
Satu hari mereka habiskan untuk beristirahat. Keesokan paginya Peter dan Rachel memulai perjalanan bulan madu mereka. Sebelum itu, Peter mengajak Rachel ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian. Setelah itu, barulah mereka mengunjungi tempat-tempat wisata yang Rachel ingin.
Peter menyewa satu balon udara yang seharga 300 euro. Khusus untuk pasangan pemuda pemudi. Rachel tampak bahagia bisa melihat keindahan kota Cappadocia dari atas langit.
Dia tak henti-hentinya memotret sana sini, mengabadikan setiap momen. Sesekali menyorot wajah suaminya yang mempesona itu.
Bukan pemandangan yang Peter lihat, tapi wajah Rachel. Kecantikan istrinya sebanding dengan keindahan kota Cappadocia. Lagi pula dia datang untuk menghabiskan waktu bersama Rachel, bukan berlibur.
"Sayang, ayo kita mengambil foto bersama!" ajak Rachel. Menarik Peter mendekat, dan menempel pada tubuhnya.
Cekrek! cekrek! cekrek! Rachel masih mengambil foto bersama. Dan Peter diam membisu, sesekali tersenyum tipis. Membiarkan wanita itu melakukan keinginannya.
"Setelah ini kita pergi kemana?" tanya Rachel, Peter mengendikkan bahu. "Kau ingin kemana lagi?" balik bertanya, karena Peter tidak minat kemana-mana selain ranjang hotel.
"Aku lapar, bisa kita makan saja. Setelah itu baru kita kembali ke hotel. Kakiku pegal sekali!" keluhnya seraya mengusap-usap tulang keringnya.
"Mau ku gendong?" tawar Peter, dengan suara datar nan dingin. Tetap saja terlihat manis di mata Rachel. "Tidak, aku malu dilihat banyak orang!" seru Rachel, menunjuk kearah sekumpulan orang.
Peter tersenyum tipis, tanpa di minta pria itu menggendong Rachel ala bridal style. Membuat siapapun yang melihatnya senyum-senyum sendiri,
Baper dengan adegan romantis itu.
Rachel menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Peter. Tak kuasa menahan malu, kini mereka menjadi sorotan publik.
"Kita pergi ke restoran terdekat!" beritahu Peter, sebelum menekan pedal gas mobil. Rachel mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari kamera. Wanita itu sibuk memilah foto, mana yang bagus dan mana yang blur.
Hingga tibalah mereka di sebuah restoran besar di pinggir jalan raya. Peter dan Rachel duduk di meja kosong, memesan banyak makanan khas Turki. Meja mereka hampir penuh, dan Rachel yang memakan semuanya.
Mungkin karena lelah, keinginan makan Rachel jadi meningkat. Namun, terkesan rakus sih. Peter justru gemas, melihat Rachel makan, seolah membuat perutnya kenyang.
"Oh ya, kemarin Keenan membawa seorang wanita bukan. Siapa dia? apa calon istrinya?" Rachel membuka suara dengan mulut penuh.
"Habiskan makanan mu, baru berbicara!" Peter menegur dengan tatapan mengintimidasi. Rachel pun mengangguk, dan bergegas menyelesaikan acara makannya.
Tidak lama setelah itu, semua makanan kandas masuk kedalam perut rata Rachel. Menyisakan makanan penutup saja. Puding strawberry.
__ADS_1
"Sekarang katakan, siapa wanita yang dibawa Keenan kemarin?" tanyanya seraya mengusap sisa bumbu diujung bibir dengan tisu.
"Dia pramugari pesawat yang kita tumpangi!" ujar Peter. Rachel mengernyit, tidak mengerti. Pramugari tapi kenapa bertingkah seolah Keenan adalah kekasihnya.
"Mereka terlihat mesra!"
"Itu karena dia wanita sewaan. Pelacur berkedok pramugari, lihat saja nanti aku akan melenyapkannya begitu Keenan bosan dan membuangnya!"
"Ternyata Keenan penjahat kelamin." Peter mengangguk-angguk tak berkaca.
"Kau tidak samakan seperti Keenan?" Peter terdiam, tertohok dengan tudingan Rachel. Namun, ia berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Aku-"
"Aku-"
"Dulu aku-"
"Kau mau bicara apa sih?" kesal Rachel mendengar Peter bertele-tele.
"Ya, aku janji!" malas Rachel membuang muka. Melengos. "Sebenarnya aku juga sama seperti Keenan." lirih Peter.
Rachel mendelikkan mata, "Tapi itu dulu sebelum aku menikah dengan mu. Jangan menatap ku Seolah aku membuat kesalahan besar!" larang Peter, tak memberi kesempatan pada Rachel yang ingin mencaci maki dirinya.
