
Selama setengah hari pesawat mereka terbang di atas udara. Akhirnya mereka tiba di kota Milan. Semua orang merasa bosan, bagaimana tidak. Mereka hanya bisa duduk dan tidur saja. Namun, kini mereka bisa berkeliaran ke sana kemari menjelajahi kota Milan.
"Kita sudah sampai, sayang!" Peter membangunkan Rachel yang tertidur di sampingnya. Rachel tampak kelelahan dan wajahnya terlihat pucat.
"Aku merasa tidak enak badan!" gumam Rachel jujur. Tubuhnya lemas seolah tidak menyimpan tenaga sama sekali.
"Apa kau sakit?" Peter bergegas menempelkan punggung tangannya ke dahi Rachel. Dan benar saja Rachel demam ringan.
"Aku akan menggendong mu!" Peter menggendongnya Rachel ala bridal style dan membawanya keluar dari pesawat.
"Tuan, suruhan paman anda ada di sana!" Keenan menunjuk 4 orang berjas rapi. Sepertinya mereka datang untuk menjemput.
"Tuan, silahkan ikuti kami!" Peter mengangguk dan mengikuti mereka dari belakang. Yang terpenting Rachel mendapat pertolongan sekarang.
"Bisa tolong panggilkan dokter, istri ku demam!" lantas lelaki pria paruh baya itu mengangguk. Dan segera menelfon dokter kelurga.
"Dokter keluarga sudah saya hubungi tuan. Begitu sampai, nona muda akan langsung di periksa!" ucapnya setelah menelpon.
"Kalau begitu, bawa kami ke hotel terdekat. Aku tidak mau membuat semua orang khawatir!" bukan Peter yang meminta. Tetapi Rachel.
"Tapi-"
"Turuti saja, ini demi kebaikan kita semua!" Peter memotong. Tahu isi pikiran Rachel.
"Baik tuan, saya akan mengantarkan anda ke hotel milik tuan besar!" Peter pun mengangguk. Setuju. Alhasil arah mobil berlawanan dengan arah mansion Hans Wilson.
"Apa sepupu ku sudah tiba?" tanya Peter pada pria tua itu. Sepertinya Peter cukup akrab dengan pengurus rumah.
"Tuan muda sudah tiba dari kemarin tuan!" pria tua itu menjawab dengan sopan. lalu kembali fokus pada jalanan.
"Pernikahannya di adakan nanti malam kan?" bukan Peter yang bertanya tetapi Rachel. Meskipun dalam keadaan lemas dan bersandar pada sang suami. Wanita itu masih aktif membuka suara.
"Ya nona!" jawab pak tua itu dengan ramah dan sopan. Seakan-akan Peter dan Rachel adalah majikannya.
__ADS_1
"Itu artinya kita bisa terlambat jika tidak bersiap-siap dari sekarang!" gumam Rachel pelan. Namun masih bisa Peter dengar.
"Tidak usah khawatir baby! masih ada waktu tiga jam. Kau bisa gunakan tiga jam itu untuk beristirahat. Tidak datang pun tidak masalah!" sahut Peter. Meyakinkan.
"Lalu hadiahnya, aku tidak membawa apapun!" serunya. Bingung. Tidak mungkin mereka datang dengan tangan kosong. Yang ada Peter akan malu nanti.
"Jangan pikirkan itu. Aku akan menyuruh Keenan membelikan hadiah yang kau inginkan!" Peter menggenggam kedua tangan Rachel dan mencium puncak kepalanya.
"Apa tidak papa?" sebenarnya Rachel sedikit sungkan merepotkan Keenan. Ingat, sekarang asisten itu sibuk mengurus Abigail.
"Tidak masalah, dia bekerja dan aku membayarnya. Jadi tidak usah sungkan!"Rachel tersenyum kecil dan mengangguk.
"Sekarang tidurlah, aku akan membangunkan mu nanti!" Peter menarik pelan kepala Rachel agar mau bersandar pada dadanya.
...ππππ...
Setibanya di hotel bintang lima milik Hans Wilson. Peter turun dari mobil. Ia menggendong Rachel yang sudah tertidur masuk kedalam bangunan bercakar itu.
"Kamar anda ada di lantai paling atas tuan!" membukakan pintu lift. Sangking ramahnya pengurus tersebut mengantarkan mereka sampai ke atas.
"Baik tuan! kalau begitu saya pamit dulu!" balas pengurus rumah itu dan berlenggang pergi setelah membukukan badan.
