Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Cemburu


__ADS_3

Kepulangan Darion menjadi akhir dari drama keluarga yang terjadi diantara mereka bertiga. Peter dan Rachel keluar dari bandara setelah memastikan Darion masuk kedalam pesawat. Terlihat raut kesedihan yang jelas dari wajah Rachel. Tak rela harus berpisah dengan ayahnya lagi.


Rachel tidak bisa berbuat apapun selain melepas pergi, sekali Darion mengambil keputusan tidak ada orang yang bisa menggugat. Apalagi semua ini perihal masalah pekerjaan.


Rachel memang keras kepala, tapi sifatnya itu dia dapatkan dari sang ayah. Jika Rachel keras kepala, maka Darion lebih keras kepala lagi.


"Aku ingin makan pancake dan desert yang di bawa Daddy kemarin. Apa masih ada?"


"Masih utuh!" Peter menyahut.


Rachel tersenyum kecut, merasa bersalah. Padahal ayahnya membeli kue itu dengan penuh cinta tetapi dia tidak menyentuhnya sama sekali.


"Aku akan memakannya begitu pulang dari sini!" tekad Rachel. Peter tersenyum, lantas menjawab."Ya kita makan bersama nanti!" tersenyum, meraih tangan kanan Rachel untuk digenggamnya erat.


Bersama dengan Peter membuat hari-hari Rachel penuh warna. Apalagi sekarang mereka bekerja bersama. Tidak tahu betapa berbahayanya pekerjaan itu. Rachel tidak peduli, yang terpenting sekarang dia bisa bersama Peter di setiap waktu.


Drt..Drt..Drt ponsel Peter bergetar. Seseorang menelponnya. "Peter, ada telfon masuk!" menyerahkan handphone itu pada suaminya yang fokus menyetir.


"Angkatlah, kedua tangan ku sedang sibuk!" Peter tersenyum konyol.


"Cih, kau bisa melepaskan tangan ku!" jengah Rachel, namun memutuskan menuruti permintaan suaminya itu.


Ara? bukankah itu nama perempuan. Siapa dia. Rachel bertanya-tanya saat melihat nama perempuan tertera jelas di layar ponsel.


Ragu-ragu Rachel menekan tombol hijau, dan mengarahkan benda pipih itu ke dekat telinga. "Halo?" sapa Ara di seberang sana.


"Kak, kau dimana? kenapa mansion mu sepi sekali?" jadi perempuan itu ada di Mansion sekarang.


"Cepatlah pulang, aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" Rachel menelan ludahnya sendiri, berbagai macam pikiran buruk terlintas di benaknya.


"Halo, kak! kenapa diam saja?" perempuan itu kesal saat tidak ada jawaban yang terdengar.


Tak kuasa menahan sakit, Rachel memutuskan sambungan telepon tanpa berkata apapun. Lantas wanita itu memalingkan wajah, melemparkan pandangan ke arah jendela. Menahan tangis.


"Siapa yang menelpon?" Peter bertanya, tak sadar dengan raut kekecewaan Rachel.


"Tidak tahu!" ketus Rachel tanpa mengalihkan pandangan.

__ADS_1


Tuhan, apalagi ini! Peter mengusap dadanya sabar. Tak membuka suara lagi. Padahal seingatnya dia tak membuat kesalahan lagi pagi ini.


Hingga sampailah mereka di mansion, keduanya berjalan berdampingan masuk kedalam Mansion. Baru saja mereka melewati pintu, tiba-tiba seorang gadis cantik berlari, memeluk Peter dari depan.


"Kejutan!" teriaknya keras, tak menyadari keberadaan Rachel. "Kau disini?" Peter tersenyum dan membalas pelukan gadis itu.


Tentu membuat Rachel semakin tersulut emosi. Tidak ingin melihat lagi, lantas wanita itu berlari meninggalkan Peter dan gadis asing itu.


Rachel masuk kedalam kamar, membanting pintu. Hingga membuat Peter dan Ara terlonjak kaget.


Keduanya saling bertatapan satu sama lain. Seolah bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sekarang.


"Siapa dia, kak?" tanya Ara, baru sadar Peter tidak datang sendiri. "Istriku!" jawabnya acuh.


"What, are you seriaous?" kaget Ara.


"Kau pikir aku bercanda? Dan sepertinya dia cemburu melihat mu memeluk ku!" Peter berasumsi. Sialnya, tepat pada sasaran. Rachel marah melihat Peter memeluk wanita lain


"Aku kan tidak tahu, kau sudah menikah!" Santai Ara. Tidak merasa bersalah. "Kau harus meluruskan segalanya, jangan menyusahkan kakak mu ini!" Peter menyahut.


