
Dua hari setelah pertemuannya dengan Belle, kini Keenan kembali menemui putrinya. Tak hanya itu, Keenan juga membawanya pulang ke apartemen. Karena bocah cilik itu merengek, enggan memisahkan diri dari ayahnya.
Perasaan senang menyelimuti hati Keenan, tatkala melihat Abigail menerima dirinya sebagai ayahnya. Bukan hanya itu, Keenan juga merasa bangga dengan Abigail yang memilih pergi bersamanya dari pada memilih pergi bersama dengan Belle.
"Daddy!" panggil Abigail dengan suara cempreng. Keenan lantas menoleh dan merentangkan tangan menyambut sang tuan putri.
"Hm, kenapa princess?" Keenan mencium dahi dan bibi gembul Abigail. "Abi haus," katanya dengan raut muka menggemaskan.
"Putri Daddy haus? mau susu?" Abigail tertawa dan mengangguk. "Iya, Abi mau minum cucu!" Keenan mengangguk dan menggendong Abigail, kemudian berjalan kearah dapur.
Di sana berbagai jenis perlengkapan memasak tersedia. Naasnya, Keenan lupa membeli perlengkapan Abigail. Tidak ada susu ataupun makanan sehat disini.
Hanya mie instan dan berbagai macam makanan siap saji lainnya yang ada di lemari tersebut. Makanan lezat, namun tidak boleh sering di konsumsi. Keenan menyediakan makanan instan itu untuk berjaga-jaga saja. Lagi pula, Keenan lebih sering makan di luar dari pada di apartemen. Semua itu, Keenan sediakan untuk di masak ketika dia lapar di malam hari.
"Daddy, apa macih lama?" tanya Abigail lagi, tangannya sibuk memainkan rambut hitam kecoklatan Keenan.
"Susunya sudah habis sayang, kita beli dulu yah!" bujuk Keenan. "Oke!" seru Abigail seraya mengangguk-angguk.
Bergegas Keenan pergi mengambil kunci mobil. Malam ini, ayah dan anak itu akan pergi bersama untuk yang pertama kalinya. Dan Keenan senang akan hal itu.
...ππππ...
Tanpa menurunkan Abigail dari gendongannya, Keenan masuk ke dalam mobil dan duduk memangku sang putri di kursi pengemudi.
Keenan mencarikan posisi nyaman untuk Abigail, barulah dia menginjak pedal gas dan mengemudikan mobilnya secara perlahan.
Begitu sampai di tengah-tengah gerbang apartemen, Keenan menghentikan mobilnya dan memanggil salah satu bodyguard yang menjaga kediamannya.
"Kau kemari!" perintahnya. Bergegas, salah satu dari kedua bodyguard tersebut datang menghampiri. "Ya, tuan!" bodyguard itu membungkuk hormat, lalu menatap mata datar Keenan.
"Suruh petugas kebersihan membersihkan apartemen ku, terutama bagian kamar. Sebelum aku pulang, semuanya harus sudah selesai!"
"Baik tuan!"
__ADS_1
Di apartemen ini, Keenan hanya mempekerjakan dua orang yaitu penjaga bersenjata lengkap. Untuk kebersihan rumah, Keenan menyewa petugas kebersihan dua kali dalam seminggu.
Setelah menyampaikan pesannya, Keenan kembali melajukan mobilnya menjauhi apartemen. Keenan berusaha menstabilkan kecepatan mobilnya. Tidak terlalu cepat ataupun lambat. Yang jelas tidak akan membuat Abigail takut.
Sesekali, Abigail memainkan klakson dengan menekannya secara berulang-ulang. Sedikit mengganggu, asalkan Abigail senang Keenan tidak mempermasalahkannya. Jika dia di tilang polisi tinggal bayar denda saja nanti. Itu bukan masalah besar.
"Dad, Mommy mana?" Tiba-tiba Abigail menanyakan keberadaan ibunya. Berpisah selama sehari, membuat Abigail merindukan sang ibu. Mengingat selama ini, Belle selalu ada bersamanya dalam keadaan apapun itu.
"Mommy, pergi bekerja, princess." jawab Keenan sekenanya. Abigail yang merupakan anak kecil percaya saja, lalu melupakan semua rasa rindunya. Dan beralih pada beruang coklat yang ada di kursi samping pengemudi, kini.
Entah sejak kapan boneka tersebut duduk manis di dalam mobil mewah Keenan. "Teddy!" panggil Abigail, lalu menggerakkan tangannya pelan. Berusaha meraih boneka berukuran sedang tersebut.
"Kau ingin ini?" Keenan langsung menyahut boneka itu dan mencekal pinggang rapuh Abigail. Tak membiarkan putri kecilnya terjatuh dari atas pangkuannya.
