyangka pria sedingin Keenan bisa takut pada seorang wanita. Parahnya Keenan jadi penurut setelah di ancam tidak di beri jatah.


"Kasihan sekali kau!"


"Tapi saya senang dengan kehadiran wanita galak itu. Kehadirannya membuat Hari-hari saya dipenuhi warna. Yang tadinya apartemen saya terlihat sepi, kini selalu ramai akan canda tawa putri dan istri saya. Setiap saya pulang selalu ada yang menyambut. Dan lebih senang lagi saya tidak perlu memesan makanan dari luar karena Belle selalu menyiapkannya setiap saya merasa lapar." balas Keenan cepat. Setiap jawaban yang terlontar, seakan ingin menjelaskan jika dia bahagia hidup bersama Belle.


"Kau sangat mencintai Belle rupanya!"


"Itu sudah pasti, jika saya tidak cinta kenapa saya harus menikah!" jawab Keenan sekenanya. Benar juga kata Keenan, kalau saja Keenan tidak punya rasa terhadap Belle. Lalu kenapa dia harus bertanggung jawab dan menikahi Belle.


Keenan bisa saja menelantarkan Belle dan Abigail. Namun, alih-alih melakukan hal buruk itu. Keenan memilih bertanggungjawab dan menjaga mereka dengan sepenuh hati.


"Lalu kau tidak berniat memiliki anak kedua dengan Belle?" tanya Rachel. Menaik turunkan alisnya, mencoba menggoda Keenan.


"Ya kami sedang berusaha sekarang!"


"Bagus sekali, kalau anak kedua kalian perempuan dan anak pertama ku laki-laki. Jodohkan saja mereka, bagaimana?" tawar Rachel dengan senyum konyolnya.


"Saya menolaknya nona, sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan putri-putri saya terlibat dengan keluarga anda!"


"kenapa? aku bisa menyayangi mereka seperti putri ku sendiri!"


"Kasih sayang anda memang tidak bisa di ragukan lagi. Masalahnya, putra anda jelas meneruskan posisi ayahnya. Mungkin saja dia juga menjabat sebagai pemimpin mafia nanti!"


"Lalu apa masalahnya?" tanya Rachel heran. Nyatanya menikah dengan pemimpin mafia tidak seburuk yang Keenan bayangkan. Bahkan sangat seru karena banyak tantangan yang harus mereka lewati bersama-sama. Entah itu pembunuh bayaran, musuh bebuyutan, lawan bisnis, semuanya tidak terdengar menakutkan.


"Pemimpin Mafia selalu memiliki banyak musuh. Saya tidak ingin putri saya terluka karena musuh-musuh suaminya!" jelas Keenan lagi. Rachel terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang.


Kalau tidak mau yang sudah. Rachel tidak ingin memaksa Keenan. Awalnya Rachel hanya bercanda tapi sepertinya Keenan serius dengan semua ucapannya.

__ADS_1


"Kalau tidak mau ya sudah, aku tidak memaksa!" cibir Rachel datar. Sedikit kecewa, tapi tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima kenyataan.


TBC


__ADS_2