Bukan hanya Damian, namun Peter juga memperlakukannya bak putri raja karena Peter tak mempunyai saudara perempuan selain Ara.


"Aku tidak tahu pastinya, tapi saat itu kau tidak ada di rumah dan pergi bertugas di kota Y!" Ara mengangguk-angguk mengerti.


"Aku tidak menyangka dua kakak tertampan ku ini sudah laku." Petee tergelak. "Kau juga akan menikah nanti!" seketika tawa Ara terhenti. Wajahnya berubah kecut. "Sepertinya itu tidak mungkin kak!"


"Kenapa tidak, kau cantik, berpendidikan, hanya dengan satu kekurangan tidak akan membuat mu terlihat buruk, sayang. Percayalah, pasti ada seseorang yang mau menerima mu dan semua kekurangan mu nanti!" Peter membawa Ara masuk kedalam pelukannya. Memberikan gadis itu kehangatan seorang kakak.


"Astaga, kenapa suasananya berubah menjadi Melo sekarang. Aku akan naik dan meluruskan semua kesalahpahaman!" Ara mengusap setitik air mata di ujung kelopak matanya. Lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu! kau belum mengatakan tujuan mu datang ke sini!" Peter menghentikan langkah Ara. Gadis itu membalikkan badan dan menjawab.


"Aku datang untuk mengundang mu ke acara pesta ulang tahun ku. Tapi sepertinya bukan kau saja yang datang, tapi kakak ipar juga!" Ara melanjutkan langkahnya setelah menjawab.


...🍁🍁🍁🍁...


Didalam kamar, Rachel berbaring nyaman di atas ranjang seraya menatap langit-langit kamar. Marah, kesal, sedih. Rachel tak bisa mengungkapkan perasaannya saat ini.

__ADS_1


Satu hal yang menolak enyah dari pikirannya, kejadian dimana Peter membalas pelukan seorang gadis asing. Padahal jelas-jelas istrinya ada disampingnya. Kalau pun Peter mempunyai kekasih, kenapa tidak mengatakannya dari awal. Peter tidak perlu menyakiti dengan cara berpura-pura mengejar cintanya.


Tak terasa setes air, jatuh dari kelopak matanya. Rachel merasa lemah jika harus di hadapkan dengan kenyataan sepahit ini. Apalagi menyangkut pria yang dicintainya.


Tok! tok! tok! ketukan pintu membuyarkan lamunan Rachel. segera ia menghapus bekas air matanya. Tak ingin menampakkan kelemahan.


"Boleh aku masuk?" suara gadis asing itu, seakan membangkitkan amarahnya yang sudah lama padam. "Rachel tak menjawab, dan Ara mengendikkan bahu. Lalu, berjalan mendekat meskipun tak di izinkan.


"Aku tidak menyangka kak Peter akan menikah secepat ini!" Ara memulai pembicaraan.


"Kenapa? apa karena dia kekasih mu?" seketika tawa Ara pecah. Refleks memukul-mukul punggung Rachel. "Oh, ayolah kakak ipar. Memeluk bukan berarti sepasang kekasih!"


Kakak ipar? maksudnya gadis ini adalah adik Peter. Tapi Peter merupakan anak tunggal. Lalu dari mana asal gadis ini.


"Aku sepupu kak Peter, adik Damian- suami sahabat mu!" Rachel menoleh, membulatkan mata.


Melihat ekspresi Rachel, Ara semakin mengeraskan tawanya. "Sebenarnya aku datang untuk mengundang kalian ke acara ulang tahun ku!"


"Ulang tahun?"


"Ya, setiap tahun Daddy ku mengadakan pesta. Bukan pesta mewah, hanya sekedar makan bersama keluarga!"


"Berapa usiamu?" melihat dari penampilan, Rachel rasa mereka seumuran. "Tahun ini 26 tahun!" benarkan mereka sebaya.


"Kalau begitu panggil aku Rachel, tidak usah pakai kakak. Kita seumuran!"


"Benarkah?"


"Ya," Ara memeluk Rachel. "Sepertinya kita bisa menjadi teman akrab." Rachel mengangguk lemah.


"Maaf karena aku menuduh mu yang bukan-bukan tadi!" Rachel menuduk malu, namun tak disangka-sangka Ara malah tertawa lepas.


"Tidak masalah, lagi pula kau kan tidak tahu aku adiknya si Mafia kejam itu! Kalau begitu aku akan pergi, tubuh ku lelah sekali."


"Ya, pergilah istirahat, dan sekali lagi maafkan aku!" Ara mengangguk-angguk dan tersenyum tipis sebelum berlalu lalang.


Makan bersama keluarga, itu berarti aku akan bertemu dengan Grace!

__ADS_1


__ADS_2