
"Steven siapa?" Peter mencoba mengingat beberapa pebisnis dan artis terkenal yang dia kenal, tapi sepertinya tidak ada yang namanya Steven. Jangan bilang bilang Steven yang itu.
"Kakaknya Grace," Peter membulat, tidak percaya. Sebenarnya ia membenci Steven karena suka memeluk Rachel.
"Kenapa harus Steven?" lirih Peter, namun masih bisa di dengar Damian.
βKarena hanya dia yang mau menerima Ara dengan semua kekurangannya!" Peter terdiam, masih tidak rela adik kesayangannya menikah dengan Steven.
"Sepertinya kau tidak bisa datang menghadiri acara pertunangan mereka!" terka Damian. Tidak memungkinkan bagi mereka kembali sekarang. Meskipun mereka pulang, mereka akan terlambat dan mungkin acaranya sudah selesai saat itu.
"Tapi saat menikah aku pasti datang!" sahut Peter.
"Ya, bawa hadiah yang bagus untuk adik ku itu."
"Ck, kau pikir kau saja yang kakaknya!" Peter kesal karena Damian tak menyebutnya sebagai kakak laki-laki Ara.
"Ya, terserah mu. Aku tidak peduli! sudah ya aku ada perlu dengan istri ku. Bilang pada istrimu jangan mengganggu waktu kami lagi. Jika tidak, aku akan melenyapkannya.β Damian kesal tatkala melihat Grace sibuk dengan handphone dan mengabaikan dirinya.
Tut..Tut..Tut sambungan telepon berakhir. Peter berdecak kesal kala Damian menutup teleponnya secara sepihak. "Ada apa?" tanya Rachel seraya mengunyah jagung bakarnya. Peter mengendikkan bahu, memasukan handphonenya kedalam saku celananya kembali.
"Ef bilang, Ara dan Steven akan bertunangan besok!" Rachel mengangguk, nampak biasa saja, tidak terkejut karena Grace sudah memberitahunya tadi pagi.
"Oh, aku kira itu hal penting ternyata kabar pertunangan Ara dan Steven!" Peter menaikkan sebelah alisnya. Terkejut melihat ekspresi Rachel.
"Apa-apaan ekspresi mu itu, jangan bilang kau sudah tahu!" tuding Peter penuh kecurigaan. Tentu Rachel langsung mengangguk, mengakui.
"Tadi pagi, aku menghubungi Grace. Dan Grace memberitahu ku perihal masalah pertunangan mereka." tersenyum polos tanpa dosa.
"Kenapa baru memberi tahu ku sekarang, kita bisa pulang lebih awal dan menghadiri acara pertunangan mereka, sayang!" kesal Peter, tidak ingin melewatkan momen tersebut.
"Tadinya, aku ingin memberi tahu mu. Tapi Grace melarang dan menyuruh kita menghabiskan waktu bulan madu kita!"
__ADS_1
Grace lagi, Grace lagi. Pantas saja Damian kesal dengan Rachel. Wanita ini benar-benar suka mengobrol dengan Grace melalui telepon.
"Seberapa sering kau menelepon kakak ipar?" Rachel menatap Peter dengan tatapan penuh tanda tanya. Tidak mengerti maksud dari pertanyaan suaminya.
"Setiap hari, di pagi dan malam hari!" Peter berdecih, tidak mengira Rachel selalu mengganggu momen romantis sepupunya.
"Sayang, bisakah kau berhenti mengganggu kakak ipar? Ef marah karena kakak ipar lebih senang berbicara dengan mu di telpon dari pada dengan dirinya!" geram Peter, menyampaikan keluhan sepupunya pada sang tersangka.
"Mungkin si Damian tidak semenarik diri mu, sayang. Karena itu Grace berpaling!" dalih Rachel, tidak mau di salahkan.
"Kau menggoda ku?"
"Aku menyampaikan kenyataannya!" sedetik kemudian semburat kemerahan memenuhi kedua pipi Peter. Tidak menyangka malam ini, dirinya mendapat pujian dari istri tercinta.
Peter berdehem singkat sebelum kembali membuka suara. "Tetap saja kau harus mengurangi waktu mengobrol mu itu! kau tahu, Ef, mengancam akan melenyapkan mu, jika kau masih mengganggu waktunya bersama kakak ipar!" Rachel mengerutkan alis, memandang Peter dalam.
