Terjebak Pernikahan Mafia Kejam

Terjebak Pernikahan Mafia Kejam
Secuil upil


__ADS_3

Gumpalan awan putih terlihat berarak, bewarna putih bercampur biru. Tirai kamar bergerak kecil, sedikit terbuka menandakan alam telah berganti rupa. Sepasang suami istri masih nyaman dengan posisinya, saling berpelukan. Berbagi kehangatan di pagi ini.


Cuaca tampak cerah, namun suhu di luar sana sangatlah dingin, mampu membekukan siapa saja. Hingga terpaan sinar matahari menembus netra abu Rachel. Wanita itu membuka matanya perlahan, sampai akhirnya terlihat jelas dada bidang seseorang. Rachel mendongak, menatap wajah tampan Peter yang tertidur pulas.


Cukup lama Rachel memandang wajah polos itu. Saat tidur Peter terlihat seperti bayi polos tanpa dosa, begitu bangun bak reinkarnasi iblis kejam.


Bisakah aku menyentuh rahang tegas itu.


"Apa kau baru menyadari ketampanan ku, hm?" suara serak khas orang tidur terdengar samar,, lantas Rachel mengurungkan niat dan menarik tangannya kembali.


"Pede sekali, ketampanan mu bahkan tidak lebih dari sejumput upil!" sarkas Rachel melawak. Apa mata Rachel katarak, pria setampan dan se- gagah Peter di samakan dengan upil.


Bolehkah Peter menerkam mangsanya lagi sekarang. Ini masih pagi dan Rachel sudah mencari gara-gara. "Sejumput upil, apa maksudmu dengan sejumput upil. Kau menyamakan aku dengan kotoran hidung?" mendengus malas.


"Memangnya kau pikir kau sangat tampan?" tanya Rachel tertawa kecil, menggoda suaminya.


"Tentu saja, semua wanita di luaran sana terpesona dengan wajah **** ku ini." pede Peter, tidak melihat tatapan marah sang istri.


"Jadi kau senang di pandangi mereka semua?" sebal Rachel, menyingkap selimut. Mengambil piyama dan memakainya dengan cepat.


"Kau mau kemana?" tanya Peter kala melihat Rachel memutar kenop pintu, tanpa memakai dalaman hanya piyama satin saja. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah, terutama bagian dada.


"Mau mencari perhatian pria-pria tampan, kenapa? apa kau ingin memberiku uang saku?" siapa saja rekrut dia sebagai pelawak.


Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang berpamitan pada suaminya untuk mencari perhatian pria-pria muda, terlebih meminta uang saku, selain Rachel.


"Maju selangkah lagi, aku akan mematahkan kedua kaki cantik mu itu, sayang!" kata terakhir Peter ucapkan dengan penuh penekanan. Seolah mengancam agar Rachel menurut.


"Aku hanya ingin membalas mu saja, siapa suruh kau menikmati semua tatapan mesum mereka!" tutur Rachel jengah.


Wanita ini, ingin rasanya Peter melemparkannya dari atas sini. Jika saja itu terjadi, bukan hanya menjadi duda tapi Peter juga tidak bisa menghamili wanita karena ibunya akan memotong miliknya sampai habis.


"Iya, aku akui senang melihat tatapan mereka. Tapi perasaan ku hanya untukmu seorang, Sayang!" Peter berkata dengan nada penuh keyakinan.

__ADS_1


“Kau tidak sedang membual kan?” Tanya Rachel menyipitkan kedua mata. Tidak percaya.


Peter menghela nafas, membuang muka kearah jendela menetralisir semua kekesalan dan kemarahan. Anjlok sudah harga diri Peter sebagai seorang pria dan pemimpin mafia. Seringkali Peter mengalah, membiarkan Rachel berbuat semaunya


Padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah Peter bayangkan momen semenarik ini terjadi. Peter tidak pernah mengalah apalagi pada seorang wanita dulu, selain Ibunya tentunya. Merekalah yang harus tunduk dan mematuhinya.


Semua prinsipnya berubah setelah bertemu Rachel. ia mendominasi hubungan pernikahan mereka. Selalu mampu membuat Peter tak berkutik. Anehnya Peter tidak pernah mencoba melawan ataupun berusaha berubah Rachel.


Memang benar awal dari tujuannya adalah membuat Rachel tunduk dan menjadikannya sebagai istri penurut. Namun, jika dipikir-pikir lagi, bukankah membosankan memiliki istri penurut yang baik dan polos. Dia tidak akan bisa melawan.


Tidak akan ada pertengkaran di pagi hari, ataupun perdebatan-perdebatan yang membubui hari-hari mereka. Bukan hanya mansion yang terasa sepi, tetapi hari-hari Peter juga berubah suram.


"Tidak sayang, kenapa aku harus bersusah payah membual. Padahal hampir setiap hari kita bercinta, yah.. meskipun beberapa hari ini aku berpuasa. Tapi tetap saja aku menyentuh mu atas dasar cinta!" Peter menjelaskan dengan pipi bersemu.


Gila, jika anggota Gold Lion mendengar ucapan Peter barusan. Mungkin mereka akan terjungkal di tempat sangking terkejutnya.


