
Ini suara Daddy! rasa senang mendadak menyeruak. Sontak Rachel bergegas membuka pintu, begitu terbuka langsung berlari dan melompat masuk ke dalam pelukan sang ayah. Matanya mulai berkaca-kaca pada akhirnya mengalir deras membasahi kedua pipinya.
"Don't cry princess." suara lembut menenangkan. Darion membalas pelukan Rachel, memberikan usapan-usapan lembut pada punggung bergetar itu. Tak lupa, Darion juga mendaratkan kecupan lembut penuh kasih sayang.
"Kau sangat merindukan, dad?" tanya Darion disela-sela pelukannya.
"Ya, aku sangat-sangat merindukan mu. Kenapa kau meninggalkanku sendiri, apa kau tidak menyayangi ku lagi?" mempererat pelukannya, Rachel bukan sekedar melepas rindu. Tapi juga mengeluarkan beban berat yang membelenggunya selama ini.
"Berhenti menangis, dad sudah ada disini. Ceritakan semua kesedihan mu, nak. Dad, akan membantu mu mencari solusi." Darion melirik Peter sekilas, berbisik-bisik. Menanyakan tempat paling tenang di mansion ini.
Dan jawabannya adalah taman belakang, tidak ada suara bising dan juga tidak ada penjaga yang berlalu lalang di situ.
Darion menuntun Rachel menuruni tangga, tentu Peter tak menghentikannya. Dia membiarkan mereka pergi, mungkin setelah mengobrol dengan ayahnya. Rachel, menjadi lebih tenang.
Keduanya duduk dibawah cahaya temaram, dan menempati kursi stainless bewarna putih. Saling bersanding, namun tetap memeluk satu sama lain.
"Ceritakan, apa yang mengganggu mu!" Darion mengusap bekas air mata Rachel yang berurai.
โSebelum aku bercerita, bisakah aku menanyakan sesuatu?" tanya Rachel, pupil matanya bergetar menandakan bahwa wanita itu sedang gelisah.
โYa, tanyakan saja. Dengan senang hati dad akan menjawabnya." Darion mengulum senyum. Mengusap lembut kepala putri kecilnya.
"Apakah daddy tahu, bahwa Peter adalah pemimpin mafia?" akhirnya pertanyaan itu muncul. Darion membeku, tak bergeming dari tempat diamnya.
"Aku tahu!"
"Sejak kapan?" Rachel bertanya lagi, matanya menajam memperlihatkan gumpalan kemarahan.
"Sebelum kau dan Peter bertunangan." Rachel lemas di tempat. Tak kuasa menahan sakit, kala tahu ayahnya telah membohongi dirinya.
__ADS_1
Kenapa dia tega melakukan ini, seandainya dia memberitahu semua ini dari awal. Rachel bisa mencari solusi lain, semua pernikahan ini tidak akan terjadi. Dan Rachel tidak perlu menguatkan diri untuk bersanding dengan psikopat seperti Peter.
Menyesal, tidak..Rachel tidak pernah menyesal menikah dengan Peter. Tapi Rachel merasa tertipu, secara tidak sengaja ayahnya sendiri yang menyerahkannya pada pria kejam seperti Peter.
"Dengarkan aku, nak!" Darion menangkup pipi Rachel, menggerakkan pelan agar Rachel mau menatap matanya.
"Semua ini memang salahku, tapi melihat kegigihan Peter. Aku tidak menyesal dan menyadari sesuatu. Menyandingkan mu dengannya tidak terlalu buruk. Kalian pasangan serasi dan saling melengkapi."
"Tapi dad, kenapa kau tidak mengatakan dari awal, jika Peter adalah pemimpin Mafia. Atau jangan-jangan dad masih belum hengkang dari dunia gelap itu!" tuding Rachel, dengan tatapan mata penuh curiga.
"Kau ini bicara apasih, dad sudah hengkang dari dunia kelam itu sejak 21 tahun yang lalu. Kenapa kau menuduh dad yang tidak-tidak." geram Darion, melepaskan pelukannya.
Rachel menyunggingkan senyum tipis, "lalu, dari mana dad tahu bahwa Peter seorang mafia?" entah kenapa, Darion merasa pertanyaan Rachel terkesan memojokkan.
"Re, berhenti bukan berarti lupa. Dad, masih berhubungan dengan Dominic. Karena ayah mertua mu itu sahabat ku. Tentunya segala informasi Daddy ketahui dari sahabat Daddy!" pelan-pelan Darion menjelaskan.
"Tetap saja Daddy bersalah, seandainya Daddy memberitahu semuanya dari awal. Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi, dan mungkin sekarang aku masih tinggal bersama mu dad." Sendu Rachel.
