
Kalau nggak kuat skip aja manteman, author aja juga mual bacanya.ππππ
" Maaf, tapi aku harus pergi!" bisik Peter berpamitan. Perasaan bersalah lagi-lagi menghampiri, sampai kapan Peter harus menyembunyikan pekerjaannya ini. Memang tidak sekarang, tapi suatu hari Rachel pasti tahu.
Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga.
Tap! tap! tap! Peter menuruni tangga, melangkah pergi ke arah pojok mansion. Dimana sebuah pintu coklat tua, pernah Rachel temukan malam itu berada.
Tangga gelap, itulah objek yang pertama kali terlihat, kala pintu besar itu terbuka. Peter melangkah masuk, tanpa membawa senter ataupun obor.
Pria itu tampak santai, berjalan sambil bersiul menikmati indahnya kegelapan yang lama ia rindukan.
Anehnya Peter tidak terjatuh ataupun tersandung, Peter bak berjalan diatas aspal mulus tanpa lubang ataupun tanjakan.
Bau busuk bercampur amis dipadukan dengan jerit tangis seluruh tahanan, semakin menaikkan adrenalin Peter untuk membunuh.
Suara sepatu kulit Peter, bergesekan dengan lantai, menghasilkan suara derap yang menandakan alarm bahaya bagi para tahanan.
Semua tahanan penghuni sel, langsung menjauhi besi tinggi yang mengurungnya itu. Padahal Peter tidak melakukan apapun, menoleh pun tidak.
Anehnya mereka pergi menjauh dan memilih meringkuk di pojok ruangan berharap tak ditatap oleh sang penguasa kegelapan.
" Akh!" jerit tangis memilukan dari salah satu tahanan yang tidak lain adalah perentas amatir itu.
Menyedihkan, pria itu tampak menahan lengan kekar yang mencekik lehernya kuat.
" Jangan terburu-buru melenyapkannya Kee, aku ingin mengobrol dengannya sebentar." ujar Peter, menghentikan telapak tangan Keenan yang menekan kuat leher panjang itu.
" Lepaskan ikatannya juga," lanjut Peter. Keenan membelalakkan mata, apa maksudnya ini. Belum pernah sekalipun Peter melakukan ini pada tahanan ataupun korban yang akan di eksekusi.
" Tapi tuan.."
" Aku bilang lepaskan ikatannya," pinta Peter lagi. Suara tegas dan wajah serius Peter tampakkan, pertanda jika dia tidak ingin dibantah.
Helaan nafas berasal dari rongga mulut Keenan terdengar berat. Namun, setelah itu Keenan melepaskan ikatan pria yang baru saja dia cekik.
Setelahnya Keenan menyingkir, memilih mengamati pertunjukan yang segera di mulai dari pojok ruangan. " Kalau kau ingin aku membuka mulut, lupakan saja. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan mengatakan apapun pada mu," serunya dengan keyakinan dan keteguhan penuh.
Peter akui sebagai anggota, perentas itu bisa dibilang setia. Tapi sayangnya kesetiannya itu telah dimanfaatkan oleh pemimpin kelompoknya. Lebih lucu lagi, perentas itu tidak sadar tengah dipermainkan sang atasan.
Gelak tawa mengejek terdengar dari bibir Peter, untuk apa dia mengintrogasi tatkala semua informasi sudah dia dapatkan dari ayah Rachel.
__ADS_1
Peter ingin mengobrol santai, merilekskan pikiran perentas itu sebelum ajal menjemput. " Tidak usah repot-repot, aku tidak berniat menanyakan informasi mengenai kelompok murahan mu itu."
" Lalu, apa yang kau inginkan dariku?"
" Hm, bukan hal penting. Aku ingin mengobrol sebentar, sebelum kedua tangan ku ini mencabut jantung berharga mu dari tempatnya berasal."
Glek! perentas itu menelan ludahnya susah payah. Melihat mata kelam Peter, terasa mengintimidasi dan membangkitkan kerisauan dalam diri.
Pikirannya tertuju pada keluarga kecilnya, mungkin mereka tengah menunggu kepulangannya sekarang. Menyedihkan, padahal anak pertamanya baru lahir dua bulan yang lalu.
Seharusnya, dari awal dia tahu. Bergabung dengan kelompok gelap menjadikan nyawanya sebagai taruhan.
" Melihat raut memelas mu itu, aku yakin kau memiliki keluarga," tebak Peter. Tepat pada sasaran, sontak perentas itu melemparkan tatapan tajam. Mengancam Lewat tatapan itu.
" Jangan menyentuh anak dan istri ku, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini." pinta pria itu, kali ini dengan nada suara lembut dan tatapan bersahabat.
