
Tap! tap! tap! Seorang wanita muda berlari menyusuri koridor rumah sakit sembari menggendong gadis kecil yang sepertinya masih mengantuk.
"Di mana letak kamar VIP rumah sakit ini?" menghampiri meja resepsionis, bertanya pada pegawai yang berjaga.
"Kamar VIP ada di lantai 7 nona!" menjawab dengan ramah. Hendak menanyakan nama pasien yang menempati, tetapi tidak sempat karena wanita itu langsung pergi dan mengucapkan terimakasih dari arah kejauhan.
Dengan langkah cepat Belle masuk kedalam lift. Menekan tombol yang bertuliskan angka 7. Hatinya resah, tidak sabar ingin menemui Keenan. Dari malam Belle tidak bisa tidur sebab Keenan pergi tanpa memberitahu.
Perasaan takut akan kehilangan menyeruak masuk kedalam hati. Apalagi setelah mendengar Keenan terlibat dalam sebuah perkelahian membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Khawatir. Tidak ingin pria yang dicintainya itu kenapa-kenapa.
Ting! begitu lift terbuka, Belle bergegas keluar. Mulai menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Terlalu fokus sampai tidak melihat ke arah depan.
Bruk! Belle tidak sengaja menabrak seseorang. Membuatnya terhuyung ke belakang. Akan jatuh jika sebuah tangan tidak menahan pinggang rampingnya.
"Hati-hati Elle, kau bisa jatuh dan menimpa putri kita!" sebuah suara memperingatkan. Membuat Belle mematung di tempat. Dan menatap ke atas.
Dua mata itu bertabrakan dengan sangat lama. Keduanya saling berkomunikasi lewat tatapan. Yang satu memiliki tatapan tajam dan yang satu lagi memiliki tatapan indah nan meneduhkan.
Belle membenahi posisi. Lalu, memeluk Keenan dengan erat. Membiarkan Abigail berada di tengah-tengah mereka. Rindu, Belle sudah tidak bisa membendung perasaan itu.
Alhasil Belle langsung menyalurkan semua rasa rindunya lewat pelukan. "Kau baik-baik saja kan?" Belle melepaskan pelukannya. Lalu, mengedarkan pandangan ke seluruh tubuh Keenan. Memeriksa.
"Aku baik-baik saja Elle!" Keenan mencengkram lemah kedua bahu Belle dan mencium keningnya singkat.
Hangat, sorot mata Belle menatap Keenan dengan penuh cinta. Senang melihat Keenan berdiri di hadapannya dengan keadaan baik-baik saja.
Bahagia, penantiannya selama bertahun-tahun sudah terbayarkan. Siapa sangka Keenan, seorang pria kejam yang tidak berperasaan akan memperlakukannya seperti ratu.
Keenan begitu menyayangi dan mencintai Belle. Meskipun Keenan tidak pernah mengatakannya secara langsung, tetapi Belle bisa melihat perasaan itu lewat sorot mata tajam Keenan.
"Kau dari mana saja? apa kau sudah makan? kenapa tidak berpamitan?" Belle membanjiri Keenan dengan berbagai macam pertanyaan.
Melihat Belle peduli, Keenan mengulas senyum. "Maaf, aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir dengan memberitahu jika aku pergi bertransaksi!"
"Lalu, apa yang terjadi pada kalian. Kenapa Peter terluka dan kenapa kemeja mu penuh dengan noda darah?" masih menuntut penjelasan.
"Alessandro menyerang kami Elle!" balas Keenan menjawab. Menggerakkan ibu jarinya untuk menghapus air mata Belle.
Belle tahu siapa Alessandro itu. Setelah menikah, Keenan memberitahu semua tentang kehidupannya. Entah itu pekerjaan, keluarga, bahkan kebiasaan buruk juga Keenan beritahukan.
__ADS_1
"Kee! tidak bisakah kau meninggalkan pekerjaan sialan itu?" bukan apa-apa, hanya saja Belle mengkhawatirkan keselamatan Keenan Itu saja. Bagi Belle tidak ada yang lebih penting daripada nyawa suaminya.
"Untuk sekarang tidak bisa Elle! aku tidak bisa meninggalkan Peter, dia sudah seperti saudaraku sendiri!" Keenan maju satu langkah dan menangkup wajah Belle. Membelai pipi wanita itu.
"jadi kau lebih memilih mempertaruhkan nyawa mu dari pada hidup bersama ku?" masih mendumel.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan. Kau adalah hidup ku, aku selalu memprioritaskan dirimu. lagi pula aku selalu pulang dengan keadaan selamat kan?" masih berusaha meyakinkan. tidak ingin Belle merajuk.
"Sama seperti itu, kau juga hidup ku. Aku hanya mengkhawatirkan mu dan kau malah mengomeli ku. Jadi jangan salahkan aku jika aku menikah lagi setelah kau mati!" bengis Belle. Tanpa sadar membuat Keenan marah.
"Hei! tutup mulut mu, kau mau mati ya?"