"Jadi kau ingin aku menjauhi sahabat ku?" kenapa wanita selalu ingin di mengerti tapi tidak ingin mengerti. Bukan itu maksud Peter. Dia hanya ingin Rachel tidak terlalu sering menghubungi Grace.
"Dengarkan aku!"
"Tunggu!" Peter mencengkeram pergelangan tangan Rachel, menghentikan langkah wanita itu.
"Katanya ingin membuat anak?" Peter menatap Rachel penuh harap. Tidak ingin jatah hariannya terlewatkan.
"Tidak jadi, aku tidak mau berdekatan dengan orang jahat seperti mu!" kata Rachel seraya menghempaskan tangan Peter dan melanjutkan langkah kakinya. Meninggalkan Peter dengan segala rasa frustrasinya.
"Malam ini, sepertinya aku harus bersolo karir!" gumamnya lirih. Mengasihani diri sendiri.
...ππππ...
Keenan duduk di atas ranjang kamar, memeriksa lembaran-lembaran putih berisi informasi mengenai wanita yang di tidurinya 3,5 tahun lalu. Keenan memahami setiap kata, tak melewatkan satu kalimat pun.
__ADS_1
Betapa senangnya dia saat mendapati foto seorang wanita muda seraya menggendong seorang anak kecil berusia 2,5 tahun sambil tersenyum ceria.
hatinya menghangat kala mengetahui bahwa wanita itu telah melahirkan seorang putri. Darah dagingnya. Namun, pantaskah Keenan di sebut ayah yang baik. Mengingat dia telah menelantarkan keduanya. Keenan merasa tidak pantas berada di antara mereka.
Keenan melemparkan dokumen itu ke atas ranjang, dan berlalu pergi. Ia ingin menenangkan diri dan minum sepuas hati. Karena itu Keenan pergi ke klub terdekat dan menghabiskan malam di sana.
"Berikan aku sebotol wine!" Keenan memesan minuman pada seorang bartender. Tak lama setelah itu, seorang wanita seksi masuk kedalam ruangan pribadinya dan meletakkan sebotol wine pesanannya.
"Aku akan menemanimu tuan!" Keenan tak menjawab, bersikap acuh. Pikirannya tertuju pada satu nama. Belle Krayle Elard. Ibu dari anaknya sekaligus kakak dari istri sepupu tuannya. Takdir yang gila, Keenan tak menyangka dirinya akan terlihat dalam lingkaran keluarga mereka.
"Saya akan menuangkannya!" wanita tersebut membuka tutup botol dan menuangkan wine merah pekat itu kedalam gelas Keenan.
"Silahkan, tuan!" Keenan meraihnya tanpa banyak bicara ataupun mengucapkan terimakasih.
"Pergilah, aku tidak butuh pelayanan tambahan!" usir Keenan, muak melihat wanita dengan pakaian seksi itu.
"Saya tidak menjual diri, saya hanya menemani. Jangan salah paham, asal anda tahu tuan. Saya tidak akan bekerja di tempat ini jika anak-anak saya tidak membutuhkan uang untuk makan!" Keenan melirik sekilas, tertarik mendengar pembicaraan wanita itu.
"Dimana suami mu?" tanya Keenan.
"Dia pergi menelantarkan saya dan kedua anak saya. Jaman sekarang mencari pekerjaan sangatlah susah, saya tidak punya pilihan lain selain menjadi kupu-kupu malam!" sontak pikirannya tertuju pada Belle dan putrinya.
Apa Belle juga seperti ini, berjuang keras untuk menghidupi putri kecilnya. Mengingat Damian telah melengserkan perusahaan keluarganya.
"Ambil ini, aku rasa itu cukup untuk membuka usaha kecil-kecilan!" Keenan menyerahkan selembar cek dengan nominal fantastis.
"Ini terlalu banyak, tuan!"
"Tidak masalah, tinggalkan pekerjaan hina mu ini!" Keenan menjawab dengan tatapan datar. Wanita itu langsung membungkuk beberapa kali, mengucapkan puluhan terimakasih sebelum pergi meninggalkan ruangan VIP itu.
"Abigail, nama yang cantik. Apa aku bisa memeluknya dan memberikan semua kasih sayang ku ini." Keenan menyandarkan punggungnya pada kepala kursi, memejamkan mata menenangkan diri.
__ADS_1
"Aku ingin bersama mereka, tetapi apakah aku pantas setelah semua perbuatan keji ku itu?"
TBC