
Keesokan paginya Peter pergi bekerja sama seperti kesehariannya di Las Vegas. Pagi ini, Rachel masih mendiaminya tidak berniat membuka suara. Tentu, hal ini membuat hati Peter risau, pasalnya jatah hariannya yang terkena imbas.
Peter tampak frustrasi memikirkan perubahan sikap Rachel. Entah Rachel ataupun Keenan keduanya sama. Sama-sama suka membuatnya pusing tujuh keliling.
"Setelah pulang bekerja, Antarkan aku ke klub milik ku. Sudah lama aku tidak pergi ke sana!" Keenan mengangguk. Mengerti.
"Kau juga harus ikut masuk, karena aku Ingin minum dan mengobrol berdua bersama mu!" Keenan menggerakkan bola matanya ke atas, menatap Peter melalui kaca spion.
"Baik tuan!" jawaban Keenan menjadi akhir dari segala percakapan, setelah itu keheningan tercipta dan menyelimuti mobil mewah yang melaju sedang membelah jalanan ramai kota.
Tak sampai lima belas menit, mobil mereka berhenti tepat di depan gedung bercakar langit yang di kelilingi ratusan kaca mengkilap. Perusahaan Peter tidak kalah bagusnya dengan perusahaan milik Damian.
Perusahaan cabang di kota ini, berubah menjadi perusahaan pusat kini. Terlihat petinggi perusahaan dan ketua departemen penting berdiri di ambang pintu, menyambut kedatangan bos mereka.
"Selamat datang di kota new York tuan!" seorang pria paruh baya berjalan mendekat dan mengulurkan tangan.
Beberapa saat, Peter diam di tempat lalu menatap pria itu datar. Dua detik kemudian, barulah dia mau menjabat tangan berkeriput itu.
Setelah acara penyambutan selesai, Peter masuk kedalam perusahaan. Dilantai utama seluruh pegawai berkumpul, ikut menyambut tetapi Peter melewati mereka tanpa sepatah kata.
"Suruh salah satu office boy membawakan ku secangkir kopi. Semalam aku tidak bisa tidur karena Rachel menangis. Entah apa yang terjadi pada wanita itu. Kenapa perangainya gampang berubah-ubah!" Peter mendumel seraya melangkahkan kakinya melewati pintu lift khusus. Di ikuti Keenan di belakangnya.
"Apa saya dan nona Belle yang menjadi penyebabnya?" seketika Peter mendelikan mata, melemparkan tatapan tidak mengenakkan pada Keenan.
"Kau sadar juga rupanya. Karena kau sudah tahu, maka perbaiki masalah yang kau buat ini. Aku lelah berhadapan dengan Rachel setiap malam. Dia selalu mengajak ku berdebat!" Peter terus mengatakan keluh kesahnya pada Keenan.
Faktanya penyebab keluhan-keluhan Peter adalah Keenan jadi yang harus memperbaiki semua ini adalah Keenan si mulut lemes.
"Baik tuan!" Keenan menjawab dengan sopan tanpa bantahan. Karena dia menyadari bahwa dirinya adalah akar dari semua masalah tuan mudanya.
Setelah sampai di lantai paling atas, lift terbuka dan Peter keluar dari sana. Ruangan paling atas bangunan bercakar itu merupakan miliknya.
__ADS_1
Di depan ruang kerjanya terlihat deretan orang berbaris rapi dengan kepala tertunduk. Mereka merupakan bawahan Keenan atau staf sekertaris.
Peter terdiam sejenak, menunggu jawaban Keenan. "Mereka semua bawahan yang saya bawa dari Las Vegas, tuan!!" Peter mengangguk mengerti dan berjalan melewati mereka dan masuk kedalam ruangannya.
"Kau pergi dan batalkan semua rapat ku hari ini. Aku akan memeriksa dokumen-dokumen proyek bulan kemarin!" Peter menunjuk setumpuk berkas dengan lirikan mata.
Padahal sebelum pergi berbulan madu, Peter sudah menyelesaikan semua pekerjaan. Entah kenapa dokumen-dokumen itu selalu datang bergantian tanpa ada kemacetan.
"Baik tuan! saya permisi!" Keenan membungkuk sedikit sebelum pergi meninggalkan Peter dan menghilang di balik pintu.
...ππππ...
Keenan masuk ke dalam ruang kerjanya. Lelah, itulah yang Keenan rasakan sekarang. dia duduk bersandar, membelakangi meja dan menatap pemandangan kota. Menenangkan. Untuk sesaat Keenan merasa tenang.