"Kau ingin menikah lagi setelah aku mati huh? maka jangan salahkan aku saat arwah ku menculik mu dari suami baru mu. Kau milik ku Elle dan aku tidak akan membiarkan mu berpaling meskipun aku sudah mati!" lanjut Keenan berbisik. Memeluk posesif pinggang Belle dengan erat.
Hening, bisikan Keenan barusan berhasil membuat bulu kuduk Belle berdiri. Keenan yang melihat itu hanya tersenyum kecil memilih mengambil alih Abigail dari gendongan Belle.
"Halo princess, merindukan daddy hm?" menciumi seluruh bagian wajah Abigail.
"Iya! Abi rindu daddy!" jawab Abigail seraya mengambil beberapa helai rambut Keenan dan memainkannya.
"Jangan dekat-dekat, tubuhmu masih di penuhi noda darah. Mandi dulu sana!" usir Belle. Hendak mengambil Abigail. Tetapi gadis cilik itu malah mempererat pegangannya pada kemeja sang ayah.
Mendengar pembelaan dari sang putri, Keenan tertawa kecil. Menatap Belle dengan tatapan penuh kemenangan. Padahal baru satu bulan mereka bersama dan Abigail langsung menempel padanya seperti perangko.
"Abi belum mandi?" tanya Keenan lirih dan Abigail mengangguk dengan cepat.
"Oh jadi mommy mu tidak sempat memandikan mu karena ingin segera menemui daddy mu ini?" kata Keenan. Lagi-lagi menggoda dengan cara berbisik.
Belle hanya terdiam, sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berusaha menyingkirkan rasa malunya.
"Kalau begitu ayo kita pulang, dad akan memandikan mu nanti!" Keenan menggendong Abigail keluar dari rumah sakit. Meninggalkan Belle yang masih terpaku di tempat.
"Hei tunggu aku!" teriak Belle seraya berlari menyusul Keenan.
"Berjalanlah lebih lambat, aku baru saja berlari tadi!" Belle merengek tatkala tidak bisa menyamakan langkah kakinya dengan langka kaki Keenan. Karena lelah, Belle meraih tangan kiri Keenan yang menganggur dan memeluknya erat.
Keenan melepaskan tangan Belle, bukan karena tidak ingin di sentuh. Akan jauh lebih nyaman jika Keenan memeluk bahu Belle. Hal Ini akan membuat mereka terlihat seperti keluarga Cemara.
...ππππ...
__ADS_1
"Kee, apa tidak papa kita pulang lebih dulu?" Belle bertanya-tanya seraya mengedarkan pandangannya ke luar jendela. Mengamati pemandangan kota yang di padati oleh penduduk setempat.
"Tentu saja, memangnya siapa yang berani melarang ku untuk pulang ke rumah?" balas Keenan menjawab. Bahkan Peter sendiri tidak bisa menghentikan Keenan. Apalagi bawahannya.
"Lalu, bagaimana keadaan Peter?" Keenan menolehkan kepalanya. Menarik sebelah alisnya ke atas. Menatap Belle heran.
"Kenapa kau menanyakan keadaan orang lain sedangkan aku disini!" berkata dengan napas tercekat. Cemburu.
"Dia bukan orang lain tapi majikan mu!" melengos. Menatap Keenan malas.
"Tetap saja dia seorang pria dan aku tidak suka kamu membicarakan pria lain!" menjawab dengan cepat. Membuat Belle menggelengkan kepala. Malas menghadapi suaminya yang cemburuan itu.
"Kita akan kembali ke sana?" Belle mengalihkan pembicaraan. Berharap Keenan tidak cemburu lagi.
"Iya, kalau kau tidak mau ikut juga tidak papa!" kata Keenan membalas. Dengan raut wajah datar dan tatapan tajam.
"Tidak-tidak, aku akan ikut!"
"Kenapa?" keheranan tatkala melihat Belle antusias datang ke rumah sakit. Hal itu membuat Keenan sedikit merasa curiga. Sekaligus was-was takut Belle berpaling.
"Aku akan memasak nanti, kita bisa membawanya ke rumah sakit!" Seketika Keenan membisu. Tidak bisa berkata-kata lagi. Marah mendengar Belle hendak memasak untuk Peter.
"Ada apa dengan mu, kenapa kau diam saja?" meraih bahu Keenan dan Menggoyangkan pelan. Menyadarkan Keenan dari tempat diamnya.
"Kau ingin memasak untuk Peter?"
"Ck, bukan itu maksud ku Kee. Aku ingin membawa makanan ke rumah sakit bukan hanya untuk Peter makan. Tapi untuk kita semua. Kita bisa makan bersama nanti." menjelaskan, tidak ingin Keenan salah paham dan semakin marah.
"Hm!" Belle melengos, mendengar Keenan hanya berdehem singkat membuatnya kesal.
"Untuk mu, aku sudah menyiapkan hidangan khusus!" ucap Belle berbisik tepat di telinga Keenan.
"Apa itu?"
"Tubuhku!"
TBC
Masih belum author revisiπ
__ADS_1