"Dad, tidak bisa memberitahu mu, karena itu bukan sekedar informasi biasa. Kau tidak tahu, betapa sulitnya hidup di bawah tekanan dan dikelilingi banyak musuh. Jadi dad harap, kau tidak menambah beban pikiran Peter. Dia sudah cukup kesulitan menanggung beban kelompok mafianya, nak. Kau tidak merasa kasihan padanya?" sekali lagi, Rachel di buat terkesima.
"Cobalah menerima Peter dan lengkapi semua kekurangannya."
"Tapi, pekerjaannya itu. Bukankah merugikan negara. Mengingat mereka sering melakukan transaksi ilegal." masih menyangkal, menolak menerima. Rachel begitu keras kepala.
"Itu urusan mereka, lagi pula perusahaan Peter juga ikut memberi dana pada negara. Dan itu Peter lakukan setiap bulan. Kerugian yang dialami negara tidak sebanding dengan amal yang Peter berikan. Berhentilah berdalih dan coba renungkan segalanya!"
Baru kali ini, Darion menasehati Rachel dengan suara rendah, penuh penekanan. Rachel kalah, tidak bisa membalas perkataan Darion lagi.
Rachel menundukkan kepala, merenungkan . Benar, seharusnya Rachel tak pernah menyalahkan siapapun terutama sang ayah. Semua ini karena kesalahannya sendiri, terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
__ADS_1
"Sekarang, jawab pertanyaan daddy dengan jujur. Kau mencintai Peter?" tanyanya dengan suara dingin, penuh keseriusan.
Hening sejenak, Rachel merapatkan bibir enggan membuka suara. "Aku tidak tahu," jawab Rachel pada akhirnya.
"Jangan membohongi dirimu sendiri Re, melihat tatapan mata mu saja. Siapapun pasti tahu kalau kau jatuh hati padanya. Coba turunkan ego mu sedikit. Dad pastikan kau dapat melihat cinta mu itu."
Hening, keduanya saling mendiamkan. Terlarut dalam pikirannya masing-masing. Rachel menggosok-gosokkan kedua ibu jarinya. Gugup.
"Dad, yakin kau akan bahagia bersamanya. Peter bukanlah pria jahat seperti yang kau bayangkan. Ada kalanya seorang pria menunjukkan sisi lemahnya pada seorang wanita. Dan Peter bersikap lembut padamu kan? cintanya tulus dan kau tidak sadar akan hal itu. Konyol sekali," Darion mengecam berulangkali.
Tak peduli jika semua perkataannya menyinggung perasaan Rachel. Karena faktanya, Rachel memang bersalah dan harus di beri nasehat agar mengerti seberapa pentingnya hubungan pernikahan itu.
Isak tangis terdengar lirih, semakin lama semakin kencang menjadi sesegukan. Rachel memeluk Darion, merasa bersalah karena tingkah bodohnya itu. "Maafkan aku dad, tidak seharusnya aku menyalahkan orang dalam masalah ini. Terutama kau yang jelas-jelas tidak memaksa ku sama sekali!"
Mendapat pencerahan panjang lebar dari sang ayah membuatnya sadar, jika perbuatannya itu kelewat batas dan tidak bisa di benarkan.
"Jangan meminta maaf padaku, tapi minta maaflah pada Peter. Dia yang paling kau sakiti!" Darion memberi saran dan Rachel mengangguk paham.
"Akui perasaan mu dan mulai semuanya dari awal. Jika bisa terima Peter dengan segala kekurangannya termasuk pekerjaannya. Harus kau tahu, Peter tidak membunuh sembarang orang hanya musuh-musuhnya saja sama seperti Dominic. Bahkan Dominic lebih kejam dari suami mu dan Kanaya bisa mengatasinya."
"Iya aku akan mengakui perasaan ku dan memulai segalanya dari awal. Terimakasih karena kau menyadarkan aku dad!" Darion tersenyum dan mencium dahi Rachel.
"Baiklah, ayo kita masuk. Dad membawakan mu pancake stroberi dan desert Cherry." Rachel kegirangan, sudah lama ia ingin makan kue-kue tersebut.
Keduanya masuk kedalam mansion dengan senyum mengembang, tak pernah memudar. Beban hati Rachel seakan menghilang. Sekarang tinggal menyiapkan diri untuk mengakui semua perasaan yang lama ia pendam.
TBC
Othor ada kabar baik gaes, selama satu Minggu kedepan. Othor bakal update 3 bab perhari. Jadi jangan lupa vote, like, komen dan giftnya ya. Terimakasih ๐๐โค๏ธโค๏ธโค๏ธ
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. ๐