"Teddy!" seketika Abigail duduk tenang di pangkuan sang ayah. Dan memeluk boneka pemberian Steven itu. Boneka tersebut sudah menemani Abigail sejak dia masih bayi. Tentu saja merupakan mainan favoritnya.
Aneh, perasaan Keenan tak membawa ataupun membelikan mainan untuk Abigail. Lalu, dari mana boneka beruang ini berasal. Apa mungkin, Belle meletakkannya secara diam-diam. Entahlah, Keenan akan memeriksa kamera dasbor nanti.
"Ini boneka mu, princess?" tanya Keenan lembut. "Iya, Uncle memberikannya padaku!" jadi pemberian Steven. Mendengar jawaban Abigail, Keenan sedikit merasa cemburu.
...ππππ...
Setelah memarkirkan mobilnya, Keenan menggendong Abigail masuk kedalam mall tersebut. Semua pandangan tertuju padanya. Semua wanita tersentak kagum melihat kedekatan ayah dan anak itu.
Sungguh Keenan terlihat seperti hot daddy sekarang. Siapapun siap menjadi ibu pengganti untuk anak semanis dan secantik Abigail. Apalagi mereka mendapatkan bonus suami setampan dan sekeren Keenan.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pegawai. Kepalanya menunduk menahan malu. Tatapan Keenan membuatnya salah tingkah.
Namun tak bisa dipungkiri pegawai tersebut merasa kasihan, melihat Keenan kebingungan dan berjalan mondar-mandir melewati rak berisikan ratusan susu dengan berbagai macam usia dan berbagai macam merek.
"Ya, aku mencari susu untuk anak usia sekitar dua tahun!" jawab Keenan dengan ekspresi datar. Pegawai tersebut tersenyum, lalu mengambilkan satu kotak susu formula dengan merek paling bagus.
"Silahkan tuan!" menyerahkan kota tersebut, Keenan mengangguk. "Berikan aku dua kotak lagi," ucapnya.
__ADS_1
"Baik tuan!" pegawai tersebut lantas mengambilkan dua kotak lagi. Dan kurang ajarnya Keenan tak mengucapkan terimakasih ataupun berpamitan pergi. Ia langsung melenggang pergi ke arah eskalator.
"Ganteng-ganteng ngeselin!" gunjing pegawai tersebut, menyesal bertingkah malu-malu kucing dan membantu Keenan mencari susu anak-anak.
Keenan sempat mendengar gunjingan pegawai tersebut, namun dia tak ambil pusing. Memilih mengedarkan pandangan, mencari restoran yang bisa menarik perhatian princess kecilnya.
"Dad, itu!" menunjuk sebuah restoran China dengan jari telunjuknya. Gambar bakpao yang terletak di depan restoran menarik perhatiannya.
Keenan tersenyum tipis, secara berulang-ulang menciumi pipi Abigail. Entah kenapa, Keenan sangat menyukai pipi gembul itu.
Tidak ada rasa bosan yang tertanam pada dirinya. Keenan ingin melepaskan semua rasa rindunya dengan memberikan Abigail cinta dan perhatian selama satu minggu ini.
Ya, Keenan akan mengembalikan Abigail saat pernikahan Ara nanti. Keenan tidak sejahat itu sampai tega mengambil anak dari ibunya.
"Princess daddy mau itu?" menunjuk gambar bakpao dan Abigail mengangguk antusias. Keenan langsung mengambil langkah panjang dan masuk kedalam restoran China tersebut.
Suasana tempat ini sangatlah tenang, meskipun di penuhi puluhan pengunjung. "Kau!" panggil Keenan pada salah satu pegawai.
"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai itu ramah. "Aku ingin memesan bakpao coklat dan stroberi masing-masing satu porsi. Juga satu cup es krim dengan tiga rasa. Vanila, coklat dan stroberi." pegawai itu mencatat semua pesanan Keenan.
"Sudah?"
"Tambah secangkir Americano!"
"Baik tuan!"
Keenan kembali menatap Abigail, cantik dan menggemaskan. Keenan tak menyangka bisa melihat rupanya dalam wujud perempuan.
Sepertinya bibit unggulnya tidak pernah gagal. Apa sebaiknya Keenan membuatkan Abigail seorang adik. Tunggu, kenapa Keenan tiba-tiba memikirkan hal-hal mesum itu.
Bukankah Keenan telah mengambil keputusan, jika dia tidak akan menikahi Belle. Atau Jangan-jangan Keenan ingin mengubah keputusannya dan melibatkan Belle kedalam kehidupannya.
Entahlah, lihat saja nanti!
__ADS_1
TBC