Pintu pun tertutup. Dengan hati-hati Peter meletakkan tubuh Rachel ke atas ranjang. Bagaimana ini, dokter keluarga sudah pasti datang ke mansion pamannya. Kenapa Peter baru ingat akan hal itu.
Ting! tong! bel kamar berbunyi. Peter pun membukanya meskipun dia malas. "Tuan, ini dokter yang anda minta!" celetuk pengurus tersebut. Sepertinya pria tua itu masih belum kembali ke mansion.
Peter akui dia cukup kagum dengan kepekaan pak tua itu. "Aku kira kau sudah pulang!" Peter bergeser, memberi jalan untuk kedua orang itu.
"Masih belum tuan. Setelah ini baru saya pulang!"
"Tolong jangan katakan apapun pada keluarga ku ya. rahasiakan tentang kondisi Rachel. Aku tidak ingin mereka khawatir." tutur Peter dengan suara lembut.
Meskipun dia kejam dan jahat, tetap saja Peter menghargai orang tua. Bahkan pak tua ini sudah mengabdi pada pamannya selama bertahun-tahun.
__ADS_1
"Saya mengerti, kalau begitu saya akan kembali ke mansion utama! permisi!" pengurus tersebut pun menutup pintu kamar tanpa menimbulkan suara.
"Periksa istri ku!" kini Peter beralih pada dokter tersebut. "Baik tuan!"
Bergegas dokter itu mengeluarkan semua peralatannya dan mulai memeriksa kondisi Rachel. Mulai dari denyut nadi sampai detak jantung dokter itu periksa.
"Saya rasa nona Rachel hanya kelelahan saja!" ucapnya di sela-sela kegiatan.
"Tapi perjalanan New York ke milan tidak sampai setengah hari. Apa dia lelah karena perjalanan?" tanya Peter penasaran. Biasanya Rachel baik-baik saja meskipun mereka berada di pesawat sehari full.
Apa mungkin Rachel sedang tidak fit karena itu Rachel tiba-tiba sakit. "Ini hal yang wajar tuan. Di usia kehamilan seringkali ibu hamil mudah lelah. Tapi tidak usah khawatir, karena sepertinya istri anda rajin minum vitamin yang diresepkan dokter ahli. Calon anak anda baik-baik saja sekarang!" jelas dokter tersebut.
Shock sudah pasti, tetapi hatinya senang mendengar kabar baik ini. Dokter ini bilang Rachel sering mengkonsumsi vitamin khusus. Apa Rachel sudah tahu tentang kehamilannya ini.
Jika iya kenapa Rachel menyembunyikannya. Pasti ada alasan khusus. Saat ini dia tidak boleh gegabah. Tunggu saat Rachel bangun dan dengar penjelasan wanita itu.
Pasti ada alasan khusus mengapa wanita itu menyembunyikan kehamilannya. "Tuan, anda baik-baik saja?" dokter itu menepuk lemah pundak Peter. Menyadarkan Peter dari keterkejutannya.
"Aku baik-baik saja!" jawab Peter gelagapan.
"Ngomong-ngomong berapa usia kandungan istri ku?" tanya Peter lagi. Bukannya menjawab, dokter itu malah mengernyitkan dahi. Bingung.
"Anda belum tahu tuan?" sedikit aneh, jika Rachel meminum obat yang diresepkan dokter. Itu artinya Rachel pernah memeriksakan diri. Lalu, bagaimana bisa Peter yang merupakan suaminya tidak tahu tentang keadaan istrinya sendiri. Bahkan kabar baik itupun Peter baru mengetahuinya sekarang.
"Sepertinya dia sengaja menyembunyikan keadaannya. Jadi katakan saja!" tukas Peter tegas. Membuat dokter itu takut.
"Sekitar tiga bulan tuan!" selama itu. Dan Peter baru mengetahuinya sekarang. Ayolah Peter merasa kesal sekarang. Bagaimana bisa Rachel menyembunyikan berita menggembirakan itu.
Persetan dengan alasan apapun itu. Yang jelas Peter akan menghukum Rachel nanti. Buah hati mereka akan segera lahir. Dan Peter tidak sabar akan hal itu.
"Berikan vitamin ini pada istri anda. Saya rasa dia lupa meminumnya tadi." memberikan satu bungkus vitamin yang sama.
"Baiklah dan terimakasih!!"
__ADS_1
TBC