"Kenapa kau selalu menyinggung hal mesum sih?" ketus Rachel garang, malu dengan perilaku Peter. Tak jarang setiap kali mereka berdiskusi ataupun berdebat, Peter selalu mengaitkannya dengan kegiatan panas mereka.


"Tapi kau suka kan?" goda Peter, menarik Rachel dan mengunci pintu. Pria itu tersenyum smirk, seraya menggenggam tangan Rachel.


"Tidak-tidak, biarkan aku mandi sendiri! turunkan aku!" teriak Rachel kala Peter memikulnya bak sebuah karung beras. Tak lupa Rachel memukul pelan punggung pria itu.


"Hargai kebaikan ku ini, biarkan aku membantu mu mandi!" seru Peter santai, mengeratkan pegangannya, tidak ingin wanita itu jatuh karena bergerak kesana-kemari.


"Cih, aku tahu kebaikan mu ini pasti merugikan ku," serunya kembali, namun Peter tak menjawab dan tersenyum smirk.


"Aku mohon turunkan aku, pasti bukan sekedar mandi biasakan. Aku tahu rencana mesum mu itu. Pikiran mu hanya tertuju pada olahraga ranjang saja!" Cibir Rachel melengos.


Menghentikan pukulannya pada bahu Peter. Tahu semua yang dia lakukan sia-sia. Sekali Peter, menginginkan sesuatu, sudah pasti pria itu menghalalkan segala cara. Termasuk menggendongnya seperti sekarang.


“Kau sudah tahu rupanya, baguslah aku tak perlu menjelaskan lagi!” Peter memasukkan Rachel kedalam bathub dan mengguyurnya dengan air hangat.


“Rubah licik, tentu saja aku tahu. Sudah berapa bulan kita menikah. Semua gerak gerik dan pikiran kotor mu itu dengan mudah aku bisa menebaknya. Aku sangat mengenal mu!" kata Rachel seraya mematikan keran yang dinyalakan Peter.

__ADS_1


Peter tertawa kecil, "jangan dimatikan, biarkan airnya mengisi bathub." Peter menyalakan kerannya lagi ditambah dengan shower membuat bathub itu cepat terisi. Tapi itu tak bertahan lama, Rachel kembali mematikannya.


"Setidaknya, biarkan aku melepas pakaian ku!" kata Rachel, mulai melepas satu persatu kancing piyamanya satu persatu mulai dari kancing paling atas. Peter menelan ludahnya susah payah. Menggerakkan tangannya pelan, menghentikan pergerakan wanita itu.


“Biarkan aku membantu mu!" seru Peter, wajahnya berkabut gairah. Ingin segera menerkam Rachel. Rachel bisa mengerti, cukup lama Peter berpuasa. Rachel diam, membiarkan pria itu melakukan apapun padanya.


Sebagai istri sudah menjadi kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan biologis suaminya. "Kau nakal!" kata Rachel pelan.


"Aku yakin kau suka- kan dengan semua kenakalan ku ini?" tanya Peter tanpa mengalihkan pandangan. Sibuk melepas piyama Rachel.


Rachel terkekeh, lalu memegang kedua rahang tegas Peter dan menggerakkannya ke atas. Tatapan mereka bertemu. Keduanya saling berpandangan, seolah berbicara lewat isyarat mata.


"Lakukan itu dengan cepat!" pinta Rachel serius, Peter melipat dahi. Dia kira Rachel ingin membicarakan hal penting.


"Kenapa?" tanya Peter bingung, padahal keduanya paling suka mandi bersama.


"Entahlah, aku tidak tahu apa yang terjadi pada ku beberapa hari ini. Kepalaku sakit, mungkin masuk angin!" keluh Rachel. Peter panik," kau sakit, kenapa tidak bilang sebelumnya?" geram Peter.


"Karena aku tahu kau akan se-khawatir Ini!" Peter tak mendengar, cepat-cepat ia menggosokkan sabun ke tubuh Rachel. Tidak ingin berlama-lama di dalam sini. Sangking paniknya, semua rencana mesumnya terlupakan.


"Sudah selesai, ayo aku akan menggendong mu keluar!" Peter bersiap memapah, namun tangannya di tepis Rachel.


"Kau tidak ingin memuaskan birahi mu. Ayolah, aku baik-baik saja." Rachel memelas.


"Kau sakit, aku tidak mau melakukan itu pada orang sakit. Aku akan memanggil dokter nanti. Sekarang biarkan aku menggendong mu!"


"Aku tidak butuh dokter, Sayang! aku butuh kau, aku menginginkannya. Jika bukan untuk dirimu lakukanlah untuk ku." Rachel meraba-raba dada bidang Peter, menjelajahi delapan roti sobek milik Peter.


"Satu ronde saja!"


"Dua, aku mau dua!" potong Rachel. Ada apa dengannya, kenapa Rachel sangat aneh, batin Peter.


"Okeh, Tapi kita lakukan disana, aku tidak mau kau semakin sakit karena terlalu lama berendam!" Peter menggendong Rachel keluar dan meletakkannya di atas ranjang.

__ADS_1


Pagi itu keduanya melakukan pergumulan panas kembali, sampai tidak sadar jam menunjukkan pukul 9 pagi.


TBC


__ADS_2