"Aku harus bagaimana?" lirih Keenan bertanya pada diri sendiri. Ia bingung harus melakukan apa. Disisi lain keinginannya untuk bersama dengan anak dan wanita itu sangatlah besar.
Namun, Keenan merasa tak pantas untuk di jadikan sebagai kepala keluarga.
Drtt..drtt...drtt...
"Bagaimana kabarmu kakak ku tersayang?" suara ini, Keenan menjauhkan ponselnya dan melihat nama kontak yang tertera.
"Alessandro!"
"Ya ini aku, kenapa? apa kau terkejut. Kita pernah bertemu sebelumnya bukan!" Keenan menaikkan sebelah alisnya. Untuk apa pria ini menghubunginya.
"Tidak, aku hanya bertanya-tanya untuk apa adik ku tersayang menghubungi kakak tirinya ini!" jawab Keenan, tersenyum remeh.
Di seberang sana, Alessandro merapatkan giginya. "Aku dengar kau memilliki seorang putri!" deg! Jantung Keenan berpacu cepat, inilah alasan Keenan enggan bertanggung jawab.
Keenan tidak ingin Belle dan Abigail kenapa-kenapa. Pekerjaannya sangatlah berbahaya. Banyak musuh yang mengintai dan mengincar kehidupannya.
__ADS_1
"Hentikan lelucon mu itu. Aku tutup teleponnya!"
"Abigail Ainsley Elard, bukankah itu nama putri mu, kakak?" Keenan membulatkan mata, mengurungkan niat untuk memutuskan sambungan. Namun, pria itu diam, mendengarkan.
"Aku benarkan? dan siapa nama wanita itu. Ah Belle Krayle Elard. Dia lumayan cantik, bagaimana jika aku menggerakkan pisau lipat ku dan menggambar di atas wajahnya!" Keenan mengeratkan genggaman pada layar ponselnya.
"Aku peringatkan kau, jangan menyentuh mereka jika kau tidak ingin keluarga mu lenyap dari dunia ini!" tatapan mata Keenan menajam, bola matanya merah menandakan dirinya tengah di kuasai amarah.
"Hahaha, itu tidak mungkin. Asal kau tahu, setiap hari aku bertemu dengannya dan aku senang mendengar gadis cantik itu memanggil ku ayah!"
Sialan! pria itu, berani sekali merebut panggilan ayah dari ku.
"Tahu dari mana kau?" Keenan bersumpah akan menghabisi siapapun yang menyebarkan informasi ini.
"Tidak ada yang memberitahu ku, aku mencarinya sendiri karena kasihan melihat wanita itu! tapi bagaimana jika aku menyebarkan informasi ini dan semua musuh mu tahu. Pasti menyenangkan bukan!" berniat memesan kalung untuk sang istri, Alesandro malah mendapat bonus informasi sebesar ini.
"Jika saja, aku belum menikah dan tidak mempunyai anak. Mungkin aku akan menikahi wanita itu. Dia cantik dan mempunyai body secantik gitar spanyol!"
"Berani sekali kau menatap tubuhnya dengan mata kotor mu itu!" Keenan ingin menghabisi Allesandro sekarang.
"Hei apa hak mu melarang ku, kau bukan suaminya. Aku bebas melihat tubuh seksunya itu. Sudah ya,aku ingin pergi menemui mereka. Kau jangan bertindak macam-macam jika tidak ingin aku melukai mereka!" sambungan terputus dan Keenan langsung melemparkan benda pipih itu ke lantai.
"Sialan! aku akan melenyapkan mu Alessandro!" teriak Keenan marah.
Tetapi benar kata Alessandro, apa hubungannya dengan Belle. Mereka bukan suami istri, lantas hak apa yang Keenan miliki.
Tidak, aku tidak boleh egois. Jika aku menikahi Belle semua musuh ku termasuk Alessandro akan mengincar nyawa mereka demi membalas dendam pada ku. Lalu apa yang harus ku lakukan Sialan, kenapa ku memberi ku masalah serumit ini.
Seandainya Keenan tahu masalahnya akan serumit ini, dia tidak akan meniduri Belle waktu itu. Dan Abigail tidak akan hadir. Keenan tidak menyesal, namun sekarang Keenan mempunyai kelemahan dan dia tidak suka itu.
Lebih baik Keenan mati dari pada melihat wanita dan putri tercintanya terluka.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa vote π€