" Cih, aku tidak sekeji itu. Untuk apa aku melenyapkan orang yang tidak menggangu ketenangan ku. Hanya saja, aku ingin mengirim uang sebagai tebusan atas nyawamu itu!"
" Kenapa," tanyanya dengan dahi berlipat.
" Sudah ku jawab bukan, untuk menebus nyawamu, bodoh!"
" Aku tahu, tapi bukankah pemimpin ku akan menjamin kehidupan keluarga ku, begitu aku tiada karena menjalankan misi?" naif sekali, Peter merasa kasihan kini.
" Asal kau tahu, Black butterfly, tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun pada keluarga mu meskipun kau tewas karena mempertahankan rahasia mereka!" jelas Peter.
" Apa yang kau katakan?" tanya perentas itu kebingungan. " Bodoh, seharusnya kau menggali informasi sebelum masuk kedalam kelompok mereka!"
" Apa maksud mu, jangan bertele-tele. Katakan detailnya, Sialan!" marah perentas itu. Tangannya mencengkram erat kerah kemeja Peter.
" Santai, dude! aku akan membeberkan semua fakta yang mereka tutupi dari mu. Tapi, apa kau tidak pernah merasa curiga sedikitpun pada mereka sebelumnya?"
" Tidak, aku baru bergabung setengah yang lalu."
" Ck ck, polos sekali, setidaknya baca perjanjian ataupun peraturan yang mereka beritahukan. "
" Sudah, tapi tidak ada hal yang mencurigakan dalam perjanjian itu." perentas itu tampak bingung, menebak dalam diri arah pembicaraan Peter.
" Pemimpin BB, memprioritaskan kekuasaan dan wewenang. Anggota, hanya sebagai pelengkap ataupun alat pembantu mencapai tujuan. begitulah prinsipnya."
Seolah kaget dengan penjelasan Peter, lantas perentas tersebut membulatkan mata. Kilap cahaya temaram memantul dari netra hitamnya, bibir yang semula mengantup kini sedikit terbuka. Seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
__ADS_1
" Maksud mu, mereka tidak akan bertanggung jawab atas kematian kami, walaupun kami berusaha menutup mulut dan merahasiakan semua informasi?"
" Tepat sekali, selama ini kalian telah di bodohi." Peter menyahut seraya memakai sarung tangan karet bewarna hitam.
" Kau sudah siap?" pertanyaan menakutkan itu terlontar begitu saja. " Apa?"
" Tidak usah shock, rileks saja!" saran Peter.
Gila, hanya orang sinting yang mau mengikuti saran dan ucapan seorang psikopat. Pria itu bak dokter bedah, kala memilah benda-benda tajam yang berjejer rapi di tengah ruangan.
Melihat Peter memilih pisau bedah, lantas perasaan takut menyelubungi hati perentas itu. Rasa khawatir akan kehidupan anak dan istrinya membayangi isi kepalanya.
Perentas itu bukanlah psikopat seperti Peter. Dia masih memiliki hati, dan kelemahannya ada pada keluarga kecilnya.
Padahal dengan lantang perentas itu berucap lebih baik mati dari pada melanggar janji tadi. Namun, semua monolognya berubah tatkala mendengar fakta mengejutkan itu.
" Karena kasihan, cara ku memberikan kematian pada mu tidak akan menyakitkan. Jadi jangan khawatir, "
" Aku juga akan menyalurkan dana pada istrimu dan menjamin pendidikan anakmu itu!"
" Apa yang kau lakukan?" tanya perentas itu, saat melihat Peter mendekat dengan suntikan berisi cairan putih bening.
" Tentu saja melenyapkan mu!" puk! Peter menusukan jarum suntik ke leher perentas itu. Membiarkan obat bius masuk kedalam tubuhnya.
Tak menunggu waktu lama, perentas itu mulai mengantuk sampai pada akhirnya menutup mata. Peter tersenyum smirk, mulai melakukan aksi dengan menggambar abstrak disekitar lengan.
" langsung saja pada intinya," gumam Peter.
Srek! darah bercucuran keluar memercik mengenai wajah tampannya. Tampaklah organ tubuh yang diincarnya. Jantung yang sudah tidak berdetak.
Dengan sekali tarikan, Peter mengeluarkan jantung itu dan tersenyum penuh kebanggaan. Seolah dirinya baru mendapat hasil buruan yang berkali lipat besarnya.
Brak! Peter menoleh kearah sumber suara, netra coklatnya bergetar kala melihat Rachel berdiri dengan wajah pucat pasi dan tatapan ketidak percayaan.
" Kau psikopat gila.."
TBC
Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gk memaksa tapi like dan komen ya makasih! πππ€π€π€
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. π