Oh God, bisakah Rachel memukul pria itu sekarang. Dia bilang ini bukanlah kesalahan besar, hei Peter sudah menikmati tubuh puluhan wanita dan dia bilang itu bukan kesalahan. Apakah dia bercanda?
"Kau sudah berjanji padaku tidak akan marah atau mendiami ku." seru Peter mengingatkan kala melihat Rachel membuang muka enggan bertegur sapa.
"Aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan padamu, kesalahan mu ini terlalu besar. Sampai aku tidak bisa berkata-kata lagi!" Rachel merubah raut wajahnya menjadi datar. Kekecewaan menempati kilat maniknya.
"Itu hanya masa lalu, Re. Aku mohon maafkan aku!" Peter berusaha membujuk, jika Rachel marah. Rencana bulan madu ini terancam gagal. Dan Peter tak mendapat jatah harian.
Rachel terdiam dengan sangat lama, tak mau menatap Peter. Dia jijik, bahkan Damian saja bisa menahan diri tapi kenapa tidak dengan Peter.
Tapi yang dikatakan Peter tidaklah salah, semua itu masalalu. Dan mereka bisa maju jika mau meninggalkan masalalunya yang kelam.
__ADS_1
"Fine, aku maafkan tapi ingat jika kau mengulanginya lagi. Aku akan menggugat perceraian ke pengadilan!" seru Rachel serius. Mengancam sekaligus mendisiplinkan Peter.
"Ya, aku berjanji akan menjaga kepercayaan mu ini!" Peter tersenyum, meraih kedua tangan Rachel dan menciumi punggung tangannya tanpa henti.
Untung saja Rachel pengertian, jika tidak mungkin masalah ini akan menghancurkan momen bahagia mereka.
"Aku akan kekamar mandi sebentar!" Peter mengangguk, Rachel pun beranjak dan masuk kedalam toilet wanita. Disana dia membasuh wajah dan mencuci kedua telapak tangannya.
Tidak sampai lima menit Rachel keluar, dia merogoh tas mencari tisu. Karena tak memperhatikan jalan, Rachel tidak sengaja menabrak seseorang sampai membuatnya jatuh terhuyung.
"Auh!" teriak seorang wanita dengan suara centil yang dibuat-buat.
Rachel menoleh, segera membantu wanita itu berdiri, ia merasa bersalah. Merasa tak enak, "kau ini, kalau jalan pakai mata. Kau buta?" maki wanita itu. Dan Rachel hanya diam karena posisinya adalah tersangka.
"Lihat! gara-gara kau sepatu mahal ku jadi ke tumpahan jus! kau tahu harganya sangatlah mahal, kau tidak akan mampu menggantinya. Dasar kampungan!" wanita itu terus berceloteh mempermalukan Rachel didepan khalayak umum.
"Maafkan aku nona!" seru Rachel tulus.
"Maaf-maaf,kau pikir dengan permintaan maaf kau bisa mengganti sepatuku. Cepat ambil tisu dan bersihkan!" Rachel mengeratkan giginya gemerlatuk.
Kau berurusan dengan orang yang salah nona!
Sedangkan wanita itu duduk santai menunggu Rachel melakukan tugasnya. "Ambil tisu itu!" perintah wanita itu kasar. Rachel mengikutinya, diam-diam Rachel mengambil saos pedas dan menyembunyikannya dibalik kotak tisu.
"Kau duduk saja disini, dan minum ini. Silahkan bersantai dan aku akan membersihkan sepatu mu!" Rachel menyodorkan minuman bekas orang. Dan bodohnya wanita itu mau-mau saja Karena tidak tahu.
Rachel berjongkok sambil tersenyum miring, sebelum akhirnya dia bangkit dan mengguyur wanita itu dengan saus pedas yang diam-diam dibawanya tadi.
"Aduh perih, mataku perih!" teriak wanita itu kencang.
"Rasakan, kau pikir kau siapa, berani mempermalukan ku didepan umum. Aku sudah minta maaf dan itu masih belum cukup. Sialan, membuat hari-hari ku buruk saja!" Rachel merogoh tas, mengambil puluhan lembar bernilai ratusan dolar.
"Ambil ini, aku rasa harga sepatu mu seperempat dari uang ini!" bukan hanya mengguyur wanita itu dengan saos, Rachel juga melemparkan uang itu tepat di wajahnya dan berlalu pergi.
"Ayo pulang!" ajak Rachel kesal, badmood setelah kejadian memalukan itu. Peter bertanya-tanya, apa yang terjadi. Kenapa Rachel jadi galak.
__ADS_1
TBC